Selasa, 24 Februari 2015

Last December


tidak semua yang mati itu mati,Bergerak perlahan bersama angin,  Mengamati jiwa yang siap Dengan lembut mendekat  Seperti bayangan….
          
 Kau percaya sebuah kutukan ? ……….
………………
         Api…hembusan hangat nya membakar sebuah rumah,tarik menarik dedaunan terhempas,malam itu semuanya terasa berbeda.
“dia pembunuh,dia yang membunuh wanita itu,dia bahkan membunuh suaminya”.
     Air dari danau di samping rumah itu beriak,berombak,sekali lagi dedaunan nya sekaan di tarik angin.api…berpuluh puluh tungkai kayu dengan api diatasnya menyala,berteriak menyuruh orang di rumah terbakar itu keluar.
    Api semakin menyala,hembusan hembusan api merayap di rumah kayu,daun pohon oak yang merindangkan halaman rumah itu menghitam,layu.didalamnya asap melayang layang,penuh,menyesakan.seorang perempuan kecil,mendekap buku besar nya,tempat nya bercerita,bibirnya bergetar,perlahan melipat kakinya,ikut ia peluk.angin hangat dan asap berdesakan masuk keparu parunya,air matanya mulai menetes.
   Diluar … suara teriakan,bisilan bisikan,sumpah serapan,bercampur.tapi perempuan kecil itu tidak lagi bisa mendengar dengan baik,sudah sesak paru parunya,tangan nya melemah,sementara kayu kayu mulai merapuh dan satu satu terjatuh didekat nya,tubuhnya tidak bergerak lagi,tangan bergetarnya berhenti,ia diam,tidak bersuara.tangannya yang mendekap buku besar itu perlahan merenggang,buku itu tergeletak jatuh di samping kakinya.
      Dan perlahan api melayang layang,mendekat ke tubuh kecilnya,hanya sendirian.
      Hanya setelah setengah rumah terbakar,orang orang itu berbalik meninggalkan rumah itu,menggurutu,menyumpah,tertawa.membiarakan rumah itu  menjadi abu,membiarkan angin menghilangkan jejaknya.
    Dari kegelapan hutan,disisi kiri danau,seseorang berlari terengah,air matanya mengalir,bercampur dengan kulit wajahnya.terjatuh semua kayu di pelukannya,bergetak tangannya ketika mencoba mendekat pada abu abu itu,mencari seseorang dari sisa sisa kayu yang terbakar menghitam.
   Sunyi,hanya hutan,danau,dan beberapa api kecil yang melayang di terpa angin.tangan wanita itu bergetar menyentuh tubuh kecil diantara kayu kayu arang,kunang kunang mengantarkan langkah nya,menepi ke tepi dankok,perlahan menenggelamkan mayat menghitam yang semakin mengecil,hujan turun.membasahi tubuhnya,tangan nya menggapai lembut perut nya yang menonjol,seseorang tinggal disana.tapi mungkin tidak sekarang,darah mengalir diantara selangkangan nya,turun ke tungkai,tubuhnya bergetar,kakinya yang kelu perlahan menyentuh tanah basah.
  “bukan anak ku yang salah,bukan dia,bunuh aku,kenapa mereka tidak membunuhku,bukan aku yang ingin menyentuh mereka,bukan aku yang ingin membunuh mereka”.
   Wanita itu terisak,bukan salahnya,itu memang bukan salahnya,dia ingin menolong,dia ingin mengobati,hanya saja waktunya tidak tepat.
“kembalikan anakku,kembalikan anakku,bahkan jika iblis datang membantu ku maka akan aku terima bantuan darinya”.
     Zaman dulu,beratus ratus tahun sebelum kau bertemu infuse,suntikan,obat.kau akan bertemu ramuan ramuan,di zaman klasik beratus ratus tahun sebelum kau bertemu dokter,kau akan bertemu seseorang yang mengobati dengan apapun yang mereka temukan di hutan,orang orang itu bukan hanya akan dipuja,tapi juga akan dicela.
    Hujan turun,wanita itu masih berada di tepi dankok,darah mengalir semakin banyak,ia memanggil nama suaminya yang mereka bilang mati karna nya,suaminya mati di bawa binatang di hutan sana,tapi tidak ada yang mau mendengarnya.darahnya mengalir lagi,lagi.
    Tubuhnya melemah,bibirnya mengucap kata kata,menyumpah pada keturunan orang orang itu,pada tempat itu,pada benda bendanya,tangan nya bergetar,sebentar sebelum pipinya nya menyentuh tanah,buku yang sudah menjadi abu itu,menyatu,buku dari kulit pohon oak di tepi dankok,berubah isinya,penuh dengan seruan seruan iblis.perlahan matanya terpejam,dia pergi,tapi tidak dengan damai.
……………
           Dalam sinar lampu redup jalan kota,beberapa bus masih berjalan malas diantara deretan temaram,langkah kaki beberapa orang  terdengar lambat .gumpalan gumpalan salju mencair diantara ranting ranting kaku yang mulai menyegar,angin malam menerpa kulit layu seseorang yang berdiri tegak diantara jalur jalanan kota,berkali kali menghembuskan nafas dan mengeratkan jeket merah marun ke tubuhnya,buku buku karangan jk rowling di dekapnya di dada.tangan nya maih bergetar ketika menemukan buku usang yang benar benar ia kenal terselip dari ribuan buku yang ia katalogkan,syel putih gading melorot di bahunya,perlahan ia naikan.bersamaan dengan hembusan hembusan nafas lembut yang keluar masuk hidung nya. angin berhembus lagi.
    Akhir December di tahun ini,tahun kedua di sma nya yang tidak terlalu menyenangkan.setidaknya ia tak harus menyerahkan seluruh isi kantong nya pada lee bersaudara,tangan nya kelu kedinginan,padahal sudah tertutup rapat kaos tangan,tangan itu tidak baik baik saja,berjam jam berurusan dengan debu debu lantai bawah tanah,bepuluh puluh ekor tikus sialan menyerbu kaos kakinya yang tak sempat ia cuci.mata itu menyipit mendengar gerakan naik turun nafas seseorang di dekatnya.ragu tapi cepat ia memalingkan wajahnya  kedekat punggungnya,sunyi.perpustakaan kota sudah senyap.ia berbalik kearah jalan lagi saat sesuatu melayang layang di dekat pundaknnya.perlahan mengikuti kepalanya yang menyapu keheningan,tidak hanya satu.beratus ratus kunang kunang menyelinap dalam kegelapan,ketika ia sadar lampu lampu di pinggir jalan itu sudah mati.
    Ia terengah menjauh,kaki kecilnya menyelinap diantara rumput mati yang di tutupi salju,ranting ranting pucat di tiup angin,mirip sekali dengan jemari mayat yang diawetkan.
   Diantara kesunyian,bunyi bunyi itu datang lagi,cahaya kunang kunang  tadi sudah menghilang tak ada satu pun,ia menunduk diam di tempat tunggu bus terakhir,tangan nya bergetar entah kenapa.helaian rambut terbang menyentuh kulit pucat pipinya,bibir kecil merah nya bergetar,matanya tak mengerjap, hanya beberapa kali ia memejamkannya lama sekali,berharap hawa dingin yang berbeda itu sudah menghilang bersama angin.
“aku takan meninggalkanmu”.
      Suara yang beku dingin dan muram,terangkai berbisik memasuki telinga lee ae,kim lee ae.
     Gadis itu kembali bergidik,sekali lagi rambut itu menyentuh pipinya,lee ae tidak bergerak,membeku.bibirnya terus bergetar.
“kau yang menginginkannya”.
     Bisikan itu terdengar lagi,dan lee ae sudah menutup telinganya dengan kedua telapak tangan nya,buku buku jk rowling terjatuh ketanah basah.
“apa yang kau lakuakan disini,sendirian”.
      Jantung nya hampir jatuh ketanah saat seseorang menyetuh tangan nya dengan ujung buku buku yang sedikit basah.
“aku?aku?”.
   Suara itu bergetar bercampur dengan deru nafas tak beratur.wajahnya menatap seseorang yang memegangi buku bukunya,tangan nya yang dingin bergetar mengambil buku buku itu.
 “menunggu bus”.
“kau sedang tidak baik baik saja”.
“tidak,aku hanya sedikit …. kau tau tak ada yang mau berteman dengan ku akhir akhir ini”.
“setelah kematian lee ah ra”.
      Sunyi,lee ae menelan ludahnya sebelum menunduk lagi,wajah nya yang pucat terkena sinar bulan berkabut. Untuk beberapa saat tak ada yang bicara laki laki itu berdiri disamping kim lee ae, semakin kaku.
“aku tau semau orang menyalahkan ku karna itu”.
“apa kau mau membela dirimu”.
“semua orang tidak percaya padaku”.
“karna kau berbohong”.
“aku bersumpah aku tidak berbohong”.
“kau meninggalkan nya sendirian di danau dankook,apa kau tak berfikir siapa saja bisa berkeliaran di daerah itu,orang gila,orang mabuk,penjahat,perampok,pemerkosa,psikopat,atau mungkin kau ….”.
       Wajah lee ae memanas,ia menatap tajam pada seseorang disampingnya.
“jong woo,aku benar benar melihatnya  berjalan kearah tepi dankook,entah karna apa,dia sendiri yang bercebur ke danau itu”.
“dia tak pernah punya masalah,apa kau mau bilang ia bunuh diri”.
    Lee ae menggeleng lemah,matanya bertemu tajam dengan laki laki di sampingnya.
“aku ingin menyelamatkannya jong woo,tapi aku tak punya kesempatan”.
“ya…tidak semua orang punya kesempatan untuk menyelamatan tapi semua orang selalu punya cara untuk mencelakai”.
   Lee ae suda terisak saat bus terakhir datang,jong woo melangkah cepat seakan ia sendirian ditempat itu.ia tau orang itu sangat marah karna larangan nya dilanggar,lee ae melangkah lambat,kaki nya layu memasuki bus terakhir malam itu.
“dia melepaskan jiwa nya … hanya melepaskan jiwa nya…”.
………………
   Sunyi,sunyi sekali yang terdengar hanya dengus nafas bekas menangis,lilin lilin setengah meleleh yang apinya melayang layang di terpa angin.
“aku tak membuhunya…aku bersumpah”.
     Di antara cahaya lilin di ruangan segelap ruang bawah tanah seseorang memeluk lututnya erat,wajahnya terjatuh di jemarinya yang tertutup seluruh rambutnya … dan rambut seseorang di sampingnya.
“mereka menukar jiwa mereka….”.
    Suara kaku berbisik itu terdengar lagi,melayang layang … terpantul di ruangan gelap kecil seperti di dinding dinding goa.
   Lee ae masih menutup wajahnya,bibir nya bergetar lagi,bayangan bayangan hitam berambut panjang merayap di dinding kamarnya,jemarinya yang panjang menggapai rambut lee ae,menyusuri cahaya lilin lalu menghilang ketika cahaya lilin itu tertutup horden biru tua,bayangan itu menghilang menjauh bersama suara melengking  yang menyayat nyayat .
    Sekarang hanya ada deru nafasnya yang beradu,dan tangis sesegukannya.ia mencoba berdiri saat seseorang mengetuk pintu,tapi tubuhnya yang lemah malah melorot lembut di dinding kamar.
“kau baik baik saja”.
    Suara seseorang  setelah bunyi pintu di dobrak.seseorang berjalan lambat.cahaya bulan di luar  sana mengikuti  di belakang tubuhnya.
“ada apa dengan lampu di ruangan ini”.
      Lampu menyala dan jong woo berlutut di depan tubuh lemah yang membeku,ia menatap wajah pucat lee ae yang menatap kosong .
“ada apa dengan mu”.
“kalau kau mengingat kata kata ku saat di pemberhentian bus aku minta maaf aku tak bermaksud mengatakan hal itu,aku hanya…”.
 “dia hidup seratus tahun yang lalu”.
   Suara serak yang tipis sebelum lee ae merasa tubuhnya bertambah lemah.
“dia ingin menukar jiwa nya”
   Suara itu bertambah lemah.
“jangan bicara lebih banyak lagi,kau mungkin terlau lelah,aku tau nyonya seo menyuruhmu membersihkan ruang bawah tanah perpustakaan karna kau kehilangan buku yang kau pinjam kemarin”.
“jong woo…”.
 “dia ingin hidup kembali”.
    Nafas lee ae tercekat,matanya basah lagi,iadapat merasakan tangan hangat jong woo memegangi bahunya.
“apa yang bisa kulakukan”.
   Lee ae menatap wajah seseorang didepannya.
“kau ingin percaya ceritaku”.
   Jong woo mengagguk.
“ah ra…itu semua karna kutukan itu,ah ra tidak benar benar mati,dia akan hidup seratus tahun lagi,seperti kutukan itu”.
     Lee ae terisak lagi,bibir nya terus bergetar,jong woo mengapai bahunya mendekat memeluk tubuh itu.di luar salju membeku.
“ibu memasak sup untukmu,keluar lah dari ruangan ini sekarang,tinggal dirumah kami dulu sampai kau baik baik saja,oh ya kenapa lampumu mati”.
“dia yang memantikannya”.
“lee ae,mungkin ini karna dongeng jk rowling”.
Lee ae menggeleng.
 “Jong woo….”
“ya”
“sekarang ia menginginkan jiwa ku”.
..................
        Jam berdetak lambat,lee ae terus membuka semua buku di depannya dan wajah jong woo tergelincir dari tangan nya,saat sebuah buku besar di jatuhkan lee ae di depan jong woo.
“apa yang akan kau buktikan,setelah berjam jam….”.
    Jong woo menatap pergelangan tangan nya.
“4 jam di sini”.
“ada sesuatu jong woo,kau takan mengerti karna kau tak mendengar yang ku dengar”.
“kau harus mengatakan sesuatu yang membuat ku bisa membantumu”.
“disampingku”.
“apa itu”.
“disampingku sudah cukup,hanya berjaga andai hantu itu datang dan membawaku,kau bisa melihatnya membawaku kemana”.
“ya tuhan … jangan bercanda lee ae”.
 “aku mendapatkan sesuatu disini”.
     Jong woo tercekat tak jadi menjatuhkan wajahnya ke meja besar kecoklatan dari kayu oak,berjalan lambat menyebrangi meja.
“apa ini lee ae”.
“sesuatu dari 100 tahun yang lalu ,kau tau”.
       Lee ae mendongakkan wajah nya kearah jong woo.jong woo mendekat kearah buku besar yang terbuka sepenuhnya,debu debu beterbangan ketika lee ae mengusapnya dengan telapak tangan,kertas berat dari kulit kayu yang tak di oleh sempurna berwarna kuning kecoklatan.berbunyi anggun setiap kali di buka lembarannya.
“lihat ini baik baik,apa kau kenal tempat ini”.
   Le ae menunjuk sesuatu di sana,sebuah tempat yang sama dan tak terlalu berbeda dengan yang masih tertinggal,danau tenang dengan cahaya temaram mungkin di sore hari yang hampir malam,cahaya keemasan terjatuh diair nya yang beriak hanya satu titik itu,dedaunan yang terjuntai mungkin melayang jika itu bukan sebuahlukisan. di bawah pohon itu,bermeter meter seorang wanita memandang danau,wajahnya tertegun dari samping,bahkan lukisan hitam putih itu tak memperlihat kan wajahnya.
“lukisan ini diambil di sebrang  danau dankok dan seseorang yang ada di sana  tidak menyadarinya”.
“ini tempat yang sama dengan tempat lee ah ra mati”.
“kim lee ae aku semakin tidak mengerti”.
    Lee ae memandangi wajah jong woo yang masih menatap lukisan itu.mereka bergegas hendak menutup buku itu ketika sesuatu tersangkut di kima jaket jong woo.sesuatu menjadi sobek,kertas yang mereka buka tidak setipis yang lain,beberapa lembar terlem atau mungkin di lem.jong woo mendekat lagi dan lee ae berhenti di tempatnya.
“apa kita menemukan sesuatu?”.
     Lee ae mengagguk dan ia tau sesuatu seperti darah mengalir keras di tubuhnya.
“buka perlahan”.
    Jong woo membuka kertas kusam itu dengan 2 jarinya,mengangkatnya sepelan mungkin,selembut mungkin,beberapa kalimat tercatat miring merunduk,seperti bukan di tulis manusi jaman ini.
“lebih pelan mr kim”.
      Lee ae duduk lagi di bangku tadi,memperhatikan jong woo menarik kertas.
“apa ini ???,aku benar benar tidak mengerti”.
    Jong woo menatap mata lee ae lagi.
   Sebuah lukisan besar dengan gambar seorang wanita buram seperti lukisan abad pertengahan,duduk membeku memegangi perutnya yang membesar,wajahnya membeku tanpa ekspresi,cairan yang entah warna apa mengalir melalui selangkangan nya,membuat gundukan membatu di lantai,saat lee ae berhenti mengamati gambar itu ia melihat dengan jelas rambut seseorang yang ada disana,menyapu pipi tirus seseorang difoto itu,dan itu bukan milik wanita itu,sangat ia kenali.lee ae menegeak mundur perlahan sementara jong woo membaca sesuatu disamping gambar itu.
hukuman mati karena dituduh membunuh seorang putri tahun 914.
“tidak ada penjelasan rinci lee ae,ini tidak membantu,bahkan tak ada kaitan nya dengan lee ah ra”.
     Jong woo masih berusaha membuka lapisan terakhir yang bergumpal saat bunyi gemertak seseorang menabrak lemari,lee ae melorot disisi lemari denagn wajah pucat,matanya berair dan menatap kosong.jong woo melangkah cepat,melupakn kertas terakhirnya.
“ada apa lagi…kau pasti kelelahan”.
“jong woo,kau benar …”.
“kau sedang bicara tentang apa”.
    Bibir lee ae bergetar,kepalanya menggeleng perlahan.
“kita pulang dan bawa buku itu,kau akan membuat ku gila jika tidak menyelesaikan semua ini”.
     Sunyi,cahaya bulan musim dingin masuk lewat sela sela reng di atas jendela,bayangan bayangan rak buku tinggi berjejer seperti berjalan mengikuti jong woo yang memegang tangan lee ae,dingin dan kaku menyusuri setiap tepian rak buku,bayangan itu datang lagi,namun tanpa suara atau bisikan.perlahan,samar samar di dekat meja panjang pohon oak bekas lee ae dan jong woo duduk tadi,ada senandung halus yang lembut dan gemeletut jemari.matanya tajam menatap lekat punggung punggung itu menjauh,semula mata itu putih tanpa noda,rambutnya melayang layang memperlihatkan seringai tipisnya,perlahan lahan cairan merah mengalir lembut diantara matanya mengalir membasahi gaun putih gading miliknya.senyap,,,semula tak ada suara sama seperti tadi,hingga bunyi teriakan melengking menggema di seluruh ruangan,dan berakhir dengan senandung nya tadi. setetes dan semakin banyak,darah itu tidak hanya mengalir dari matanya tapi juga selangkangan nya.
   ………………
          Mata kaku itu menatap kosong,mengerjap perlahan dan sebutir air jatuh di pangkuannya,jong woo meletakan selimut bulu tipis di bahu lee ae tak ada suara,yang terdengar hanya bunyi nafas lee ae.
“apa kau tak ingin mengatakan apapun”.
   Sunyi,ruangan ini di penuhi lilin yang melelh setenaghnya,namun tak menyala.jong woo mengangkat cangkir kopinya ketika lee ae mulai bicara.
“kau benar jong woo”.
    Jong woo hampir tak menelan kopinya,menatap mata lee ae yang masih kosong,hanya sebentar, jong woo mengalihkan pandangannya pada buku besar disampingnya.
“mari kita lakukan penelitian ini lagi”.
“jong woo”.
      Lee ae menatap mata jong woo,lebih dari pada siapapun mata itu tak pernah menatap seperti itu.
“aku sudah tau apa yang terjadi”.
    Jong woo menyipitkan matanya,mendekat pada tubuh lemah lee ae yang mulai turun kelantai.
“bicaralah,aku akan mendengarkanmu”.
             Lee ae mengangkat wajahnya,melepaskan selimut dari tubuhnya,matanya yang hitam menatap wajah jong woo.
“aku memang tidak membunuhnya tapi aku membantu membunuhnya”.
“kau akan membunuhku …. jika aku menceritakannya…jong woo”.
……………...
25 december…
23 jam sebelum ah ra menghilang…..
  “kita hanya bermain main saja lee ae”.
“kau tau aku akan menolaknya”.
   Lee ah ra menghela nafasnya,tubuhnya mencekat langkah lee ae.
“aku sudah membaca semua yang akan terjadi dan kalau kau tak keluar dari lingkaran yang kita buat,semua akan baik baik saja,ayolah lee ae kau tau aku benar benar menyukai hal hal semacam ini,aku hanya ingin melihat wajah nyonya hantu itu,meskipun aku tidak terlalu percaya ia akan datang ke dankok untuk menemui kita”.
   Lee ah ra terkekeh,menutup mulut nya ketika ia tertawa,lee ae memandangi wajah itu sebentar sebelum melangkah cepat,menjauh.
“atau aku akan mengatakan rahasiamu pada….”.
    Lee ae berbalik cepat,melangkah dengan wajah memerah,ia menghela nafasnya kasar sebelum menatap lee ah ra sekali lagi.
“kapan”.
“aku sudah tau kau akan menyetujuinya”.
“bagaimana kalau 14 jam setelah jarum itu keangka sepuluh,besok waktu yang tepat…yah ….tepat seratus taahun yang lalu,di tepi danau dankok…aku akan menunggumu … teman baikku”.
   Lee ah ra tersenyum,tangan nya menepuk pundak lee ae,hampir mirip menyeringai,berbalik dan melangkah cepat,melewati lorong dengan langkah berdegum,lee ae terpaku berdiri di tempatnya,ia menelan ludah nya perlahan,tak ada apa apa selain menyesali semua hal yang ia katakana pada lee ah ra.teman baiknya,mantan teman baiknya.
………………
        Lee ae dapat melihat dengan jelas lilin lilin kecil berayun lembut,ia memejamkan matanya sebentar sebelum mengeratkan jaket tebal nya yang entah kebera lapis ke tubuhnya.seseorang menyambutnya sambil tersenyum mengiringnya masuk ke lingkaran penuh cahya lilin di tepi danau dankok.angin membuat lilin bergoyang lagi,lee ae menatap enggan keatas kepalanya,daun willow begerak angkuh.lewat sela sela daunnya bulan bersinar lembab.
“apa yang harus kulakuakan”.
 Ah ra tersenyum,mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
“ini akan sangat membantu kita”.
“katakana apa yang harus kulaukan maka aku akan melakukan nya dan pulang”.
       Ah ra menarik bukunya malas,buku besar seperti buku mantra harry potter ,lalu memegangi tangan lee ae.
“kita hanya harus saling menyentuh jangan pernah melepaskan ini apa lagi keluar lingkarang,kau hanya perlu diam dan aku yang akan bicara,aku sudah menghapal cara memanggilnya”.
“aku sudah mengingat nya”.
       Dalam kesunyian,ah ra memejamkan matanya dan lee ae mengamati gerakan gerakan halus di dekat tubuhnya,sunyi,sunyi sekali,hanya bisisan bisiskan halus dari mulut ah ra yang terdengar.lee ae dapat merasakan tangan nya menjadi dingin.angin melayang layang semakin kasar,mengoyangkan ranting ranting kaku pohon willow.
   Le aea dapat melihat wajah ah ra memucat ketika angin semakin kencang,menerbangkan cahaya cahaya lilin,mematikannya satu persatu dan saat semuanya sudah gelap,sesuatu melayang diatas kepala mereka,kunang kunang kecil menyetuh rambut ah ra,terbang sebentar sebelum turun di punggung tangan nya.wajah pucat itu tersenyum,mengamati wajah lee ae yang memucat dan bergetar.
“sudah ku bilang tidak akan terjadi apa apa kan lee ae”.
    Ia terkekeh,melepaskan tangan nya dari jemari lee ae,matanya menatap angkuh dengan seringai yang menyebalkan.
“kalau kau sudah tau tak akan ada yang terjadi untuk apa menyuruhku pergi ketempat ini,malam ini ketiika salju bersenti senti meutupi jalan”.
    Lee ae berteriak di depan wajah ah ra yang masih tersenyum,ia berdiri lambat sebelum terpaku menatap kunag kunang melayang di belakang tubuh ah ra seperti merayap di angin,semakin banyak menerangi lingkarang mereka.lee ae mundur perlahan,ujung sepatunya menyentuh lilin mati yang terjatuh ketanah basah.berhenti disana.ah ra berdiri lambat menatap wajah lee ae yang bergetar bibirnya,kunang kunang itu perlahan bergerombol mendekati tubuh ah ra.
“ah ra apa kau yakin takan terjadi apa apa”.
     Ah ra meggeleng, antara tidak,atau tida tau.ketika kakinya membeku,sesuatu mengerayang,kunang kunang itu merayapi tubuhnya,lee ae dapat melihat wajah ah ra memucat benar benar memucat,perlahan cahaya keemasan dari kunang kunang kecil itu memudar menjadi gelap,berubah menjadi jemari jemari kurus yang kering,memeluk pinggang ah ra,angin menerbangkan rambut ah ra…dan rambut seseorang di sampingnya,di belakang tubuhnya.
    Lee ae melangkah mundur,menjauh kakinya yang kaku melangkah lambat ke rumput rumput mati yang dingin,matanya masih dapat melihat seseorang di belakang tubuh ah ra mendekatkan kepalanya pada telinga ah ra,deru nafas dan detak jantung lee ae terpacu, disini ia dapat melihat aah ra melemah dan ia juga tau sesuatu yang bukan lelocun sedang terjadi.
 “kalian ingin meminjam jiwa kami”.
  Suara lembut berbisik di telinga lee ae.
“kami sudah datang karna kalian memanggil”.
Suara yang dingin dan tajam.
“maka aku ingin jiwamu…perlahan saja”.
       Lee ae dapat merasakan tubuhnya di tarik ke belakang, keras sekali,rerumputan dingin yang mati menyentuh pipinya ketika suara itu menghilang dan tubuhnya sudah berbaring diantara salju,ia masih mendengar suara nafas beradu dengan detakan jari,mata lee ae mengerjap menatap sesuatu bermeter meter di depannya,ah ra berjalan lambat ketepi dankok,kaki nya melangkah lemah dan lee ae tau mata itu terpejm rapat.
      Lee ae hamper terhuyung ketika mencoba berdiri,dan ia tau tubuhnya melemah,cahaya bulan menyapu dedaunan,semakin lama semaakin memudar,saat matanya lelah,sesuatu menariknya lagi,sesuatu yang tipis dan panjang,melayang di atas matanya yang berkaca.
“kau adalah aku dan dia adalah orang yang membuat ku terbunuh”.
     Suara yang lembut dan dalam,melayang layang diantara keyataan daan khayalan.lee ae masih melihat sesuatu yang tipis melayang di depan wajah nya sebelum menghilang saat matanya terpejam.
……………....
      Lee ae masih menatap kosong,memeluk lututnya saat jong woo meletakan selimut bulu yang ia jatuhkan di samping tubuhnya.
“ini teori yang semakin tidak masuk akal”.
“karna ini bukan dunia kita jong woo”.
     Jong woo mengagguk lambat,matanya memperhatikan buku kecoklatan seperti daun layu di samping tubuhnya.
“jong woo,kau tau,buku itu….buku yang sama dengan yang ah ra bawa ke tepi dankok,dan setelah kejadian itu,tidak ada yang melihat buku ini lagi,buku ini kembali sendiri keraknya,aku melihatnya dua hari setelah kematian ah ra,di perpustakaan kota,saat aku mengatalog buku dan mengambil buku buku kono di ruang bawah tanah,buku itu kembali ke raknya”.
“jangan bercandaa lee ae”.
 Jong woo melepskan buku itu dari tangannya,namun dengan ragu ia dekati lagi.
“kita harus mencari lebih banyak lee ae”.
   Lee ae masih diam saat jong woo mulai membuka lembaran lembaran kertas,bunyinya mengayun lembut,dan lee ae merasa semakin dekat denagan sesuatu yang tak pernah ia fikirkan.bahasan tentang kutukan kutukan dan hukum mati zaman itu,beratus ratus lembar penuh dengan cara membunuh seseorang di masa lalu,jong woo hampir menyerah saat satu lembar lagi di kertas terlem itu ia buka,sesuatu akan terjadi.
“lee ae,aku menemukan sesuatu yang mungkin membantu”.
     Lee ae menegakan wajahnya,mendekat pada jong woo
“baca faragrap ini”.
      Dengan cahaya lampu neon keemasan yang redup,lee ae menundukan kepaanya,membaca setiap bait dalam selembar kertas kekungan .saat sampai di abzat terakhir le ae mengangkat wajahnya ,menatap wajah jong woo.
“aku akan membantumu lee ae”.
   Lee ae menggeleng,wajah itu semakin lelah.
“tidak jong woo…jangan lagi”.
…………………….
        Dua malam terakhir di December,dedaunan layu mulai menyusut dari ranting ranting kecoklatan yang layu,bulan berkabut menyusup dari belik sisa dedaunan.jong woo mulai menghidupkan satu persatu lilin yang melingkar di sekitar tubuhnya,dan lee ae berdiri di antara rerumputan mati di tepi dankok.
“kau tau jong woo kenapa aku berbohong”.
       Matanya melayang dintara lekat nya danau dankok,jong woo menatap sekilas,ia tau itu bukan pertanyaan.
“karna aku takut disalahkan,karna aku takut polisi tidak akan percaya apa yang kukatakan”.
“mereka….pasti tidak akan percaya,takan ada yang bisa percaya”.
   Sunyi,cahaya berkelebat menyusuri danau saat sebuah mobil melintas.
“aku percaya … padamu”.
    Jong woo mengangkat wajah nya ragu,matanya menatap bahu mengendur di tepi danau.perlahan tubuh itu berbalik,wajahnya menunduk,matanya menatap dingin.
“setidanya,kau yang memusuhiku seumur hidup mu,mempercayaiku”.
    Jong woo tersenyum tipis.
“aku tak bermaksud seperti itu,hanya saja….”.
“setelah ibu ku meninggal,ibu mu lebih menyanyangiku,aku tau tentang itu”.
“sebenarnya bukan hanya itu”.
     Lee ae menatap wajah jong woo yang terkena cahaya lilin,tubuhnya perlahan menegak,membuat bayangan lembut diantara lingkaran bercahaya.wajahnya menatap lee ae ragu.
“ya…kau lebih manis dari pada aku,karna itu ibu lebih menyayangimu”.
   Lee ae tersenyum hambar mata sayunya melembut ,melangkah lambat pada lingkaran yang sudah menyala sempurna.
“aku tau kau tak membenciku jong woo”.
   Jong woo tau matanya tercekat dan tubuhnya membeku saat lee ae melingkarkan tangan kepinggang nya,wajah itu terjatuh di bahu jong woo dan cahaya bulan terjatuh tepat di wajah jong woo, saat dedaunan layu menepi.
“jong woo,aku tak tau sampai kapan aku bisa bertahan,dia…bisa kapan saja megambil jiwa ku”.
     Angin mendesir lagi,perlahan tangan jong woo bergerak , hampir menyentuh tubuh lee ae ketika lambat lambta tercekat,bayangan  jemarinya memeluk tubuh lee ae,tapi hanya sampai disana.tangan itu terkulai lemah menyentuh pahanya.
“ini harus segera selesai kim lee ae”.
   Lee ae menatap jong woo,mata nya semakin layu.
“hanya sekali lagi kan”.
…………………
           Jong woo mengeratkan jaket lee ae ketika mereka berada di dalam lingkaran,udara hampir membeku,salju jatuh dari langit berkabut jatuh membuat rerumputan tak bergerak,hampir mati.angin berdegus kencang menjatuhkan salju yang di kait ranting kring.
“kau siap”.
   Jong woo mulai bergetar ketika lee ae mengangguk dan menuntup matanya.
“aku yakin ini berhasil,harus  berhasil”.
    Jong woo mulai menyentuh ujung jari sedingin es,lee ae membuka matanya sebentar saat jong woo menggengam tangan nya.
“kau sudah menghapal apa yang ada di buku itu”.
   Lee ae mengagguk.
      Sunyi,jong woo mulai menggidik ketika suara bisiskan bisikan dari mulut yang bergetar terdengar,bunyi bunyi halus dari air dingin dankok dan deru nafasnya.diantara cahayalilin yang terus bergoyang,angin bertiup lagi,semakin ganas.
      Lee ae memejamkan matanya,berhenti di akhir kata kata.sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh bahunya dan sesuatu yang tipis melayang layang di depan wajahnya,menyentuh pipinya perlahan,lee ae tau bibir nya bergetar saat sesuatu meraba rambutnya,perlahan matanya terbuka,udara semakin dingin,salju bersenti senti lebih tebal dari tadi,lilin mati dan tak ada lagi jong woo di depannya.bibir lee ae bergetar ia bahkan tak menyadari kaki nya yang berjalan mundur,dan berdiri entah sejak kapan.sunyi,tak ada suara apapun kecuali suara perempuan muda berceloteh,tertawa tawa.warna langit adalah apa yang dilihat ketika membuka album foto berpuluh puluh tahun yang lalu,dan leeae tau ini bukan masa dimana ia baru saja memejamkan matanya.
“kau tau…oran orang itu bilang ini sama dengan meminta bantuan iblis”.
“kenapa ? kalau itu benar apa ada yang salah”.
     Gadis itu mulai menyalakan lilin yang melingkari tubuhnya.
“kau harus tau tentang kutukan yang akan terjadi”.
“apa aku harus tau itu”.
       Setangah lingkaran sudah mulai menyala.
“seseorang akan mengambil jiwamu dan teman mu akan mengandung sesuatu yang megerikan”.
“kau percaya”.
      Sunyi…gadis itu mulai menarik tangan temannya ketengah lingkaran,mata nya yang hitam menatap hangat sebelum mulai terpejam dan bicara dengan bisikan.tangan nya memegang tangan seseorang didepannya,seseorang dengan rambut kecoklatan yang panjang.menutupi  setengah wajahnya ketiika menunduk.
       Tak ada yang terdengar kecuali bunyi angin dan cahaya lilin yang semakin memudar,sesuatu seperti teriakan didalam ruangan berbunyi nyaring,perlahan melembut dan berhenti ketika mata si pembaca mantra terbuka,dadanya naik turun menghela nafas,tangan nya yang memegang jemari seseorang didepannya ia guncang guncangkan,pandangan nya mulai memudar,perlahan menjadi kosong,sudut bibirnya menepi,terangkat kekiri.cepat sekali ketika tubuhnya menegak berdiri layu dan cahaya kecil berterbangan,memeluk tubuhnya.ia melangkah lambat ketepi danau.
“ada apa dengan mu”.
   Suara itu berteriak nyaring,ia hampirberlari ketika jambakan keras membuatnya terjatuh dia ntara salju yang tebal,darah mengalir di pelipisnya,tanga nya yang bergetar meraba salju yang mulai merah darah.
“jangan ke leluar dari lingkaran”.
    Ia berkata lemah sampai nafasnya tercekat,perlahan matanya tertutup.
    Semula lee ae berjalan ragu,hingga berlari cepat ketika gadis itu berhenti di tepi dankok,matanya yang kosong perlahan menutup.
“kau …. Ada apa dengan mu,sadar lah,apa yang kau lakukan di sini,kenapa???ada dengan mu”.
     Lee ae memandangi wajah itu,mencoba menyentuh bahunya,tapi itu hanya bayangan,tubuh itu tak dapat di sentuh,ini hanya serpihan kejadian dari masa lalu.lee ae menggenggam jemari nya,mengangkat wajahnya untuk menatap wajah seseorang yang berdiri layu didepannya,dan yang terjadi adalah sesuatu seperti menghalangi kerongkongan lee ae.
“kau…”.
    Lee ae melirik seseorang dengan darah di pelipis nya,terjatuh beberapa meter dari lingkarang,semua lilin mati,dan hanya bulan yang berkabut yang di tutupi dedaunan layu yang membuat cahaya,yang membuat lee ae dapat melihat dengan jelas wajah seseorang disana.
         Dan seperti ditarik ke dimensi yang lain,sesuatu sepeti bertambah berantakan,lee ae dapat melihat wajah ah ra,mimpi mimpi yang dialaminya,wajah jong woo,rambut rambut yang melayang di wajahnya,teman teman yang berjalan cepat untuk menjauhinya,sesuatu yang benar benar berantakan.
“lee ae… kim lee ae”.
     Lee ae tercekat,matanya yang mulai basah mengerjap menatap seseorang didepannya,wajah itu tersenyum tipis,pucat pasi seperti porselin,matanya yang lembut menatap hangat.
“dia adalah temanku…teman baikku,dia seorang putri dan aku adalah pelayannya”.
      Ia berbalik menatap tepian dankok.
“kau takan berhasil jika hari itu bukan tahun keseratus”.
   Mata lee ae mengerjap lagi,nafasnya tersengal,dan bibirnya membeku.
“dia yang menginginkan permainan itu,dan aku hanya mengikuti kehendaknya,kau tau lee ae”.
   Mata itu kembali menatap lee ae,gaun putihnya yang bersinar di terbangkan angin bersama rambutnya.
“aku pulang tanpanya,aku mendapatkaan hukuman dari permainan terkutuk itu dan  aku dihukum karna tak bisa menjaga putri”.
“aku tak pernah melihatwajah orang tuaku,aku pernah berada di posisimu,aku melepaskanm,tidak akan lagi mengganggumu”.
    Sunyi,lee ae meunduk,namun perlahan ia mengangkat wajahnya menatap seseorang disamping kirinya,tapi tidak ada lagi.kosong ia hanya berdiri sendirian,di tepi dankok 100 tahun yang lalu.
“kau…”.
“dimana…”.
    Nafas lee ae mulai sesak,tubuhnya mulai bergetar lagi.
“disampingmu….”.
    Lee ae menadengar suara itu di sebelah kanannya,mata itu tidak lagi menatap lembut,menajam.bibirnya naik kekiri,perlahan wajah seperti porselin itu,mongering,matanya yang hangat memutih dan dimulai dengan satu titik lalu menjadi ribuan titik,matanya memerah,darah berjatuhan dari sela sela pipinya.putih dari gaunnya menjadi bernoda,kusam dan tidak seperti tadi.
“bila kau menjauhi kutukan itu kau salah.kau juga akan seperti ku”.
     Suara itu hampir menyakiti telinga lee ae,Tubuh nya berlari tanpa melangkah,mengejar lee ae yang mulai tersengal.
“lee ae…kim lee ae”.
    Suara dari dimensi yang berbeda terdengar dekat sekali.
kau mendengar ku,bangun sekarang”.
    Suara itu semakin nyata,lee ae memejamkan matanya,dan ketika mata itu terbuka,seseorang yang sangat ia kenali,duduk di depannya,masih menggeggam tangan nya.dan perlahan memeluknya.
“apapun yang kau temui atau kau temukan,kuharap kau segera memberi tahuku kau akan baik baik saja”.
   Lee ae memucat.
“tak ada yang bisa dilakukan jong woo,tidak ada”.
   Lee ae mulai terisak.
“tapi dia melepaskan ku…”.
  Jong woo manatap wajah itu.
“aku membacanya lee ae,kalau dia melepaskanmu,dia tidak akan lagi datang menemuimu”.
“apa itu kata lain dari…semua nya sudah selesai ?”.
 ………………
     Lee ae berlari kecil mengejar jong woo, matanya tidak lagi layu,sudah bersinar.koridor sekolah sedikit lebih ramah dari biasanya,setidanya bebrapa orang yang lee ae temui mulai tersenyum.
“hey lee ae”.
 “siapa kau? Anak baru…hey lee ae???apa itu???,kau menegur seperti baru pertama kali bertemu dengan ku”.
    Lee ae terkekeh.
“kau sedkit lebih bahagia”.
“aku sangat bahagia jong woo”.
   Jong woo dapat merasakan sesuatu menghangat di dadanya ketika lee ae menyentuh bahunya.
“lee ae…sebenarnya aku sudah lama ingin bertanya tentang hal ini”.
    Lee ae mengangguk.
“kau tau wanita itu tidak lagi datang,keluarga ah ra sudah menutup kasus itu karna … kau tau mayat itu tidak akan kembali sekarang, lalu silahkan bertanya apa saja”.
    Jong woo manatap wajah itu.
“apa yang membuat mu mengikuti permainan gila itu,kau tau masudku,pasti ada sesuatu yang sangat penting”.
   Pipi lee ae memerah.
“ah..itu…tidak penting”.
   Jong woo menatapnya lebih dekat.
“apa alasan yang sama dengan kenapa kau selalu menyerahkan uang mu pada lee bersaudara”.
    Dan pipi itu semakin merona.
“apa yang mereka katakan?”.
   Jong woo mulai salah tingkah,menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“kau sudah tau apa yang mereka katakan,Sesuatu yang sama dengan alasan ku memusuhimu,kau tau … maksudku,aku biasanya membenci perasan seperti itu,memcoba menghilangkannya…aku…menyukai mu …”.
    Lee ae terssenyum ,lembut sekali.
“kau tau jong woo,mungkin hal ini adaah Alasan kenapa filosop filosop masa lalu mengatakan tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan”.
      Jong woo menelan ludahnya,menatap lee ae ragu.
“kenapa kau tidak mengatakannya?”.
“karna kau sangat membenciku”.
      Jong woo terkekeh.
“tahun baru…malam ini,mau melakukan sesuatu dengan ku”.
Lee ae mengagguk.
    semuanya sudah selesai,lee ae kembali merangkul bahu jong woo,melangkah kekelas 2 dan berpisah dibelokan,semua orang sudah kembali seperti semula dan itu sangat melegakan,tapi…. masih ada sesuatu.
……………….
          Seperti pada taahun tahun yang lalu hanya saja sedkit berbeda,yah..kau tau bagaimana rasanya bebas dari sesuatu yang mengikuti mu kemana mana,da sekarang seseorang menjadi ramah denga status istimewa.
       Jong woo berdiri tegang di depan pintu rumah lee ae,tangan nya yang sejak tadi terus ragu mulai mendekati pintu,perlahan membuat suara ketukan yang lembut,tapi tidak ada yang membuka pintu untuknya,sekali dua kali dan sudah berkali kali,lambat sekali jong woo mendorong pintu didepannya,bunyi engsel kering tak diminyaki berdecit nyaring,kaki nya mulai menginjak lantai rumah yang sunyi dan gelap.
“lee ae…kim lee ae”.
   Tidak ada suara,sunyi sekali,jong woo masuk lebih dalam,sesuatu terdengar.sesuatu dari kamar mandi,suara isakan yang hampir tak terdengar.
“lee ae…kau baik baik saja”.
    Jong woo membuka pintu kamar mandi,bayangan hitam berdiri tegang didepan cermin,jong woo dapat tau gaun selutut itu berwarna putih dengan warna berbeda yang menempel di bagian bawahnya.
“ada apa”.
    Isakan itu memudar,diam,tidak ada yang bicara.
“seseorang datang kerumah ku jong woo”.
“siapa?”.
“seseorang dari seratus tahun yang lalu,manusia yang cantik,dia yang mencuri jiwa ah ra”.
  “apa yang dia katakan”.
      Sunyi,ruangan itu bertambah dingin ,jong woo mendekat,mengamati pantulan kaca gelap yang hitam.angin dingin malayang layang membuat suara berisik.
“orang itu,wanita yang kutemui di dankok … dia melepaskan ku…tapi kutukan itu …tetap berlaku”.
    Jong woo menggeleng.
  “jangan bercanda”.
    Jong woo meraba dinding kamar mandi,mencari sekring lampu,dan saat  lampu ruangan menyala,Sesuatu dalam dada jong woo seperti membeku,mati.
     Ia hampir melangkah menjauh,jika saja matanya tak menemukan mata lee ae yang lembut dan berembun dari pantulan kaca berair .perlahan jemarinya menyentuh bahu lee ae,mengamati wajah pucat dengan mata melayang.
“benar benar tak ada yang bisa dilakukan”.
    Jong woo memeluk pinggang lee ae,pinggang yang berbeda.perutnya menonjol membesar, perut yang mereka lihat di lukisan buku layu masa lalu,dingin menusuk lagi,bibir lee ae dan jong woo membeku,tak ada yang mau bicara.sunyi.
……………….
aku melepaskanmu tapi kutukan itu tidak menghilang                                                                                         aku mati karna dibunuh mati bukan kutukanku dan sampai detik ini aku tak pernah tau apa yang ku kandung saat itu,karna mereka membunuhku sebelum aku melahirkannya
Seperti berabad abad yang lalu,tak pernah ada janji yang di langgar,panggilan ini untuk orang orang yang dipanggil,menukar sesuatu dengan sesuatu yang kau miliki,mereka tidak punya apa apa,panggil dengan lembut.
“datang saja…kami menunggu kalian…jangan pergi jika tangan ini terlepas…lilin ini tak lagi jadi pembatas…masing masing dapat satu…kami tak punya apa apa…kau harus menungu…”.
Saat angka satu punya dua bulatan dibelakangnya,merayap lah dari tepian bersama kunang kunang yang mengaburkan…ambil jiwa mereka,tukarkan saja…
Seratus tahun kau sudah menunggu,jangan menunggu seratus tahun lagi…
Jagalah dengan baik,karna dia mengabadikanmu…
Karna kau hidup selamanya mati selamanya,menangis selamanya….
1-11-14


       
     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik