Kamis, 26 Februari 2015

The princes Mermaid



Karena Bukan apa yang kalian katakan tapi apa yang kalian rasakan
          Riak riak gelombang menerpa wajah ku membuat ku menepi diantara karang yang kasar,aku berhenti berenang, menatap hamparan membiru yang mengkilap terkena matahari,di sana, di dalamnya ribuat ikan saling menyapa,ribuan karang bermacam warna membentuk bentuk yang indah seperti mahakarya,jika orang orang darat tau banyak hal dari perut lautan maka itu bahkan tidak seperempat dari realitanya.terlalu banyak rahasia dari hamparan biru yang membesarkanku,terlalu banyak yang hidup bersama di dalamnya,tapi untukku itu rasanya berbeda.
       Aku mendengar ini dari orang orang darat yang berenang setengah tubuh di dedakatku,bahwa daratan benar benar mengesankan,aku mendengar mereka bicara tentang crimson yang menua,calona yang menguning,salju jatuh seperti serbuk kapuk,dan daratan yang menghangat.aku benar benar menginginkan itu semua.
     Sekali lagi,aku menatap dermaga kayu dibelakan tubuhku,beberapa kali aku melihat orang orang bicara dan berekspresi,menghirup udara tanpa perlu air.sungguh aku menginginkan itu semua.
      Kami hanya sedikit berbeda dari orang darat,hanya saja mereka punya kaki yang sering di tutupi sesuatu yang indah dan kami hanya memakai sedikit dari yang mereka pakai,hanya sedikit bagian di tubuh kami.bagian bawah tubuhku sesuatu seperti milik ikan ikan lainnya,berwarna perak yang mengkilap terkena cahaya bulan dan matahari.aku menginginkan kaki seperti orang darat.
“ooo…lee ae”.
   Aku terperanjat, menatap seseorang di sampingku,ia tersenyum dengan kepala di permukaan air sebeum melayang layang mengintari karang yang kududuki,tapi dia punya kaki sama seperti orang orang darat,tapi kurasa dia berbeda.
“jangan mengagetkanku lee ji won”.
“apa yang sekarang kau fikirkan”.
   Ia mendekat,wajahnya yang pucat tersenyum,rambut panjangnya tergerai,air selalu terasa lebih dingin setiap kali ia mendekat.
“kau bisa melihat mereka”.
    Ia mengangguk,menatap mataku dengan wajah perdulinya,aku tidak pernah menemukan wajah seperti itu sebelum bertemu orang ini satu minggu yang lalu.
“aku hanya ingin seperti mereka”.
   Wajahnya berubah,tersenyum lembut mengamati wajahku,perlahan ia mendekat duduk di sampingku,dan dapat kulitat betapa pucat kulitnya.
“itu tidak semudah yang kau fikirkan”.                         
“itu sulit aku tau,dan mungkin memang tidak ada cara”.
    Sekali lagi mata itu menatapku tangan nya yang pucat dan kadang membiru meraba jemariku,aku dapat melihat wajah itu tersenyum lagi lalu mengamati lautan biru yang mulai menjadi keemasan.riak riak gelombang menerpa kakinya yang terjuntai di batu karang disamping ekorku yang mengepak ngepak lambat.
“kau mungkin akan menyesal”.
“aku tidak akan menyesal,aku benar benar ingin menjadi mahluk darat,mereka sepertinya bahagia sekali…aku…benar benar menginginkan nya”.
“mereka manusia,mahluk darat dipanggil manusia…”.
    Matanya melembut,mengamati ekorku,ia tersenyum hambar sebelum kembali keair,dres putihnya basah lagi,kakinya yang putih menjauh,aku mengikuti dibelakangnya.
“apa kau benar benar yakin”.
    Aku menggagguk,ia tersenyum lagi dan air disekitar kami kembali terasa berbeda ,terasa jauh lebih dingin.
………..........
     Mataku terbuka cepat, menatap bayangan bayangan air yang berombak terkena matahari,tangan ku menggapai air yang terasa berbeda,aku merasakan dadaku sesak dan air memenuhi seluruh tenggorokanku,aku tercekat.mengepakan ekor ku yang terasa aneh,tubuhku masih bermeter meter dari permukaan air,aku tidak tau kenapa tapi aku merasa disana akan lebih baik,aku masih berusaha kepermukaan saat sesuatu di ujung ekor ku terasa kaku,mungkin ini aneh tapi air masuk ke dadaku dan membuat ku tak bisa membuat gelembung gelembung yang naik keatas,seperti biasanya.aku benar benar merasa berbeda.
       Perlahan biru laut memudar berubah menjadi serpihan serpihan kaca yang mengecil,kepala ku pusing dan ekor ku tak bisa mengepak lagi,tak pernah selemah ini.dari balik air yang bergelombang aku melihat bayangan mendekat,semakin dekat dan aku merasa pergelangan ku hangat karna sesuatu mencekatnya,lembut.perlahan bayangan bayangan itu semakin memudar berhenti ketika menjadi titik putih yang akhirnya menghilang.
……………... 

Hari pertama… 
      Bau harum yang hangat tercium di hidungku,sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya.mataku masih terasa berat.saat tanganku menyentuh sesuatu di bawah tubuhku,sesuatu yang kering dan lembut.
    perlahan aku dapat melihat kain kain biru muda melayang diterpa angin,dari balik sesuatu yang mirip pintu  di kapal selam karam.aku mengamati ruang ini,tak ada ikan ikan berenang,tak ada batu batu karang,tidak ada bekas kapal tenggelam.semuanya terasa sangat aneh,ruangan ini seputih porselin,luas sekali,tapi hanya ada tempat ku berbaring,disampingku mahluk aneh berbulu mengeliat,dan aku merasa tercekat,jantung ku berderu.tubuhku terpental,terperanjak kesamping tempat ku berbaring.
     Aku mundur lambat kesamping ruangan,semakin jauh dari mahluk mengerikan itu,cahaya matahara dan angin menerpa punggungku,perlahan aku berbalik,menatap pohon pohon crimson kecoklatan di terpa angin,tangan ku bergetar menggengam ujung tempat ini,dan dunia yang seumur hidup ku ku impikan terasa dekat sekali,aku merasa hangat di ujung ekorku,aku berdiri dan sekarang yang kulihat adalah sesuatu yang berbeda,ada sepuluh jari dan kaki jenjang putih halus yang mirip dengan milik mik.aku benar benar berubah menjadi manusia.
“apa ada sesuatu yang terjadi?”.
    Seseorang mendobrak pintu,mengamati wajahku.perlahan ia mendekat dan aku tau aku tercekat.berdiri kaku di antara ruangan ini dan ruangan kecil diujung tempat ini.
“kau sudah sadar”.
   Ia terenyum,dan aku mulai bergetar.
“mau makan sesuatu?”.
   Kakiku mundur perlahan.
“oh….so hyun…apa dia sudah bangun”.
   Seseorang dari balik tubuh so hyun,so hyun ya mungkin itu namanya.malu malu dan ragu menatap ku.bibir kecil nya tersenyum,aku mengikutinya.langkah langkah kecilnya meragu mendekat padaku.
“aku yoo bi…temanmu”.
   Ia mengulurkan tangan nya dekat sekali dengan tanganku,ku tarik tangan lembut itu,jemari jemarinya menggenggan tangan ku,sekali lagi ia tersenyum sambil menuntun ku mendekat kearah laki laki itu,laki laki yang tampan. mahluk darat memang tampan.
“dia so hyun”.
    Yoo bi menatap ku dan laki laki itu,mengambil tangan ku dan tangan nya.
“aku so hyun”.
    katanya sambil berlalu membelakangiku yoo bi masih menggenggam tangan ku ketika kami keluar dari ruangan putih porselin itu.
“oh ya siapa namamu”.
“oh …aku…aku kim lee ae”.
   Sekali lagi yoo bi tersenyum.
………………
  “kau tau kami hanya tinggal berdua”.
Yoo bi menatap mataku ketika aku mengamati ruangan besar nya .
“apa menyenangkan hidup di darat”.
    Yoo bi menatap wajah so hyun sebelum mereka berdua terkekeh menatap ku.
“tidak juga,kadang lebih baik hidup di …air iyakan yoo bi”.
  Yoo bi mengangguk,aku tersenyum getir.so hyun menaruh sepiring makanan empuk yang harum di meja,aku mengamatinya,pelan pelan menaruh tangan ku di permukaan makanan itu.
“kau tida suka roti”.
    Yoo bi menatap wajahku, dengan cepat aku menggeleng.tangan ku bergetar mengambil makanan itu.perlahan ku masukan segigit ke mulutku,manis,lembut,entah lah,ini benar benar enak,satu dua tiga,empat potong ketika aku sadar so hyun dan yoo bi menatap ku bersamaan,aku tersenyum lambat,menaruh potongan terakhir.
“ku kira kau tidak suka roti”.
    So hyun tersenyum padaku dan yoo bi terkekeh.
“tidak papa kalau kau benar benar menyukainya,habis kan saja”.
“dia suka bila makanan dipiring kosong,dia tidak suka makan”.
      Soh hyun mengecup ujung dahi yoo bi,aku dapat melihat wajah yoo bi cemberut.aku menyukai keluarga ini,mereka baik sekali,seperti yang ku fikirkan tentang manusia,mungkin semua nya benar.
“oh ya lee ae kenapa kau bisa ada di air,dimana pakaian mu saat berenang dan tenggelam”.
   Aku tercekat,meremas ujung baju yang kupakai.didepanku so hyun melirik yoo bi,menyuruhnya tidak membicarakan hal itu.
“apa aku benar benar tidak memakai baju ku”.
    Aku bicara lambat,so hyun tersenyum.yoo bi mengagguk.
“jangan khawatir,yoo bi yang memakaikan baju ku padamu”.
    Aku memejamkan mataku,aku tidak melihat pipiku,tapi aku tau dia memerah,apa yang terjadi tadi,kenapa aku disini,kenapa aku tiba tiba menjadi seorang manusia.
“oh ya lee ae,dimana rumahmu,aku bisa kesana,so hyun sering sekali meninggalkan ku dirumah sendirian aku bisa kesana kalau itu terjadi”.
       Apa? Aku tersenyum hambar,memegangi ujung kemeja kebesaran putih yang kupakai,dimana rumah ku,aku menunduk menatap lantai porselin di bawah meja,menggerakan kaki telanjangku yang terasa dingin.
“kau tidak harus menjawab nya,kau bisa tinggal disini selama yang kau mau,aku menyukai mu”.
      Saat aku  mengangkat wajahku,aku dapat melihat mata yoo bi menatapku iba,disampingnya so hyun mencoba menatap mata yoo bi,aku yakin dia tidak setuju dengan apa yang yoo bi katakan.
“terima kasih,tapi mungkin aku akan menjadi beban”.
    Yoo bi menggelang,menatap wajah so hyun,membuat so hyun ikut menggelang.
“kau bisa jadi pengasuh ku,aku butuh seseorang dirumah,so hyun pasti akan setuju”.
    Yoo bi menengok kesebelah tubuhnya,menatap wajah so hyun yang membeku,aku dapat melihat dia menghela nafas sebelum mengangguk dan tersenyum.aku lega…lega sekali,setidanya aku akan disini sampai kembali menjadi duyung,menunggu aku akhirnya tau apa yang terjadi pada hidupku,menunggu…bangun dari tidurku,bangun dari mimpiku.
    Yoo bi menatap ku lagi.
    Dibelakang tubuhnya seseorang berjalan lambat sambil mengamatiku,entah siapa,aku tersad orang itu tidak benar benar ada ketika yoo bi menyikut pinggangku.
“lee ae…kau mirip seseorang”.ujarnya.
………………..

Hari kedua…
“lee ae…ayo bangun”.
     Seseorang berbisik di telingaku,mata ku berat ketika perlahan terbuka,yoo bi disana sambil tersenyum.
“kau tau besoh hari apa,hanya beberapa jam lagi sampai jam 12”.
   Aku menegakan tubuhku,yoo bi duduk disampingku.
“ada apa”.
“so hyun…ayah ku…dia ulang tahun,kita harus memasak sup rumput laut untuk nya”.
    Aku mengangguk,mengerti atau tida apa yang dia bicarakan.
“ayo ikut aku kedapur,kita buat bersama”.
    Yoo bi membuka selimutku,dijendela aku dapat melihat bulan menekuk,artinya ini di akhir bulan,mengendap kami turun dari tangga,yoo bi menggenggam tangan ku erat,telunjuknya terus berada di depan mulutnya.
     Disisi rumah ini,paling kiri di sudut,warna nya hitam putih,kitchen set kata yoo bi,lantainya keramik putih yang besar,dinding nya di cat hitam,meja dan lemarinya warna putih,di atas meja di tengah tengah ruangan aku melihat mawar merah masih harum di tempat kecil cristal.
 “kau hanya perlu membantuku,aku sudah tau bagaimana membuatnya”.
   Aku tersenyum dan mengangguk,memperhatikan tubuh kecil yoo bi mengambil sesuatu di kulkas,memasak air,memanaskan bumbu,dia piawai sekali,perempuan 10 tahun yang pintar.
“lee ae jangan diam saja,ambil garam di samping tubuhmu,ayolah”.
   Aku tersentak,tadi aku diam di sisi meja,ku raih wadah disamping tubuhku,melangkah cepat kesamping tubuh yoo bi.
“aku suka sekali memasak,ibu juga begitu”.
     wajah yoo bi murung ketika menyebut kalimat terakhirnya,ia menatap ku sambil tersnyum tipis ketika mengembalikan garam padaku.
“kemana dia”.
    Yoo bi menghela nafasnya.
“kata so hyun aku terlalu kecil untuk mengerti,ia hanya bilang ibu pergi dan tidak ingin kembali lagi,walau pun dia kembali,aku dan so hyun juga tidak akan menerimanya lagi,itu yang dia bilang”.
“maaf kan aku…”.
“kau tidak salah,semua orang akan bertanya tentang hal hal seperti itu ketika bertemu dengan ku dan ayah…ayah ku tampan kan lee ae,karena itu dengan senang hati orang ingin jadi istrinya tapi akan terpaksa jadi ibuku,aku tidak menginginkan mereka,karena itu so hyun tidak menikah,aku memintanya untuk membiarkan ku memanggil namanya saja,supaya nanti saat aku sudah besar,aku bisa menggenggam tangan nya dan wanita wanita itu tidak mendekatinya,”
     Aku diam,menghela nafas lambat,mendekat selangkah ketubuh yoo bi,mengangkat wajahnya yang kaku,menyentuh dagunya,membelai rambutnya.
“jangan terlalu memikirkan hal hal seperti itu…kau masih kecil”.
    Yoo bi diam,ia hanya menatap mataku dan aku menatap matanya,wajahnya yang kaku perlahan melembut,tersenyum dengan mata berair,setetes jatuh ketika ia menjatuhkan wajahnya di dadaku,perlahan kupeluk tubuh hangat nya,entah karena apa,tapi aku merasa sangat mengenalnya,entah dimana.
“kau bisa bernyanyi”.
     Aku menggangguk,ku nyanyikan sepotong lagu yang pernah ku dengar di lautan.
  Sup nya sudah masak,dari sela tangan yoo bi,kumatikan apinya,sama seperti yang yoo bi lakukan tadi.ku ngkat tubuhnya yang lembut,ku geser bangku disamping meja,duduk disana sambil memeluk dan bernyanyi untuk yoo bi,aku merasa ada sesuatu yang hangat didadaku, ketika aku bertanya apa suara ku bagus dan yoo bi tidak menjawab aku tau ya tertidur.
   Dibelakang tubuhku,ketika aku tidak sengaja mendengar bunyi telapak kaki,so hyun membeku,menatap kami di antara pintu dapur,ia menghela nafas dalam sebelum tersenyum padaku.
……………
“aku tau yoo bi sudah menceritakan semuanya padamu”.
“tidak semuanya dan kalau kau tidak suka,aku akan melupakannya”.
   So hyun mengangguk,menatap mata yoo bi yang terpejam,cahaya bulan masuk lewat sela sela horden yang melayang terkena angin.so hyun di tepi ranjang,disampingku,tidak ada yang bicara.ia menghela nafasnya sebelum beranjak dan melangkah lambat keluar dari kamar.
“besok kita rayakan ulang tahun ku”.
    Aku mengangguk dan tersenyum,menatap pintu hingga tertutup,disampingku yoo bi menguap,menggemaskan sekali,sekali lagi aku ingin menyentuh rambutnya,membelai telapak tangan nya yang lembut,saat yoobi menggeliat aku dapat melihat matanya mengerjap,sebentar saja sebelum tertidur lagi.malam ini adalah malam kedua ku di daratan dan inilah yang kutemukan.
…………..
Hari kedua…..
     Aku bangun ketika matahari belum terbit,angin menerpa rambut ku yang kering,dari balkon di kamar yoo bi aku dapat melihat pohon pinus berjejer diantara rumput halus yang rapi,tangan ku memegang sisi balkon meremas nya dan membuat telapak tangan ku bertambah dingin,hanya beberapa meter sampai mata ku dapat melihat riak gelombang yang menghitam,terdengar lembut dari tempat ku berdiri,apa yang terjadi didalam sana,apa yang terjadi padaku,apa yang akhirnya membuat ku pulang ke lautan lagi?,aku menyukai tempat ini,hanya saja ini terlalu cepat,banyak hal tidak aku mengerti.
“lee ae… kau disana…”.
    Aku menengok,menatap bayangan hitam yang berjalan lambat dan ragu kearah ku,sebentar saja sampai ia menghidupkan lampu dan menatapku.
“angin nya deras,jendela berbunyi saat aku lewat,jadi aku masuk kekamar ini”.
    So hyun disampingku,menyentuh sisi balkon.
“apa aku menganggumu”.
    Dengan cepat ia menggeleng,menghela nafasnya lalu menatap hamparan willow didepan kami.
   Diam,tidak ada yang bicara,aku merasa kaku disini,sementara ombak terus berbunyi,matahari muncul perlahan,membuat semburan keemasan dari lautan.
“aku suka matahari terbit”.
  So hyun menatapku,tersenyum…menghela nafas,ia suka sekali melakukan hal hal seperti itu.angin menerpa wajahku lagi,membuat rambutku melayang.
“kau tau…aku pernah kenal seseorang seperti mu…”.so hyun menatap ku lagi.
“tapi aku berharap kau bukan orang sepertnya”.
…………..
      Yoo bi berdiri dengan selimut nya ketika kami menengok kebelakang,tangan nya yang kecil mengucek ucek matanya,aku melangkah dan berlutut di depan tubuh itu.
“masuk lah disini dingin,aku akan menemaninmu”.
    Aku memeluk tubuh yoo bi,merangkulnya kedalam kamar lagi.
“so hyun,kau tidak ikut,kau kira aku tidak melihat mu disana”.
    Ia masih mengucek matanya,selimut merah mudanya menyapu lantai balkon.so hyun tersenyum melangkah lambat di belakang kami,yoo bi menunggunya lebih dekat,menggenggam tangan so hyun ketika so hyun disampinya.
    Perlahan sekali aku melihat so hyun menyentuh rambut yoo bi membelainya pelan.aku berdiri di sisi ranjang,menatap mereka berdua.mata yoo bi terpejam lalu pelan terbuka,tangan nya menggapai tangan ku,so hyun di kiri tubuhnya dan aku dikanan nya,aku berbaring canggung,terasa seperti saat pertama kali aku berada di daratan.hari itu… kami menunggu matahari terbit bersama,berbaring di tempat tidur yang sama,angin hangat dengan bau harum calona masuk lewat horden yang terbuka,sementara matahari menerpa wajah yoo bi dan so hyun,aku menatap wajah wajah itu,sesuatu entah apa,seperti memberiku hal yang sekali pun tak pernah aku fikirkan,aku ingin seperti ini selamanya,menunggu pagi dan menyaksikan mereka disampingku ketika mataku pertama kali terbuka,si putri duyung pemimpi ini menghela nafasnya,tau bahwa banyak hal tidak mungkin dia miliki.
    Disampingku,aku melihat mata yoo bi mengerjap,perlahan terbuka,menatap wajahku yang tersenyum,lembut sekali ketika bibir kecil nya membalas senyumanku.
“ibu hari ini ulang tahun ayah kan?”.
“apa yoo bi?”.
………………
         Hari ketiga…
   Mereka tidak mengenalku,sama seperti aku tidak mengenal mereka,yang aku tau so hyun adalah ayah yoo bi dan wanita yang melahiran yoo bi pergi,kemana ? entahlah,mereka tidak terlalu banyak bicara tentang apa yang terjadi pada masa lalu mereka,seperti juga aku yang takut apa yang seharusnya tidak mereka tau terbongkar,aku tidak khawatir, aku hanya takut mereka tidak percaya padaku.
“kau sudah siap”.
    Yoo bi memandangi ku,menatap tubuh kecil nya melangkah ke arahku.
“tidak ada baju ku yang muat untukmu,tapi aku tau ayah menyimpan beberapa baju ibu,kau bisa memakai yang ini”.
    Ia menyerahkan sepotong baju,ketanganku,sebuah dres selutut warna putih,tidak ada yang istimewa jika bukan aku yang menatapnya dengan mata berbinar,aku menyukai baju ini,gaun pertama di daratan,yoo bi juga menyerahkan celana ketat panjang,aku akan melepas kemeja so hyun yang kupakai seharian,sekarang.
………
    Aku melangkah lambat menuruni tangga,sepelan mungkin menjatuhkan sepatu sport ke porselin,mataku  mengerjap menatap yoo bi dan so hyun yang menungguku di tepi tangga,mereka bicara entah tentang apa.
“kita pergi sekarang”.
     So hyun menatapku dan yoo bi juga begitu,aku dapat melihat dengan jelas perubahan di wajah so hyun,matanya menghakimiku,entahlah aku menunduk ketika ia menatap yoo bi.
“ada apa?kau bilang terserah padaku”.
“kau bisa membeli sesuatu untuk nya”.
 Aku mendengar so hyun berbisik di telinga yoo bi,nyaring sekali.
“kau memintaku ke mana so hyun”.
     Aku melihat so hyun menelan ludahnya,wajahnya melunak,menatapku.
“baiklah,terserah,sebenarnya siapa yang ulang tahun”.
…………
        Rerumputan basah terkena hujan dan dedaunan pohon crimson yang terjatuh di sisi jalan,menepi ketika mobil kami melaju,so hyun menyetir didepan,aku dan yoo bi duduk dibelakang,berdesakan menatap jalan,membuka kaca mobil selebar lebarnya.
    Yoo bi menatap ku sambil tersenyum ketika berhenti mengeluarkan kepalanya dari mobil,giginya yang rapi kecil keci berjejer ketika ia benar benar terlihat senang,aku menghela nafasku dan menatap yoo bi yang tersenyum semakin lebar disampingku.
“aku selalu suka setiap kali so hyun ulang tahun dan mengajakku kegunung”.
   Aku mengangguk,seperti bilang benarkah.
   So hyun sesekali mengintip kami dari kaca spion, tersenyun dan kadang menaikan alisnya mendengar percakanpan ku dan yoo bi.
     Hanya sebentar sebelum yoo bi terkekeh menceritakan teman disekolahnya,ia terhenti,tersenyum,menatap dalam dalam,hamparan laut eurwangni yang penuh ombak kapal.
“aku juga menyukai bagian ini”.
      Aku beringsut mendekat pada kaca mobil,yoo bi mendekat padaku,tanpa kusadari ia sudah berada dekat sekali dengan ku,tidak ada yang bicara,aku merasa rindu sesuatu,air,angin,entah lah,aku kadang tidak ingin mengerti sesuatu ketika aku sedang baik baik saja.
    Angin menerbangkan helain rambut kami,aku dan yoo bi,dengan cepat yoo bi menjadi teman terbaikku,sementara so hyun kadang sibuk dengan pekerjaan nya,dan duduk di depan leptop nya berjam jam.kami akan bercanda,membuat sesuatu didapur,memainkan games milik yoo bi dan sesekali aku mengintip dongeng yang bi ceritakan.semuanya terasa tidak lagi asing,entah kenapa bisa secepat ini.
“lihat disana,banyak sekali burung terbang disana”.
   Aku menatap wajah bi,ia menunjuk puluhan burung yang terbang melewati laut,melayang layang lambat,aku memejamkan mataku,merasakan angin menerpa kulit wajahku,apa yang sebenarnya terjadi pada takdir ku,aku dan segala hal yang terjadi,aku dan keluarga kecil ini,mereka yang mudah menerimaku dan aku yang mudah mempercayai mereka,aku hanya tidak mengerti tentang beberapa hal,aku menutupinya,tapi aku tetap saja khawatir.
“satu jam lagi kita sampai,kalian akan kelelahan jika terus bicara”.
     Bi merengut,berinsut dari pelukanku,duduk dikursinya,perlahan aku menutup kaca mobil,hujan mulai turun ketika yoo bi lagi lagi tertidur,aku menguap berulang kali,tapi hanya tiga puluh menit lagi hingga kami sampai di gunung,so hyun menatap ku dari kaca spion dan tersenyum canggung.aku tidak membalasnya,kembali menatap kaca yang sekarang sudah tertutup sempurna,embun membuat kaca tidak lagi terlihat jelas,aku meyenderkan tubuhku dan diam,perlahan melihat ujung gunung mendekat.semu karena kaca bekas hujan.
………………
         Aku menyentuh bahu yoo bi,membangunkannya,hanya sebantar sampai matanya mengerjap menatapku.
“apa kita sudah sampai”.
   Aku mengusap rambutnya,so hyun sudah menurunkan tas ransel dari jok belakang.
“iya”.
      yoo Bi bangun,menggeliat,perlahan beranjak dan melangkah keluar dari mobil,menghirup udara dalam dalam.
“ini menyenangkan sekali”.
“tidak,sampai yoo bi kelelahan dan minta gendong”.
   So hyun datang dengan tiga tas ransel,tersenyum menyinggung.
“dia selalu seperti itu”.
   So hyun menatap ku,aku mengangguk pelan.
        Aku melangkah lambat bersama yoo bi,membantunya menaikan tas ransel merah mudanya,so hyun didepan mengambil sesuatu,yoo bi bilang itu karcis harga nya krw 3000,aku mengangguk saja ketika dia bicara disampingku.
“4 km,kita sampai ketika matahari terbenam,2 jam lagi”.
    So hyun mengacungkan dua tiket untukku dan yoo bi,menatap jam nya sebelum memastikan benar benar dua jam lagi.
      Kami melangkah beriringan,disepanjang jalan aku melihat dedaunan crimson kecoklatan,membuat kanopi yang hampir menutupi langit,yoo bi meloncat loncat ditengah kami,berkali kali mengangkat kakinya dari tanah,membuat tanganku sakit.
    Angin menerbangkan helaian rambutku,daun itu meutupi jalan,menutupi semak,menutupi bebatuan,kecoklaan,merah marun,orange.aku menghela nafasku ketika semua yang kulihat tidak berhenti membuat ku rindu pada lautan,aku disini berkilo kilo meter dari laut ku,bersama orang orang yang baru saja ku kenal,melangkah diantara dedaunan yang dulu hanya bisa ku sentuh saat jatuh keair,merasakan udara masuk ke rongga hidung membuat ku lagi lagi meyakinkan hati ku bahwa aku tidak sedang bermimi.
     Disepanjang jalan aku melihat banyak sekali orang menawarkan makanan,setelah berkali kali yoo bi meminta dan memelas pada so hyun akhirnya ia mengabulkan,kami duduk jongkok menatap jagung rebus.
“ah…keluarga bahagia,aku dapat melihat kalian akan bersama sama selamanya,membesarkan putri kalian yang cantik ini”.
     So hyun menghela nafasnya,aku menunduk merasa pipiku memanas,yoo bi menatap kami berdua sambil menggigit ujung jagung rebus di tangan nya.
“buk…”.
    Belum sempat so hyun menghabiskan kata kata nya yoo bi bicara cepat,membuat jagung di mulut nya berhamburan.
“kau juga bisa melihatnya bi…hebat sekali,benar ayah ku bilang naejangsang artinya gunung rahasia,bibi benar benar membongkar rahasia keluarga kami”.
   Bibi itu tergelak,berkali kali mencubit pipi yo bi,aku masih menunduk malu menatap wajah so hyun.tepat saat kami akan beranjak, hujan turun,hanya gerimis,so hyun cepat mengangkat tubuh yoo bi,menggenggam tangan ku untuk masuk ke restaurant.berlari kecil menghindari hujan,so hyun menurunkan yoo bi ketika kami tiba di tepi,didepan restaurant,masuk perlahan beriringan,yoo bi didepan memimpin,hapal dimana tempat duduk yang nyaman,sementara dia sibuk mengamati sesuatu diantara kami,aku mengamati senyum di bibir so hyun,dan ketika sampai di bangku dan memesan makanan,aku sadar so hyun masih menggenggam tangan ku,kaku.perlahan aku menjauh menggeser bangku ku dan melepaskan tangan nya.
……………
“ku mohon,ini benar benar akan menyenangkan”.
   Entah sudah berapa kali,yoo bi memaksa so hyun mengeluarkan jaket hujan di tasnya,berharap dapat berjalan di antara hujan.
“lihat mereka,kau bisa melihat jas hujan mereka,warna warni,menyenangkan sekali”.
“lebih menyenangkan melihatnya dari sini kan”.
   Yoo bi mengalah duduk disampingku,menjatuhkan kepalanya kebahuku,aku meraih rambutnya, menatap wajah so hyun,ikut memaksa.
“apa lagi?”.
   So hyun menatap kami kesal.
“oh baiklah,hanya sekali saja”.
     Aku mengangguk angguk,merayu so hyun.
    Ia menghela nafasnya dalam,lalu mengeluarkan tiga jas hujan,disampingku yoo bi terlonjak berseru,membuat mangkok bekas odeng hampir terbalik.
……………
       Yoo bi menggosok gosok telapak tangan nya ketika aku mengancingkan jaket hujannya,meloncat loncat sejak so hyun mengabulkan.
“salahku kenapa membawa ini semua”.
    Ia lagi lagi kesal,itulah sepanjang jalan,yang terjadi adalah aku seperti punya dua anak kecil yang sering sekali berdebat.
“pakai saja jas mu so hyun,jangan banyak bicara”.
     So hyun menatapku,aku merasa bersalah ketika melihat mulut nya membulat,yoo bi juga begitu,aku tau ada yang salah,tapi sudahlah,sesekali.
      Angin dingin langsung menerpa tubuhku ketika kami keluar restaurant,yoo bi menggenggam tangan ku erat sekali,kami melangkah di tanah basah,lembab,dedaunan berhamburan terkena angin dan rintik hujan.
     Tadi kukira kami akan sampai cepat,yoo bi memaksa ku percaya bahwa ini akan mudah,yang terjadi adalah berkali kali ia minta gendong berkali kali juga so hyun cerewet,aku dibelakang punggung mereka,menghela nafas.diam diam aku menyukai semua ini,tersenyum ketika mereka berdebat,terkekeh ketika yoo bi merengek,keluarga kecil ini,aku menyukai mereka.
“kita naik cable car saja,aku tdak sanggup lagi”.
    So hyun menurunkan yoo bi,aku menarik tangan nya,mendekat padaku,masih menatap tajam wajah ayahnya.
“baiklah kau yang ulang tahun”.
“ya…aku bahkan lupa aku ulang tahun hari ini”.
      Cable car,kukita itu bus atau sesuatu yang merayap di jalan seperti yang kulihat ternyata itu berbeda.
   Yoo bi cemberut menggegam tangan ku,menjauh dari so hyun,kami berdesakan,karena terlalu banyak orang yang menyerah mendaki,kami dekat sekali,hanya beberapa senti,yoo bi di kiriku menggenggam tangan ku,sesekali memainkan jas hujan yang sudah kulipat,ku jatuhkan di kakinya,so hyun dikanan ku,diam,merengut,menatap kaca cable car.
    Aku menghela nafas,daun crimson jauh lebih indah diatas sini,orang orang yang masih mendaki,membuat warna warni dari jas hujan mereka,angin berhembus membawa embun ke dinding kaca cable car,aku menghela nafasku,menatap sekilas yoo bi yang masih memainkan jas hujan kami dikakinya.aku mengelus rambutnya yang hitam sesekali.dan saat aku akan menatap ayahnya,di kananku,disana mata kami bertemu,kembali kaku,aku merasa ujung kaki ku menjadi dingin,berubah menjadi ekor.aku menelan ludahku,berhenti membuat mata kami membeku.menunduk lambat.so hyun juga melakukan hal itu.
……………
     Sepuluh menit  mungkin setelah kami masuk ke cable car,melangkah lambat,menghirup udara harum bekas hujan,disamping cable car aku melihat kedai kecil tempat orang orang santai sambil minum kopi,banyak sekali orang,beberapa tertawa tawa dan bercanda,dari susunan orang orang disana,aku merasa mengenali seseorang entah siapa,aku mengenalinya di suatu tempat dan ketika aku menatap cermin,ia tersenyum lembut menatapku,hanya saat seseorang melangkah di depannya,aku kehilang orang itu,benar benar menghilang ketika yoo bi menarik tangan ku.
        Benar sekali,dua jam perjalanan kami,saat itulah matahari perlahan terbenam,membuat crimson kecolatan terkena cahaya orange keemasan,kami duduk di bebatuan basah bekas hujan,yoo bi di tengah tengan ku dan so hyun,so hyun bilang ini 700 meter dari permukaan.hamparan crimson lembut terkena angin membawa dedaunan ke satu arah ketimur lalu keutara,berbalik lagi.indah sekali.kami diam,yoo bi juga begitu,matahari perlahan pulang,menepi ke barat,angin mendesir di telingaku.diam…sunyi,damai.aku tidak pernah merasa selengkap ini.
     So hyun menatap wajahku ketika aku menatapnya,sekali ini saja membiarkan mataku menatap wajah itu,dalam hati aku mengakui bahwa dia lebih indah dari hamparan crimson dan matahari yang hampir tenggelam,saat kami saling tesenyum dan membuat seluit wajah kami di bebatuan,yoo bi menjatuhkan kepalanya ke pundakku,lagi lagi tertidur.hari kedua di daratan,aku merasa sesutau berbeda di dadaku,terlalu dini,aku menggelengkan kepaku,mejauhkan perasaan itu.
…………..
Hari keempat….
    Aku bangun ketika angin berhemus lembut dari sela sela jendela balkon kamar yoo bi,ia masih tetidur pulas,lelah dengan perjalanan panjang kami.
    benarkan hanya karena aku  adalah pengasuh yoo bi,benarkah hanya itu,aku berkali kali bertanya,memegangi sisi balkon dan lagi lagi menatap lautan berombak yang gelap,willow berkilwan terkena cahaya lampu,matahari mulai terlihat,kemerah merahan membuat dedaunan bercahaya.
     Aku tersentak ketika  mendengar suara sesuatu terjatuh di lantai bawah,berlari setelah menutup pintu bakon,menuruni tangga terburu buru,mencari sumber suara,dan menemukan so hyun di dapur,merapikan panci yang terjatuh.
“apa berisik sekali”.
   Ia melihat ku menuruni tangga,meletakan panci diatas meja.
“tida…aku sudah bangun”.
   Ia tersenyum,aku melangkah mendekat.
“apa aku bisa membantumu”.
     So hyun menaikan keningnya.
“kata yoo bi kau tidak bisa memasak”.
“dia mengatakan nya”.
    So hyun mengagguk.
“kau bisa membantuku,benar benar bisa”.
    Ia mengambil beras dan menyuruh ku memasukannya ke air mendidih,menyuruhku memotong sayur di atas meja,berkali kali ia menjatuhkan barang barang,entah apa saja,benar benar kebiasaan nya,aku berkali kali tersenyum,hingga terkekeh,ketika ia kikuk mengambil pisau yang jatuh di bawah meja,kepalanya terbentur kolong,so hyun terasa berbeda.
   Sementara ia mengelus elus kepalanya,tidak kami sadari yoo bi terkekeh nyaring,tersenyum ketika kami menatap nya bersamaan,entah sejak kapan ia duduk di anak tangga,memperhatikan kami memasak untuknya.
………….
“aku harus kembali kekantor,ku mohon jaga yoo bi”.
   Aku mengangguk,menatap tangan nya yang berkali kali lepas memasang dasi.
“sebelumnya aku akan mengantar nya dulu kesekolah,pulang nanti bus sekolah yang mengatarnya”.
  Aku mendengar so hyun bicara tapi lebih suka memperhatikan tangan nya yang frustasi memasang dasi.melangkah lambat,aku pernah melihat drama yang yoo bi tonton ketika melakukan hal itu,aku mendekat selangkah,menyetuh ujung ujung dasi so hyun,memutarnya,membuat simpul,merapikan sebentar,aku tidak percaya bisa melakukan nya persis seperti di drama itu.
“terima kasih”.
    So hyun melangkah mundur ragu ragu.
“aku pergi”.
   Aku mengangguk lagi,so hyun hampir menabrak pintu.
“yoo bi ceptlah,kau tidak mau terlambatkan”.
“aku disini”.
    Yoo bi mengntip dari luar pintu,so hyun salah tingkah melangkah.
“kami pergi”.
   Aku mengangguk.
   Hari keempatku,aku merasa sangat di butuhkan.
………………
    Adalah hari empat di sore hari, ketika so hyun ragu ragu mengetuk pintu kamar,membukanya pelan,menatap ku dan yoo bi yang bersandar di bahu tempat tidur,aku menatapnya sebentar,yoo bi disampingku hampir protes,so hyun melangkah lambat kearah kami.
“aku dapat undangan tadi siang”.
     Ia duduk di ujung tempat tidur,jas nya sudah terlepas tergulung di tangan nya.bau farpum nya tercium dari kemeja putih ketat nya.
“tentang apa”.
    Yoo bi mendekat.
“tidak…bukan hal penting,ada teman ku yang baru tiba dari jepang,aku hanya…”.
   Aku dapat melihat ia menelan ludahnya,semakin ragu mengatakan sesuatu.
“aku hanya…ini…bila kalian bosan dirumah,bagaimana kalau kita pergi malam ini”.
    ia menghela nafasnya menatap ku dan yoo bi bergantian lalu menggaruk kepalanya.
“bagaimana?”.
   Kami diam,yoo bi menatap wajahku.
“kenapa tidak,yakan lee ae”.
     Oh baiklah,menyenangkan sekali mendengar yoo bi mengatakan ya,aku benar benar tidak mengerti bagaimana itu pesta,bagaimana sikapku,bagaimana cara menegur orang orang itu,setelah menunduk menatap porselin di kakiku,aku menghela nafas dan pelan sekali mengangguk,kenapa tida,aku tidak pernah tau apa yang  terjadi besok,mungkin ini kesempatan pertama dan terakhir untuk tau bagaimana manusia saling bertemu.
…………..
    So hyun pulang dari pertemuan bisnis dadakannya lima belas menit sebelum acara itu,bergegas menaiki pintu dan hampir terpeleset menatap yoo bi menaikan sleting gaunku.ia menatapku,aku tau aku sudah mengatakan hal ini berkali kali,tapi saat itu semuanya berbeda,matanya yang hitam menatapku terlalu berlebihan,atau hanya aku yang merasa begitu,bibirnya merulang kali menarik nafas,ia berhenti menatapku hanya ketika ia menunduk,menatap ujung sepatu nya yang basah bekas hujan di luar rumah.ketika wajahnya menunduk aku dapat melihat sesuatu entah lah,tidak dapat ku baca,tidak bisa ku mengerti,dan entah apa yang salah dari ku,ketika yoo bi menuntunku,menarik tangan ku pelan,yang kulihat bukan lagi ujung kepalanya,ujung kepala yoo bi yang biasanya akan ku elus lembut,yang kulihat adalah so hyun,so hyun yang berdiri dengan kaku,menunduk dan diam,memakai taksido hitam dan tampan,saat so hyun menyentuh tangan ku dan menaikan jemariku ke sudut di tangan nya,lalu yoo bi menggenggam tangan kiriku,aku merasa sesuatu seperti tercipta begitu saja,semuanya lengkap dan aku tidak butuh apapun lagi.jam 8 malam ketika so hyun membuka pintu depan untukku dan membuka pintu belakang untuk yoo bi,yoo bi tersenyum menatap ku dari kaca spion,wajahnya yang cantik membayang dari awal perjalanan,di terpa cahaya lampu jalan.
      Aku yang untuk pertama kalinya merasa susah bernafas setelah berhari hari berada di daratan,yang bahkan belum percaya degan utuh apa yang sedang terjadi benar benar kenyataan,duduk dengan gaun putih panjang, kain satin yang dipintal dengan renda dan belahan rendah,so hyun yang menggenggam tangan ku setiap kali kaki ku ragu menancapkan ujung hak ku kelantai,jantungku berdegup kencang,semakin parah setiap kali aku sadar so hyun di sampingku,aku tidak mengerti dan aku tidak ingin mengerti.
    Jam setengah Sembilan malam ketika aku melihat gedung besar dengan cat berwarna crim berdiri anggun di ujung sepatuku,yoo bi meloncat dari tempat duduk belakang,memperhatikan so hyun memegang tangan ku dan menurunkan tubuhku dari mobil.ia menyentuh pinggang ku dengan sikunya ketika aku terpesona dan hampir menganga ketika pelayan membukakan pintu untuk kami bertiga.
        Bunga daisy dan tulip berjejer diantara meja meja bundar yang disusun acak,berdiri di karpet merah marun yang tebal,aku duduk di salah satu bangku itu,so hyun di kiriku dan yoo bi di kanan,aku melihat wajah itu bosan,berkali kali melirik jam di tangan nya.
“tuan so hyun,lama tidak bertemu”.
     Seorang laki laki setengah baya,melangkah mendekat,menyalami so hyun dan menatap yoo bi,hanya sekilas ia tersenyum padaku.
“aku belum pernah melihat wanita ini,siapa dia”.
       So hyun menyentuh tangan ku menyuruhku berdiri dan menunduk.
“kim lee ae,dia….”.
“dia calon ibuku,ada masalah untukmu”.
    Orang itu terkekeh,memainkan gelas anggurnya yang hampir kosong,menatapku dan yoo bi bergantian.
“aku hanya tidak pernah melihatnya yoo bi,kau terlalu pemarah”.
      Sementara aku kembali ketempat duduk ku dan so hyun berhenti menjelaskan yang sebenarnya,seorang wanita melangkah lambat kearah kami,aku dapat melihat berlian berkilawan di jemarinya,baju merah nya yang hampir membuka seluruh paha kecilnya,aku sempat menatap bibirnya yang merah tersenyum tipis.
“senang bertemu dengan mu kim lee ae”.
    Ia mengulurkan tangan nya,membuatku berdiri dan menyalaminya,menunduk sebelum kembali.
“aku lee ah ra,seseorang yang harus nya ada di posisimu”.
       Ia tersenyum,duduk di depanku,mengisi penuh cangkirnya dengan anggur.aku ingin bicara tapi mulut ku terasa kaku,so hyun beberapa langkah dari ku masih bicara dengan laki laki tadi.yoo bi bergabung bersama beberapa anak perempaun seumuran dengan nya.
“kau pernah kenal seseorang”.
“maksudmu”.
“seseorang dari masa lalu so hyun,kalian tinggal serumah pastinya,apa so hyun tidak pernah menceriatkan apapun”.
      Ini bukan hal yang harus aku tau harusnya,tapi menatap wajah orang didepan ku dan segala hal yang dia punya,aku merasa sesuatu meledak ledak di dadaku.
“aku tidak mengerti,lagi pula kurasa kau salah mengerti”.
“jangan menjelaskan apapun”.
“aku dan so hyun tidak seperti yang kau fikirkan”.
“kau tau apa yang ku fikirkan”.
     Ia terkekeh,meminum cangkir anggurnya,menarik nafasnya panjang,menatap ku lekat.
“kau tau kenapa yoo bi tidak punya ibu”.
“apa maksudmu”.
    Ia tersenyum tipis.
“jika kau mengenalku,maka tidak ada alasan untuk tidak mengatakan kau dan mantan istri so hyun adalah orang yang sama”.
   Ia kembali menatapku,aku menunduk,memperhatikan anggur yang kembali ia mainkan.
“ibu yoo bi,istri tuan so hyun,mati bunuh diri karena orang bernama so hyun itu mengetahui perselingkuhannya”.
     Aku menelan ludahku,menatap kain meja bundar di depanku,enggan bicara,karena aku merasa terlalu kaku.
“kau pasti tidak tau,karena dia akan selalu menutupinya,satu tahun yang lalu ketika hal itu terjadi,wanita itu,menabrakan mobilnya ke pembatas jalan di samping eurwangni,mobilnya menggelinding dan jatuh kesana,mayatnya tidak pernah di temukan”.
     Aku terpaku dengan setiap kata kata orang di depanku,sekali lagi ia meneguk anggurnya,sekarang tidak lagi menatap mataku.
“dan harusnya aku lah orang yang akan menggantikan wanita itu,aku terkejut ketika ia datang dan memegang tangan mu”.
    Lagi lagi ia terkekeh,menatap mata ku dan terseyum.
“kau tau,so hyun laki laki paling sempurna yang pernah ku temui,di tampan,pintar,kaya,semuanya dia punya semunya,apa kau pernah berfikir kenapa wanita itu pergi bersama laki laki lain”.
     Ia memalingkan wajahnya kearah so hyun bicara.
“apa kau yakin dia mati seperti yang terdengar,ya tuhan…dunia ini seperti tempat sampah,kau harus menjaga dirimu dengan baik kim lee ae”.
      Aku tidak mengerti bagaimana seorang wanita di daratan memperlakukan wanita lainnya,tapi melihat wajah itu menatapku sebelum beranjak dan menghilang di kerumunan membuat ku merinding,aku menunduk dan ragu menerjemahkan dengan baik.aku…aku hanya tau bahwa di daratan tidak banyak hal ku tau,tidak banyak hal ku mengeti,dan kurasa lebih baik memang begitu.
“kau baik baik saja lee ae”.
     Aku tersentak ketika sadar so hyun sudah di sampingku.
“aku minta maaf karena semua orang mengira kau calon ibu yoo bi”.
    Aku menggagguk,kata kata so hyun berlalu lambat,tidak terdengar dengan  baik,aku menghela nafasku dalam dan menatap wajah so hyun yang kosong.
“sekarang,apa kau baik baik saja”.
    Aku menyenggol bahunya.ia tersenyum menatapku.
“mau berdansa dengan ku sekali saja,karena hanya beberapa menit lagi sampai yoo bi memaksa kita pulang”.
“dansa?”.
   aku menelan ludahku,menatap orang orang yang saling memeluk dan bergoyang seperti gelombang.
“sekali saja,setelah itu aku juga akan merengek pulang”.
    So hyun menggenggam jemariku,kami melangkah ke lantai,so hyun menyentuh pinggangku dan meletakan kedua tangan ku di bahunya,pelan sekali,mengikuti tuas piano yang dimaikan perempaun muda berdres biru,kami berdansa,semula kaku,beberapa kali aku menginjak kaki so hyun,tapi ia tersenyum dan lagi lagi mengajariku,pelan sekali ketika aku merasa seluruh tubuhku melembut,benar benar mengikuti setiap melodi dan bunyi sepatu so hyun,hanya beberapa detik sampai aku sadar kami sangat dekat,tidak pernah sedekat ini,gaun ku hampir menempel pada taksidonya,hembusan nafasnya ynag hangat terasa di dahiku,so hyun indah,wanita itu benar.
      Lampu putih di ruang pesta memantul mantul di lantai,menerangi seluruh ruangan,tapi aku merasa semuanya gelap kecuali tubuh dan wajah seseorang didepanku,sementara hujan turun di luar ruangan, tanpa sadar aku meyenderkan kepalaku ke dada so hyun,suara piano itu terasa semakin lambat,mata ku terpejam,saat aku membuka mataku,aku melihat seseorang,seseorang yang rasanya sangat ku kenal,berdiri mematung di dekat piano,aku sangat mengenalnya sungguh.bibir nya terangkah lambat,tersenyum.saat satu detik mataku terpejam dan membuka lagi,bayangan itu menghilang,sekarang yang kulihat adalah wajah memelas milik yoo bi,hanya beberapa menit lagi sampai ia merengek.so hyun benar.
…………….
Hari kelima
        Aku bangun ketika cahaya matahari menerpa wajahku,menggeliat mencari yoo bi di sampingku,kosong,aku hanya menyentuh seprai lembut yang berantakan.perlahan membuka mataku dan menarik selimutku untuk menjauh mencari yoo bi di sekitar tempat tidur,tidak sengaja mentapa jam,jam 8 siang,dan yoo bi sudah pergi satu jam yang lalu bersama so hyun,aku menghela nafasku,perlahan bangun dan menyusuri lantai,berdiri di depan pagar balkon.
      Aku terlalu banyak tidak megerti,aku tau tempat ku adalah di antara bebatuan dan kapal karam,tapi aku tidak merindukan itu semua,aku hidup dengan baik dan bahagia hanya dengan dua orang di daratan,aku tidak membutuhkan siapa siapa lagi.
       Angin mendesir,menerbangkan helaian rambutku,aku masih menatap hampaan pinus yang rapat dan air yang beriak saat kata kata wanita itu terdengar lagi di telingaku.
“apa kau yakin dia mati seperti yang terdengar,ya tuhan…dunia ini seperti tempat sampah,kau harus menjaga dirimu dengan baik kim lee ae”.
    Aku bahkan tidak terlalu mengerti bagaimana hidup dengan baik di daratan,lalu aku harus menjaga diriku,dari siapa?,semakin lama aku merasa daratan mengungkap satu persatu rahasianya dan banyak dari hal itu tidak aku mengerti.saat menatap seluruh rumah ini dan tidak menemukan sesuatu yang perlu aku tanyakan,melihat so hyun dan yoo bi yang hidup dengan sangat baik,aku merasa semuanya memang harus seperti ini dan tidak ada yang harus di rubah,tidak ada yang harus aku tau.
    Aku menghela nafasku,ketika semuanya terasa semakin aneh,bagaimana mereka menerimaku dan bagaimana aku menyukai mereka.bagaimana mereka tidak pernah bertanya apapun,padahal aku wanita yang tidak jelas,masuk kerumah ini,masuk ke dunia mereka.
       Aku melangkah pelan,masuk lagi kekamar yoo bi,memperhatikan laci di bawah tempat tidurnya yang sedikit menganga,aku hampir menutupnya ketika sesuatu tersangkut,aku membuka lebih lebar,perlahan menarik sesuatu yang mengganjal,aku duduk lagi di sisi tempat tidur,meraba pas foto yang tertutup telapak tangan ku,perlahan ku buka satu persatu jari jari ku dari pasfoto itu,memperhatikan tiga orang tersenyum bahagia,yoo bi kecil yang berdiri sambil memegang tangan so hyun dan tangan seseorang di kanan nya,wanita yang cantik.baju hitam selututnya membuatnya anggun, benar benar cantik dan entah kenapa aku melihat diriku dalam diri orang itu.
    Aku menghela nafasku,entah apa itu tapi perasaan yang muncul benar benar membuat ku khawatir,aku merasa mereka tiba tiba memiliki seseorang yang benar benar mereka cintai dan parahnya aku merasa sangat mengenal orang itu sehingga tidak terfikir olehku untuk tinggal  disini selamanya.jauh dalam hati ku aku jadi menggila ketika beharap menggantikan posisi orang itu di rumah ini.so hyun tidak bilang apa apa dan yoo bi belum menceritakan apapun tentag ibu nya setelah ia memasak untuk so hyun hari itu,tapi aku tau,aku hampir tau siapa seseorang yang berdiri dan tersenyum lebar dengan anggun di foto ini,aku harusnya memang tau,tanpa seseorang memberi tau.
     Aku menyelipkan helaian rambut yang terjatuh di wajahku ketelinga,menaikan kepalaku yang tertunduk memandangi foto itu,aku mengenalnya,tapi aku tidak mengingat dengan baik.rambut hitam nya yang lembut,wajahnya yang kecil dan senyum nya yang lebar.
   Saat aku kembali menunduk dan menatap foto itu aku akhirnya tau sesuatu,aku benar benar mengenalnya.
“kim lee ae”.
     Aku terlonjak,hampir terjatuh dari tepian ranjang,masih menatap wanita dengan gaun putih yang tiba tiba duduk di sampingku.
“kau mengenalnya,kau memang mengenalnya”.
   Ia mengulurkan tangan nya,menyentuh jemariku,jantung ku berdegup sekaligus menjadi tiba tiba membeku,tangan dingin yang ku kenal.
“bagaimana kau tidak mengenaliku,teman duyung”.
   Ia tersenyum,mengangkat tangan kami ke udara.
      Aku membeku,masih diam dan menatap wajahnya,entah kenapa udara pun terasa dingin ketika dia berada dekat dengan ku.
“aku akan menjadi jawaban dari setiap pertanyaan pertanyaan mu”.
       Aku mengangguk berat,dimulai dari mana,apa yang harus aku tanyakan,mari memulai nya dari,kenapa kau bisa berada diruangan ini,aku menghela nafasku,terdengar kasar hingga orang di sampingku terkekeh.
“banyak hal benar benar tidak aku mengerti”.
   Ia terkekeh lagi,melepaskan tangan nya yang dingin dari jemariku,aku masih menatap senyum nya hanya seja sekarang ia menunduk diam,sesekali melirik foto yang ku pegang.
“aku mencinta mereka lee ae,aku sangat mencinta mereka”.
      Aku menatap wajahnya.
“aku bertemu dengan so hyun ketika berenang terlalu ketepi,mulai bermimpi menjadi manusia seperti mu setelah hari itu,aku berdoa lee ae,aku berdoa setiap malam,sambil menatap bulan aku memastikan bahwa orang itu masih berada di pinggir pantai,masih dekat dengan ku,suatu hari lee ae,suatu hari aku merasa dada ku sesak di dalam air,entah apa,aku tidak mengerti,yang ku tau,aku berada di daratan dan memulai hidup ku sebagai seorang manusia,menyenangkan sekali karena aku berada di kamar seseorang yang ku kenal,satu satunya orang yang kukenal di daratan,dia so hyun,kami tinggal dirumah itu,dia mengajariku banyak hal dan kami tiba di suatu hari dimana so hyun menggenggam tangan ku,menatap mataku dan memintaku,meminta ku untuk hidup selamanya dengan nya,memintaku menjadi wanita yang pertama kali ia lihat ketika dia pertama kali membuka matanya di pagi hari,kau tau lee ae hari itu adalah hari terindah yang pernah langit berikan padaku,hari itu adalah hari terbaik yang pernah aku rasakan”.
      Ia masih tersenyum,menunduk,sesekali menyeka tetesan air mata yang jatuh di pipinya.
“ku kira daratan indah sekali lee ae,ku kira daratan baik padaku,kami menikah dan aku melahirkan seorang putri,kami hidup sangat bahagia beberapa tahun setelah aku melahirkan sampai seseorang datang kehidup kami,membuat ku terlihat jahat di mata so hyun,kami bertengkar karena so hyun kira aku melanggar janji pernikahan kami,aku bersumpah aku tidak melakukan itu,tapi so hyun tidak mendengarkanku,so hyun pergi dari rumah dan membawa yoo bi,aku sadar ketika terbangun di pagi hari,mencari mereka kemanapun aku tau,di tepi eurwangni ketika aku sadar rem  mobil ku tidak berfungsi,lee ae,seseorang melakukan nya padaku”.
      Aku merengkuh telapak tangan nya yang rapuh,menatap setengah wajahnya yang menunduk,hanya beberapa detik sampai aku juga menunduk diam,kami tidak saling memperhatikan,aku masih mengelus punggung tangan nya yang dingin.
“lee ae,aku kembali ke laut,aku kembali ke tempat aku di lahirkan,aku pergi tapi semunya tidak akan pernah sama,malam itu ketika aku melihat tubuhku di bawa ombak,menjauh ke tengah,aku hanya terdiam dan memandangi sambil terisak,berulang kali aku berteriak berdoa pada tuhan untuk menghidupkan ku lagi berulang kali aku memintanya untuk membiarkan so hyun tau apa yang sebenarnya terjadi dan sekali lagi lee ae,sekali lagi aku di dengar langit,di kabulkan tuhan,aku bertemu dengamu,kau adalah apa yang kulihat di depan cermin,kau ingat ketika bertemu denganku dan berharap kau menjadi manusia,lee ae,kau benar benar menjadi yang kau mau,karena kau tau bagaimana berdoa dengan benar,rembulan di malam hari benar benar dekat dengan langit,tuhan mendegar dengan sangat jelas,lee ae,aku memintamu,aku ingin so hyun dan yoo bi tau.wanita itu,yang kau temui di pesta teman so hyun dialah orang nya”.
    Aku tercekat,menatap wajah pucat yoo bi yang membeku.
“kim lee ae,kau tau berapa hari sejak pertama kali aku menjadi seorang manusia dan so hyun memintaku menjadi wanitanya,enam hari,lee ae,aku tidak tega mengatakannya,tapi kau dan semua duyun,hanya akan punya waktu satu minggu sampai menemukan pria yang mencintai mereka,apa yang kau rasakan dan dia rasakan,jika tidak kau akan kembali kelautan bersama angin,tidak ada yang berubah,lee ae kau akan kembali menjadi duyung,untuk selamanya,kau takan kembali kedaratan dan segala hal yang pernah kau lihat dan ingat akan mengilang bersama kaki kaki mu”.
      Sunyi,dingin,kaku,aku merasa langit langit ruangan ini berputar,telingaku berdengung parah,aku menatap telapak tangan ku yang masih mengelus punggung tangan dingin milik ji won,tapi semuanya memudar,mata ku menjadi berat,tepat ketika aku mengangkat wajahku untuk menatap wajah mik dia menghilang,yang tetinggal hanya bau rose yang memudar,bersama dengan bau mawar yang menghilang aku merasa kepala ku terangkat lambat dan berdenyut,mata ku terbuka perlahan,dan tubuh ku terasa kembali hangat,aku bangun pelan,tersadar bahwa pipiku menyentuh bantal dan tubuhku terbaring di seprai lembut kamar yoo bi,aku menghela nafasku, rasa hangat itu dari selimut yang melilit tubuhku,tidak terlalu jelas,samar samar tapi semakin nyata,wajah mik yang pucat dan tersenyum lebar,perlahan mimpi tadi benar benar menjadi semakin nyata.
        Aku menarik selimut hingga pundak,seluruh tubuhku hangat kecuali tangan ku,tangan yang mengelus punggung tangan ji won,aku tertidur dan bermimpi,atau ji won memang datang dan mengantarkan setiap jawaban yang aku tanyakan.
     Entah berapa detik sampai aku sadar,relif yang lebih rendah di tepian tempat tidur,tempat mik dan aku duduk,mik dan foto yang ku genggam mengantarkan ku pada hari hari yang ku lewati dan wanita yang ku temui,ji won selalu ada hanya aku tidak menyadarinya,dan beberapa kali enggan menyadarinya, saat bau rose terasa sekali lagi,aku tau,aku tau semuanya benar benar nyata.
………………
      Hari ini so hyun melewatkan sore nya di kantor,aku dan yoo bi berbaring di kamar sambil menceritakan teman teman yoo bi dan pelajaran yang gurunya jelaskan,aku tau yoo bi mendengus kesal karna aku tidak medengarkannya dengan baik,berulang kali ia menyenggol bahuku dan meminta ku menjawab sesuatu tentang apa yang dia ceritakan.
   aku sendiri masih mengingat dengan jelas wajah ji won dan apa yag ku dengar dari pertemuan kami,aku menelan ludah ku dan berusaha senormal mungkin menghembuskan nafasku,apa aku benar benar harus menghilang bersama angin dan melupakan semuanya,tanpa sisa,sementara yoo bi dan so hyun tidak tau apapun tentang apa dan siapa aku sebenarnya,atau aku harus mengatakan dengan benar kenapa aku berada di ruangan ini,di rumah ini,di hidup mereka,bahwa aku adalah permintaan mik,bahwa aku adalah seseorang yang akan membuat mereka mencintai mik lagi.
     mengingat itu semua membuat kepala ku berdenyut,disamping yoo bi ku benamkan wajahku ke bantal bulunya,aku ingin hidup di daratan,tapi itu artinya aku harus mendapatkan seseorang yang mencintaku dalam 2 hari,atau aku harus pergi dan dipaksa melupakan semuanya,menganggap hidup ku memang normal,tidak pernah menjadi manusia atau hidup didaratan.
     aku menyerah,membiarkan yoo bi menarik selimut yang ku angkat kekepalaku,mendengarkannya mengoceh,malah membuat dadaku sesak,aku menggenggam ujung selimut ketika yoo bi menar benar menariknya,tercekat ketika sebutir air mata jatuh bersama selimut yang turun ke pinggangku.
“ada apa?”.
   Yoo bi berhenti menarik selimut,perlahan duduk di samping ku berbaring.sebisaku tersenyum  dan menyentuh pucuk kepalanya dan menelan ludah ku,belum saat nya,hanya itu yang terdengar nyaring di kepalaku.
“apa kau baik baik saja”.
    Aku menggangguk,membersihkan air dari sisi mataku.
“apa kau meridukan keluargamu”.
    Aku menarik nafasku,duduk disamping yoo bi,menggenggam tangan nya yang hangat,mata yoo bi mengerjap memandang mataku yang lagi lagi berair.
“aku baik baik saja,aku akan baik baik saja”.
“aku tidak tau apa yang kau fikirkan,tapi aku tau kau tida baik baik saja,aku juga pernah melakukan hal hal seperti itu ketika ibuku pergi,aku mengatakan pada so hyu bahwa aku akan baik baik saja,tapi setiap kali aku mengatakannya maka aku merasa mata ku memanas dan yang ku tau aku tidak pernah bisa membohongi hati ku sendiri”.
      Aku menunduk,memandangi seprai putih dan selimut yang berantakan.
“kau masih merindukan ibumu”.
   Aku memandangi wajah yoo bi,matanya yang bening,kosong.
“kadang,tapi kau datang lee ae,kau mirip sekali dengan ibuku,kau selalu tersenyum,kau tidak pernah memuji so hyun, kau tidak pernah ingin terlihat menarik,kau tulus”.
   Mata yoo bi sekarang menatapku,menatap semua bagian yang tidak pernah ku mengerti,aku mencintai anak ini,aku mencintai putri kim so hyun,aku mencintainya tapi aku tida bisa mengungkapkanya,aku ingin berada di daratan,aku ingin berada di samping mereka,meski semuanya tidak berubah,aku masih takut mengatakan semua itu.
“lee ae,ingin ku ceritakan sesuatu,ini dongeng yang selalu ibuku ceritakan sebelum aku tidur”.
   Aku menggangguk.
“di tengah lautan,bermil mil jauhnya,di tengah cahaya biru yang beriak setiap saat,disana lah hidup sesuatu yang tidak pernah manusia tau….”.
    Dan cerita itu meluncur begitu saja,aku dapat membayangkan dengan benar karena semua yang yoo bi ceritakan adalah apa yang terjadi pada hidupku,hidupku yang menyenangkan di lautan.
“banyak hal yang aku tau dari putri duyung itu berbeda,ibuku bilang mereka tidak menangis dengan mutiara atau kaki mereka bisa menjadi sirip saat terkena air,ibuku yang mengatakan itu, maka aku percaya”.
   Yoo bi menaikan bahunya.
“kau percaya mereka ada”.
“aku percaya dan ibuku selalu membuat ku percaya”.
“apa kau pernah berfikir mereka ada di dekatmu,apa kau percaya mereka bisa pergi dari lautan dan duduk disampingmu”
       Yoo bi diam,mengamati wajahku yang menegak menatap cahaya yang meredup di balkon.
“aku percaya”.
     Lama sekali kami diam,perlahan yoo bi merebahkan kepalanya di bantal di samping pahaku,aku mengikutinya,menatap cahaya bintang yang berkedip di ujung balkon.
“yoo bi…”.
   Aku menatap matanya,mengamati wajahnya dengan seksama.
“aku…”.
     Hampir sampai dilidah namun tercekat,hanya beberapa detik sampai kata kata itu benar benar meluncur dari bibir ku,tapi ini terasa sangat berat.
“aku dan ibumu adalah mereka”.
     Jantung ku berdegup kecang,aku bahkan menunduk karena takut melihat yoo bi marah atau terkekeh menertawaiku,tapi yang terjadi adalah sebaliknya.
   Ia menatapku lalu tersenyum.
“aku tau”.
………………..
        So hyun meremas kenop pintu dan membukanya perlahan,membuka kamar yoo bi dan berjingkit mendekat,ia tak sadar aku berada di balkon dan memperhatikan tubuhnya yang mendekat pada ranjang.
“kau baru pulang”.
     Ia tercekat menatapku,pelan tersenyum dan memperhatikan wajahku yang memucat.
“kau baik baik saja”.
     Benar benar ayah yoo bi,aku mendekat selangkah,menunduk,tidak menatap matanya yang hangat.
“aku ingin membicarakan sesuatu padamu”.
     So hyun menggangguk lambat,berbalik menatap yoo bi yang tertidur dengan selimut melilit sebelum melangkah mendekati balkon.
“apa yang ingin kau bicarakan,apa ini tentang yoo bi”.
      Aku menelan ludahku,berusaha merasakan angin bekas hujan yang harum,merasakan deburan ombak yang melayang layang di dekat pohon willow.
“aku…tidak yakin kau akan bicara,atau mau membicarakannya sekarang”.
      So hyun mendekat selangkah,mengintip wajahku yang menunduk menatap batang pinus yang terkena lampu halaman belakang.
“aku ingin membicarakan seseorang yang sangat kau kenali,entalah,mungkin kau merasa sangat mengenalinya”.
      Sekali lagi aku menelan ludahku,menghela nafasku yang tercekat cekat.
“siapa,bicarakan saja”.
     Aku tau mata ku kosong dan bibir ku bergetar,berulang kali aku mendengus kasar dan membuat so hyun memandangi mataku penasaran.
“aku melihatnya di sampingku saat matahari terbenam,aku melihatnya di samping piano ketika kita berdansa,aku melihat nya di kamar yoo bi dan kami membicarakan mu,aku melihatnya di rumah ini,aku melihatnya di lautan”.
       Aku memegangi sisi balkon semakin erat,bibir ku semakin bergetar dan so hyun menatap pinggiran wajahku semakin lekat.
“ji won nama nya ji won,dia hanya menyuruhku mengatakan ini padamu,dia mencintai mu dan dia tidak pernah menghianatimu………..”.
      Lampu dari halaman belakang berkedip kedip,membuat cahaya temaram merambat di sela sela dedaunan,di sampingku so hyun membeku,menghela nafas nya berulang kali dan membetulkan tangan nya yang memegang erat sisi balkon,aku menatap wajahnya,mencoba menahan mata ku yang memanas,berulang kali aku menarik nafas lalu menahan air mataku,tapi yang terjadi adalah aku terisak,malam itu bersama turunnya hujan ceritaku selesai,cerita yang ku bawa dari jiwa ji won,cerita yang akan menyelesaikan semua mimpi ku,aku menghela nafasku,memandangi so hyun yang masih menunduk dan menyeka ujung matanya.entah dia bisa mempercayaiku atau tida,tapi istrinya,wanitanya,seseorang yang hidup dan tidur dengan nya adalah orang asing,seseorang yang di lahirkan di lautan.aku merasa embun menghakimi tubuhku,aku ingin beranjak dan pergi dari balkon,tapi hatiku menuntut jemariku untuk menepuk pundak so hyun,memberikan nya menangis dan mendengar isakanku.

………………..
Hari ke enam
         Di sisi eurwangni,di musim semi,aku dan so hyun duduk di sisi pembatas jalan di samping lautan,so hyun menuntunku untuk lebih dekat dengan tebing,kami duduk di bebatuan berlumut yang paling dekat dengan air,so hyun mulai menabur bunga rose ke cairan biru di depan kami,tidak ada yang bicara,aku ikut menaburkan beberapa helai,batas langit mulai menua,membuat bayangan kami menjadi orange,gelombang juga perlahan menjadi keemasaan.
“dia menyukai daisy,ia juga suka tulip dan calona,tapi yang paling dia sukai adalah rose,dia benar benar suka rose”.
    So hyun diam,aku dapat melihat matanya yang kosong menghadap cahaya orange yang hampir menghilang.
“dia mencintaimu”.
    Sunyi,riak gelombang yang membuat ku merasa tidak sendirian,diantara wajah so hyun yang membeku perlahan aku dapat melihat senyum tipisnya.
“setidanya,semuanya tidak benar,istriku mati dengan terhormat,dia tidak menyerah karna aku”.
      So hyun memeluk lututnya,aku mebiarkan bahu nya terguncang dan matanya yang memerah mulai mengelurakan air.hanya beberapa menit sampai cahaya orenge di sebrang berubah menjadi gelap.
    Ia memandangi wajahku ketika aku menatap nya,aku ingin mengangkat tangan ku dan meraba pipinya jika aku lupa siapa aku.
“bagaimana kalian bisa hidup di daratan,bagaimana kalian ada”.
    So hyun menatap wajahku lekat,aku membiarkannya menatap wajah ku seperti itu,karana aku menyukainya.aku menyukai setiap hal yang ada pada so hyun.
“tidak semua hal harus kau tau”.
    Ia menggangguk dengan senyum tipis nya lalu kembali menebarkan rose yang tinggal seperempat di dalam keranjang ke eurwangni.
“apa sekarang kau mempercayai kami”.
“aku percaya,terlalu banyak rahasia di bumi”.
   Aku menghela nafasku,membiarkan ombak menerpa tubuhku,dres merah marun dan cardigan dilengan ku.
“aku akan pulang besok”.
     So hyun memalingkan wajahnya yang menatap martahari terbenam kearah ku,aku suka ketika dua kening nya menyatu.
“kenapa?”.
“karena aku hanya punya waktu 7 hari,untuk berada di daratan”.
“tapi ji won punya bertahun tahun”.
    Aku diam,apa menceritakan cerita ini dengan utuh artinya membuat ku terlihat menginginkan sesuatu,aku tidak ingin so hyun mengetahui beberapa hal,aku ingin menyimpan nya sendiri.
“karena dia bertemu dengan mu”.
    Aku mengatakannya dengan pelan,so hyun tidak mendengar kata kata itu,aku juga tidak berharap dia mendengarnya,pada akhirnya aku harus kembali,dan mengemas semua ingatan ku,toh pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa kuingat tentang daratan,aku akan kembali kelautan yang menyimpan begitu banyak rahasia,aku harus nya bangga menjadi salah satu dari banyak hal yang tersimpan rapi di sana.
      Aku tidak pernah melewatkan matahari terbenam,aku juga tidak pernah melewatkan matahari terbit,tapi hari ini,kali ini,bersama orang ini,aku merasa matahari tidak akan pernah secantik ini lagi,menatap sepenggal wajahnya yang menghadap eurwangni yang gelap,menatap wajahnya yang disirami cahaya bulan yang dingin,melihat wajahnya dengan mata berembun.aku mencintanya,entah sedini apa pun itu,aku tidak perduli,aku mencintainya dan aku sekarang tau apa yang terjadi pada hati ku.
……………..
        So hyun mnghembuskan nafasnya dan meletakan dua cangkir kofi di tengah tengah kami,asap tipisnya melayang layang di terpa angin,minuman paling enak yang pernah ku minum,pertama kali meminumnya aku berada di samping yoo bi,bersembunyi dari so hyun,sambil menceritakan betapa membosankannya pertas malam itu.
      Deretan bintang berkedip diantara kanvas gelap yang malang,bulan bersinar seperempat membuat bulatannya terlihat cacat,so hyun mengulurkan tangan nya,menyentuh punggung tangan ku,mata nya yang hangat menatap ku,aku membiarkan setiap detik berlalu begitu saja,aku membiarkan semua hal berjalan dengan seharusnya.
“ini tempat kesukaan ji won,tempat pertama kali aku membawanya keluar dari rumah,setelah menyelamatkanya,kalian hanya sedikit berbeda”.
     Aku menarik nafas ku seakan itu adalah tarikan terakhir yang bisa aku dapatkan,kami berada disini,puluhan meter dari lantai pertama,melihat bintang dari sebuah bangunan tua beratap datar dan di kelilingi kedipan kedipan dari lampu jalan kota.so hyun membiarkan ku diam,ia mengangkat kofi dan menghirup nya sekali,menatap langit yang lagi lagi mendung.
“aku bahkan masih merasa semua ini mimpi”.
“aku juga”.
      Aku menjawab pertanyaan itu setengah hati,seakan semuanya tida akan pernah bisa sama lagi setalah aku menjelaskan semunya.
“aku ingin kau tinggal,tapi aku tidak tau bagaimana caranya,yoo bi menyukaimu dan kami punya rumah yang cukup untuk satu orang yang menyenangkan”.
     Aku ingin berteriak bahwa so hyun hanya harus mencintaiku,hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat ku tetap tinggal,tidak berubah menjadi serpihan serpihan angin dan kembali kelautan, terlahir kembali seperti saat aku pergi kedaratan,melupakan semua nya,bahkan mungkin tidak mengingat keinginanku untuk hidup didarat.
    Kembali,sunyi,tidak ada yang terdengar kecuali bunyi klapson dan rem mobil di jalan raya,aku mendengar bisikan bisikan angin di telingaku,beberapa kali aku ingin bicara,ingin so hyun tau bahwa ada satu cara yang membuatku bisa tetap tinggal,tapi aku tidak ingin itu membuatnya merasa bersalah karena tida bisa mencintaku,karena tidak bisa membuatku tetap tinggal,lagi pula dia tidak pernah tau apakan aku memang ingin mengakhiri semuanya atau melanjutkan nya lalu hidup selamanya di dunia yang tidak terlalu aku kenal.
“ku kira kita harus pulang,aku melihat yoo bi tidak terlalu menyukai asisten baru rumah tanggamu”.
    Aku beranjak,melangkah menjauh dari kofi yang baru ku minum setengahnya,so hyun melangkah cepat,memegang tangan ku,aku tercekat ketika mata hangat nya menatap wajahku.
“tetap lah di sampingku”.
    Aku membalas tatapannya ragu.
“tetaplah disampingku sampai kita turun dan menemukan mobil di parkiran”.
     Aku mencoba tersenyum,tipis sekali bahkan terasa semu,kami turun kelantai satu,so hyun berada pada jarak satu jengkal tangga dariku,aku yang melepaskan tangan nya dan beralasan bahwa tangga nya terlalu sempit untuk di pakai berdua,aku hanya ingin melupakan jatuh cinta,aku hanya ingin merasa bahwa semua hal yang terjadi didaratan tidak akan membuatku senang bila ku rindukan,tapi ketika itu semua kupaksakan aku malah takut tidak bisa merindukan,saat aku merindukan semua ini.
……………….
Hari ketujut……..
        Aku tidak tau persis kapan so hyun berada di depan pintu,tapi aku bisa menebak ia melihat wajahku dan yoo bi saat kami tadi tertidur,ia bangun lebih pagi dari kami,tersenyum dan melangkah mendekat pada ranjang.aku bangun dan menyibak selimutku,melangkah kearahnya.
    Kami diam dan aku benar benar tidak suka saat saat seperti ini,so hyun memegangi siis balkon dan menatap pinus yang masih gelap.
“hari itu,hari ini kan”.
    Aku mengangguk,merasa tidak ada hal yang harus aku bicarakan.
“apa yoo bi belum tau semuanya?”.
“beberapa”.
 Aku menelan ludahku,memegang sisi balkon semakin erat.hal ini yang kufikirkan sepanjang malam.
 “hari ini,aku akan tinggal dirumah”.
    So hyun menatap ku,aku menunduk menatap ujung kaki ku,kaki yang dalam beberapa jam lagi akan menghilang.
“aku senang mendengar itu”.
    Lalu semuanya kembali menjadi kaku,aku melangkah kedalam kamar dan kembali ke ranjang,dada ku sesak setiap kali mengingat bahwa aku harus pulang,seberapa sakit meninggalkan sesuatu yang benar benar kau inginkan,aku bertanya sendirian,aku menenggelamkan wajahku kebantal,membiarkan air mata ku luruh disana,so hyun masih di belakang punggung ku ketika berjanji akan membangunkan ku lebih siang,ku rasa dia sedang bercanda,aku menghena nafasku tanpa menatapnya,dada ku terasa sakit ketika aku menarik nafas terlalu kencang.
“apa yang sedang kalian bicarakan”.
   Aku mengangkat wajahku yang basah,menatap seseorang dengan mata merah di sampingku,so hyun mendekat dan hampir bersamaan kami menggeleng,bingung harus memulainya dari mana.
 ……………
      Entah butuh berapa lama sampai yoo bi pahan dan kembali melirikku yang duduk di sisi ranjangnya,mata nya yang layu dan tajam membuat ku sedikit takut menatap nya,ia mendekat dan aku mendengar desakan di hidungnya,matanya mulai memerah dan aku mendengar ia terisak ketika memeluk tubuhku,aku mengelus punggungnya dan perasaan itu seperti beralih padaku,sebisaku menahan air mata yang berdesakan di ujung mataku,so hyun mendekat dan duduk dibelakang pundak yoo bi,ia menghela nafasnya dan menunduk,entah apa yang dia fikirkan tapi aku tau matanya kosong saat wajahnya mengarah pada seprai putih lembut di kamar ini.
“kapan waktu itu datang”.
“di hari ketujuh,saat pertama kali kalian menolongku,di waktu yang sama”.
      Yoo bi berhenti memelukku,tapi jemarinya masih menyentuh lengan ku,mata nya yang penuh air menatap ku ragu ragu.
“apa kau bisa kembali lagi”.
   Aku menelan ludah ku,enggan menggeleng tapi aku juga tida bisa berjanji dan mengangguk.saat aku diam yoo bi mengerti apa jawaban dari pertanyaan nya.
“itu berarti hanya beberapa jam lagi”.
    Aku mengangguk lambat,berusaha tidak mengenai kepalanya yang sekarang memelukku lagi,ini aneh,semuanya tampak punya waktu,semuanya terasa terencana,terkadang aku mensyukuri tujuh hari ku di daratan,waktu yang sudah di tetapkan,setidanya karena aku bisa mengucapkan selamat tinggal,dan membantu teman ku ji won,ibu dari anak yang ku sayangi dan istri dari seorang pria yang membuat ku jatuh cinta.
   So hyun mendekat,memeluk yoo bi yang sedang memelukku,lengan nya menyentuh kulit tangan ku dan itu hangat sekali,aku merasa udara terasa memanas setiap kali so hyun di dekat ku,aku merasa ada sesuatu yang harus nya aku katakan tapi selalu tercekat di tenggorkan,yang terbaik dari semuanya adalah aku akan menjadi seseorang yang melupakan semua ini,aku tidak tau seberapa hebat tarikan daratan saat aku memandangi tepian,sekuat apa aku merindukan mereka sampai aku bisa mengingat, setidanya,seorang anak cerewet dan pria yang belum dewasa,aku tersenyum ketika mengingat mereka dipendakian gunung.
“kalian bisa berbaring sambil….menunggu”.
   Kata kata terakhir so hyun seperti tidak benar benar dia ingin katakan,tapi itu jauh lebih baik dari pada ia lanjutkan.so hyun merengkuh bahu yoo bi dan membaringkannya di tengah tengah kami,yoo bi memelukku dan so hyun memeluk kami berdua,aku selalu takut tidak bisa berhenti jatuh cinta setiap kali so hyun memperlakukan ku seperti ini,seakan aku dalah wanita istimewanya,terkadang aku lupa bahwa dia mungkin melakukan hal hal ini karena ada yoo bi di antara kami,karena dia ingin menjadi sahabat ku sama seperti yoo bi.
   So hyun menarik selimut dan menutup tubuh kami bertiga hingga bahu,lewat rambut hitam yoo bi yang tergerai di bantal,aku dapat melihat wajah so hyun memandangiku,dia tidak tersenyum dan aku merasa dia tidak berkedip,aku tidak mengerti apa yang aku lakukan,tapi aku membalas nya,sama seperti yang so hyun lakukan,saat ini,ketika mata kami membeku,saling menatap dalam diam,aku merasa tidak memerlukan apa apa lagi,aku merasa sedih harus melupakan semua ini,aku takut akan sesuatu yang tidak bisa aku mengerti,ketika aku mencoba berhenti menatap mata so hyun aku merasakan rengkuhannya di pundakku,ia masih menatap ku,tapi ketika perasaan mengharap itu datang,aku menyergahnya,aku takut pada akhirnya aku kembali kecewa dan mengerti tentang sesuatu di dunia daratan yang nyata,dunia yang samar,dunia yang saat ini belum benar benar aku mengerti.
       Aku kembali menenggelamkan wajahku,kali ini ke leher yoo bi,masih terasa nafasnya yang hangat mengenai kulit pipiku,matanya menatap ku tapi dia tidak tersenyum,so hyun semakin mendekat,sekarang aku merasa wajahnya menyentuh ujung kepalaku,aku tidak melihat dan tidak ingin tau,tapi aku merasakan itu,merasa ketika bergantian so hyun menciumi kepalaku dan yoo bi,ketika semuanya terasa sempurna rasa takut itu malah menajdi lebih buruk.
     Sunyi…tidak ada yang memulai perbicaraan,hanya bunyi jam berdetak,bersama dengan itu sinar orange mulai masuk menerpa sisi balkon, menyentuh selimut dan kaki kami,aku mendengar deru halus nafas so hyun.
“aku masih mengingat dengan baik ketika pertama kali aku dan yoo bi menolongmu”.
    Pipiku bersemu merah ketika mengingat apa yang kupakai hari itu,entahlah ungkin apa yang tidak aku pakai hari itu.
“kami memancing dan tiba tiba ada gerakan di dalam air”.
     So hyun terkekeh terpaksa,mungkin ia sedang tidak sadar sedang mengelus kepalaku.
“ku harap kau tida marah bila aku mengatakan hal ini,bahwa ketika aku menarik tangan mu kepermukanan aku mengingat bagaimana cara ku menarik tangan ji won di masa lalu”.
   Aku mendongakan kepalaku,menatap wajah so hyun.
“wajah mu adalah wajah ji won ketika aku pertama kali melihatnya”.
“aku tidak tau apa hal yang membuat yoo bi sangat menyukai mu,tapi salah satunya adalah kau mirip dengan ibunya,ketika aku mulai berteman denganmu,kita mulai bicara dan pergi kegunung lalu melakukan banyak hal,aku tau kenapa yoo jadi sangat menyukaimu,bukan karena apapun tentang ibunya,tapi karena kau,dia menyukai mu karena itu kau”.
         Kembali,ruangan ini membeku meski aku masih merasa kulit ku terasa hangat karena selimut, yoo bi, dan ada so hyun di kamar ini.
“kau ingat ketika kita pergi kegunung,kau ingat dres putih mu,itu baju yang  di pakai ji won di kencang pertama kami”.
      Aku tersenyum tipis dan so hyun melakukan nya dengan samar.
“aku memejamkan mataku tapi aku tidak bisa tertidur,aku mendengar kalian dan itu membuat ku senang”.
    Yoo bi menyela,menatap wajahku yang dekat sekali dengan wajahnya.ia memelukku semakin erat,saat seperti ini membuatku tanpa sadar menginginkan daratan lebih lama.
     Entah sejak jam berapa kami berbaring di kamar ini,di ranjang ini,tapi aku merasa setiap hal menjadi semakin dekat,waktu menjadi semakin rapuh untukku.saat sinar matahari perlahan menjadi semakin panas aku merasa perpisahan itu benar benar akan datang,bagi so hyun dan yoo bi mereka akan tetap bisa mengingatku,setidanya sampai ada orang baru di rumah ini,dan aku tidak harus serepot mereka,aku pergi bersama kaki ku dan kehilangan semua isi otakku ketika kembali.
     So hyun mendekat lagi,memeluk ku dan yoo bi semakin erat,kami diam,tidak ada yang bicara,saling memeluk dan hangat,hal ini yang benar benar aku inginkan.
      Bunyi detik jam berdetak semakin cepat,aku melihat mata yoo bi benar benar tertutup,mata so hyun juga perlahan menyipit,sekarang aku dapat melihat lingkaran hitam di bawah matanya,aku tak memikirkan dia tertidur atau tida, tapi jika  jawabannya ya  itu mungkin hanya sebentar.
        Entah kenapa aku menjadi semakin siap,mendengar deru angin yang menerbangkan pinus dari seberang tempat tidur,aku merasa,bisa melakukan ini di lautan jika mungkin beberapa hal tertinggal.
     Lama sekali,aku merasa ada yang salah degan hitungan langit,mata ku berat dan semakin berat,semula aku menajamkan mataku agar disaat saat akhir seperti ini aku tak kehilangan apapun dari wjaha yoo bi dan so hyun,tapi perlahan keinginan itu menghilang bersama mataku yang mengerjap,mengantuk dan terpejam.      
…………………
      Aku terbangun ketika matahari terbenam menerpa tubuh ku,entah sejak kapan tapi aku bangun ketika so hyun menyangga kepalanya dengan tangan,yoo bi masih tertidur dan memelukku,butuh beberapa detik hingga aku sadar sesuatu yang kami takutkan tidak benar benar terjadi.
“ada apa,kenapa”.
    So hyun tersenyum,hanya tersenyum dan kembali menatap wajahku.
“kali ini aku akan benar benar menjaga wanitaku”.
    Aku menatap wajah so hyun,bukan karena aku tidak setuju dengan apa yang dia katakana,tapi aku belum lega sampai aku benar benar mengerti apa yang terjadi.aku menghela nafasku dan masih bertanya diam diam.
     So hyun tidak pernah mengatakan apapun,dan aku bahkan tidak meberitahunya apapun,tapi perlahan semuanya seperti tercerna dengan baik,lewat mata so hyun yang hangat,aku masih merasakan angin menerpa tubuhku,berjam jam mata ku terpejam hingga berakhir melihat matahari terbenam,seharusnya aku sudah bangun  di lautan dan menjadi duyung yang tidak mengingat apapun tentang daratan.
   So hyun masih menatapku ketika mataku perlahan berani membalasnya.
“terima kasih karena sudah mau tinggal,karena mempercayaiku dan mencintaiku”.
   Aku tercekat,apa karena ini,apa karna so hyun mengatakannya berjam jam yang lalu,tapi kurasa aku tertidur ketika masa ku di daratan bahkan sudah habis,dan so hyun tidur sebelum itu.
“aku tau kenapa ji won berada lebih lama didaratan,tapi aku takut kau tidak benar benar menginginkannya”.
    Mata so hyun,mata yang hangat itu masih menatapku,perlahan mendekat dan memeluk tubuhku,yoo bi berada diantara kami dan aku menyangka ia sudah bangun ketika aku tertidur.
   lalu apa artinya aku akan berada di bumi selamanya?,atau aku akan menghilang ketika mata hari terbit besok.
    So hyun beranjak,melangkah,lalu menggenggam tangan ku,membawaku ke balkon yang keemasan karena cahaya matahari.
  Disana,semua nya masih sama, lautan yang beriak,pasir putih bersih dengan sedikit cahaya orange,perlahan dalam kesunyian,karena lagi lagi so hyun tidak bicara ,warna itu memudar,warna putih yang sebenarnya menyebar di gelombang,daun daun willow merunduk,berat menahan air bekas hujan.
   Aku menghela nafasku,menatap setengah wajah so hyun yang diterpa cahaya matahari senja,cahaya bulan yang pelan pelan menyusup membuat wajah itu menajadi semakin sempurna,aku menghela nafasku.lalu perlahan setiap tarikan nya menjadi seringan kapas.so hyun memalingkan wajahnya,kembali menatap mataku.
      Karena bukan apa yang kalian ungkapkan tapi apa yang kalian rasakan.
     Dan akhirnya kata kata itu benar benar tercerna dengan baik.
     Hari ini bersama langit yang memudar dan merona,bersama cahaya cristal yang dingin,bersama pasir putih yang lembut,diantara matahari terbenam dan ribuan calona yang merayap di bawah semak pinus,tepat ketika semburat yang indah menerpa dan membuat bayangan,berakhirlah sebuah dongeng dari tepi pantai eurwangni,sekaligus dimulailah kisah yang benar benar nyata.
24-2-15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik