Dan sama seperti hari hari sebelumnya,kancing
terakhir di dekat leher mik belum di kancing sempurna saat di lantai dua suara
itu terdengar lagi.ia menghembuskan nafas kesalnya lalu melangkah lambat,memasang
tas ranselnya.saat memasang kaca mata nya,mik lagi lagi mendengar suara itu,sekarang
menjadi lebih nyaring.
Beberapa tahun yang lalu ketika semuanya
berjalan baik baik saja,papa akan pulang sebelum semua anggota keluarga tidur,
bicara banyak pada mik,ren,dan sel juga mama,sampai mama bilang itu semua tidak
cukup,ren membutuhkan banyak biaya untuk kuliahnya,jangan kuliahkan ren di sini
karena dia jauh lebih pintar dari yang kami bayangkan,baiklah ayah menyutujui
semunya,mama bekerja diperusahaan traveling,perlahan merangkak naik naik dan
naik hingga menjadi direktur,semuanya berubah,jauh sekali.
Mik menyentuh permukaan kaca di
kamarnya,menyentuh pipinya yang lembut di patulang kaca datar,entah sudah berapa
lama pipi itu tidak disentuh mama dan papa,oh lupakan,bagaimana jika itu
mungkin akan terjadi nanti nanti dan nanti seperti yang selalu mereka katakan.
Sel menjalani masa pubertasnya sama seperti
mik,mendengarkan perbincangan asal yang mencekat urat leher dari orang tua
mereka setiap hari,ia tidak akan benar benar hancur jika saja itu tidak
mengubah hidupnya,tapi tidak,pertengkaran itu membuat ujian akhir sel
berantakan,hancur.membuatnya menjadi satu satunya yang tertinggal di
kelasnya.sel meninggalkan rumah satu tahun yang lalu ketika mama dan papa
meracau soal berhenti saja bekerja dan pendapatan mu tidak lebih baik dari pada
aku,mulai hari itu mik lebih suka sendirian,tidak banyak bicara dan malas menghubungi
ren hanya untuk berbohong kalau rumah baik baik saja dan sel tidak tiba tiba
menghilang dan di lupakan.
Pagi di awal januari,tanggal 5 ketika mik
menginjak pedal sepeda nya dan diam diam meninggalkan rumah ke sekolah,di rumah,
mereka belum selesai berdebat,dan mik hanya tidak ingin mereka menjadi
terganggu.5 hari yang lalu ketika mama pergi ke pertemuan bisnis di singapura
dan papa menghujat nya,seharus nya jangan begitu,seharusnya dia begini,tahun
baru kali itu mik meringkuk di bawah selimutnya,diam dan mengunci pintu.
Hari demi hari,mik merasa jarak di rumah
itu semakin jauh,diam diam papa menceritakan keburukan mama padanya,tentang
mama yang kata orang mendapatkan jabatan di kantornya karena punya hubungan
dengan bos dan invertor besar disana,beberapa menit setelah papa pergi ke ruangan
lain,mama akan duduk disamping mik dan menceritakan keburukan papa,tentang
papanya yang tidak bekerja dengan baik karena itu jabatan nya stak
disana,tentang papa yang iri pada mama dan membuat mama selalu terusik,tentang
sesuatu yang harus nya mereka tutupi dari mik,mendengar itu mik seakan
kebal,karena pada akhirnya dia akan melupakannya,memasang engphonnya dan lari
bersama sepeda nya,menemukan sesuatu yang baru di luar sana.mik dirumah membeku
di sekolah diam dan menyebalkan,mik yang sebenarnya adalah mik yang tidak pernah
orang mengerti,ia bersembunyi bersama semua rasa sakit dan rasa marahnya,sisi
mik yang diam diam adalah orang yang berbeda.
……………..
awal pelajaran ketika hujan turun di dekat
jendela di samping tubuh mik,di depan nya teman teman perempuan nya sibuk
menunjuk siapa yang lebih tampan dari pada siapa,mik dulu juga masuk
perbincangan itu sampai,sekalipun ia tak perduli dengan semua hal yang gadis
gadis itu lakukan,mik menjauh dan takut akan sesuatu ketika hampir memiliki.
Kelas baru mik di lantai dua,sekarang sudah
kelas 11,bertahun tahun setelah mama dan papa cenderung mencintainya.mik lebih
suka memikirkan masa lalu nya dari pada apa yang akan terjadi di masa depan.di
bawah sana,ketika mik menatap kaca berembun,melihat beberapa orang berlari
menghindari hujan,tapi sekeras dan sebiasa apapun mereka mencoba menjauhi
nya,mereka akan tetap basah,sama seperti hidup mik selama ini,sekeras apapun dia
tidak ingin tau,tidak ingin mengerti, menghindar,sedikit banyak rasa sakit itu
pasti akan terasa.
“ada
tugas,lo mau kerjain sama kita ga”.
Seorang perempuan dengan rok hampir dipaha,teman
sekelas nya sejak smp,menatap mik,mik diam,tidak bicara.ia hanya menggeleng dan
memasang headsetnya,membiarkan orang itu mencibirnya,mik tidak akan
mendengar,hanya saja mungkin dia pasti akan merasakan.
……………..
Saat
lebih banyak teman temanya berurusan dengan masalah asmara dan apapun yang
romantic,mik akan lebih sibuk dengan buku comic dan headsetnnya,tidak
bicara,mik hanya akan menggerakan bibirnya ketika memang harus,seperti ketika
guru bertanya padanya,mik adalah pangeran yang bisu,mungkin dia setia,setia
pada dirinya sendiri,mik mendengar itu tepat di depan wajahnya ketika sambungan
kabel headsetnya terlepas.seseorang
mengamati mik ketika memasang kembali kabel nya.
Mik adalah pangeran yang bisu.dia
tampan,siapa yang tidak mengangguk,dia mungkin jarang tersenyum tapi seseorang
akan melupakan semua kelakuan mneyebalkannya setelah melihat bibir itu,mik
memang jarang menatap,tapi seseorang akan menunduk ketika matanya yang hitam
dan indah melirik,meski sekilas,dia anggun jika seorang wanita,dia tinggi dan
putih.tapi sekali lagi dia pengeran yang bisu.
Duduk di kursi penonton sepak bola paling
depan,mik perlahan merebahkan tubuhnya,menatap langit yang biru,bau harum bekas
hujan naik beberapa jengkal ke hidungnya,di bawa angin.sunyi,tidak ada yang
bicara disini,mik tau kapan dia bisa sendirian di beberapa tempat.tempat tempat
yang sekaan memberinya dunia yang dia impikan,tenang dan damai.ada beberapa
tempat yang menyenangkan,beberapa tempat yang juga membuat nya tau tentang sebuah
dunia yang lebih menghargai keberadaannya.
Saat mata nya perlahan tepejam,matahari sore
yang menerpanya meredup seperti di tutupi awan,mik menggeliat,menjauh dari
sesuatu yang menutupi mataharinya.masih sama,ketika mik membuka matanya ia
terperanjat hampir jatuh dari kursi itu,terengah menatap seseorang yang berdiri
menatapnya.
“ini
bukan kamar kamu kan”.
Seorang perempuan seumuran dengan nya
berdiri melipat tangan,menatap matanya,sungguh hal hal semacam ini membuat nya
canggung.
“ka…bolanya”.
Oh….karena bola yang terlempar ke bawah
bangku mik perempuan itu menunggu,entah enggan membangunkan atau memang tidak
ingin membangunkan.
sembilan anak laki laki berdiri berhamburan
di setengah lapangan bola,menatap perempaun itu,perempaun yang sekarang
tersenyum lembut menatap mata mereka.
“sini
bolanya”.
Mik masih mencari bola itu di sela bawah
bangkunya ketika diam diam perempaun itu menatap wajah mik,perlahan mik menyerahkan
bola itu ragu ragu.
perempuan itu masih menatap nya acuh,melangkah
cepat meninggalkannya,hanya beberapa langkah sampai perempaun itu diam,berbalik
menatap mik,lagi.
“kamu
gak ada kerjaan kan,kita kurang satu tuh,mau ikut gak”.
Mik menggeleng ragu ragu,anak anak di lapangan
itu berteriak mengajak nya,mik semakin canggung sudah lama sejak dia berada
diantara banyak orang.
Saat mik hampir diam dan
tersenyum,perempuan itu menarik tangan nya,membawanya ketengah lapangan
berlumpur bekas hujan .sekilas mik menatap wajah itu,manis..manis sekali.
“ok..teman
teman kita dapat teman baru,siapa namanya”.
Sekali lagi perempuan itu menatap mata
mik,tidak canggung,biasa saja.
“mika…panggil
mik aja”.
“kalau
gitu,aku lifia,panggil lif aja”.
Lifia namanya,menyalami tangan mika yang
entah sudah berapa lama tidak menyentuh siapapun,setelah itu satu persatu anak
laki laki itu menyalami mik,sesuatu yang benar benar terasa asing untuknya.
Disana,melihat wanita itu tersenyum dan
berteriak menjadi wasit untuk permainan bola ,mik merasa sesuatu kembali entah
apa itu,anak anak itu barbarian di lapangan, kadang mengejar bola,kadang mencari
lobak besar bekas hujan yang masih ada airnya,berbaring disana,perlahan mik
mulai terbiasa,tubuhnya penuh lumpur ketika membuat gol,semua anak anak itu
menumpuk di tubuhnya,mik tertawa lepas,sampai memegangi perutnya,saat anak anak
itu berdiri dan menendang bola lagi,mik baru menyadari bahwa itu sudah lama
sekali tidak dia lakukan,terhenyak sebentar,diam,merasa dunia nya sepi
lagi,sampai lifia menyentuh bahunya.menunjuk bola,mik lari kelapangan,mengejar
bola,berbaring,tertawa.dan sesekali menatap lif yang sering sekali tanpa alasan
meniup peluit wasitnya,hari itu mik seperti kembali ke masa lalunya.
Saat senja, lif memberikan botol mineral
pada mik,tersenyum ramah dan sesekali terkekeh.
“makasih
ya”.
Mik menatap orang disampinya.
“untuk?”.
“terimaka
kasih karna udah bisa main sama kita”.
Mik mengangguk,seharusnya dia yang bilang
begitu.
“sudah
lama sejak terakhir kali aku main bola kaya gini”.
“oh ya…what's happening,karena gak ada lapangan dan teman main ya”.
Mik tidak menjawab dan lif tidak meminta
jawaban.matanya masih mengamati anak anak itu berlarian di lapangan.
“mereka..siapa”.
Mik meletakan botol air mineral di tengah
tengah mereka.
“mereka
anak pansti asuhan,setiap kali liburan aku main sama mereka,Cuma ini pertama kalinya
kesini”.
Lif tersenyum menatap wajah mik yang mengangguk
lambat.sementara matahari senja mulai memerah.
“udah
sore banget yah…besok kalau gak sibuk kesini lagi,kita main bola lagi”.
Lif beranjak,berlari sambil berteriak memanggil
nama anak anak itu satu persatu,Sembilan orang ketika mik mengitung.lif masih
melambaikan tangan nya sambil berlari lari kecil.mik masih disana dengan baju
putihnya yang kecoklatan dan basah.sekali lagi menatap bekas tempat duduk lif
tadi,air mineral itu masih disana,keika mik mengembuskan nafasnya,ia merasa asing,entah
kerena keramain tadi atau rasa sunyi sekarang.
………….
Mulai hari itu,mik merasa dunia nya lebih
menyenangkan,ia bahkan tak fokos belajar di kelas karena menunggu waktu pulang
datang,bel berbunyi di akhir pelajaran,mik akan berlari cepat keanak tangga,
mengambil sepeda dan menginjak pedalnya.lalu dilapangan ia akan menatap
sembilan anak laki laki dan seorang anak
perempuan,lif disana dengan peluit nya,tersenyum sambil menyuruhnya lari kelapangan,mik
merasa ada sesuatu yang perlahan menyentuh perasaan nya,entah apa itu.
Sudah sore sekali saat lif menaruh
botol air miniral penuh di tengan tengan nya dan mik,mik mengambilnya sambil
tersenyum,masih menatap anak anak itu memainkan bola mereka.
Diam,sunyi sekali,hanya suara suara
teriakan anak anak itu yang terdengar,lif masih menatap hamparan rumput basah
bekas hujan, saat diam diam mik menatap wajah lif.
“besok
lapangan ini dipakai kan”.
Mik terperanjat saat tiba tiba lif menatapnya.buru
buru dia mengatur nafasnya,membuka tutup botol mineral,dan meminumnya seteguk.
“iya”.
“kita
kemana”.
Lif menatap mik lagi.mik diam.
“anak
anak besok gak bisa di bawa main,mereka ada kegiatan dipanti asuhan”.
“oh ya”.
Lif yang tadinya mentap lapangan bola
menatap mik lagi yang tiba tiba menjadi terlalu bersemangat.diam diam mik sudah
memikirkan banyak hal yang ingin ia lakukan bersama lif,memikirkan itu membuat
mik tidak mendengar suara terikan di lantai bawah rumahnya,baginya lif selalu
menyenangkan.
“aku
punya tempat yang bagus,biasanya aku kesana kalau gak ada kerjan,mau ikut”.
“mau”.
Lif mengagguk pasti,tersenyum lepas,disampingnya
mik juga begitu .
“kaya
jam biasa,dilapangan ini ya mik,nanti kita bareng kesana”.
Mik mengangguk dan tersenyum,matahari mulai
turun,senja kedua untuk mereka,lapangan rumput menjadi keemasan di terpa cahaya
sore,mik menaruh botol air minirel di samping tubuh lif dekat sekali dengan
tangan lif, ketika mik menaruh mineral itu.sekali lagi,mik merasakan sesuatu
yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan,detakan itu benar benar berbeda.
…………
Mik Menghembuskan nafasnya,menatap wajah
nya di kaca.lagi lagi mereka bertengkar, kali ini karena papa ingin mama pulang
lebih cepat di hari sabtu.mik mengancing kemeja terakhirnya,menyerobot jaket di
tempat tidurnya,berlari cepat menuruni tangga dan mengambil sepedanya,lif
menunggunya di lapangan hari ini.
Angin berhembus menerbangkan rerumputan
tinggi di samping lapangan,disana di bangku paling depan lif duduk menunggu
mik,berulang kali merapikan dres putihnya ynag lembut,berulang kali menatap
jalanan di samping lapangan,masih memikiran mik.
Dua hari yang lalu,ketika lif pertama kali
melihat mik,menatap wajah itu berulang kali,lif seperti enggan mempercayai beberapa
hal yang dari dulu memang tidak pernah dia percaya.itu semacam sesuatu yang
yang mendadak,yang tidak dia persiapkan dan lif tau seharusnya tidak seperti
itu.
Hanya beberapa menit setelah lif
menunggu,seseorang datang dengan sepedanya,menatap nya lembut dan terenyum
ragu,itu yang selalu lif sukai dari mik,dia berbeda.
“ikut
aku sekarang,ayo”.
Mik menunggu lif melangkah
mendekat,sebenarnya tidak tega menyuruh lif berdiri di belakang
sepedanya,melihat lif dengan dres putih itu,mik seperti merasa sesuatu yang
mulai di fikirkan sejak pertama kali
mereka bertemu itu benar.
Lif meremas bahu mik,saat sepeda perlahan
melaju,saat mik disekolah tadi hujan turun lagi,sekarang bekas bekas hujan di tanah basah masih tercium,sepeda itu melaju
semakin kencang.
Saat angin meyentuh kulit lif , mik
tersenyum lebih lebar,rasa itu datang bersama, rasa yang datang tiba tiba dan
tidak terkendali,lif merentangkan tanga nya,berhenti meremas bahu mik,merasakan
angin yang dingin menerpa tubuhnya,melepaskan banyak hal yang selama ini
menumpuk di pundak nya,lif tau itu mungkin harus dia simpan sendirian,mungkin memang
harus seperti itu,bersama mik lif hanya merasa harus berbagi tanpa
bicara,bersama mik,lif merasa jantung nya berdetak istimewa,bersama mik,lif
perlahan tau bagaimana rasanya tidak berbeda,tidak ada sesuatu yang harus
dipertanggung jawabkan,lepas dan bebas.
Sementara awan membentuk cawan lagi,musim
hujan memang belum berhenti,lif menaruh
tangannya di bahu mik seperti
tadi,perjalanan itu tidak akan jauh,tapi keduanya berharap waktu bisa mengerti,bergerak saja
selambat mungkin.dan saat lif akan bertanya kemana,mik berhenti di ujung jalan
dengan rerumputan melayang layang di antara jalan setapak yang panjang,mik tak
sengaja menggenggam tangan lif ketika menurunkannya dari sepeda.
“kemana?”.
Lif menatap wajah orang disampingnya yang
sedang menghirup udara,sebentar saja sebelum melirinya dan tersenyum.
Lif mengikuti langkah langkah kecil
mik,menuruti dibelakang nya,berulang kali juga menghirup nafas dan
menghembuskannya,bekas hujan kan.
Mereka berhenti ketika mik tersenyum dan lif
menatap terpesona,ini tebing,di bawahnya pohon pinus tersusun rapat,berpuluh
puluh meter di bawa sana,indah sekali.
Sesekali burung burung kecil putih
melayang layang dan bersiul,perlahan mik meraih tangan lif dan duduk disisi
tebing,menatap dan diam lebih lama.
“kamu
sering kesini”.
Mik mengangguk,perasaan itu datang lagi.
“selain
ke lapangan sepak bola,hampir setiap hari… karna di rumah …”.
Kata kata itu terhenti,lif menatap setengah
wajah mik,penasaran.
“ada
apa”.
Mik diam,dan lif juga begitu,diam diam
memperhatikan wajah mik yang menunduk,takut apa yang ingin dia tau harus mik
rahasiakan.
“kalau
berat gak usah,gak papa”.
Mik menggeleng,menatap lif sebentar
sebelum menunduk dan tersenyum.
“orang
tua ku,mereka gak pernah rukun,setiap hari dan sudah bertahun tahun”.
Angin menerpa rambut sebahu lif,wajah lif
menatap dalam dalam wajah seseorang disampingnya,mik mengembuskan nafasnya
sebelum bicara lagi.
“aku
tiga bersaudara,kami semua laki laki,kaka ku yang pertama kuliah di amerika,dan
gak pernah pulang sejak pergi,kita Cuma telphonan,itu pun sesekali,kakaku yang
kedua,gak dirumah sejak gagal di ujian akhir,seminggu setelah dia pergi,
keluarga ku masih coba cari,sampai akhirnya mereka kembali sibuk sana pertengkaran
mereka,dan bekerjaan mereka,mereka lupa anak kedua mereka tidak dirumah”.
Lepas…mik melepaskan sesuatu yang
menyesaka,sekali lagi ia mengela nafasnya,melepaskan sedikit beban di bahunya.
“kamu harus
bicara”.
Lif bicara lembut,menatap hamparan pohon
pinus basah,bekas hujan.
“tentang
apa?”.
“bereka berantem bertahun tahun,tapi gak
pernah berfikir untuk berpisah,artinya mereka saling mencintai dan gak berfikir
melepaskan,mereka mungkin jarang memperlihatkan sesuatu yang…tidak mudah
dijelaskan,maksudku,mereka mungkin mencari kaka kamu,dan bekerja untuk
kalian,tapi hal hal seperti itu untuk sebagian orang tidak harus dikatakan”.
Lif menatap wajah mik,disampingnya mik masih
menunduk,menatap rerumutan kecil di bawah kakinya.
“aku gak
ngerti lif,banyak hal yang aku gak ngerti kalau mereka tidak menjelaskan”.
“mereka
memang tidak ingin kamu mengerti,karena mungkin itu membuat kamu terbebani…kamu
harus mengerti sendiri”.
“lif…mereka
sibuk kerja sampai lupa mereka punya seseorang yang masih ada dirumah yang
kadang ingin mereka juga dirumah,mereka lupa anak kedua nya pergi,sampai sekarang
aku ga pernah tau kemana kakaku pergi,kaka pertama ku bahkan gak tau kaka kedua
ku sudah gak dirumah,lif…mereka cuman mau tau tentang apa yang harus mereka
kerjakan dan dapatkan,mereka mengejar banyak hal dan lupa aku dan kaka ku masih
harus mereka sayangi,mereka takut tua dan gak berdaya dan sebelum hari itu
datang mereka harus lunasin semua ambisi mereka,tapi mereka lupa kami juga
menjadi remaja,menjadi orang dewasa yang perlahan mereka hamcurkan lif,mereka
gak pernah mau ngerti”.
Setes air jatuh kepipi mik,sesak didadanya
tadi perlahan lahan menghilang,ia masih menunduk saat lif memeluk setengah
tubuhnya,menjatuhkan kepalanya di bahu mik.angin menerpa tubuh mereka,saat mik
menyadari seseorang menatap nya lekat, hampir tidak berkedi,mik merasa
menyakiti seseorang.
“lif…aku
minta maaf”.
Lif diam,masih menatap wajah menunduk
mik,terenyum lembut dan tipis.
“ini
bukan karna kamu”.
Perlahan lif melepaskan tangan itu,menatap
wajah mik.
“karena
kita gak pernah tau kapan terakhir kali melihat mereka mik,karena kita gak
pernah tau apa yang sebenarnya mereka fikirkan tentang kita,kita masih terlalu
kecil dan akan selalu kecil untuk mereka,aku mungkin tidak hidup terlalu lama
untuk mengatakan hal hal semacam ini,aku mungkin gak jadi teman kamu selama
yang aku fiirkan sampai bisa bicara sebanyak ini sama kamu,mik kamu harus
banyak bicara sama mereka,kita mungkin sibuk memikirkan masa remaja dan tumbuh
menjadi dewasa,tapi kita lupa mereka semakin tua”.
Diam…sunyi,hanya suara angin menerpa
daun vinus dan rerumputan yang terdengar,lif satu satunya orang yang membuat
mik mau diam dan mencoba mengerti,di dalam hatinya mik bahkan tidak dapat memikirkan
apa yang tadi baru saja dia katakan,dan apa yang baru saja dia dengar,lif …
membuat nya ingin mengerti apa yang sebenarnya terjadi pad keluarganya,lif
membuat nya sadar bahwa sudah lama sekali dia hanya diam,dan menjadi
penonton,disamping nya,lif menatap hamparan pohon pinus lagi.mengembuskan
nafasnya.
“terima
kasih”.
“untuk”.
“semuanya
lif…terima kasih”.
Lif tersenyum,lalu membentang kan tangan
nya,membiarkan tubuhya di terpa angin.
“terima kasih
juga untuk hari ini mik”.
“besok
jalan lagi”.
Lif menatap wajah mik,berhenti membentangkan
tangannya,ia tau ia benar benar ingin mengangguk tapi berat sekali,lif hanya
tersenyum lagi,dan diam.menatap hamparan pohon pinus yang perlahan menjadi
keemasan,senja ketiga untuk mereka berdua.
…………….
Malam itu seperti biasanya,mik akan
berhati hati mengendalikan langkah kakinya,hingga sampai ke lantai bawah,lalu
duduk di meja makan bersama kedua orang tua nya,mama duduk berhadapan dengan
nya dan papa di ditengah tengah mereka berdua,tidak ada yang bicara di meja
makan dan mik hapal semua itu.
Entah sudah berapa kali mik menatap
lambat,mama dan papa sampai kemudian kembali menunduk dan diam,kata kata lif
terus terngiang benar benar tidak bisa hilang.
“kamu
harus bicara “.
Suara lembut itu terdengar lagi,sementara
suara sendok dan garpu mulai di susun menyilang,artinya makan malam akan selesai.mik
menatap dua orang yang tidak saling tatap,perang dingin itu sudah menjadi
kebiasaan,mik sulit menjadi penengah,tapi sekali lagi,percakapan senja itu
seperti kembali,memenuhi ruangan kepala mik.
“ma..pa…aku
boleh bicara”.
Mik mengangkat wajahnya ragu ragu,menatap
mama yang perlahan berbalik dan papa yang menatap wajahnya.
“apa?”.
Mama melangkah mendekat,memegangi ujung
bangku.
“semuanya”.
Papa menelan ludah dan menggeser
bangku,duduk disana dan memainkan jemarinya.
“aku gak
tau mulai dari mana,aku cuma takut tentang sesuatu kalau aku terlambat”.
Mama perlahan ikut duduk ,menatap wajah mik
ragu ragu,wajahnya yang cantik tekena cahaya lampu.
“ada beberapa
hal yang ingin aku…”.
Diam,meja makan itu sunyi sekali.
“seseorang
bilang,bahwa aku tidak pernah tau kapan
terakhir kali melihat kalian,karna itu aku mau tau apa kalian juga
berfikir seperti itu,seperti ka sel yang tiba tiba tidak dirumah dan ka ren
yang entah kapan pulang,maksudku,apa kalian tidak pernah berfikir tentang kemungkinan
kemungkinan, aku mungkin tida bisa bertahan lebih lama di sitituasi seperti
ini”.
“ma…pa…mik
tau kalian cape,tapi apa gak bisa saling menghargai,kaya dulu,waktu papa yang
kerja dan mama dirumah,kita semua baik baik saja,ka ren yang paling beruntung karna
gak sempat menyaksikan semua ini,dan aku yang tertingal untuk terpaksa
bertahan,kalian mungkin terbiasa dan aku mencoba untuk terbiasa,tapi apa kalian
tidak berfikir tentang sesuatu yang lebih buruk dai pada sekarang?”.
“dua hal
yang ingin aku tau,sampai kapan kalian seperti ini…dan…diaman ka sel?”.
Mama menunduk dan mengangkat wajahnya untuk
menatap papa,hanya dua detik mata mereka membeku sampai wajah itu menap kesatu
arah,menatap mik.
“mungkin,kamu
memang harus tau sekarng,mik”.
Papa menatap wajah mik,sementara mama
menahan sesuatu di dadanya,ragu ragu mulai bicara.
“mik,mama
minta maaf selama ini tidak mengerti”.
Perlahan mama menggapai tangan mik,entah
kapan terakhir kali mama melakukan hal semacam itu,mik ragu ragu menegakan
kepalanya.
Sementara di luar hujan turun lagi,ruangan
itu membeku,mama mengatakan Sesuatu yang bahkan tidak pernah mik fikirkan,lewat
lampu putih besar di ruang makan,mama terisak menceriatakan sesuatu yang
seharus nya sudah mik tau dari dulu,lif benar,mik memang harus bicara, berkali
kali mama minta maaf dan bilang bahwa mereka sudah menyakiti mik, lalu pelan
sekali mama menggenggam tangan mik ketika cerita itu selesai,sekaan tidak lagi
ingin menyakiti miknya.papa memaingkan wajahnya,menatap hujan lewat jendela yang
horden nya masih tergulung,malam itu,mik seperti bangun dari cerita malam
nya,mendengar dengan benar dan bicara seperti seharus nya,saat mik memejamkan
matanya lalu membukanya dan disana kedua orang tuanya masih duduk disatu meja
dengan nya,mik tau ini bukan sebuah mimpi.
……………
Jam delapan pagi ketika mik menginjak pedal sepeda
nya pelan,sempat melambaikan tangan ya pada mama dan papa yang sibuk merawat
kebun mereka,entah kapan terakhir kali mereka melakukan hal itu.membicaraan
malam itu bukan hanya mengubah apa yang harus mik fikirkan, tapi apa yang orang
tua nya lakukan,waktu bergerak lambat
lagi ketika mik meliat jejeran bangku menempel dilapangan kosong,ia membawa sepeda
nya masuk kedalam,masih mencari seseorang yang biasa nya akan menunggu nya di
bangku penonton paling depan,mik mendongakan kepalanya untuk melihat wajah
itu,wajah yang diam diam memberikannya sesuatu yang tidak dapat dia katakan.
Sunyi,hanya bunyi suara sepeda mik dan
percikan air dari rumput basah yang terdengar,angin yang hangat menerpa wajah
mik,ia duduk didepan meja penonton,menunggu lif datang,mengatakan bahwa ia
sangat berterima kasih karena senja ketiga mereka hari itu.
Entah
karena apa,tapi wajah itu tersenyum lambat,senyum yang bertahun tahun tidak pernah
terlihat,meski kemudian pelan bibir nya mengerucut,mik menghela nafasnya
terlalu dalam.
Malam itu ketika mama menggenggam tanga
nya,menatap mama yang menceritakan semuanya,mik tau beberapa hal memang benar,
ketika dia ingin menghakimi mama dan papa,ketika bahu mama terguncang,menunduk
dan bahkan tidak dapat menatap mata mik lagi,ia tau bahwa semuanya bukan hanya
tentang kesalahan mereka berdua,pelan mik menatap wajah mama,lalu menatap wajah
papa yang diam menatap hujan di jendela.
Hanya seminggu setelah sel pergi dari
rumah,hanya seminggu sampai orang tuanya tida lagi membicarakan itu semua,hanya
seminggu sampai sel mereka temukan di trotoar jalan dengan wajah penuh
darah,dan tubuh penuh memar,terkapar diantara lampu jalanan yang di terbangi
binatang kecil,mama yang mengangkat kepalanya dan menangis disana,papa yang
membuka pintu dan memopohnya ke dalah mobil,membawa sel ke runah sakit.
semalaman mereka melupakan mik dirumah,sendirin,mama
menggenggam tangan sel dan papa menatap mereka berdua,hanya sebentar mereka
diam sampai papa mulai menyalahkan mama tentang apa yang baru saja terjadi,mama
menghela nafas panjang dan menatap tajam pada papa,mengatakan banyak hal yang
akhirnya membuat papa membanting pintu rumah sakit.semalaman mama terjaga,papa
menangis di ruang tunggu rumah sakit,menutup wajahnya dengan telapak tangan
nya,menyalahkan dirinya sendiri.sementara mama berulang kali menciumi tangan
sel,minta maaf tentang semua hal yang mama lakukan,malam itu terpisah tembok
dingin rumah sakit,meski banyak sekali bicara,mama tidak membicarakan sesuatu
yang sebenarnya dia rasakan,malam itu ketika papa berkali kali menunjuk wajah
mama,papa tidak membiarkan mama melihatnya menunjuk wajah nya sendiri.
Ketika sel bangun dan menggenggam tangan
mama,mama perlahan mengangkat wajahnya,dengan mata merah setelah terjaga, mama
menatap mata sel yang bening, sangat berbeda,mata yang kosong seperti ditak
berjiwa,keringat membasahi wajah dan tubuh ka sel,ketika mama akan menciumi pipi
sel,mama dapat melihat bibir sel bergetar,dari sudut matanya mama dapat melihat
air mata mengalir,hanya sampai air mata itu jatuh ke seprai putih rumah
sakit,sel diam,mama menjauh selangkah sambil menatap sel yang tiba tiba
mengerjang,membuat banyak noda merah di seprai saat mencopot paksa infuse di
tangan nya,membuat ranjang rumah sakit bergetar,dan seprai berantakan,sel
mengamuk,dan mama tidak pernah sekali pun melihat sel seperti itu,mama masih
melangkah mundur dengan mata kosong berair ketika dokter dan beberapa perawat
datang,di belakang mereka,papa perlahan menyentuh punggung mama,dengan lembut
memopoh mama keluar ruangan.
Saat mama merapat kedinding diluar kamar
rumah sakit sel,ia baru sadar papa memeluknya,menggenggam tangan mama,rasa
hangat itu dan mama tau,tapi sesuatu di hatinya berontak,mama melepasannya
ketika sadar,kembali menyalahkan papa,saat papa menunduk dan diam mama
menjauh,meninggalkan papa yang membeku.
Hari itu ketika dokter keluar ruangaan,menjelaskan
semua hal yang terjadi pada sel,dengan enggan papa mengangguk,saat dokter
menepuk pundak papa,mengatakan pada papa bahwa sel sakit,sesuatu menjadi semakin
jelas.ka sel tidak lagi seperti dulu,ka sel yang selalu memberontak tidak akan
bisa banyak bicara lagi,ka sel akan
sulit di kenali.
Ketika hujan turun di awal januari papa dan
mama mengantar ka sel ke rumah sakit jiwa,mama melangkah lebih cepat ketika
menolak masuk kemobil papa,hari itu,semua nya bertambuh buruk,jarak yang
terbentang di tengah tengah mama dan papa semakin parah,mama bangkan tidak pernah
membayangkan jarak itu bisa sejauh hari itu.
……………..
Hamparan rumput kecil yang basah,kursi
penonton yang kosong,angin yang menerpa rambut mik,dan semuanya yang diam,mik masih menatap ujung jalan,berharap
sesuatu seperti seluit mendekat dan tersenyum padanya, perlahan ia mengangkat
pergelangan tangan nya,menatap jam di sana,sudah tiga jam dan seseorang yang
dia tunggu belum datang,mik merasa menunggu kali ini terasa terlalu lama,sekali
lagi angin dingin menerpa kulitnya,mik menghela nafas panjang,menaikkan sisi
tangan kemejanya,berdiri sambil mengamati sisi jalan,tidak ada siapa siapa disana,hanya
mik dan kesunyian.
Waktu tidak pernah berhenti dan mik tau
itu,matahari perlahan bergerak menuju sebrang,dedaunan pohon willow yang basah
kering karena terkena matahari.bergerak lagi lebih keatas lebih kebarat,mik
menemukan dirinya diam,mengamati jam dan ujung jalan,menunggu seseorang yang
benar benar ingin dia temuai,apa yang kemarin mik katakana? apa ada sesuatu
yang melukai lif,apa ada sesuatu yang harus nya tidak mik katakan atau lif akan
segera datang ketika sore,mik akan menunggu lagi,mik tidak ingin lif datang
ketika dia sudah pulang,mik masih menunggu,mengamati langit yang hitam,dedaunan
willow basah lagi,dan mik merasa wajahnya di terpa embun,ia naik selangkah
menjauhi hujan ,menunggu lif nya datang.
Semakin sunyi, lapangan sepak bola itu,
membeku,mik hanya mendengar bunyi detik jamnya,memperhatikannya sebentar lalu
menatap ujung jalan,mungkin saja lif tertidur atau dia harus kesuatu tempat
dengan keluarganya,mungkin saja hujan membuatnya tidak datang seperti
biasanya,mungkin saja lif masih melintas di jalan untuk menemui mik,kata kata
seperti itu membuat mik bertahan,menunggu seseorang yang kemarin tanpa mik
sadari,bahkan tidak mengangguk untuknya.
Terkadang beberapa hal lebih baik menjadi
rahasia,mik turun dari kursi penonton,menuntun sepedanya lambat,mungkin saja
lif akan datang dan meminta maaf karena lupa,mik bahkan masih memohon agar lif
datang,ketika matahari menguning,menjadi keemasan,lebih pelan lagi mik menuntun
sepeda nya ketika keluar dari lapangan itu,berjalan lambat di antara rerumutan
samping jalan yang basah,mik tidak mengerti tentang sesuatu yang berat di
dadanya,ada sesuatu tapi mik tidak tau apa itu,apa mik melupakan sesuatu yang
kemarin lif katakan,apa mereka memang tidak berjanji untuk datang ke lapangan
ini,apa mik lupa bahwa lif baru saja datang kehidupnya,bodoh berharap terlalu
banyak,mik lupa semuanya,yang mik tau ia berharap lif atang,dan mik berhenti
merindukan orang itu.
Ketika mik menghela nafasnya lagi,sebuah
mobil hitam mencipratkan lumpur
bercampur air ketubuh dan sepedanya,mik mengamati kaca mobil gelap yang melaju
pelan,hingga mobil itu menghilang di belokan.
Beberapa hal seharus nya mik ketahui,meski
mik tidak menyadarinya,tapi seharus nya ia tau bahwa terlalu banyak hal yang
tidak dia sadari,mik bahkan tidak tau hari itu adalah senja keempat untuk nya
dan lif.
…………..
Sementara mik terjaga di depan lampu
belajar dan bukunya,lif berbaring lembut menatap jendela,mengamati langit bekas
hujan senja tadi.
Tangan nya yang pucat berbalut selang
selang kecil yang ditusuk jarum ke tubuhnya,setetes demi setetes cairan bening
itu masuk ketubuh lif yang rapuh,dinding rumah sakit itu dilapisi cat putih
gading yang dingin,lif tidak melihat apa apa selain infuse dan layar kosong
disamping tubuhnya.
Lif tidak pernah berjanji datang ke
lapangan itu lagi,lif tidak ingin mik datang kesana lagi,seharusnya ia turun
dari mobil hari itu,bicara kasar pada mik,bahwa dia … lif lupa apa yang harus
dia katakan,apa yang harus lif bicarakan.lif ingin mik tau sesuatu di dalam
dadanya,lif ingin membagi semuanya pada mik hari itu,tapi lif menolak
dikasihani,lif suka mik hanya memikirkan semua nya seperti yang pernah mereka
lalui,lif kuat ketika berteriak dengan peluitnya,melompat,berlari,lif ingin
terlihat baik baik saja.
bersama mik,lif menemukan dunia dan isi
nya,yang berbeda,lif menemukan seseorang yang bisa dia kuatkan karena selama
yang lif tau,lif lah yang selalu di kuatkan.bersama mik, lif tidak pernah
merasa waktu nya singkat.segala sesuatu nya berbeda,dan lif lupa semuanya,saat
berdiri dan meremas pundak mik,lif merasa tidak ada yang membedakan tubuhnya
dan tubuh siapapun.
Lif,dan segala sesuatu yang tidak mik
lihat.lif ingin mik mengenangnya seperti itu,mungkin hanya sebentar sampi mik benar
benar melupakan semuanya,semua hal tentang nya dan senja senja yang mereka
lalui.sementara itu lif tidak harus berusaha melupakan apapun,mik dan semu hal
yang terjadi,akan segera pergi bersama dengan nya.
Pintu berdecit,seseorang tersenyum dan
meraih tangan kanan lif,duduk disisi ranjang rumah sakit.
“kamu
mau cerita sesuatu”.
Lif tersenyum,mulai bicara,banyak
sekali,semua hal yang terjadi padanya dan liburan di rumah orang itu.sepupu
perempuannya.lif terisak ketika akhirnya nama mik dia sebut,di depannya orang
itu membeku,menunduk dan memeluk lif.
Sumsum tulang belakang,donor
ginjal,operasi,infuse,komplikasi,darah,jarum.lif akan mengakhiri semunya.
Lif ingin mengakhiri semuanya ketika ia
memulai sesuatu,lif mulai jatuh cinta.
……………
Mama meletakan buku bahasa inggris baru di
atas tas ransel mik, di sisi ranjang,mengamati tubuh mik dari pantulan kaca,mik
yang semakin tinggi,sekarang jauh lebih tinggi dari mama.
“ka ren
pulang seminggu lagi,dia bilang liburan musim panas”.
Mik
memutar wajahnya,menatap mama yang duduk disamping tas nya.
“dia
bilang ingin bertemu sel”.
Sekali lagi dari pantulang kaca,mama melihat
mik mengangguk.
“kalau
sudah selesai kita sarapan,mama sudah masak”.
Mik tersenyum,mengagguk lambat,entah kapan
terakhir kali mama datang kekamarnya,menyiapkan bukunya,mengajak nya sarapan.
Seminggu setelah malam itu,di meja
makan,mama pulang jauh lebih cepat dari biasanya,masuk kekamar mik dan berjanji
tidak akan pulang terlalu malam lagi.sehari setelah hari itu mama bilang mundur
dari jabatannya,kembali menjadi karyawan biasa,pulang jam 1 siang,dan
meneruskan pekerjaan di rumah.
Papa tersenyum dan memeluk mama,di depan
mereka mik salah tingkah,hingga mama menarik tangan nya,membuat mik berada di
tengah tengan,malam itu juga mama menelphon ren dan mengatakan semua nya di
telphon,sama seperti yang mama ceritakan pada mik,tentang sel dan tentang banyak
hal yang tidak ren tau.hari itu juga ren biang tidak akan mengambil kerja di
liburan musim panas.
Semuanya,entah lah berangsur membaik,mama
selalu dirumah saat mik pulang sekolah,membuka pintu dan kadang kadang memaksa
mik mencicipi masakannya,papa akan pulang jam 5 sore,membawa kue kue pinggir
jalan,di depan tv,mereka akan memakan bawaan papa bersama,papa dan mama akan
duduk diatas sofa sementara mik di dilantai,menyender di kaki mama,mama akan
menghapus air matanya saat mik dan papa tiba tiba menatap nya,mama sintementil
sekali,selalu menangis melihat tayangan tv.
Kadang,mik merindukan lif,ia pergi lagi
setelah pulang sekolah,membenamkan wajah nya di kedua lututnya,memandangi rerumputan
yang sekarang tidak lagi basah,disekolah mik mulai bicara,mulai mengangguk
ketika di tawari belajar kelompok,di depan bangkunya anak anak perempua mulai
membicarakan wajahnya lagi,akhir akhir ini anak anak laki laki bahkan tidak
segan melemparkan bola ke tubuh mik,saat mengajak nya pergi kelapangan,mik
merasa semuanya lebih baik kecuali tentang seseorang yang menciptakan semua
ini,mik merindukan lif,beberapa kali dalam semiggu masih melewatkan senja di
lapangn itu,suatu hari anak anak panti asuhan teman lif datang kelapangan
itu,mik tersenyum dan terlonjak,berlari kelapangan,berharap lif ada diantara
mereka,tapi ketika mik sadar bahwa dia salah,mik kembai kebangkunya,hanya
menonton permain bola itu, setelah bertanya dimana lif dan anak anak itu menggeleng.
Sekali lagi,mik kembali tidak menyadari
sesuatu,seseorang yang selalu mengamatinya duduk dibangkunya,atau ketika
memainkan bola,seseorang yang ragu ragu melangkah di rerumputan lapangan,menatap
ren yang memeluk lututnya,mengamati dan ingin mengatakan sesuatu,tapi selalu
tertahan.mik terlalu sering tidak menyadari sesuatu,tentang lif,ia bahkan hanya
mengerti tentang “merindukan”.
Semuanya berlalu,waktu berlalu,mik tidak
pernah tau dimana lif,dan lif perlahan kehilangan apapun yang dia miliki untuk
meraih tangan mik.
……………
Kaku,dingin,sunyi,lif ditengah tengah
lingkaran rapat di tempat tidur rumah sakit,hari ini semua alat yang di pasang
di tubuhnya satu persatu di lepas,lif
bilang tidak akan lama lagi,mama menggengam tangan nya,membiarkan air
matanya menetes di tangan pucat lif,papa di samping mama, bahu nya yang
tegas terguncan
guncang,nene,kake,sepupu,lif ingin semua orang disamping nya saat ini.
Pelan sekali lif menggerakan mulutnya, memanggil
nama seseorang,dari lingkaran itu,sepupu perempuannya keluar,menggenggam tangan
nya,tersenyum lembut sekali.orang itu menarik nafasnya,menciumi tangan
lif,mereka tumbuh bersama,dewasa bersama,dan hari ini orang itu mungkin akan
melihat seseorang yang selalu bersama nya pergi.lif menceritakan semua nya pada
orang itu,dan orang itu adalah satu satunya yang tau kisah yang lif ceritakan.
Pelan..pelan sekali,tangan pucat lif
menjadi jauh lebih dingin dari biasanya,mata nya yang bening menutup
lambat,matahari senja jatuh tepat di wajahnya yang indah,ketika hembusan angin
dari hujan menerpa horden,dia benar benar pergi.lif benar benar pergi.
……………..
Ren menyeret koper nya lebih cepat ketika
melihat mama berdiri di bangku tunggu,ia melepaskan koper dan menyentuh pundak
mama,mama memeluknya ayah memeluk mik lebih kuat ketika mama
melepaskan,disamping papa mik tersenyum kaku,ren menarik pundaknya, memeluk mik
cepat mengusap usap kepalanya.
“gimana
calofornia ?”.
“akhir
musim semi,hangat ma”.
Ka ren melepaskan tubuh mik.
Mama tersenyum dan mik juga begitu,sebenarnya
banyak hal yang harus nya mereka bicarakan,tapi ren pergi ke topic yang benar
benar ingin dia tau.
“gimana
kabar sel”.
Sekali lagi mama memeluk tubuh ren.
Narkoba,bandar,tubuh sel yang
dipukuli,ketergantungan obat,tidak bisa membayar hutang.
Mama menghapus air mata dari sisi pipinya.
“apa ini
karena ren terlalu memaksakan diri untuk kuliah diluar”.
Mama menggeleng samping menghapus air
matanya.
“ini
karena mama terlalu terobsesi dengan pekerjaan mama”.
Ren memeluk pinggang mama lagi,papa
menunduk menatap lantai bandara.
Kuliah,kerja,hanya itu yang terus dilakukan ka
ren di sana,penjaga perpustakaan,delivery makanan,cuci piring,semua nya dia
lakukan,agar papa dan mama tidak tau uang yang dikirimkan tidak pernah cukup papanya
selalu dapat gajih besar setiap bulan,mama direktur dulu,tapi yang terfikir
oleh ren adalah sel yang akhirnya juga akan menghabiskan banyak uang sepertinya,sama
seperti mik.karena itu ren diam,semula ren memendamnya sendiri,hingga suatu
malam ren tidak lagi bisa menyembunyikannya,musim dingin melangkah diantara
salju semata kaki,2 kilometer di malam hari.
ren tidak lagi punya uang,ia mungkin akan
menahan untuk menelphon rumah jika saja mama tidak menanyakan kabarnya,dari sebrang,berkilo
kilo meter jauhnya,mik disamping tubuh mama,mendengar dengan jelas ka ren
menangis,tidak meminta apa apa,hanya ingin mengatakan yang sebenarnya
terjadi,sementara mik menyalahkan ren yang menghabiskan uang setiap bulan untuk
hidup dan kualiahnya,membuat mama dan papa berjarak,sementara mik hidup besama
mama dan papa,mendapatkan apa saja,tidak harus kekurangan.mik tau matanya
panas,buru buru ia beranjak pergi kekamar.
Malam itu mik tau bahwa,Ka ren tidak pulang
karena mengumpulkan uang di setiap hari libur,mik hanya belum mengerti.
Mama melepaskan pelukan ren,menyapu air
matanya,mik yang membawa koper.membiarkan ren beriringan dengan papa dan
mama,setelah begitu lama,mik perlahan sadar, ka ren jauh lebih dewasa dari
sebelumnya.
…………….
Terlalu banyak hal yang terjadi,dan
waktu kadang membantu manusia melupakannya,tapi karena waktu memberikan kesempatan
pada manusia untuk melakukan banyak hal,maka tidak semua nya terlupakan.mik dan
senja,mik yang masih menunggu lif di lapangan sepak bola,kali ini waktu tidak
mengijinkannya tau,sudah satu bulan setelah lif pergi.
Seseorang ragu menyentuh pundak mik,mik
terlonjak,berharap orang itu adalah orang yang dia tunggu.ia kembali layu
ketika orang itu bukan lif.
“kenapa
? sendirian”.
Mik
kenal orang itu,hanya beberapa bangku dari tempat duduknya.mik menghela nafasnya
dan menggeleng.
“gak
mungkin gak ada apa apa”.
Mik diam,ia tau bahwa seseorang harus
mendengarkan semua ceritanya,ia tau semuanya akan lebih baik seperti ketika lif
mendengarkannya,sesekali lagi mik menggeleng,mencoba melupakan sesuatu yang
harusnya dia katakana.
“kamu
harus bicara”.
Mik membeku,berbulan bulan yang lalu
ketika mik mendengar kata kata itu.
Mik seperti tersadar,entah lah,entah apa
itu,bangku nya bergetar ketika ia kembali duduk,berhenti mencoba menjauh.
“aku…hanya
menunggu seseorang”.
Sunyi…diam,tidak ada yang bicara.
“siapa?”.
Mik menatap wajah orang disampingnya,bertahun
tahun menjadi teman sekelasnya,mik sadar dia tidak bisa membuat jarak dan
mencoba menjauh lagi.
Lalu cerita itu mengalir dengan cepat,mik
hanya tidak menyebut nama orang yang dia tunggu,ia menceritakan
semuanya,tentang bagaimana orang itu membuatnya bicara,membatnya merasa kan
sesutau yang berbeda,tentang bagaimana orang itu membuatnya terjaga,tentang
bagaimana orang itu mengubah keluarganya,dan tentang apa yang dia tinggalkan,semuanya.mik tertahan
ketika nama itu hampir dia sebut,orang disampingnya menatap wajah mik dalam.
“senja…”.
Mik mengangkat wajahnya,menatap semburan
semburan orange di langit,cahaya keemasan merayap di antara rerumputan.
“kamu
harus mencoba melupakan…semuanya”.
Mik menatap orang disampingnya,orang itu
tau kata kata itu harus nya tidak dia katakan,tapi dia tidak menyesal tentang
apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Mik masih menatap tubuh itu
berbalik,mungkin ia masih duduk di bangku itu sampai orang itu menjadi seluit
dan menghilang di belokan.mik tidak menyadari beberapa hal,tentang sesuatu yang
tertahan di mulut orang itu,mik lagi lagi tidak menyadarinya.
…………
Entah sejak berapa lama setelah senja hari
itu,orang itu kini hanya menatap mik dari jauh,melihat mik duduk di bangku
penonton,atau diantara teman teman di sekolah,bukan hanya sekali orang itu melangkah
mendekat setelah hari itu,mencoba mengatakan banyak hal yang tertahan di dadanya,tapi
setiap kali mik didekatnya,atau ketika ia hanya tinggal mengatakan saja,udara di
sekitarnya terasa membeku,dan tiba tiba air berdesakan di matanya.
Hari
ini,setelah berpuluh puluh kali mencoba,ia menggegam beberapalembar kertas,ia
merasa tidak akan pernah sanggup mengatakannya langsung,melihat wajah mik ketika
menatap senja sendirian,menatap wajah mik yang tiba tiba sendu di
keramaian,mengingat wajah pucat lif ketika memintanya untuk membawa mik kemakam
nya ketika dia sudah tidak lagi di bumi ini,segala hal semacam itu,bahkan untuk
melangkah mendekat ketempat mik sekarang duduk pun rasanya kakinya terasa
diikat dengan sepotong batu besar.
Perlahan…pelan sekali,orang itu melangkah
diantara rerumputan kering,akhir akhir ini hujan tidak menyentuh rerumputan itu
lagi.mik disana,menopangkan wajah nya ke lutut,menunggu senja datang.ragu ragu
dia menyentuh pundak mik,duduk satu jarak bangku dari mik.tidak bicara ketika
mik menatap wajahnya.
“ada
apa?”.
Ia menghela nafas panjang,menahan air
matanya yang berdesakan,menaruh kertas
kertas itu diantara bangkunya dan bangku mik.sementara matahari mulai
turun,pergi kebarat,tangan mik bergetar
menyentuh kertas kertas itu,berulang kali ia bergantian menatap orang disamping
nya dan apa yang sedang dia genggam.
“ini
apa”.
Orang itu diam,wajah nya tertunduk dan
pundaknya terguncang,sebelum air matanya terlihat,ia beranjak
melangkah,menjauh,berlari menuruni jejeran bangku dan rerumputan,tidak lagi
menatap mik yang heran dengan kertas kertas itu,entah apa yang terjadi ketika
mik mulai membaca kata kata pertama di kertas itu,entah apa yang dia fikirkan
ketika membuka setiap lembarnya,yang orang itu tau mik harus mengerti bahwa hari
ini ia harus mengakhiri semunya,mik harus tau bahwa sekarang adalah senja
terakhir yang harus dilaluinya dengan menunggu lif,senja terakhirnya dengan
lif,meski lif hanya ada pada kertas kertas itu.
Dari kejauhan,orang itu mengamati wajah
pucat mik,tangan nya yang bergetar memegangi kertas,ketika mik mulai menangis
dalam diam,orang itu tau ia sudah terlalu lama menatap mik dari kejauhan,senja
menghilang,awan awan hitam mulai menghiasi malam itu,orang itu beranjak,berbalik
dan menjauh,berulang kali menghapus air mata dipipinya.
Orang
itu,dialah anak perempuan dengan rok didekat paha, yang menawarkan kerja
kelompok pada mik,orang yang bertahun tahun menjadi teman sekelas yang tidak
mik kenal,orang itu adalah orang yang mendengarkan semua cerita lif,satu satu
orang yang tau kisah kisah itu,sepupu perempuan lif,orang yang lif datangi di
liburan terakhirnya,orang itu adalah orang yang menulis berlembar lembar cerita
yang dia dengar dari apa yang dikatakan lif dan mik,hanya dia yang tau semua
hal yang terjadi,sampai akhirnya mik mulai membaca,dan kau orang yang membaca
tulisan ini,adalah orang ketiga yang tau semunya.
Didunia ini ada begitu banyak kisah
cinta,miliayaran anak adam yang merasa jantungnya berdetak terlalu cepat,paling
tidak dalam 24 jam,seperempat manusia mengalami hal yang sama,jatuh cinta.dan
untuk mu ku ceriakan kisah cinta yang hidup di samping tubuhku.lembaran yang
kau baca adalah lembaran yang sama dengan kertas yang sekarang dibaca pemilik
sekenario tuhan ini.yang dibaca pemeran utama nya.
Dan aku adalah orang yang jiwanya diikat
oleh kisah cinta itu,hanya ragaku yang bergerak mengetik kata perkata.
Inilah kisah cinta yang hidup di depan mata
dan telingaku.
End
20-1-2015 (perbaharuan dari “penyakit
yang merubah hidupku” yang mulai ditulis 11-2-2013)