tidak semua yang mati itu mati,Bergerak perlahan
bersama angin, Mengamati
jiwa yang siap Dengan lembut mendekat
Seperti bayangan….
Kau percaya
sebuah kutukan ? ……….
………………
Api…hembusan
hangat nya membakar sebuah rumah,tarik menarik dedaunan terhempas,malam itu semuanya
terasa berbeda.
“dia pembunuh,dia yang membunuh wanita itu,dia
bahkan membunuh suaminya”.
Air dari
danau di samping rumah itu beriak,berombak,sekali lagi dedaunan nya sekaan di
tarik angin.api…berpuluh puluh tungkai kayu dengan api diatasnya
menyala,berteriak menyuruh orang di rumah terbakar itu keluar.
Api
semakin menyala,hembusan hembusan api merayap di rumah kayu,daun pohon oak yang
merindangkan halaman rumah itu menghitam,layu.didalamnya asap melayang layang,penuh,menyesakan.seorang
perempuan kecil,mendekap buku besar nya,tempat nya bercerita,bibirnya
bergetar,perlahan melipat kakinya,ikut ia peluk.angin hangat dan asap
berdesakan masuk keparu parunya,air matanya mulai menetes.
Diluar …
suara teriakan,bisilan bisikan,sumpah serapan,bercampur.tapi perempuan kecil
itu tidak lagi bisa mendengar dengan baik,sudah sesak paru parunya,tangan nya
melemah,sementara kayu kayu mulai merapuh dan satu satu terjatuh didekat
nya,tubuhnya tidak bergerak lagi,tangan bergetarnya berhenti,ia diam,tidak
bersuara.tangannya yang mendekap buku besar itu perlahan merenggang,buku itu
tergeletak jatuh di samping kakinya.
Dan
perlahan api melayang layang,mendekat ke tubuh kecilnya,hanya sendirian.
Hanya
setelah setengah rumah terbakar,orang orang itu berbalik meninggalkan rumah
itu,menggurutu,menyumpah,tertawa.membiarakan rumah itu menjadi abu,membiarkan angin menghilangkan
jejaknya.
Dari
kegelapan hutan,disisi kiri danau,seseorang berlari terengah,air matanya
mengalir,bercampur dengan kulit wajahnya.terjatuh semua kayu di
pelukannya,bergetak tangannya ketika mencoba mendekat pada abu abu itu,mencari
seseorang dari sisa sisa kayu yang terbakar menghitam.
Sunyi,hanya
hutan,danau,dan beberapa api kecil yang melayang di terpa angin.tangan wanita
itu bergetar menyentuh tubuh kecil diantara kayu kayu arang,kunang kunang
mengantarkan langkah nya,menepi ke tepi dankok,perlahan menenggelamkan mayat
menghitam yang semakin mengecil,hujan turun.membasahi tubuhnya,tangan nya
menggapai lembut perut nya yang menonjol,seseorang tinggal disana.tapi mungkin
tidak sekarang,darah mengalir diantara selangkangan nya,turun ke
tungkai,tubuhnya bergetar,kakinya yang kelu perlahan menyentuh tanah basah.
“bukan anak
ku yang salah,bukan dia,bunuh aku,kenapa mereka tidak membunuhku,bukan aku yang
ingin menyentuh mereka,bukan aku yang ingin membunuh mereka”.
Wanita itu
terisak,bukan salahnya,itu memang bukan salahnya,dia ingin menolong,dia ingin
mengobati,hanya saja waktunya tidak tepat.
“kembalikan anakku,kembalikan anakku,bahkan jika
iblis datang membantu ku maka akan aku terima bantuan darinya”.
Zaman
dulu,beratus ratus tahun sebelum kau bertemu infuse,suntikan,obat.kau akan
bertemu ramuan ramuan,di zaman klasik beratus ratus tahun sebelum kau bertemu
dokter,kau akan bertemu seseorang yang mengobati dengan apapun yang mereka
temukan di hutan,orang orang itu bukan hanya akan dipuja,tapi juga akan dicela.
Hujan
turun,wanita itu masih berada di tepi dankok,darah mengalir semakin banyak,ia
memanggil nama suaminya yang mereka bilang mati karna nya,suaminya mati di bawa
binatang di hutan sana,tapi tidak ada yang mau mendengarnya.darahnya mengalir
lagi,lagi.
Tubuhnya
melemah,bibirnya mengucap kata kata,menyumpah pada keturunan orang orang
itu,pada tempat itu,pada benda bendanya,tangan nya bergetar,sebentar sebelum
pipinya nya menyentuh tanah,buku yang sudah menjadi abu itu,menyatu,buku dari
kulit pohon oak di tepi dankok,berubah isinya,penuh dengan seruan seruan
iblis.perlahan matanya terpejam,dia pergi,tapi tidak dengan damai.
……………
Dalam
sinar lampu redup jalan kota,beberapa bus masih berjalan malas diantara deretan
temaram,langkah kaki beberapa orang
terdengar lambat .gumpalan gumpalan salju mencair diantara ranting
ranting kaku yang mulai menyegar,angin malam menerpa kulit layu seseorang yang
berdiri tegak diantara jalur jalanan kota,berkali kali menghembuskan nafas dan
mengeratkan jeket merah marun ke tubuhnya,buku buku karangan jk rowling di
dekapnya di dada.tangan nya maih bergetar ketika menemukan buku usang yang
benar benar ia kenal terselip dari ribuan buku yang ia katalogkan,syel putih
gading melorot di bahunya,perlahan ia naikan.bersamaan dengan hembusan hembusan
nafas lembut yang keluar masuk hidung nya. angin berhembus lagi.
Akhir
December di tahun ini,tahun kedua di sma nya yang tidak terlalu
menyenangkan.setidaknya ia tak harus menyerahkan seluruh isi kantong nya pada
lee bersaudara,tangan nya kelu kedinginan,padahal sudah tertutup rapat kaos
tangan,tangan itu tidak baik baik saja,berjam jam berurusan dengan debu debu
lantai bawah tanah,bepuluh puluh ekor tikus sialan menyerbu kaos kakinya yang
tak sempat ia cuci.mata itu menyipit mendengar gerakan naik turun nafas
seseorang di dekatnya.ragu tapi cepat ia memalingkan wajahnya kedekat punggungnya,sunyi.perpustakaan kota
sudah senyap.ia berbalik kearah jalan lagi saat sesuatu melayang layang di
dekat pundaknnya.perlahan mengikuti kepalanya yang menyapu keheningan,tidak
hanya satu.beratus ratus kunang kunang menyelinap dalam kegelapan,ketika ia
sadar lampu lampu di pinggir jalan itu sudah mati.
Ia
terengah menjauh,kaki kecilnya menyelinap diantara rumput mati yang di tutupi
salju,ranting ranting pucat di tiup angin,mirip sekali dengan jemari mayat yang
diawetkan.
Diantara
kesunyian,bunyi bunyi itu datang lagi,cahaya kunang kunang tadi sudah menghilang tak ada satu pun,ia
menunduk diam di tempat tunggu bus terakhir,tangan nya bergetar entah kenapa.helaian
rambut terbang menyentuh kulit pucat pipinya,bibir kecil merah nya
bergetar,matanya tak mengerjap, hanya beberapa kali ia memejamkannya lama
sekali,berharap hawa dingin yang berbeda itu sudah menghilang bersama angin.
“aku
takan meninggalkanmu”.
Suara
yang beku dingin dan muram,terangkai berbisik memasuki telinga lee ae,kim lee
ae.
Gadis itu
kembali bergidik,sekali lagi rambut itu menyentuh pipinya,lee ae tidak
bergerak,membeku.bibirnya terus bergetar.
“kau
yang menginginkannya”.
Bisikan
itu terdengar lagi,dan lee ae sudah menutup telinganya dengan kedua telapak
tangan nya,buku buku jk rowling terjatuh ketanah basah.
“apa yang kau lakuakan disini,sendirian”.
Jantung
nya hampir jatuh ketanah saat seseorang menyetuh tangan nya dengan ujung buku
buku yang sedikit basah.
“aku?aku?”.
Suara itu
bergetar bercampur dengan deru nafas tak beratur.wajahnya menatap seseorang
yang memegangi buku bukunya,tangan nya yang dingin bergetar mengambil buku buku
itu.
“menunggu
bus”.
“kau sedang tidak baik baik saja”.
“tidak,aku hanya sedikit …. kau tau tak ada yang mau
berteman dengan ku akhir akhir ini”.
“setelah kematian lee ah ra”.
Sunyi,lee ae menelan ludahnya sebelum menunduk lagi,wajah nya yang pucat
terkena sinar bulan berkabut. Untuk beberapa saat tak ada yang bicara laki laki
itu berdiri disamping kim lee ae, semakin kaku.
“aku tau semau orang menyalahkan ku karna itu”.
“apa kau mau membela dirimu”.
“semua orang tidak percaya padaku”.
“karna kau berbohong”.
“aku bersumpah aku tidak berbohong”.
“kau meninggalkan nya sendirian di danau dankook,apa
kau tak berfikir siapa saja bisa berkeliaran di daerah itu,orang gila,orang
mabuk,penjahat,perampok,pemerkosa,psikopat,atau mungkin kau ….”.
Wajah
lee ae memanas,ia menatap tajam pada seseorang disampingnya.
“jong woo,aku benar benar melihatnya berjalan kearah tepi dankook,entah karna
apa,dia sendiri yang bercebur ke danau itu”.
“dia tak pernah punya masalah,apa kau mau bilang ia
bunuh diri”.
Lee ae
menggeleng lemah,matanya bertemu tajam dengan laki laki di sampingnya.
“aku ingin menyelamatkannya jong woo,tapi aku tak
punya kesempatan”.
“ya…tidak semua orang punya kesempatan untuk
menyelamatan tapi semua orang selalu punya cara untuk mencelakai”.
Lee ae suda
terisak saat bus terakhir datang,jong woo melangkah cepat seakan ia sendirian
ditempat itu.ia tau orang itu sangat marah karna larangan nya dilanggar,lee ae
melangkah lambat,kaki nya layu memasuki bus terakhir malam itu.
“dia
melepaskan jiwa nya … hanya melepaskan jiwa nya…”.
………………
Sunyi,sunyi
sekali yang terdengar hanya dengus nafas bekas menangis,lilin lilin setengah
meleleh yang apinya melayang layang di terpa angin.
“aku tak membuhunya…aku bersumpah”.
Di antara
cahaya lilin di ruangan segelap ruang bawah tanah seseorang memeluk lututnya
erat,wajahnya terjatuh di jemarinya yang tertutup seluruh rambutnya … dan
rambut seseorang di sampingnya.
“mereka
menukar jiwa mereka….”.
Suara kaku
berbisik itu terdengar lagi,melayang layang … terpantul di ruangan gelap kecil
seperti di dinding dinding goa.
Lee ae
masih menutup wajahnya,bibir nya bergetar lagi,bayangan bayangan hitam berambut
panjang merayap di dinding kamarnya,jemarinya yang panjang menggapai rambut lee
ae,menyusuri cahaya lilin lalu menghilang ketika cahaya lilin itu tertutup
horden biru tua,bayangan itu menghilang menjauh bersama suara melengking yang menyayat nyayat .
Sekarang
hanya ada deru nafasnya yang beradu,dan tangis sesegukannya.ia mencoba berdiri
saat seseorang mengetuk pintu,tapi tubuhnya yang lemah malah melorot lembut di
dinding kamar.
“kau baik baik saja”.
Suara seseorang setelah bunyi pintu di dobrak.seseorang berjalan
lambat.cahaya bulan di luar sana
mengikuti di belakang tubuhnya.
“ada apa dengan lampu di ruangan ini”.
Lampu
menyala dan jong woo berlutut di depan tubuh lemah yang membeku,ia menatap
wajah pucat lee ae yang menatap kosong .
“ada apa dengan mu”.
“kalau kau mengingat kata kata ku saat di
pemberhentian bus aku minta maaf aku tak bermaksud mengatakan hal itu,aku
hanya…”.
“dia hidup
seratus tahun yang lalu”.
Suara serak
yang tipis sebelum lee ae merasa tubuhnya bertambah lemah.
“dia ingin menukar jiwa nya”
Suara itu
bertambah lemah.
“jangan bicara lebih banyak lagi,kau mungkin terlau
lelah,aku tau nyonya seo menyuruhmu membersihkan ruang bawah tanah perpustakaan
karna kau kehilangan buku yang kau pinjam kemarin”.
“jong woo…”.
“dia ingin
hidup kembali”.
Nafas lee
ae tercekat,matanya basah lagi,iadapat merasakan tangan hangat jong woo
memegangi bahunya.
“apa yang bisa kulakukan”.
Lee ae
menatap wajah seseorang didepannya.
“kau ingin percaya ceritaku”.
Jong woo
mengagguk.
“ah ra…itu semua karna kutukan itu,ah ra tidak benar
benar mati,dia akan hidup seratus tahun lagi,seperti kutukan itu”.
Lee ae
terisak lagi,bibir nya terus bergetar,jong woo mengapai bahunya mendekat
memeluk tubuh itu.di luar salju membeku.
“ibu memasak sup untukmu,keluar lah dari ruangan ini
sekarang,tinggal dirumah kami dulu sampai kau baik baik saja,oh ya kenapa
lampumu mati”.
“dia yang memantikannya”.
“lee ae,mungkin ini karna dongeng jk rowling”.
Lee ae menggeleng.
“Jong woo….”
“ya”
“sekarang ia menginginkan jiwa ku”.
..................
Jam
berdetak lambat,lee ae terus membuka semua buku di depannya dan wajah jong woo
tergelincir dari tangan nya,saat sebuah buku besar di jatuhkan lee ae di depan
jong woo.
“apa yang akan kau buktikan,setelah berjam jam….”.
Jong woo
menatap pergelangan tangan nya.
“4 jam di sini”.
“ada sesuatu jong woo,kau takan mengerti karna kau
tak mendengar yang ku dengar”.
“kau harus mengatakan sesuatu yang membuat ku bisa
membantumu”.
“disampingku”.
“apa itu”.
“disampingku sudah cukup,hanya berjaga andai hantu
itu datang dan membawaku,kau bisa melihatnya membawaku kemana”.
“ya tuhan … jangan bercanda lee ae”.
“aku
mendapatkan sesuatu disini”.
Jong woo
tercekat tak jadi menjatuhkan wajahnya ke meja besar kecoklatan dari kayu
oak,berjalan lambat menyebrangi meja.
“apa ini lee ae”.
“sesuatu dari 100 tahun yang lalu ,kau tau”.
Lee ae
mendongakkan wajah nya kearah jong woo.jong woo mendekat kearah buku besar yang
terbuka sepenuhnya,debu debu beterbangan ketika lee ae mengusapnya dengan telapak
tangan,kertas berat dari kulit kayu yang tak di oleh sempurna berwarna kuning
kecoklatan.berbunyi anggun setiap kali di buka lembarannya.
“lihat ini baik baik,apa kau kenal tempat ini”.
Le ae menunjuk
sesuatu di sana,sebuah tempat yang sama dan tak terlalu berbeda dengan yang
masih tertinggal,danau tenang dengan cahaya temaram mungkin di sore hari yang
hampir malam,cahaya keemasan terjatuh diair nya yang beriak hanya satu titik
itu,dedaunan yang terjuntai mungkin melayang jika itu bukan sebuahlukisan. di
bawah pohon itu,bermeter meter seorang wanita memandang danau,wajahnya tertegun
dari samping,bahkan lukisan hitam putih itu tak memperlihat kan wajahnya.
“lukisan ini diambil di sebrang danau dankok dan seseorang yang ada di sana tidak menyadarinya”.
“ini tempat yang sama dengan tempat lee ah ra mati”.
“kim lee ae aku semakin tidak mengerti”.
Lee ae
memandangi wajah jong woo yang masih menatap lukisan itu.mereka bergegas hendak
menutup buku itu ketika sesuatu tersangkut di kima jaket jong woo.sesuatu
menjadi sobek,kertas yang mereka buka tidak setipis yang lain,beberapa lembar
terlem atau mungkin di lem.jong woo mendekat lagi dan lee ae berhenti di
tempatnya.
“apa kita menemukan sesuatu?”.
Lee ae
mengagguk dan ia tau sesuatu seperti darah mengalir keras di tubuhnya.
“buka perlahan”.
Jong woo
membuka kertas kusam itu dengan 2 jarinya,mengangkatnya sepelan
mungkin,selembut mungkin,beberapa kalimat tercatat miring merunduk,seperti
bukan di tulis manusi jaman ini.
“lebih pelan mr kim”.
Lee ae
duduk lagi di bangku tadi,memperhatikan jong woo menarik kertas.
“apa ini ???,aku benar benar tidak mengerti”.
Jong woo
menatap mata lee ae lagi.
Sebuah lukisan
besar dengan gambar seorang wanita buram seperti lukisan abad pertengahan,duduk
membeku memegangi perutnya yang membesar,wajahnya membeku tanpa ekspresi,cairan
yang entah warna apa mengalir melalui selangkangan nya,membuat gundukan membatu
di lantai,saat lee ae berhenti mengamati gambar itu ia melihat dengan jelas rambut
seseorang yang ada disana,menyapu pipi tirus seseorang difoto itu,dan itu bukan
milik wanita itu,sangat ia kenali.lee ae menegeak mundur perlahan sementara
jong woo membaca sesuatu disamping gambar itu.
hukuman mati karena dituduh membunuh seorang putri
tahun 914.
“tidak ada penjelasan rinci lee ae,ini tidak
membantu,bahkan tak ada kaitan nya dengan lee ah ra”.
Jong woo
masih berusaha membuka lapisan terakhir yang bergumpal saat bunyi gemertak
seseorang menabrak lemari,lee ae melorot disisi lemari denagn wajah
pucat,matanya berair dan menatap kosong.jong woo melangkah cepat,melupakn
kertas terakhirnya.
“ada apa lagi…kau pasti kelelahan”.
“jong woo,kau benar …”.
“kau sedang bicara tentang apa”.
Bibir lee
ae bergetar,kepalanya menggeleng perlahan.
“kita pulang dan bawa buku itu,kau akan membuat ku
gila jika tidak menyelesaikan semua ini”.
Sunyi,cahaya
bulan musim dingin masuk lewat sela sela reng di atas jendela,bayangan bayangan
rak buku tinggi berjejer seperti berjalan mengikuti jong woo yang memegang
tangan lee ae,dingin dan kaku menyusuri setiap tepian rak buku,bayangan itu
datang lagi,namun tanpa suara atau bisikan.perlahan,samar samar di dekat meja
panjang pohon oak bekas lee ae dan jong woo duduk tadi,ada senandung halus yang
lembut dan gemeletut jemari.matanya tajam menatap lekat punggung punggung itu
menjauh,semula mata itu putih tanpa noda,rambutnya melayang layang
memperlihatkan seringai tipisnya,perlahan lahan cairan merah mengalir lembut
diantara matanya mengalir membasahi gaun putih gading miliknya.senyap,,,semula tak
ada suara sama seperti tadi,hingga bunyi teriakan melengking menggema di
seluruh ruangan,dan berakhir dengan senandung nya tadi. setetes dan semakin
banyak,darah itu tidak hanya mengalir dari matanya tapi juga selangkangan nya.
………………
Mata
kaku itu menatap kosong,mengerjap perlahan dan sebutir air jatuh di
pangkuannya,jong woo meletakan selimut bulu tipis di bahu lee ae tak ada
suara,yang terdengar hanya bunyi nafas lee ae.
“apa kau tak ingin mengatakan apapun”.
Sunyi,ruangan ini di penuhi lilin yang melelh setenaghnya,namun tak
menyala.jong woo mengangkat cangkir kopinya ketika lee ae mulai bicara.
“kau benar jong woo”.
Jong woo
hampir tak menelan kopinya,menatap mata lee ae yang masih kosong,hanya
sebentar, jong woo mengalihkan pandangannya pada buku besar disampingnya.
“mari kita lakukan penelitian ini lagi”.
“jong woo”.
Lee ae
menatap mata jong woo,lebih dari pada siapapun mata itu tak pernah menatap
seperti itu.
“aku sudah tau apa yang terjadi”.
Jong woo
menyipitkan matanya,mendekat pada tubuh lemah lee ae yang mulai turun kelantai.
“bicaralah,aku akan mendengarkanmu”.
Lee ae mengangkat wajahnya,melepaskan selimut dari tubuhnya,matanya yang
hitam menatap wajah jong woo.
“aku memang tidak membunuhnya tapi aku membantu
membunuhnya”.
“kau akan membunuhku …. jika aku
menceritakannya…jong woo”.
……………...
25 december…
23 jam sebelum ah ra menghilang…..
“kita hanya
bermain main saja lee ae”.
“kau tau aku akan menolaknya”.
Lee ah ra
menghela nafasnya,tubuhnya mencekat langkah lee ae.
“aku sudah membaca semua yang akan terjadi dan kalau
kau tak keluar dari lingkaran yang kita buat,semua akan baik baik saja,ayolah
lee ae kau tau aku benar benar menyukai hal hal semacam ini,aku hanya ingin
melihat wajah nyonya hantu itu,meskipun aku tidak terlalu percaya ia akan
datang ke dankok untuk menemui kita”.
Lee ah ra
terkekeh,menutup mulut nya ketika ia tertawa,lee ae memandangi wajah itu
sebentar sebelum melangkah cepat,menjauh.
“atau aku akan mengatakan rahasiamu pada….”.
Lee ae
berbalik cepat,melangkah dengan wajah memerah,ia menghela nafasnya kasar
sebelum menatap lee ah ra sekali lagi.
“kapan”.
“aku sudah tau kau akan menyetujuinya”.
“bagaimana kalau 14 jam setelah jarum itu keangka
sepuluh,besok waktu yang tepat…yah ….tepat seratus taahun yang lalu,di tepi
danau dankok…aku akan menunggumu … teman baikku”.
Lee ah ra
tersenyum,tangan nya menepuk pundak lee ae,hampir mirip menyeringai,berbalik dan
melangkah cepat,melewati lorong dengan langkah berdegum,lee ae terpaku berdiri
di tempatnya,ia menelan ludah nya perlahan,tak ada apa apa selain menyesali
semua hal yang ia katakana pada lee ah ra.teman baiknya,mantan teman baiknya.
………………
Lee ae
dapat melihat dengan jelas lilin lilin kecil berayun lembut,ia memejamkan
matanya sebentar sebelum mengeratkan jaket tebal nya yang entah kebera lapis ke
tubuhnya.seseorang menyambutnya sambil tersenyum mengiringnya masuk ke
lingkaran penuh cahya lilin di tepi danau dankok.angin membuat lilin bergoyang
lagi,lee ae menatap enggan keatas kepalanya,daun willow begerak angkuh.lewat
sela sela daunnya bulan bersinar lembab.
“apa yang harus kulakuakan”.
Ah ra
tersenyum,mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
“ini akan sangat membantu kita”.
“katakana apa yang harus kulaukan maka aku akan
melakukan nya dan pulang”.
Ah ra
menarik bukunya malas,buku besar seperti buku mantra harry potter ,lalu
memegangi tangan lee ae.
“kita hanya harus saling menyentuh jangan pernah
melepaskan ini apa lagi keluar lingkarang,kau hanya perlu diam dan aku yang
akan bicara,aku sudah menghapal cara memanggilnya”.
“aku sudah mengingat nya”.
Dalam
kesunyian,ah ra memejamkan matanya dan lee ae mengamati gerakan gerakan halus
di dekat tubuhnya,sunyi,sunyi sekali,hanya bisisan bisiskan halus dari mulut ah
ra yang terdengar.lee ae dapat merasakan tangan nya menjadi dingin.angin
melayang layang semakin kasar,mengoyangkan ranting ranting kaku pohon willow.
Le aea
dapat melihat wajah ah ra memucat ketika angin semakin kencang,menerbangkan
cahaya cahaya lilin,mematikannya satu persatu dan saat semuanya sudah
gelap,sesuatu melayang diatas kepala mereka,kunang kunang kecil menyetuh rambut
ah ra,terbang sebentar sebelum turun di punggung tangan nya.wajah pucat itu tersenyum,mengamati
wajah lee ae yang memucat dan bergetar.
“sudah ku bilang tidak akan terjadi apa apa kan lee
ae”.
Ia
terkekeh,melepaskan tangan nya dari jemari lee ae,matanya menatap angkuh dengan
seringai yang menyebalkan.
“kalau kau sudah tau tak akan ada yang terjadi untuk
apa menyuruhku pergi ketempat ini,malam ini ketiika salju bersenti senti
meutupi jalan”.
Lee ae
berteriak di depan wajah ah ra yang masih tersenyum,ia berdiri lambat sebelum
terpaku menatap kunag kunang melayang di belakang tubuh ah ra seperti merayap
di angin,semakin banyak menerangi lingkarang mereka.lee ae mundur
perlahan,ujung sepatunya menyentuh lilin mati yang terjatuh ketanah
basah.berhenti disana.ah ra berdiri lambat menatap wajah lee ae yang bergetar
bibirnya,kunang kunang itu perlahan bergerombol mendekati tubuh ah ra.
“ah ra apa kau yakin takan terjadi apa apa”.
Ah ra
meggeleng, antara tidak,atau tida tau.ketika kakinya membeku,sesuatu mengerayang,kunang
kunang itu merayapi tubuhnya,lee ae dapat melihat wajah ah ra memucat benar
benar memucat,perlahan cahaya keemasan dari kunang kunang kecil itu memudar
menjadi gelap,berubah menjadi jemari jemari kurus yang kering,memeluk pinggang
ah ra,angin menerbangkan rambut ah ra…dan rambut seseorang di sampingnya,di
belakang tubuhnya.
Lee ae
melangkah mundur,menjauh kakinya yang kaku melangkah lambat ke rumput rumput
mati yang dingin,matanya masih dapat melihat seseorang di belakang tubuh ah ra
mendekatkan kepalanya pada telinga ah ra,deru nafas dan detak jantung lee ae
terpacu, disini ia dapat melihat aah ra melemah dan ia juga tau sesuatu yang
bukan lelocun sedang terjadi.
“kalian
ingin meminjam jiwa kami”.
Suara lembut berbisik di telinga lee ae.
“kami
sudah datang karna kalian memanggil”.
Suara yang dingin dan
tajam.
“maka
aku ingin jiwamu…perlahan saja”.
Lee ae dapat merasakan tubuhnya di tarik
ke belakang, keras sekali,rerumputan dingin yang mati menyentuh pipinya ketika
suara itu menghilang dan tubuhnya sudah berbaring diantara salju,ia masih
mendengar suara nafas beradu dengan detakan jari,mata lee ae mengerjap menatap
sesuatu bermeter meter di depannya,ah ra berjalan lambat ketepi dankok,kaki nya
melangkah lemah dan lee ae tau mata itu terpejm rapat.
Lee ae hamper terhuyung ketika mencoba
berdiri,dan ia tau tubuhnya melemah,cahaya bulan menyapu dedaunan,semakin lama
semaakin memudar,saat matanya lelah,sesuatu menariknya lagi,sesuatu yang tipis
dan panjang,melayang di atas matanya yang berkaca.
“kau
adalah aku dan dia adalah orang yang membuat ku terbunuh”.
Suara yang lembut dan
dalam,melayang layang diantara keyataan daan khayalan.lee ae masih melihat
sesuatu yang tipis melayang di depan wajah nya sebelum menghilang saat matanya
terpejam.
……………....
Lee ae
masih menatap kosong,memeluk lututnya saat jong woo meletakan selimut bulu yang
ia jatuhkan di samping tubuhnya.
“ini teori yang semakin tidak masuk akal”.
“karna ini bukan dunia kita jong woo”.
Jong woo
mengagguk lambat,matanya memperhatikan buku kecoklatan seperti daun layu di
samping tubuhnya.
“jong woo,kau tau,buku itu….buku yang sama dengan
yang ah ra bawa ke tepi dankok,dan setelah kejadian itu,tidak ada yang melihat
buku ini lagi,buku ini kembali sendiri keraknya,aku melihatnya dua hari setelah
kematian ah ra,di perpustakaan kota,saat aku mengatalog buku dan mengambil buku
buku kono di ruang bawah tanah,buku itu kembali ke raknya”.
“jangan bercandaa lee ae”.
Jong woo
melepskan buku itu dari tangannya,namun dengan ragu ia dekati lagi.
“kita harus mencari lebih banyak lee ae”.
Lee ae
masih diam saat jong woo mulai membuka lembaran lembaran kertas,bunyinya
mengayun lembut,dan lee ae merasa semakin dekat denagan sesuatu yang tak pernah
ia fikirkan.bahasan tentang kutukan kutukan dan hukum mati zaman itu,beratus
ratus lembar penuh dengan cara membunuh seseorang di masa lalu,jong woo hampir
menyerah saat satu lembar lagi di kertas terlem itu ia buka,sesuatu akan
terjadi.
“lee ae,aku menemukan sesuatu yang mungkin
membantu”.
Lee ae
menegakan wajahnya,mendekat pada jong woo
“baca faragrap ini”.
Dengan
cahaya lampu neon keemasan yang redup,lee ae menundukan kepaanya,membaca setiap
bait dalam selembar kertas kekungan .saat sampai di abzat terakhir le ae
mengangkat wajahnya ,menatap wajah jong woo.
“aku akan membantumu lee ae”.
Lee ae
menggeleng,wajah itu semakin lelah.
“tidak jong woo…jangan lagi”.
…………………….
Dua malam terakhir di December,dedaunan layu
mulai menyusut dari ranting ranting kecoklatan yang layu,bulan berkabut
menyusup dari belik sisa dedaunan.jong woo mulai menghidupkan satu persatu
lilin yang melingkar di sekitar tubuhnya,dan lee ae berdiri di antara
rerumputan mati di tepi dankok.
“kau tau jong woo kenapa aku berbohong”.
Matanya
melayang dintara lekat nya danau dankok,jong woo menatap sekilas,ia tau itu
bukan pertanyaan.
“karna aku takut disalahkan,karna aku takut polisi
tidak akan percaya apa yang kukatakan”.
“mereka….pasti tidak akan percaya,takan ada yang
bisa percaya”.
Sunyi,cahaya berkelebat menyusuri danau saat sebuah mobil melintas.
“aku percaya … padamu”.
Jong woo
mengangkat wajah nya ragu,matanya menatap bahu mengendur di tepi danau.perlahan
tubuh itu berbalik,wajahnya menunduk,matanya menatap dingin.
“setidanya,kau yang memusuhiku seumur hidup
mu,mempercayaiku”.
Jong woo
tersenyum tipis.
“aku tak bermaksud seperti itu,hanya saja….”.
“setelah ibu ku meninggal,ibu mu lebih
menyanyangiku,aku tau tentang itu”.
“sebenarnya bukan hanya itu”.
Lee ae
menatap wajah jong woo yang terkena cahaya lilin,tubuhnya perlahan
menegak,membuat bayangan lembut diantara lingkaran bercahaya.wajahnya menatap
lee ae ragu.
“ya…kau lebih manis dari pada aku,karna itu ibu
lebih menyayangimu”.
Lee ae
tersenyum hambar mata sayunya melembut ,melangkah lambat pada lingkaran yang
sudah menyala sempurna.
“aku tau kau tak membenciku jong woo”.
Jong woo tau
matanya tercekat dan tubuhnya membeku saat lee ae melingkarkan tangan
kepinggang nya,wajah itu terjatuh di bahu jong woo dan cahaya bulan terjatuh
tepat di wajah jong woo, saat dedaunan layu menepi.
“jong woo,aku tak tau sampai kapan aku bisa
bertahan,dia…bisa kapan saja megambil jiwa ku”.
Angin
mendesir lagi,perlahan tangan jong woo bergerak , hampir menyentuh tubuh lee ae
ketika lambat lambta tercekat,bayangan
jemarinya memeluk tubuh lee ae,tapi hanya sampai disana.tangan itu
terkulai lemah menyentuh pahanya.
“ini harus segera selesai kim lee ae”.
Lee ae
menatap jong woo,mata nya semakin layu.
“hanya sekali lagi kan”.
…………………
Jong
woo mengeratkan jaket lee ae ketika mereka berada di dalam lingkaran,udara
hampir membeku,salju jatuh dari langit berkabut jatuh membuat rerumputan tak
bergerak,hampir mati.angin berdegus kencang menjatuhkan salju yang di kait
ranting kring.
“kau siap”.
Jong woo
mulai bergetar ketika lee ae mengangguk dan menuntup matanya.
“aku yakin ini berhasil,harus berhasil”.
Jong woo
mulai menyentuh ujung jari sedingin es,lee ae membuka matanya sebentar saat
jong woo menggengam tangan nya.
“kau sudah menghapal apa yang ada di buku itu”.
Lee ae
mengagguk.
Sunyi,jong woo mulai menggidik ketika suara bisiskan bisikan dari mulut
yang bergetar terdengar,bunyi bunyi halus dari air dingin dankok dan deru
nafasnya.diantara cahayalilin yang terus bergoyang,angin bertiup lagi,semakin
ganas.
Lee ae memejamkan matanya,berhenti di akhir
kata kata.sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh bahunya dan sesuatu yang
tipis melayang layang di depan wajahnya,menyentuh pipinya perlahan,lee ae tau
bibir nya bergetar saat sesuatu meraba rambutnya,perlahan matanya terbuka,udara
semakin dingin,salju bersenti senti lebih tebal dari tadi,lilin mati dan tak
ada lagi jong woo di depannya.bibir lee ae bergetar ia bahkan tak menyadari
kaki nya yang berjalan mundur,dan berdiri entah sejak kapan.sunyi,tak ada suara
apapun kecuali suara perempuan muda berceloteh,tertawa tawa.warna langit adalah
apa yang dilihat ketika membuka album foto berpuluh puluh tahun yang lalu,dan
leeae tau ini bukan masa dimana ia baru saja memejamkan matanya.
“kau tau…oran orang itu bilang ini sama dengan
meminta bantuan iblis”.
“kenapa ? kalau itu benar apa ada yang salah”.
Gadis itu
mulai menyalakan lilin yang melingkari tubuhnya.
“kau harus tau tentang kutukan yang akan terjadi”.
“apa aku harus tau itu”.
Setangah lingkaran sudah mulai menyala.
“seseorang akan mengambil jiwamu dan teman mu akan
mengandung sesuatu yang megerikan”.
“kau percaya”.
Sunyi…gadis itu mulai menarik tangan
temannya ketengah lingkaran,mata nya yang hitam menatap hangat sebelum mulai
terpejam dan bicara dengan bisikan.tangan nya memegang tangan seseorang
didepannya,seseorang dengan rambut kecoklatan yang panjang.menutupi setengah wajahnya ketiika menunduk.
Tak ada
yang terdengar kecuali bunyi angin dan cahaya lilin yang semakin
memudar,sesuatu seperti teriakan didalam ruangan berbunyi nyaring,perlahan
melembut dan berhenti ketika mata si pembaca mantra terbuka,dadanya naik turun
menghela nafas,tangan nya yang memegang jemari seseorang didepannya ia guncang
guncangkan,pandangan nya mulai memudar,perlahan menjadi kosong,sudut bibirnya menepi,terangkat
kekiri.cepat sekali ketika tubuhnya menegak berdiri layu dan cahaya kecil
berterbangan,memeluk tubuhnya.ia melangkah lambat ketepi danau.
“ada apa dengan mu”.
Suara itu
berteriak nyaring,ia hampirberlari ketika jambakan keras membuatnya terjatuh
dia ntara salju yang tebal,darah mengalir di pelipisnya,tanga nya yang bergetar
meraba salju yang mulai merah darah.
“jangan ke leluar dari lingkaran”.
Ia berkata
lemah sampai nafasnya tercekat,perlahan matanya tertutup.
Semula lee
ae berjalan ragu,hingga berlari cepat ketika gadis itu berhenti di tepi
dankok,matanya yang kosong perlahan menutup.
“kau …. Ada apa dengan mu,sadar lah,apa yang kau
lakukan di sini,kenapa???ada dengan mu”.
Lee ae
memandangi wajah itu,mencoba menyentuh bahunya,tapi itu hanya bayangan,tubuh
itu tak dapat di sentuh,ini hanya serpihan kejadian dari masa lalu.lee ae
menggenggam jemari nya,mengangkat wajahnya untuk menatap wajah seseorang yang
berdiri layu didepannya,dan yang terjadi adalah sesuatu seperti menghalangi
kerongkongan lee ae.
“kau…”.
Lee ae
melirik seseorang dengan darah di pelipis nya,terjatuh beberapa meter dari
lingkarang,semua lilin mati,dan hanya bulan yang berkabut yang di tutupi
dedaunan layu yang membuat cahaya,yang membuat lee ae dapat melihat dengan
jelas wajah seseorang disana.
Dan
seperti ditarik ke dimensi yang lain,sesuatu sepeti bertambah berantakan,lee ae
dapat melihat wajah ah ra,mimpi mimpi yang dialaminya,wajah jong woo,rambut
rambut yang melayang di wajahnya,teman teman yang berjalan cepat untuk
menjauhinya,sesuatu yang benar benar berantakan.
“lee ae… kim lee ae”.
Lee ae
tercekat,matanya yang mulai basah mengerjap menatap seseorang didepannya,wajah
itu tersenyum tipis,pucat pasi seperti porselin,matanya yang lembut menatap
hangat.
“dia adalah temanku…teman baikku,dia seorang putri
dan aku adalah pelayannya”.
Ia
berbalik menatap tepian dankok.
“kau takan berhasil jika hari itu bukan tahun
keseratus”.
Mata lee ae
mengerjap lagi,nafasnya tersengal,dan bibirnya membeku.
“dia yang menginginkan permainan itu,dan aku hanya
mengikuti kehendaknya,kau tau lee ae”.
Mata itu
kembali menatap lee ae,gaun putihnya yang bersinar di terbangkan angin bersama
rambutnya.
“aku pulang tanpanya,aku mendapatkaan hukuman dari
permainan terkutuk itu dan aku dihukum
karna tak bisa menjaga putri”.
“aku tak pernah melihatwajah orang tuaku,aku pernah
berada di posisimu,aku melepaskanm,tidak akan lagi mengganggumu”.
Sunyi,lee
ae meunduk,namun perlahan ia mengangkat wajahnya menatap seseorang disamping
kirinya,tapi tidak ada lagi.kosong ia hanya berdiri sendirian,di tepi dankok
100 tahun yang lalu.
“kau…”.
“dimana…”.
Nafas lee
ae mulai sesak,tubuhnya mulai bergetar lagi.
“disampingmu….”.
Lee ae
menadengar suara itu di sebelah kanannya,mata itu tidak lagi menatap
lembut,menajam.bibirnya naik kekiri,perlahan wajah seperti porselin
itu,mongering,matanya yang hangat memutih dan dimulai dengan satu titik lalu
menjadi ribuan titik,matanya memerah,darah berjatuhan dari sela sela pipinya.putih
dari gaunnya menjadi bernoda,kusam dan tidak seperti tadi.
“bila kau menjauhi kutukan itu kau salah.kau juga
akan seperti ku”.
Suara itu
hampir menyakiti telinga lee ae,Tubuh nya berlari tanpa melangkah,mengejar lee
ae yang mulai tersengal.
“lee
ae…kim lee ae”.
Suara dari
dimensi yang berbeda terdengar dekat sekali.
“kau mendengar
ku,bangun sekarang”.
Suara itu
semakin nyata,lee ae memejamkan matanya,dan ketika mata itu terbuka,seseorang
yang sangat ia kenali,duduk di depannya,masih menggeggam tangan nya.dan
perlahan memeluknya.
“apapun yang kau temui atau kau temukan,kuharap kau
segera memberi tahuku kau akan baik baik saja”.
Lee ae
memucat.
“tak ada yang bisa dilakukan jong woo,tidak ada”.
Lee ae
mulai terisak.
“tapi dia melepaskan ku…”.
Jong woo manatap
wajah itu.
“aku membacanya lee ae,kalau dia melepaskanmu,dia
tidak akan lagi datang menemuimu”.
“apa itu kata lain dari…semua nya sudah selesai ?”.
………………
Lee ae
berlari kecil mengejar jong woo, matanya tidak lagi layu,sudah bersinar.koridor
sekolah sedikit lebih ramah dari biasanya,setidanya bebrapa orang yang lee ae
temui mulai tersenyum.
“hey lee ae”.
“siapa kau?
Anak baru…hey lee ae???apa itu???,kau menegur seperti baru pertama kali bertemu
dengan ku”.
Lee ae
terkekeh.
“kau sedkit lebih bahagia”.
“aku sangat bahagia jong woo”.
Jong woo
dapat merasakan sesuatu menghangat di dadanya ketika lee ae menyentuh bahunya.
“lee ae…sebenarnya aku sudah lama ingin bertanya
tentang hal ini”.
Lee ae
mengangguk.
“kau tau wanita itu tidak lagi datang,keluarga ah ra
sudah menutup kasus itu karna … kau tau mayat itu tidak akan kembali sekarang,
lalu silahkan bertanya apa saja”.
Jong woo
manatap wajah itu.
“apa yang membuat mu mengikuti permainan gila
itu,kau tau masudku,pasti ada sesuatu yang sangat penting”.
Pipi lee ae
memerah.
“ah..itu…tidak penting”.
Jong woo
menatapnya lebih dekat.
“apa alasan yang sama dengan kenapa kau selalu menyerahkan
uang mu pada lee bersaudara”.
Dan pipi
itu semakin merona.
“apa yang mereka katakan?”.
Jong woo
mulai salah tingkah,menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“kau sudah tau apa yang mereka katakan,Sesuatu yang
sama dengan alasan ku memusuhimu,kau tau … maksudku,aku biasanya membenci perasan
seperti itu,memcoba menghilangkannya…aku…menyukai mu …”.
Lee ae
terssenyum ,lembut sekali.
“kau tau jong woo,mungkin hal ini adaah Alasan
kenapa filosop filosop masa lalu mengatakan tak ada hal sekecil apapun terjadi
karena kebetulan”.
Jong woo
menelan ludahnya,menatap lee ae ragu.
“kenapa kau tidak mengatakannya?”.
“karna kau sangat membenciku”.
Jong woo
terkekeh.
“tahun baru…malam ini,mau melakukan sesuatu dengan
ku”.
Lee ae mengagguk.
semuanya sudah selesai,lee ae kembali
merangkul bahu jong woo,melangkah kekelas 2 dan berpisah dibelokan,semua orang
sudah kembali seperti semula dan itu sangat melegakan,tapi…. masih ada sesuatu.
……………….
Seperti pada taahun tahun yang lalu hanya
saja sedkit berbeda,yah..kau tau bagaimana rasanya bebas dari sesuatu yang
mengikuti mu kemana mana,da sekarang seseorang menjadi ramah denga status
istimewa.
Jong
woo berdiri tegang di depan pintu rumah lee ae,tangan nya yang sejak tadi terus
ragu mulai mendekati pintu,perlahan membuat suara ketukan yang lembut,tapi
tidak ada yang membuka pintu untuknya,sekali dua kali dan sudah berkali
kali,lambat sekali jong woo mendorong pintu didepannya,bunyi engsel kering tak
diminyaki berdecit nyaring,kaki nya mulai menginjak lantai rumah yang sunyi dan
gelap.
“lee ae…kim lee ae”.
Tidak ada
suara,sunyi sekali,jong woo masuk lebih dalam,sesuatu terdengar.sesuatu dari
kamar mandi,suara isakan yang hampir tak terdengar.
“lee ae…kau baik baik saja”.
Jong woo
membuka pintu kamar mandi,bayangan hitam berdiri tegang didepan cermin,jong woo
dapat tau gaun selutut itu berwarna putih dengan warna berbeda yang menempel di
bagian bawahnya.
“ada apa”.
Isakan itu
memudar,diam,tidak ada yang bicara.
“seseorang datang kerumah ku jong woo”.
“siapa?”.
“seseorang dari seratus tahun yang lalu,manusia yang
cantik,dia yang mencuri jiwa ah ra”.
“apa yang
dia katakan”.
Sunyi,ruangan
itu bertambah dingin ,jong woo mendekat,mengamati pantulan kaca gelap yang
hitam.angin dingin malayang layang membuat suara berisik.
“orang itu,wanita yang kutemui di dankok … dia
melepaskan ku…tapi kutukan itu …tetap berlaku”.
Jong woo
menggeleng.
“jangan
bercanda”.
Jong woo
meraba dinding kamar mandi,mencari sekring lampu,dan saat lampu ruangan menyala,Sesuatu dalam dada jong
woo seperti membeku,mati.
Ia hampir
melangkah menjauh,jika saja matanya tak menemukan mata lee ae yang lembut dan
berembun dari pantulan kaca berair .perlahan jemarinya menyentuh bahu lee
ae,mengamati wajah pucat dengan mata melayang.
“benar benar tak ada yang bisa dilakukan”.
Jong woo
memeluk pinggang lee ae,pinggang yang berbeda.perutnya menonjol membesar, perut
yang mereka lihat di lukisan buku layu masa lalu,dingin menusuk lagi,bibir lee
ae dan jong woo membeku,tak ada yang mau bicara.sunyi.
……………….
aku
melepaskanmu tapi kutukan itu tidak menghilang
aku mati karna dibunuh mati bukan kutukanku dan sampai detik ini aku tak
pernah tau apa yang ku kandung saat itu,karna mereka membunuhku sebelum aku
melahirkannya
Seperti berabad
abad yang lalu,tak pernah ada janji yang di langgar,panggilan ini untuk orang
orang yang dipanggil,menukar sesuatu dengan sesuatu yang kau miliki,mereka
tidak punya apa apa,panggil dengan lembut.
“datang saja…kami
menunggu kalian…jangan pergi jika tangan ini terlepas…lilin ini tak lagi jadi
pembatas…masing masing dapat satu…kami tak punya apa apa…kau harus menungu…”.
Saat angka satu
punya dua bulatan dibelakangnya,merayap lah dari tepian bersama kunang kunang
yang mengaburkan…ambil jiwa mereka,tukarkan saja…
Seratus tahun kau
sudah menunggu,jangan menunggu seratus tahun lagi…
Jagalah dengan
baik,karna dia mengabadikanmu…
Karna kau hidup
selamanya mati selamanya,menangis selamanya….
1-11-14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar