Karena Bukan apa yang kalian katakan
tapi apa yang kalian rasakan
Riak
riak gelombang menerpa wajah ku membuat ku menepi diantara karang yang
kasar,aku berhenti berenang, menatap hamparan membiru yang mengkilap terkena
matahari,di sana, di dalamnya ribuat ikan saling menyapa,ribuan karang bermacam
warna membentuk bentuk yang indah seperti mahakarya,jika orang orang darat tau
banyak hal dari perut lautan maka itu bahkan tidak seperempat dari realitanya.terlalu
banyak rahasia dari hamparan biru yang membesarkanku,terlalu banyak yang hidup
bersama di dalamnya,tapi untukku itu rasanya berbeda.
Aku mendengar ini dari orang orang darat
yang berenang setengah tubuh di dedakatku,bahwa daratan benar benar
mengesankan,aku mendengar mereka bicara tentang crimson yang menua,calona yang
menguning,salju jatuh seperti serbuk kapuk,dan daratan yang menghangat.aku
benar benar menginginkan itu semua.
Sekali lagi,aku menatap dermaga kayu
dibelakan tubuhku,beberapa kali aku melihat orang orang bicara dan berekspresi,menghirup
udara tanpa perlu air.sungguh aku menginginkan itu semua.
Kami hanya sedikit berbeda dari orang
darat,hanya saja mereka punya kaki yang sering di tutupi sesuatu yang indah dan
kami hanya memakai sedikit dari yang mereka pakai,hanya sedikit bagian di tubuh
kami.bagian bawah tubuhku sesuatu seperti milik ikan ikan lainnya,berwarna
perak yang mengkilap terkena cahaya bulan dan matahari.aku menginginkan kaki
seperti orang darat.
“ooo…lee ae”.
Aku terperanjat, menatap seseorang di
sampingku,ia tersenyum dengan kepala di permukaan air sebeum melayang layang
mengintari karang yang kududuki,tapi dia punya kaki sama seperti orang orang
darat,tapi kurasa dia berbeda.
“jangan mengagetkanku
lee ji won”.
“apa yang sekarang kau
fikirkan”.
Ia mendekat,wajahnya yang pucat tersenyum,rambut
panjangnya tergerai,air selalu terasa lebih dingin setiap kali ia mendekat.
“kau bisa melihat
mereka”.
Ia mengangguk,menatap mataku dengan wajah
perdulinya,aku tidak pernah menemukan wajah seperti itu sebelum bertemu orang
ini satu minggu yang lalu.
“aku hanya ingin
seperti mereka”.
Wajahnya berubah,tersenyum lembut mengamati
wajahku,perlahan ia mendekat duduk di sampingku,dan dapat kulitat betapa pucat
kulitnya.
“itu
tidak semudah yang kau fikirkan”.
“itu sulit aku tau,dan
mungkin memang tidak ada cara”.
Sekali lagi mata itu menatapku tangan nya
yang pucat dan kadang membiru meraba jemariku,aku dapat melihat wajah itu
tersenyum lagi lalu mengamati lautan biru yang mulai menjadi keemasan.riak riak
gelombang menerpa kakinya yang terjuntai di batu karang disamping ekorku yang
mengepak ngepak lambat.
“kau mungkin akan
menyesal”.
“aku tidak akan
menyesal,aku benar benar ingin menjadi mahluk darat,mereka sepertinya bahagia
sekali…aku…benar benar menginginkan nya”.
“mereka manusia,mahluk
darat dipanggil manusia…”.
Matanya melembut,mengamati ekorku,ia tersenyum
hambar sebelum kembali keair,dres putihnya basah lagi,kakinya yang putih
menjauh,aku mengikuti dibelakangnya.
“apa kau benar benar
yakin”.
Aku menggagguk,ia tersenyum lagi dan air
disekitar kami kembali terasa berbeda ,terasa jauh lebih dingin.
………..........
Mataku terbuka cepat, menatap bayangan
bayangan air yang berombak terkena matahari,tangan ku menggapai air yang terasa
berbeda,aku merasakan dadaku sesak dan air memenuhi seluruh tenggorokanku,aku
tercekat.mengepakan ekor ku yang terasa aneh,tubuhku masih bermeter meter dari permukaan
air,aku tidak tau kenapa tapi aku merasa disana akan lebih baik,aku masih
berusaha kepermukaan saat sesuatu di ujung ekor ku terasa kaku,mungkin ini aneh
tapi air masuk ke dadaku dan membuat ku tak bisa membuat gelembung gelembung
yang naik keatas,seperti biasanya.aku benar benar merasa berbeda.
Perlahan biru laut memudar berubah
menjadi serpihan serpihan kaca yang mengecil,kepala ku pusing dan ekor ku tak
bisa mengepak lagi,tak pernah selemah ini.dari balik air yang bergelombang aku
melihat bayangan mendekat,semakin dekat dan aku merasa pergelangan ku hangat
karna sesuatu mencekatnya,lembut.perlahan bayangan bayangan itu semakin memudar
berhenti ketika menjadi titik putih yang akhirnya menghilang.
……………...
Hari pertama…
Bau harum yang hangat tercium di
hidungku,sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya.mataku masih terasa
berat.saat tanganku menyentuh sesuatu di bawah tubuhku,sesuatu yang kering dan
lembut.
perlahan aku dapat melihat kain kain biru
muda melayang diterpa angin,dari balik sesuatu yang mirip pintu di kapal selam karam.aku mengamati ruang
ini,tak ada ikan ikan berenang,tak ada batu batu karang,tidak ada bekas kapal
tenggelam.semuanya terasa sangat aneh,ruangan ini seputih porselin,luas
sekali,tapi hanya ada tempat ku berbaring,disampingku mahluk aneh berbulu
mengeliat,dan aku merasa tercekat,jantung ku berderu.tubuhku
terpental,terperanjak kesamping tempat ku berbaring.
Aku mundur lambat kesamping
ruangan,semakin jauh dari mahluk mengerikan itu,cahaya matahara dan angin
menerpa punggungku,perlahan aku berbalik,menatap pohon pohon crimson kecoklatan
di terpa angin,tangan ku bergetar menggengam ujung tempat ini,dan dunia yang
seumur hidup ku ku impikan terasa dekat sekali,aku merasa hangat di ujung
ekorku,aku berdiri dan sekarang yang kulihat adalah sesuatu yang berbeda,ada
sepuluh jari dan kaki jenjang putih halus yang mirip dengan milik mik.aku benar
benar berubah menjadi manusia.
“apa ada sesuatu yang
terjadi?”.
Seseorang mendobrak pintu,mengamati
wajahku.perlahan ia mendekat dan aku tau aku tercekat.berdiri kaku di antara ruangan
ini dan ruangan kecil diujung tempat ini.
“kau sudah sadar”.
Ia terenyum,dan aku mulai bergetar.
“mau makan sesuatu?”.
Kakiku mundur perlahan.
“oh….so hyun…apa dia
sudah bangun”.
Seseorang dari balik tubuh so hyun,so hyun
ya mungkin itu namanya.malu malu dan ragu menatap ku.bibir kecil nya
tersenyum,aku mengikutinya.langkah langkah kecilnya meragu mendekat padaku.
“aku yoo bi…temanmu”.
Ia mengulurkan tangan nya dekat sekali
dengan tanganku,ku tarik tangan lembut itu,jemari jemarinya menggenggan tangan
ku,sekali lagi ia tersenyum sambil menuntun ku mendekat kearah laki laki
itu,laki laki yang tampan. mahluk darat memang tampan.
“dia so hyun”.
Yoo bi menatap ku dan laki laki
itu,mengambil tangan ku dan tangan nya.
“aku so hyun”.
katanya sambil berlalu membelakangiku yoo
bi masih menggenggam tangan ku ketika kami keluar dari ruangan putih porselin
itu.
“oh ya siapa namamu”.
“oh …aku…aku kim lee
ae”.
Sekali lagi yoo bi tersenyum.
………………
“kau tau kami hanya tinggal berdua”.
Yoo bi menatap mataku
ketika aku mengamati ruangan besar nya .
“apa menyenangkan hidup
di darat”.
Yoo bi menatap wajah so hyun sebelum mereka
berdua terkekeh menatap ku.
“tidak juga,kadang
lebih baik hidup di …air iyakan yoo bi”.
Yoo bi mengangguk,aku tersenyum getir.so hyun
menaruh sepiring makanan empuk yang harum di meja,aku mengamatinya,pelan pelan
menaruh tangan ku di permukaan makanan itu.
“kau tida suka roti”.
Yoo bi menatap wajahku, dengan cepat aku
menggeleng.tangan ku bergetar mengambil makanan itu.perlahan ku masukan segigit
ke mulutku,manis,lembut,entah lah,ini benar benar enak,satu dua tiga,empat
potong ketika aku sadar so hyun dan yoo bi menatap ku bersamaan,aku tersenyum
lambat,menaruh potongan terakhir.
“ku kira kau tidak suka
roti”.
So hyun tersenyum padaku dan yoo bi
terkekeh.
“tidak papa kalau kau
benar benar menyukainya,habis kan saja”.
“dia suka bila makanan
dipiring kosong,dia tidak suka makan”.
Soh hyun mengecup ujung dahi yoo bi,aku
dapat melihat wajah yoo bi cemberut.aku menyukai keluarga ini,mereka baik
sekali,seperti yang ku fikirkan tentang manusia,mungkin semua nya benar.
“oh ya lee ae kenapa
kau bisa ada di air,dimana pakaian mu saat berenang dan tenggelam”.
Aku tercekat,meremas ujung baju yang
kupakai.didepanku so hyun melirik yoo bi,menyuruhnya tidak membicarakan hal
itu.
“apa aku benar benar
tidak memakai baju ku”.
Aku bicara lambat,so hyun tersenyum.yoo bi
mengagguk.
“jangan khawatir,yoo bi
yang memakaikan baju ku padamu”.
Aku memejamkan mataku,aku tidak melihat
pipiku,tapi aku tau dia memerah,apa yang terjadi tadi,kenapa aku disini,kenapa
aku tiba tiba menjadi seorang manusia.
“oh ya lee ae,dimana
rumahmu,aku bisa kesana,so hyun sering sekali meninggalkan ku dirumah sendirian
aku bisa kesana kalau itu terjadi”.
Apa? Aku tersenyum hambar,memegangi
ujung kemeja kebesaran putih yang kupakai,dimana rumah ku,aku menunduk menatap
lantai porselin di bawah meja,menggerakan kaki telanjangku yang terasa dingin.
“kau tidak harus
menjawab nya,kau bisa tinggal disini selama yang kau mau,aku menyukai mu”.
Saat aku
mengangkat wajahku,aku dapat melihat mata yoo bi menatapku
iba,disampingnya so hyun mencoba menatap mata yoo bi,aku yakin dia tidak setuju
dengan apa yang yoo bi katakan.
“terima kasih,tapi
mungkin aku akan menjadi beban”.
Yoo bi menggelang,menatap wajah so
hyun,membuat so hyun ikut menggelang.
“kau bisa jadi pengasuh
ku,aku butuh seseorang dirumah,so hyun pasti akan setuju”.
Yoo bi menengok kesebelah tubuhnya,menatap
wajah so hyun yang membeku,aku dapat melihat dia menghela nafas sebelum mengangguk
dan tersenyum.aku lega…lega sekali,setidanya aku akan disini sampai kembali
menjadi duyung,menunggu aku akhirnya tau apa yang terjadi pada
hidupku,menunggu…bangun dari tidurku,bangun dari mimpiku.
Yoo bi menatap ku lagi.
Dibelakang tubuhnya seseorang berjalan
lambat sambil mengamatiku,entah siapa,aku tersad orang itu tidak benar benar ada
ketika yoo bi menyikut pinggangku.
“lee ae…kau mirip
seseorang”.ujarnya.
………………..
Hari kedua…
“lee ae…ayo bangun”.
Seseorang berbisik di telingaku,mata ku berat
ketika perlahan terbuka,yoo bi disana sambil tersenyum.
“kau tau besoh hari
apa,hanya beberapa jam lagi sampai jam 12”.
Aku menegakan tubuhku,yoo bi duduk
disampingku.
“ada apa”.
“so hyun…ayah ku…dia
ulang tahun,kita harus memasak sup rumput laut untuk nya”.
Aku mengangguk,mengerti atau tida apa yang
dia bicarakan.
“ayo ikut aku
kedapur,kita buat bersama”.
Yoo bi membuka selimutku,dijendela aku
dapat melihat bulan menekuk,artinya ini di akhir bulan,mengendap kami turun
dari tangga,yoo bi menggenggam tangan ku erat,telunjuknya terus berada di depan
mulutnya.
Disisi rumah ini,paling kiri di
sudut,warna nya hitam putih,kitchen set kata yoo bi,lantainya keramik putih
yang besar,dinding nya di cat hitam,meja dan lemarinya warna putih,di atas meja
di tengah tengah ruangan aku melihat mawar merah masih harum di tempat kecil
cristal.
“kau hanya perlu membantuku,aku sudah tau
bagaimana membuatnya”.
Aku tersenyum dan mengangguk,memperhatikan
tubuh kecil yoo bi mengambil sesuatu di kulkas,memasak air,memanaskan bumbu,dia
piawai sekali,perempuan 10 tahun yang pintar.
“lee ae jangan diam
saja,ambil garam di samping tubuhmu,ayolah”.
Aku tersentak,tadi aku diam di sisi meja,ku
raih wadah disamping tubuhku,melangkah cepat kesamping tubuh yoo bi.
“aku suka sekali
memasak,ibu juga begitu”.
wajah yoo bi murung ketika menyebut
kalimat terakhirnya,ia menatap ku sambil tersnyum tipis ketika mengembalikan
garam padaku.
“kemana dia”.
Yoo bi menghela nafasnya.
“kata so hyun aku
terlalu kecil untuk mengerti,ia hanya bilang ibu pergi dan tidak ingin kembali
lagi,walau pun dia kembali,aku dan so hyun juga tidak akan menerimanya lagi,itu
yang dia bilang”.
“maaf kan aku…”.
“kau tidak salah,semua
orang akan bertanya tentang hal hal seperti itu ketika bertemu dengan ku dan
ayah…ayah ku tampan kan lee ae,karena itu dengan senang hati orang ingin jadi
istrinya tapi akan terpaksa jadi ibuku,aku tidak menginginkan mereka,karena itu
so hyun tidak menikah,aku memintanya untuk membiarkan ku memanggil namanya
saja,supaya nanti saat aku sudah besar,aku bisa menggenggam tangan nya dan
wanita wanita itu tidak mendekatinya,”
Aku diam,menghela nafas lambat,mendekat
selangkah ketubuh yoo bi,mengangkat wajahnya yang kaku,menyentuh
dagunya,membelai rambutnya.
“jangan terlalu
memikirkan hal hal seperti itu…kau masih kecil”.
Yoo bi diam,ia hanya menatap mataku dan aku
menatap matanya,wajahnya yang kaku perlahan melembut,tersenyum dengan mata
berair,setetes jatuh ketika ia menjatuhkan wajahnya di dadaku,perlahan kupeluk
tubuh hangat nya,entah karena apa,tapi aku merasa sangat mengenalnya,entah
dimana.
“kau bisa bernyanyi”.
Aku menggangguk,ku nyanyikan sepotong lagu
yang pernah ku dengar di lautan.
Sup nya sudah masak,dari sela tangan yoo
bi,kumatikan apinya,sama seperti yang yoo bi lakukan tadi.ku ngkat tubuhnya
yang lembut,ku geser bangku disamping meja,duduk disana sambil memeluk dan
bernyanyi untuk yoo bi,aku merasa ada sesuatu yang hangat didadaku, ketika aku
bertanya apa suara ku bagus dan yoo bi tidak menjawab aku tau ya tertidur.
Dibelakang tubuhku,ketika aku tidak sengaja
mendengar bunyi telapak kaki,so hyun membeku,menatap kami di antara pintu
dapur,ia menghela nafas dalam sebelum tersenyum padaku.
……………
“aku tau yoo bi sudah
menceritakan semuanya padamu”.
“tidak semuanya dan kalau
kau tidak suka,aku akan melupakannya”.
So hyun mengangguk,menatap mata yoo bi yang
terpejam,cahaya bulan masuk lewat sela sela horden yang melayang terkena
angin.so hyun di tepi ranjang,disampingku,tidak ada yang bicara.ia menghela
nafasnya sebelum beranjak dan melangkah lambat keluar dari kamar.
“besok kita rayakan
ulang tahun ku”.
Aku mengangguk dan tersenyum,menatap pintu
hingga tertutup,disampingku yoo bi menguap,menggemaskan sekali,sekali lagi aku
ingin menyentuh rambutnya,membelai telapak tangan nya yang lembut,saat yoobi
menggeliat aku dapat melihat matanya mengerjap,sebentar saja sebelum tertidur
lagi.malam ini adalah malam kedua ku di daratan dan inilah yang kutemukan.
…………..
Hari kedua…..
Aku
bangun ketika matahari belum terbit,angin menerpa rambut ku yang kering,dari
balkon di kamar yoo bi aku dapat melihat pohon pinus berjejer diantara rumput
halus yang rapi,tangan ku memegang sisi balkon meremas nya dan membuat telapak
tangan ku bertambah dingin,hanya beberapa meter sampai mata ku dapat melihat
riak gelombang yang menghitam,terdengar lembut dari tempat ku berdiri,apa yang
terjadi didalam sana,apa yang terjadi padaku,apa yang akhirnya membuat ku
pulang ke lautan lagi?,aku menyukai tempat ini,hanya saja ini terlalu
cepat,banyak hal tidak aku mengerti.
“lee ae… kau disana…”.
Aku menengok,menatap bayangan hitam yang
berjalan lambat dan ragu kearah ku,sebentar saja sampai ia menghidupkan lampu
dan menatapku.
“angin nya
deras,jendela berbunyi saat aku lewat,jadi aku masuk kekamar ini”.
So hyun disampingku,menyentuh sisi balkon.
“apa aku menganggumu”.
Dengan cepat ia menggeleng,menghela
nafasnya lalu menatap hamparan willow didepan kami.
Diam,tidak ada yang bicara,aku merasa kaku
disini,sementara ombak terus berbunyi,matahari muncul perlahan,membuat semburan
keemasan dari lautan.
“aku suka matahari
terbit”.
So hyun menatapku,tersenyum…menghela nafas,ia
suka sekali melakukan hal hal seperti itu.angin menerpa wajahku lagi,membuat
rambutku melayang.
“kau tau…aku pernah
kenal seseorang seperti mu…”.so hyun menatap ku lagi.
“tapi aku berharap kau
bukan orang sepertnya”.
…………..
Yoo bi berdiri dengan selimut nya ketika
kami menengok kebelakang,tangan nya yang kecil mengucek ucek matanya,aku
melangkah dan berlutut di depan tubuh itu.
“masuk lah disini
dingin,aku akan menemaninmu”.
Aku memeluk tubuh yoo bi,merangkulnya
kedalam kamar lagi.
“so hyun,kau tidak
ikut,kau kira aku tidak melihat mu disana”.
Ia masih mengucek matanya,selimut merah
mudanya menyapu lantai balkon.so hyun tersenyum melangkah lambat di belakang
kami,yoo bi menunggunya lebih dekat,menggenggam tangan so hyun ketika so hyun
disampinya.
Perlahan sekali aku melihat so hyun menyentuh
rambut yoo bi membelainya pelan.aku berdiri di sisi ranjang,menatap mereka
berdua.mata yoo bi terpejam lalu pelan terbuka,tangan nya menggapai tangan
ku,so hyun di kiri tubuhnya dan aku dikanan nya,aku berbaring canggung,terasa
seperti saat pertama kali aku berada di daratan.hari itu… kami menunggu
matahari terbit bersama,berbaring di tempat tidur yang sama,angin hangat dengan
bau harum calona masuk lewat horden yang terbuka,sementara matahari menerpa
wajah yoo bi dan so hyun,aku menatap wajah wajah itu,sesuatu entah apa,seperti
memberiku hal yang sekali pun tak pernah aku fikirkan,aku ingin seperti ini
selamanya,menunggu pagi dan menyaksikan mereka disampingku ketika mataku pertama
kali terbuka,si putri duyung pemimpi ini menghela nafasnya,tau bahwa banyak hal
tidak mungkin dia miliki.
Disampingku,aku melihat mata yoo bi
mengerjap,perlahan terbuka,menatap wajahku yang tersenyum,lembut sekali ketika
bibir kecil nya membalas senyumanku.
“ibu hari ini ulang
tahun ayah kan?”.
“apa yoo bi?”.
………………
Hari ketiga…
Mereka tidak mengenalku,sama seperti aku
tidak mengenal mereka,yang aku tau so hyun adalah ayah yoo bi dan wanita yang melahiran
yoo bi pergi,kemana ? entahlah,mereka tidak terlalu banyak bicara tentang apa
yang terjadi pada masa lalu mereka,seperti juga aku yang takut apa yang seharusnya
tidak mereka tau terbongkar,aku tidak khawatir, aku hanya takut mereka tidak
percaya padaku.
“kau sudah siap”.
Yoo bi memandangi ku,menatap tubuh kecil
nya melangkah ke arahku.
“tidak ada baju ku yang
muat untukmu,tapi aku tau ayah menyimpan beberapa baju ibu,kau bisa memakai
yang ini”.
Ia menyerahkan sepotong
baju,ketanganku,sebuah dres selutut warna putih,tidak ada yang istimewa jika
bukan aku yang menatapnya dengan mata berbinar,aku menyukai baju ini,gaun pertama
di daratan,yoo bi juga menyerahkan celana ketat panjang,aku akan melepas kemeja
so hyun yang kupakai seharian,sekarang.
………
Aku melangkah lambat menuruni
tangga,sepelan mungkin menjatuhkan sepatu sport ke porselin,mataku mengerjap menatap yoo bi dan so hyun yang menungguku
di tepi tangga,mereka bicara entah tentang apa.
“kita pergi sekarang”.
So hyun menatapku dan yoo bi juga
begitu,aku dapat melihat dengan jelas perubahan di wajah so hyun,matanya
menghakimiku,entahlah aku menunduk ketika ia menatap yoo bi.
“ada apa?kau bilang
terserah padaku”.
“kau bisa membeli sesuatu
untuk nya”.
Aku mendengar so hyun berbisik di telinga yoo
bi,nyaring sekali.
“kau memintaku ke mana
so hyun”.
Aku melihat so hyun menelan
ludahnya,wajahnya melunak,menatapku.
“baiklah,terserah,sebenarnya
siapa yang ulang tahun”.
…………
Rerumputan basah terkena hujan dan
dedaunan pohon crimson yang terjatuh di sisi jalan,menepi ketika mobil kami
melaju,so hyun menyetir didepan,aku dan yoo bi duduk dibelakang,berdesakan
menatap jalan,membuka kaca mobil selebar lebarnya.
Yoo bi menatap ku sambil tersenyum ketika
berhenti mengeluarkan kepalanya dari mobil,giginya yang rapi kecil keci berjejer
ketika ia benar benar terlihat senang,aku menghela nafasku dan menatap yoo bi
yang tersenyum semakin lebar disampingku.
“aku selalu suka setiap
kali so hyun ulang tahun dan mengajakku kegunung”.
Aku mengangguk,seperti bilang benarkah.
So hyun sesekali mengintip kami dari kaca
spion, tersenyun dan kadang menaikan alisnya mendengar percakanpan ku dan yoo
bi.
Hanya sebentar sebelum yoo bi terkekeh
menceritakan teman disekolahnya,ia terhenti,tersenyum,menatap dalam
dalam,hamparan laut eurwangni yang penuh ombak kapal.
“aku juga menyukai
bagian ini”.
Aku beringsut mendekat pada kaca
mobil,yoo bi mendekat padaku,tanpa kusadari ia sudah berada dekat sekali dengan
ku,tidak ada yang bicara,aku merasa rindu sesuatu,air,angin,entah lah,aku
kadang tidak ingin mengerti sesuatu ketika aku sedang baik baik saja.
Angin menerbangkan helain rambut kami,aku
dan yoo bi,dengan cepat yoo bi menjadi teman terbaikku,sementara so hyun kadang
sibuk dengan pekerjaan nya,dan duduk di depan leptop nya berjam jam.kami akan
bercanda,membuat sesuatu didapur,memainkan games milik yoo bi dan sesekali aku
mengintip dongeng yang bi ceritakan.semuanya terasa tidak lagi asing,entah
kenapa bisa secepat ini.
“lihat disana,banyak
sekali burung terbang disana”.
Aku menatap wajah bi,ia menunjuk puluhan
burung yang terbang melewati laut,melayang layang lambat,aku memejamkan
mataku,merasakan angin menerpa kulit wajahku,apa yang sebenarnya terjadi pada
takdir ku,aku dan segala hal yang terjadi,aku dan keluarga kecil ini,mereka
yang mudah menerimaku dan aku yang mudah mempercayai mereka,aku hanya tidak
mengerti tentang beberapa hal,aku menutupinya,tapi aku tetap saja khawatir.
“satu jam lagi kita
sampai,kalian akan kelelahan jika terus bicara”.
Bi merengut,berinsut dari pelukanku,duduk
dikursinya,perlahan aku menutup kaca mobil,hujan mulai turun ketika yoo bi lagi
lagi tertidur,aku menguap berulang kali,tapi hanya tiga puluh menit lagi hingga
kami sampai di gunung,so hyun menatap ku dari kaca spion dan tersenyum
canggung.aku tidak membalasnya,kembali menatap kaca yang sekarang sudah tertutup
sempurna,embun membuat kaca tidak lagi terlihat jelas,aku meyenderkan tubuhku
dan diam,perlahan melihat ujung gunung mendekat.semu karena kaca bekas hujan.
………………
Aku menyentuh bahu yoo
bi,membangunkannya,hanya sebantar sampai matanya mengerjap menatapku.
“apa kita sudah sampai”.
Aku mengusap rambutnya,so hyun sudah
menurunkan tas ransel dari jok belakang.
“iya”.
yoo
Bi bangun,menggeliat,perlahan beranjak dan melangkah keluar dari
mobil,menghirup udara dalam dalam.
“ini menyenangkan
sekali”.
“tidak,sampai yoo bi
kelelahan dan minta gendong”.
So hyun datang dengan tiga tas
ransel,tersenyum menyinggung.
“dia selalu seperti
itu”.
So hyun menatap ku,aku mengangguk pelan.
Aku melangkah lambat bersama yoo
bi,membantunya menaikan tas ransel merah mudanya,so hyun didepan mengambil
sesuatu,yoo bi bilang itu karcis harga nya krw 3000,aku mengangguk saja ketika
dia bicara disampingku.
“4 km,kita sampai
ketika matahari terbenam,2 jam lagi”.
So hyun mengacungkan dua tiket untukku dan
yoo bi,menatap jam nya sebelum memastikan benar benar dua jam lagi.
Kami melangkah beriringan,disepanjang
jalan aku melihat dedaunan crimson kecoklatan,membuat kanopi yang hampir
menutupi langit,yoo bi meloncat loncat ditengah kami,berkali kali mengangkat kakinya
dari tanah,membuat tanganku sakit.
Angin menerbangkan helaian rambutku,daun
itu meutupi jalan,menutupi semak,menutupi bebatuan,kecoklaan,merah
marun,orange.aku menghela nafasku ketika semua yang kulihat tidak berhenti
membuat ku rindu pada lautan,aku disini berkilo kilo meter dari laut ku,bersama
orang orang yang baru saja ku kenal,melangkah diantara dedaunan yang dulu hanya
bisa ku sentuh saat jatuh keair,merasakan udara masuk ke rongga hidung membuat
ku lagi lagi meyakinkan hati ku bahwa aku tidak sedang bermimi.
Disepanjang jalan aku melihat banyak sekali
orang menawarkan makanan,setelah berkali kali yoo bi meminta dan memelas pada
so hyun akhirnya ia mengabulkan,kami duduk jongkok menatap jagung rebus.
“ah…keluarga
bahagia,aku dapat melihat kalian akan bersama sama selamanya,membesarkan putri
kalian yang cantik ini”.
So hyun menghela nafasnya,aku menunduk merasa
pipiku memanas,yoo bi menatap kami berdua sambil menggigit ujung jagung rebus
di tangan nya.
“buk…”.
Belum sempat so hyun menghabiskan kata kata
nya yoo bi bicara cepat,membuat jagung di mulut nya berhamburan.
“kau juga bisa
melihatnya bi…hebat sekali,benar ayah ku bilang naejangsang artinya gunung
rahasia,bibi benar benar membongkar rahasia keluarga kami”.
Bibi itu tergelak,berkali kali mencubit pipi
yo bi,aku masih menunduk malu menatap wajah so hyun.tepat saat kami akan
beranjak, hujan turun,hanya gerimis,so hyun cepat mengangkat tubuh yoo
bi,menggenggam tangan ku untuk masuk ke restaurant.berlari kecil menghindari
hujan,so hyun menurunkan yoo bi ketika kami tiba di tepi,didepan
restaurant,masuk perlahan beriringan,yoo bi didepan memimpin,hapal dimana
tempat duduk yang nyaman,sementara dia sibuk mengamati sesuatu diantara
kami,aku mengamati senyum di bibir so hyun,dan ketika sampai di bangku dan
memesan makanan,aku sadar so hyun masih menggenggam tangan ku,kaku.perlahan aku
menjauh menggeser bangku ku dan melepaskan tangan nya.
……………
“ku mohon,ini benar
benar akan menyenangkan”.
Entah sudah berapa kali,yoo bi memaksa so
hyun mengeluarkan jaket hujan di tasnya,berharap dapat berjalan di antara
hujan.
“lihat mereka,kau bisa
melihat jas hujan mereka,warna warni,menyenangkan sekali”.
“lebih menyenangkan
melihatnya dari sini kan”.
Yoo bi mengalah duduk disampingku,menjatuhkan
kepalanya kebahuku,aku meraih rambutnya, menatap wajah so hyun,ikut memaksa.
“apa lagi?”.
So hyun menatap kami kesal.
“oh baiklah,hanya
sekali saja”.
Aku mengangguk angguk,merayu so hyun.
Ia
menghela nafasnya dalam,lalu mengeluarkan tiga jas hujan,disampingku yoo bi
terlonjak berseru,membuat mangkok bekas odeng hampir terbalik.
……………
Yoo bi menggosok gosok telapak tangan
nya ketika aku mengancingkan jaket hujannya,meloncat loncat sejak so hyun
mengabulkan.
“salahku kenapa membawa
ini semua”.
Ia lagi lagi kesal,itulah sepanjang
jalan,yang terjadi adalah aku seperti punya dua anak kecil yang sering sekali
berdebat.
“pakai saja jas mu so
hyun,jangan banyak bicara”.
So hyun menatapku,aku merasa bersalah
ketika melihat mulut nya membulat,yoo bi juga begitu,aku tau ada yang
salah,tapi sudahlah,sesekali.
Angin dingin langsung menerpa tubuhku
ketika kami keluar restaurant,yoo bi menggenggam tangan ku erat sekali,kami
melangkah di tanah basah,lembab,dedaunan berhamburan terkena angin dan rintik
hujan.
Tadi kukira kami akan sampai cepat,yoo bi
memaksa ku percaya bahwa ini akan mudah,yang terjadi adalah berkali kali ia
minta gendong berkali kali juga so hyun cerewet,aku dibelakang punggung
mereka,menghela nafas.diam diam aku menyukai semua ini,tersenyum ketika mereka
berdebat,terkekeh ketika yoo bi merengek,keluarga kecil ini,aku menyukai
mereka.
“kita naik cable car
saja,aku tdak sanggup lagi”.
So hyun menurunkan yoo bi,aku menarik
tangan nya,mendekat padaku,masih menatap tajam wajah ayahnya.
“baiklah kau yang ulang
tahun”.
“ya…aku bahkan lupa aku
ulang tahun hari ini”.
Cable car,kukita itu bus atau sesuatu
yang merayap di jalan seperti yang kulihat ternyata itu berbeda.
Yoo bi cemberut menggegam tangan ku,menjauh dari
so hyun,kami berdesakan,karena terlalu banyak orang yang menyerah mendaki,kami
dekat sekali,hanya beberapa senti,yoo bi di kiriku menggenggam tangan
ku,sesekali memainkan jas hujan yang sudah kulipat,ku jatuhkan di kakinya,so
hyun dikanan ku,diam,merengut,menatap kaca cable car.
Aku menghela nafas,daun crimson jauh lebih
indah diatas sini,orang orang yang masih mendaki,membuat warna warni dari jas
hujan mereka,angin berhembus membawa embun ke dinding kaca cable car,aku
menghela nafasku,menatap sekilas yoo bi yang masih memainkan jas hujan kami
dikakinya.aku mengelus rambutnya yang hitam sesekali.dan saat aku akan menatap
ayahnya,di kananku,disana mata kami bertemu,kembali kaku,aku merasa ujung kaki
ku menjadi dingin,berubah menjadi ekor.aku menelan ludahku,berhenti membuat
mata kami membeku.menunduk lambat.so hyun juga melakukan hal itu.
……………
Sepuluh menit mungkin setelah kami masuk ke cable
car,melangkah lambat,menghirup udara harum bekas hujan,disamping cable car aku
melihat kedai kecil tempat orang orang santai sambil minum kopi,banyak sekali
orang,beberapa tertawa tawa dan bercanda,dari susunan orang orang disana,aku
merasa mengenali seseorang entah siapa,aku mengenalinya di suatu tempat dan
ketika aku menatap cermin,ia tersenyum lembut menatapku,hanya saat seseorang
melangkah di depannya,aku kehilang orang itu,benar benar menghilang ketika yoo
bi menarik tangan ku.
Benar
sekali,dua jam perjalanan kami,saat itulah matahari perlahan terbenam,membuat
crimson kecolatan terkena cahaya orange keemasan,kami duduk di bebatuan basah
bekas hujan,yoo bi di tengah tengan ku dan so hyun,so hyun bilang ini 700 meter
dari permukaan.hamparan crimson lembut terkena angin membawa dedaunan ke satu
arah ketimur lalu keutara,berbalik lagi.indah sekali.kami diam,yoo bi juga
begitu,matahari perlahan pulang,menepi ke barat,angin mendesir di
telingaku.diam…sunyi,damai.aku tidak pernah merasa selengkap ini.
So hyun menatap wajahku ketika aku
menatapnya,sekali ini saja membiarkan mataku menatap wajah itu,dalam hati aku mengakui
bahwa dia lebih indah dari hamparan crimson dan matahari yang hampir
tenggelam,saat kami saling tesenyum dan membuat seluit wajah kami di
bebatuan,yoo bi menjatuhkan kepalanya ke pundakku,lagi lagi tertidur.hari kedua
di daratan,aku merasa sesutau berbeda di dadaku,terlalu dini,aku menggelengkan
kepaku,mejauhkan perasaan itu.
…………..
Hari keempat….
Aku bangun ketika angin berhemus lembut
dari sela sela jendela balkon kamar yoo bi,ia masih tetidur pulas,lelah dengan perjalanan
panjang kami.
benarkan hanya karena aku adalah pengasuh yoo bi,benarkah hanya itu,aku
berkali kali bertanya,memegangi sisi balkon dan lagi lagi menatap lautan berombak
yang gelap,willow berkilwan terkena cahaya lampu,matahari mulai
terlihat,kemerah merahan membuat dedaunan bercahaya.
Aku tersentak ketika mendengar suara sesuatu terjatuh di lantai
bawah,berlari setelah menutup pintu bakon,menuruni tangga terburu buru,mencari
sumber suara,dan menemukan so hyun di dapur,merapikan panci yang terjatuh.
“apa berisik sekali”.
Ia melihat ku menuruni tangga,meletakan
panci diatas meja.
“tida…aku sudah
bangun”.
Ia tersenyum,aku melangkah mendekat.
“apa aku bisa
membantumu”.
So hyun menaikan keningnya.
“kata yoo bi kau tidak
bisa memasak”.
“dia mengatakan nya”.
So hyun mengagguk.
“kau bisa
membantuku,benar benar bisa”.
Ia mengambil beras dan menyuruh ku
memasukannya ke air mendidih,menyuruhku memotong sayur di atas meja,berkali
kali ia menjatuhkan barang barang,entah apa saja,benar benar kebiasaan nya,aku
berkali kali tersenyum,hingga terkekeh,ketika ia kikuk mengambil pisau yang
jatuh di bawah meja,kepalanya terbentur kolong,so hyun terasa berbeda.
Sementara ia mengelus elus kepalanya,tidak
kami sadari yoo bi terkekeh nyaring,tersenyum ketika kami menatap nya
bersamaan,entah sejak kapan ia duduk di anak tangga,memperhatikan kami memasak
untuknya.
………….
“aku harus kembali
kekantor,ku mohon jaga yoo bi”.
Aku mengangguk,menatap tangan nya yang
berkali kali lepas memasang dasi.
“sebelumnya aku akan mengantar
nya dulu kesekolah,pulang nanti bus sekolah yang mengatarnya”.
Aku mendengar so hyun bicara tapi lebih suka
memperhatikan tangan nya yang frustasi memasang dasi.melangkah lambat,aku
pernah melihat drama yang yoo bi tonton ketika melakukan hal itu,aku mendekat
selangkah,menyetuh ujung ujung dasi so hyun,memutarnya,membuat simpul,merapikan
sebentar,aku tidak percaya bisa melakukan nya persis seperti di drama itu.
“terima kasih”.
So hyun melangkah mundur ragu ragu.
“aku pergi”.
Aku mengangguk lagi,so hyun hampir menabrak
pintu.
“yoo bi ceptlah,kau
tidak mau terlambatkan”.
“aku disini”.
Yoo bi mengntip dari luar pintu,so hyun salah
tingkah melangkah.
“kami pergi”.
Aku mengangguk.
Hari keempatku,aku merasa sangat di
butuhkan.
………………
Adalah hari empat di sore hari, ketika so
hyun ragu ragu mengetuk pintu kamar,membukanya pelan,menatap ku dan yoo bi yang
bersandar di bahu tempat tidur,aku menatapnya sebentar,yoo bi disampingku
hampir protes,so hyun melangkah lambat kearah kami.
“aku dapat undangan
tadi siang”.
Ia duduk di ujung tempat tidur,jas nya
sudah terlepas tergulung di tangan nya.bau farpum nya tercium dari kemeja putih
ketat nya.
“tentang apa”.
Yoo bi mendekat.
“tidak…bukan hal
penting,ada teman ku yang baru tiba dari jepang,aku hanya…”.
Aku dapat melihat ia menelan
ludahnya,semakin ragu mengatakan sesuatu.
“aku hanya…ini…bila
kalian bosan dirumah,bagaimana kalau kita pergi malam ini”.
ia menghela nafasnya menatap ku dan yoo bi
bergantian lalu menggaruk kepalanya.
“bagaimana?”.
Kami diam,yoo bi menatap wajahku.
“kenapa tidak,yakan lee
ae”.
Oh baiklah,menyenangkan sekali mendengar
yoo bi mengatakan ya,aku benar benar tidak mengerti bagaimana itu pesta,bagaimana
sikapku,bagaimana cara menegur orang orang itu,setelah menunduk menatap
porselin di kakiku,aku menghela nafas dan pelan sekali mengangguk,kenapa
tida,aku tidak pernah tau apa yang terjadi
besok,mungkin ini kesempatan pertama dan terakhir untuk tau bagaimana manusia saling
bertemu.
…………..
So hyun pulang dari pertemuan bisnis
dadakannya lima belas menit sebelum acara itu,bergegas menaiki pintu dan hampir
terpeleset menatap yoo bi menaikan sleting gaunku.ia menatapku,aku tau aku
sudah mengatakan hal ini berkali kali,tapi saat itu semuanya berbeda,matanya
yang hitam menatapku terlalu berlebihan,atau hanya aku yang merasa begitu,bibirnya
merulang kali menarik nafas,ia berhenti menatapku hanya ketika ia
menunduk,menatap ujung sepatu nya yang basah bekas hujan di luar rumah.ketika
wajahnya menunduk aku dapat melihat sesuatu entah lah,tidak dapat ku baca,tidak
bisa ku mengerti,dan entah apa yang salah dari ku,ketika yoo bi menuntunku,menarik
tangan ku pelan,yang kulihat bukan lagi ujung kepalanya,ujung kepala yoo bi
yang biasanya akan ku elus lembut,yang kulihat adalah so hyun,so hyun yang
berdiri dengan kaku,menunduk dan diam,memakai taksido hitam dan tampan,saat so
hyun menyentuh tangan ku dan menaikan jemariku ke sudut di tangan nya,lalu yoo
bi menggenggam tangan kiriku,aku merasa sesuatu seperti tercipta begitu saja,semuanya
lengkap dan aku tidak butuh apapun lagi.jam 8 malam ketika so hyun membuka
pintu depan untukku dan membuka pintu belakang untuk yoo bi,yoo bi tersenyum
menatap ku dari kaca spion,wajahnya yang cantik membayang dari awal perjalanan,di
terpa cahaya lampu jalan.
Aku yang untuk pertama kalinya merasa
susah bernafas setelah berhari hari berada di daratan,yang bahkan belum percaya
degan utuh apa yang sedang terjadi benar benar kenyataan,duduk dengan gaun
putih panjang, kain satin yang dipintal dengan renda dan belahan rendah,so hyun
yang menggenggam tangan ku setiap kali kaki ku ragu menancapkan ujung hak ku
kelantai,jantungku berdegup kencang,semakin parah setiap kali aku sadar so hyun
di sampingku,aku tidak mengerti dan aku tidak ingin mengerti.
Jam setengah Sembilan malam ketika aku
melihat gedung besar dengan cat berwarna crim berdiri anggun di ujung
sepatuku,yoo bi meloncat dari tempat duduk belakang,memperhatikan so hyun
memegang tangan ku dan menurunkan tubuhku dari mobil.ia menyentuh pinggang ku
dengan sikunya ketika aku terpesona dan hampir menganga ketika pelayan membukakan
pintu untuk kami bertiga.
Bunga daisy dan tulip berjejer diantara
meja meja bundar yang disusun acak,berdiri di karpet merah marun yang tebal,aku
duduk di salah satu bangku itu,so hyun di kiriku dan yoo bi di kanan,aku
melihat wajah itu bosan,berkali kali melirik jam di tangan nya.
“tuan so hyun,lama
tidak bertemu”.
Seorang laki laki setengah baya,melangkah
mendekat,menyalami so hyun dan menatap yoo bi,hanya sekilas ia tersenyum
padaku.
“aku belum pernah
melihat wanita ini,siapa dia”.
So hyun menyentuh tangan ku menyuruhku
berdiri dan menunduk.
“kim lee ae,dia….”.
“dia calon ibuku,ada
masalah untukmu”.
Orang itu terkekeh,memainkan gelas
anggurnya yang hampir kosong,menatapku dan yoo bi bergantian.
“aku hanya tidak pernah
melihatnya yoo bi,kau terlalu pemarah”.
Sementara aku kembali ketempat duduk ku
dan so hyun berhenti menjelaskan yang sebenarnya,seorang wanita melangkah
lambat kearah kami,aku dapat melihat berlian berkilawan di jemarinya,baju merah
nya yang hampir membuka seluruh paha kecilnya,aku sempat menatap bibirnya yang
merah tersenyum tipis.
“senang bertemu dengan
mu kim lee ae”.
Ia mengulurkan tangan nya,membuatku berdiri
dan menyalaminya,menunduk sebelum kembali.
“aku lee ah ra,seseorang
yang harus nya ada di posisimu”.
Ia tersenyum,duduk di depanku,mengisi
penuh cangkirnya dengan anggur.aku ingin bicara tapi mulut ku terasa kaku,so
hyun beberapa langkah dari ku masih bicara dengan laki laki tadi.yoo bi
bergabung bersama beberapa anak perempaun seumuran dengan nya.
“kau pernah kenal
seseorang”.
“maksudmu”.
“seseorang dari masa
lalu so hyun,kalian tinggal serumah pastinya,apa so hyun tidak pernah menceriatkan
apapun”.
Ini bukan hal yang harus aku tau
harusnya,tapi menatap wajah orang didepan ku dan segala hal yang dia punya,aku
merasa sesuatu meledak ledak di dadaku.
“aku tidak
mengerti,lagi pula kurasa kau salah mengerti”.
“jangan menjelaskan
apapun”.
“aku dan so hyun tidak
seperti yang kau fikirkan”.
“kau tau apa yang ku
fikirkan”.
Ia terkekeh,meminum cangkir
anggurnya,menarik nafasnya panjang,menatap ku lekat.
“kau tau kenapa yoo bi
tidak punya ibu”.
“apa maksudmu”.
Ia tersenyum tipis.
“jika kau
mengenalku,maka tidak ada alasan untuk tidak mengatakan kau dan mantan istri so
hyun adalah orang yang sama”.
Ia kembali menatapku,aku
menunduk,memperhatikan anggur yang kembali ia mainkan.
“ibu yoo bi,istri tuan
so hyun,mati bunuh diri karena orang bernama so hyun itu mengetahui
perselingkuhannya”.
Aku menelan ludahku,menatap kain meja
bundar di depanku,enggan bicara,karena aku merasa terlalu kaku.
“kau pasti tidak
tau,karena dia akan selalu menutupinya,satu tahun yang lalu ketika hal itu terjadi,wanita
itu,menabrakan mobilnya ke pembatas jalan di samping eurwangni,mobilnya menggelinding
dan jatuh kesana,mayatnya tidak pernah di temukan”.
Aku terpaku dengan setiap kata kata orang
di depanku,sekali lagi ia meneguk anggurnya,sekarang tidak lagi menatap mataku.
“dan harusnya aku lah
orang yang akan menggantikan wanita itu,aku terkejut ketika ia datang dan
memegang tangan mu”.
Lagi lagi ia terkekeh,menatap mata ku dan
terseyum.
“kau tau,so hyun laki
laki paling sempurna yang pernah ku temui,di tampan,pintar,kaya,semuanya dia
punya semunya,apa kau pernah berfikir kenapa wanita itu pergi bersama laki laki
lain”.
Ia memalingkan wajahnya kearah so hyun
bicara.
“apa kau yakin dia mati
seperti yang terdengar,ya tuhan…dunia ini seperti tempat sampah,kau harus menjaga
dirimu dengan baik kim lee ae”.
Aku tidak mengerti bagaimana seorang
wanita di daratan memperlakukan wanita lainnya,tapi melihat wajah itu menatapku
sebelum beranjak dan menghilang di kerumunan membuat ku merinding,aku menunduk
dan ragu menerjemahkan dengan baik.aku…aku hanya tau bahwa di daratan tidak
banyak hal ku tau,tidak banyak hal ku mengeti,dan kurasa lebih baik memang
begitu.
“kau baik baik saja lee
ae”.
Aku tersentak ketika sadar so hyun sudah
di sampingku.
“aku minta maaf karena
semua orang mengira kau calon ibu yoo bi”.
Aku menggagguk,kata kata so hyun berlalu
lambat,tidak terdengar dengan baik,aku
menghela nafasku dalam dan menatap wajah so hyun yang kosong.
“sekarang,apa kau baik
baik saja”.
Aku menyenggol bahunya.ia tersenyum
menatapku.
“mau berdansa dengan ku
sekali saja,karena hanya beberapa menit lagi sampai yoo bi memaksa kita
pulang”.
“dansa?”.
aku menelan ludahku,menatap orang orang yang
saling memeluk dan bergoyang seperti gelombang.
“sekali saja,setelah
itu aku juga akan merengek pulang”.
So hyun menggenggam jemariku,kami melangkah
ke lantai,so hyun menyentuh pinggangku dan meletakan kedua tangan ku di
bahunya,pelan sekali,mengikuti tuas piano yang dimaikan perempaun muda berdres
biru,kami berdansa,semula kaku,beberapa kali aku menginjak kaki so hyun,tapi ia
tersenyum dan lagi lagi mengajariku,pelan sekali ketika aku merasa seluruh tubuhku
melembut,benar benar mengikuti setiap melodi dan bunyi sepatu so hyun,hanya beberapa
detik sampai aku sadar kami sangat dekat,tidak pernah sedekat ini,gaun ku
hampir menempel pada taksidonya,hembusan nafasnya ynag hangat terasa di
dahiku,so hyun indah,wanita itu benar.
Lampu putih di ruang pesta memantul
mantul di lantai,menerangi seluruh ruangan,tapi aku merasa semuanya gelap
kecuali tubuh dan wajah seseorang didepanku,sementara hujan turun di luar ruangan,
tanpa sadar aku meyenderkan kepalaku ke dada so hyun,suara piano itu terasa
semakin lambat,mata ku terpejam,saat aku membuka mataku,aku melihat
seseorang,seseorang yang rasanya sangat ku kenal,berdiri mematung di dekat
piano,aku sangat mengenalnya sungguh.bibir nya terangkah lambat,tersenyum.saat
satu detik mataku terpejam dan membuka lagi,bayangan itu menghilang,sekarang
yang kulihat adalah wajah memelas milik yoo bi,hanya beberapa menit lagi sampai
ia merengek.so hyun benar.
…………….
Hari kelima
Aku bangun ketika cahaya matahari
menerpa wajahku,menggeliat mencari yoo bi di sampingku,kosong,aku hanya
menyentuh seprai lembut yang berantakan.perlahan membuka mataku dan menarik
selimutku untuk menjauh mencari yoo bi di sekitar tempat tidur,tidak sengaja
mentapa jam,jam 8 siang,dan yoo bi sudah pergi satu jam yang lalu bersama so
hyun,aku menghela nafasku,perlahan bangun dan menyusuri lantai,berdiri di depan
pagar balkon.
Aku terlalu banyak tidak megerti,aku tau
tempat ku adalah di antara bebatuan dan kapal karam,tapi aku tidak merindukan
itu semua,aku hidup dengan baik dan bahagia hanya dengan dua orang di
daratan,aku tidak membutuhkan siapa siapa lagi.
Angin mendesir,menerbangkan helaian
rambutku,aku masih menatap hampaan pinus yang rapat dan air yang beriak saat
kata kata wanita itu terdengar lagi di telingaku.
“apa kau yakin dia mati
seperti yang terdengar,ya tuhan…dunia ini seperti tempat sampah,kau harus menjaga
dirimu dengan baik kim lee ae”.
Aku bahkan tidak terlalu mengerti bagaimana
hidup dengan baik di daratan,lalu aku harus menjaga diriku,dari siapa?,semakin
lama aku merasa daratan mengungkap satu persatu rahasianya dan banyak dari hal
itu tidak aku mengerti.saat menatap seluruh rumah ini dan tidak menemukan sesuatu
yang perlu aku tanyakan,melihat so hyun dan yoo bi yang hidup dengan sangat
baik,aku merasa semuanya memang harus seperti ini dan tidak ada yang harus di rubah,tidak
ada yang harus aku tau.
Aku menghela nafasku,ketika semuanya terasa
semakin aneh,bagaimana mereka menerimaku dan bagaimana aku menyukai
mereka.bagaimana mereka tidak pernah bertanya apapun,padahal aku wanita yang
tidak jelas,masuk kerumah ini,masuk ke dunia mereka.
Aku melangkah pelan,masuk lagi kekamar
yoo bi,memperhatikan laci di bawah tempat tidurnya yang sedikit menganga,aku
hampir menutupnya ketika sesuatu tersangkut,aku membuka lebih lebar,perlahan
menarik sesuatu yang mengganjal,aku duduk lagi di sisi tempat tidur,meraba pas
foto yang tertutup telapak tangan ku,perlahan ku buka satu persatu jari jari ku
dari pasfoto itu,memperhatikan tiga orang tersenyum bahagia,yoo bi kecil yang
berdiri sambil memegang tangan so hyun dan tangan seseorang di kanan nya,wanita
yang cantik.baju hitam selututnya membuatnya anggun, benar benar cantik dan
entah kenapa aku melihat diriku dalam diri orang itu.
Aku menghela nafasku,entah apa itu tapi perasaan
yang muncul benar benar membuat ku khawatir,aku merasa mereka tiba tiba
memiliki seseorang yang benar benar mereka cintai dan parahnya aku merasa
sangat mengenal orang itu sehingga tidak terfikir olehku untuk tinggal disini selamanya.jauh dalam hati ku aku jadi
menggila ketika beharap menggantikan posisi orang itu di rumah ini.so hyun
tidak bilang apa apa dan yoo bi belum menceritakan apapun tentag ibu nya
setelah ia memasak untuk so hyun hari itu,tapi aku tau,aku hampir tau siapa
seseorang yang berdiri dan tersenyum lebar dengan anggun di foto ini,aku
harusnya memang tau,tanpa seseorang memberi tau.
Aku menyelipkan helaian rambut yang terjatuh
di wajahku ketelinga,menaikan kepalaku yang tertunduk memandangi foto itu,aku
mengenalnya,tapi aku tidak mengingat dengan baik.rambut hitam nya yang lembut,wajahnya
yang kecil dan senyum nya yang lebar.
Saat aku kembali menunduk dan menatap foto
itu aku akhirnya tau sesuatu,aku benar benar mengenalnya.
“kim lee ae”.
Aku terlonjak,hampir terjatuh dari tepian
ranjang,masih menatap wanita dengan gaun putih yang tiba tiba duduk di sampingku.
“kau mengenalnya,kau
memang mengenalnya”.
Ia mengulurkan tangan nya,menyentuh
jemariku,jantung ku berdegup sekaligus menjadi tiba tiba membeku,tangan dingin
yang ku kenal.
“bagaimana kau tidak
mengenaliku,teman duyung”.
Ia tersenyum,mengangkat tangan kami ke
udara.
Aku membeku,masih diam dan menatap
wajahnya,entah kenapa udara pun terasa dingin ketika dia berada dekat dengan
ku.
“aku akan menjadi
jawaban dari setiap pertanyaan pertanyaan mu”.
Aku mengangguk berat,dimulai dari
mana,apa yang harus aku tanyakan,mari memulai nya dari,kenapa kau bisa berada diruangan
ini,aku menghela nafasku,terdengar kasar hingga orang di sampingku terkekeh.
“banyak hal benar benar
tidak aku mengerti”.
Ia terkekeh lagi,melepaskan tangan nya yang
dingin dari jemariku,aku masih menatap senyum nya hanya seja sekarang ia
menunduk diam,sesekali melirik foto yang ku pegang.
“aku mencinta mereka
lee ae,aku sangat mencinta mereka”.
Aku menatap wajahnya.
“aku bertemu dengan so
hyun ketika berenang terlalu ketepi,mulai bermimpi menjadi manusia seperti mu
setelah hari itu,aku berdoa lee ae,aku berdoa setiap malam,sambil menatap bulan
aku memastikan bahwa orang itu masih berada di pinggir pantai,masih dekat
dengan ku,suatu hari lee ae,suatu hari aku merasa dada ku sesak di dalam
air,entah apa,aku tidak mengerti,yang ku tau,aku berada di daratan dan memulai
hidup ku sebagai seorang manusia,menyenangkan sekali karena aku berada di kamar
seseorang yang ku kenal,satu satunya orang yang kukenal di daratan,dia so
hyun,kami tinggal dirumah itu,dia mengajariku banyak hal dan kami tiba di suatu
hari dimana so hyun menggenggam tangan ku,menatap mataku dan memintaku,meminta
ku untuk hidup selamanya dengan nya,memintaku menjadi wanita yang pertama kali
ia lihat ketika dia pertama kali membuka matanya di pagi hari,kau tau lee ae
hari itu adalah hari terindah yang pernah langit berikan padaku,hari itu adalah
hari terbaik yang pernah aku rasakan”.
Ia masih tersenyum,menunduk,sesekali menyeka
tetesan air mata yang jatuh di pipinya.
“ku kira daratan indah
sekali lee ae,ku kira daratan baik padaku,kami menikah dan aku melahirkan
seorang putri,kami hidup sangat bahagia beberapa tahun setelah aku melahirkan
sampai seseorang datang kehidup kami,membuat ku terlihat jahat di mata so
hyun,kami bertengkar karena so hyun kira aku melanggar janji pernikahan
kami,aku bersumpah aku tidak melakukan itu,tapi so hyun tidak mendengarkanku,so
hyun pergi dari rumah dan membawa yoo bi,aku sadar ketika terbangun di pagi
hari,mencari mereka kemanapun aku tau,di tepi eurwangni ketika aku sadar
rem mobil ku tidak berfungsi,lee
ae,seseorang melakukan nya padaku”.
Aku merengkuh telapak tangan nya yang rapuh,menatap
setengah wajahnya yang menunduk,hanya beberapa detik sampai aku juga menunduk
diam,kami tidak saling memperhatikan,aku masih mengelus punggung tangan nya
yang dingin.
“lee ae,aku kembali ke
laut,aku kembali ke tempat aku di lahirkan,aku pergi tapi semunya tidak akan
pernah sama,malam itu ketika aku melihat tubuhku di bawa ombak,menjauh ke
tengah,aku hanya terdiam dan memandangi sambil terisak,berulang kali aku
berteriak berdoa pada tuhan untuk menghidupkan ku lagi berulang kali aku
memintanya untuk membiarkan so hyun tau apa yang sebenarnya terjadi dan sekali
lagi lee ae,sekali lagi aku di dengar langit,di kabulkan tuhan,aku bertemu
dengamu,kau adalah apa yang kulihat di depan cermin,kau ingat ketika bertemu
denganku dan berharap kau menjadi manusia,lee ae,kau benar benar menjadi yang
kau mau,karena kau tau bagaimana berdoa dengan benar,rembulan di malam hari
benar benar dekat dengan langit,tuhan mendegar dengan sangat jelas,lee ae,aku
memintamu,aku ingin so hyun dan yoo bi tau.wanita itu,yang kau temui di pesta
teman so hyun dialah orang nya”.
Aku tercekat,menatap wajah pucat yoo bi
yang membeku.
“kim lee ae,kau tau
berapa hari sejak pertama kali aku menjadi seorang manusia dan so hyun
memintaku menjadi wanitanya,enam hari,lee ae,aku tidak tega mengatakannya,tapi
kau dan semua duyun,hanya akan punya waktu satu minggu sampai menemukan pria
yang mencintai mereka,apa yang kau rasakan dan dia rasakan,jika tidak kau akan
kembali kelautan bersama angin,tidak ada yang berubah,lee ae kau akan kembali
menjadi duyung,untuk selamanya,kau takan kembali kedaratan dan segala hal yang
pernah kau lihat dan ingat akan mengilang bersama kaki kaki mu”.
Sunyi,dingin,kaku,aku merasa langit
langit ruangan ini berputar,telingaku berdengung parah,aku menatap telapak
tangan ku yang masih mengelus punggung tangan dingin milik ji won,tapi semuanya
memudar,mata ku menjadi berat,tepat ketika aku mengangkat wajahku untuk menatap
wajah mik dia menghilang,yang tetinggal hanya bau rose yang memudar,bersama
dengan bau mawar yang menghilang aku merasa kepala ku terangkat lambat dan
berdenyut,mata ku terbuka perlahan,dan tubuh ku terasa kembali hangat,aku
bangun pelan,tersadar bahwa pipiku menyentuh bantal dan tubuhku terbaring di seprai
lembut kamar yoo bi,aku menghela nafasku, rasa hangat itu dari selimut yang
melilit tubuhku,tidak terlalu jelas,samar samar tapi semakin nyata,wajah mik
yang pucat dan tersenyum lebar,perlahan mimpi tadi benar benar menjadi semakin
nyata.
Aku menarik selimut hingga
pundak,seluruh tubuhku hangat kecuali tangan ku,tangan yang mengelus punggung
tangan ji won,aku tertidur dan bermimpi,atau ji won memang datang dan
mengantarkan setiap jawaban yang aku tanyakan.
Entah berapa detik sampai aku sadar,relif
yang lebih rendah di tepian tempat tidur,tempat mik dan aku duduk,mik dan foto
yang ku genggam mengantarkan ku pada hari hari yang ku lewati dan wanita yang
ku temui,ji won selalu ada hanya aku tidak menyadarinya,dan beberapa kali
enggan menyadarinya, saat bau rose terasa sekali lagi,aku tau,aku tau semuanya
benar benar nyata.
………………
Hari ini so hyun melewatkan sore nya di
kantor,aku dan yoo bi berbaring di kamar sambil menceritakan teman teman yoo bi
dan pelajaran yang gurunya jelaskan,aku tau yoo bi mendengus kesal karna aku
tidak medengarkannya dengan baik,berulang kali ia menyenggol bahuku dan meminta
ku menjawab sesuatu tentang apa yang dia ceritakan.
aku sendiri masih mengingat dengan jelas
wajah ji won dan apa yag ku dengar dari pertemuan kami,aku menelan ludah ku dan
berusaha senormal mungkin menghembuskan nafasku,apa aku benar benar harus
menghilang bersama angin dan melupakan semuanya,tanpa sisa,sementara yoo bi dan
so hyun tidak tau apapun tentang apa dan siapa aku sebenarnya,atau aku harus
mengatakan dengan benar kenapa aku berada di ruangan ini,di rumah ini,di hidup
mereka,bahwa aku adalah permintaan mik,bahwa aku adalah seseorang yang akan
membuat mereka mencintai mik lagi.
mengingat itu semua membuat kepala ku
berdenyut,disamping yoo bi ku benamkan wajahku ke bantal bulunya,aku ingin
hidup di daratan,tapi itu artinya aku harus mendapatkan seseorang yang mencintaku
dalam 2 hari,atau aku harus pergi dan dipaksa melupakan semuanya,menganggap
hidup ku memang normal,tidak pernah menjadi manusia atau hidup didaratan.
aku menyerah,membiarkan yoo bi menarik
selimut yang ku angkat kekepalaku,mendengarkannya mengoceh,malah membuat dadaku
sesak,aku menggenggam ujung selimut ketika yoo bi menar benar
menariknya,tercekat ketika sebutir air mata jatuh bersama selimut yang turun ke
pinggangku.
“ada apa?”.
Yoo bi berhenti menarik selimut,perlahan
duduk di samping ku berbaring.sebisaku tersenyum dan menyentuh pucuk kepalanya dan menelan
ludah ku,belum saat nya,hanya itu yang terdengar nyaring di kepalaku.
“apa kau baik baik
saja”.
Aku menggangguk,membersihkan air dari sisi
mataku.
“apa kau meridukan
keluargamu”.
Aku menarik nafasku,duduk disamping yoo
bi,menggenggam tangan nya yang hangat,mata yoo bi mengerjap memandang mataku
yang lagi lagi berair.
“aku baik baik saja,aku
akan baik baik saja”.
“aku tidak tau apa yang
kau fikirkan,tapi aku tau kau tida baik baik saja,aku juga pernah melakukan hal
hal seperti itu ketika ibuku pergi,aku mengatakan pada so hyu bahwa aku akan
baik baik saja,tapi setiap kali aku mengatakannya maka aku merasa mata ku
memanas dan yang ku tau aku tidak pernah bisa membohongi hati ku sendiri”.
Aku menunduk,memandangi seprai putih dan
selimut yang berantakan.
“kau masih merindukan
ibumu”.
Aku memandangi wajah yoo bi,matanya yang
bening,kosong.
“kadang,tapi kau datang
lee ae,kau mirip sekali dengan ibuku,kau selalu tersenyum,kau tidak pernah
memuji so hyun, kau tidak pernah ingin terlihat menarik,kau tulus”.
Mata yoo bi sekarang menatapku,menatap semua
bagian yang tidak pernah ku mengerti,aku mencintai anak ini,aku mencintai putri
kim so hyun,aku mencintainya tapi aku tida bisa mengungkapkanya,aku ingin
berada di daratan,aku ingin berada di samping mereka,meski semuanya tidak
berubah,aku masih takut mengatakan semua itu.
“lee ae,ingin ku
ceritakan sesuatu,ini dongeng yang selalu ibuku ceritakan sebelum aku tidur”.
Aku menggangguk.
“di tengah
lautan,bermil mil jauhnya,di tengah cahaya biru yang beriak setiap saat,disana
lah hidup sesuatu yang tidak pernah manusia tau….”.
Dan cerita itu meluncur begitu saja,aku dapat
membayangkan dengan benar karena semua yang yoo bi ceritakan adalah apa yang
terjadi pada hidupku,hidupku yang menyenangkan di lautan.
“banyak hal yang aku
tau dari putri duyung itu berbeda,ibuku bilang mereka tidak menangis dengan mutiara
atau kaki mereka bisa menjadi sirip saat terkena air,ibuku yang mengatakan itu,
maka aku percaya”.
Yoo bi menaikan bahunya.
“kau percaya mereka
ada”.
“aku percaya dan ibuku
selalu membuat ku percaya”.
“apa kau pernah
berfikir mereka ada di dekatmu,apa kau percaya mereka bisa pergi dari lautan dan
duduk disampingmu”
Yoo bi diam,mengamati wajahku yang menegak
menatap cahaya yang meredup di balkon.
“aku percaya”.
Lama sekali kami diam,perlahan yoo bi
merebahkan kepalanya di bantal di samping pahaku,aku mengikutinya,menatap
cahaya bintang yang berkedip di ujung balkon.
“yoo bi…”.
Aku menatap matanya,mengamati wajahnya
dengan seksama.
“aku…”.
Hampir sampai dilidah namun tercekat,hanya
beberapa detik sampai kata kata itu benar benar meluncur dari bibir ku,tapi ini
terasa sangat berat.
“aku dan ibumu adalah
mereka”.
Jantung ku berdegup kecang,aku bahkan
menunduk karena takut melihat yoo bi marah atau terkekeh menertawaiku,tapi yang
terjadi adalah sebaliknya.
Ia menatapku lalu tersenyum.
“aku tau”.
………………..
So hyun meremas kenop pintu dan
membukanya perlahan,membuka kamar yoo bi dan berjingkit mendekat,ia tak sadar
aku berada di balkon dan memperhatikan tubuhnya yang mendekat pada ranjang.
“kau baru pulang”.
Ia tercekat menatapku,pelan tersenyum dan
memperhatikan wajahku yang memucat.
“kau baik baik saja”.
Benar benar ayah yoo bi,aku mendekat
selangkah,menunduk,tidak menatap matanya yang hangat.
“aku ingin membicarakan
sesuatu padamu”.
So hyun menggangguk lambat,berbalik
menatap yoo bi yang tertidur dengan selimut melilit sebelum melangkah mendekati
balkon.
“apa yang ingin kau
bicarakan,apa ini tentang yoo bi”.
Aku menelan ludahku,berusaha merasakan angin
bekas hujan yang harum,merasakan deburan ombak yang melayang layang di dekat
pohon willow.
“aku…tidak yakin kau
akan bicara,atau mau membicarakannya sekarang”.
So hyun mendekat selangkah,mengintip
wajahku yang menunduk menatap batang pinus yang terkena lampu halaman belakang.
“aku ingin membicarakan
seseorang yang sangat kau kenali,entalah,mungkin kau merasa sangat
mengenalinya”.
Sekali lagi aku menelan ludahku,menghela
nafasku yang tercekat cekat.
“siapa,bicarakan saja”.
Aku tau mata ku kosong dan bibir ku
bergetar,berulang kali aku mendengus kasar dan membuat so hyun memandangi mataku
penasaran.
“aku melihatnya di
sampingku saat matahari terbenam,aku melihatnya di samping piano ketika kita
berdansa,aku melihat nya di kamar yoo bi dan kami membicarakan mu,aku
melihatnya di rumah ini,aku melihatnya di lautan”.
Aku memegangi sisi balkon semakin erat,bibir
ku semakin bergetar dan so hyun menatap pinggiran wajahku semakin lekat.
“ji won nama nya ji won,dia
hanya menyuruhku mengatakan ini padamu,dia mencintai mu dan dia tidak pernah
menghianatimu………..”.
Lampu dari halaman belakang berkedip
kedip,membuat cahaya temaram merambat di sela sela dedaunan,di sampingku so
hyun membeku,menghela nafas nya berulang kali dan membetulkan tangan nya yang
memegang erat sisi balkon,aku menatap wajahnya,mencoba menahan mata ku yang
memanas,berulang kali aku menarik nafas lalu menahan air mataku,tapi yang terjadi
adalah aku terisak,malam itu bersama turunnya hujan ceritaku selesai,cerita
yang ku bawa dari jiwa ji won,cerita yang akan menyelesaikan semua mimpi ku,aku
menghela nafasku,memandangi so hyun yang masih menunduk dan menyeka ujung matanya.entah
dia bisa mempercayaiku atau tida,tapi istrinya,wanitanya,seseorang yang hidup dan
tidur dengan nya adalah orang asing,seseorang yang di lahirkan di lautan.aku
merasa embun menghakimi tubuhku,aku ingin beranjak dan pergi dari balkon,tapi
hatiku menuntut jemariku untuk menepuk pundak so hyun,memberikan nya menangis
dan mendengar isakanku.
………………..
Hari ke enam
Di sisi eurwangni,di musim semi,aku dan so hyun duduk di sisi pembatas
jalan di samping lautan,so hyun menuntunku untuk lebih dekat dengan tebing,kami
duduk di bebatuan berlumut yang paling dekat dengan air,so hyun mulai menabur
bunga rose ke cairan biru di depan kami,tidak ada yang bicara,aku ikut
menaburkan beberapa helai,batas langit mulai menua,membuat bayangan kami
menjadi orange,gelombang juga perlahan menjadi keemasaan.
“dia menyukai daisy,ia
juga suka tulip dan calona,tapi yang paling dia sukai adalah rose,dia benar
benar suka rose”.
So hyun diam,aku dapat melihat matanya yang
kosong menghadap cahaya orange yang hampir menghilang.
“dia mencintaimu”.
Sunyi,riak gelombang yang membuat ku merasa
tidak sendirian,diantara wajah so hyun yang membeku perlahan aku dapat melihat
senyum tipisnya.
“setidanya,semuanya
tidak benar,istriku mati dengan terhormat,dia tidak menyerah karna aku”.
So hyun memeluk lututnya,aku mebiarkan
bahu nya terguncang dan matanya yang memerah mulai mengelurakan air.hanya
beberapa menit sampai cahaya orenge di sebrang berubah menjadi gelap.
Ia memandangi wajahku ketika aku menatap
nya,aku ingin mengangkat tangan ku dan meraba pipinya jika aku lupa siapa aku.
“bagaimana kalian bisa
hidup di daratan,bagaimana kalian ada”.
So hyun menatap wajahku lekat,aku
membiarkannya menatap wajah ku seperti itu,karana aku menyukainya.aku menyukai
setiap hal yang ada pada so hyun.
“tidak semua hal harus
kau tau”.
Ia menggangguk dengan senyum tipis nya lalu
kembali menebarkan rose yang tinggal seperempat di dalam keranjang ke eurwangni.
“apa sekarang kau mempercayai
kami”.
“aku percaya,terlalu
banyak rahasia di bumi”.
Aku menghela nafasku,membiarkan ombak
menerpa tubuhku,dres merah marun dan cardigan dilengan ku.
“aku akan pulang
besok”.
So hyun memalingkan wajahnya yang menatap
martahari terbenam kearah ku,aku suka ketika dua kening nya menyatu.
“kenapa?”.
“karena aku hanya punya
waktu 7 hari,untuk berada di daratan”.
“tapi ji won punya bertahun
tahun”.
Aku diam,apa menceritakan cerita ini dengan
utuh artinya membuat ku terlihat menginginkan sesuatu,aku tidak ingin so hyun
mengetahui beberapa hal,aku ingin menyimpan nya sendiri.
“karena dia bertemu
dengan mu”.
Aku mengatakannya dengan pelan,so hyun
tidak mendengar kata kata itu,aku juga tidak berharap dia mendengarnya,pada
akhirnya aku harus kembali,dan mengemas semua ingatan ku,toh pada akhirnya
tidak ada satu pun yang bisa kuingat tentang daratan,aku akan kembali kelautan
yang menyimpan begitu banyak rahasia,aku harus nya bangga menjadi salah satu
dari banyak hal yang tersimpan rapi di sana.
Aku
tidak pernah melewatkan matahari terbenam,aku juga tidak pernah melewatkan
matahari terbit,tapi hari ini,kali ini,bersama orang ini,aku merasa matahari tidak
akan pernah secantik ini lagi,menatap sepenggal wajahnya yang menghadap
eurwangni yang gelap,menatap wajahnya yang disirami cahaya bulan yang
dingin,melihat wajahnya dengan mata berembun.aku mencintanya,entah sedini apa
pun itu,aku tidak perduli,aku mencintainya dan aku sekarang tau apa yang
terjadi pada hati ku.
……………..
So hyun mnghembuskan nafasnya dan
meletakan dua cangkir kofi di tengah tengah kami,asap tipisnya melayang layang
di terpa angin,minuman paling enak yang pernah ku minum,pertama kali meminumnya
aku berada di samping yoo bi,bersembunyi dari so hyun,sambil menceritakan betapa
membosankannya pertas malam itu.
Deretan bintang berkedip diantara kanvas
gelap yang malang,bulan bersinar seperempat membuat bulatannya terlihat
cacat,so hyun mengulurkan tangan nya,menyentuh punggung tangan ku,mata nya yang
hangat menatap ku,aku membiarkan setiap detik berlalu begitu saja,aku
membiarkan semua hal berjalan dengan seharusnya.
“ini tempat kesukaan ji
won,tempat pertama kali aku membawanya keluar dari rumah,setelah
menyelamatkanya,kalian hanya sedikit berbeda”.
Aku menarik nafas ku seakan itu adalah tarikan
terakhir yang bisa aku dapatkan,kami berada disini,puluhan meter dari lantai
pertama,melihat bintang dari sebuah bangunan tua beratap datar dan di kelilingi
kedipan kedipan dari lampu jalan kota.so hyun membiarkan ku diam,ia mengangkat kofi
dan menghirup nya sekali,menatap langit yang lagi lagi mendung.
“aku bahkan masih
merasa semua ini mimpi”.
“aku juga”.
Aku menjawab pertanyaan itu setengah
hati,seakan semuanya tida akan pernah bisa sama lagi setalah aku menjelaskan semunya.
“aku ingin kau
tinggal,tapi aku tidak tau bagaimana caranya,yoo bi menyukaimu dan kami punya
rumah yang cukup untuk satu orang yang menyenangkan”.
Aku ingin berteriak bahwa so hyun hanya
harus mencintaiku,hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membuat ku tetap
tinggal,tidak berubah menjadi serpihan serpihan angin dan kembali kelautan,
terlahir kembali seperti saat aku pergi kedaratan,melupakan semua nya,bahkan
mungkin tidak mengingat keinginanku untuk hidup didarat.
Kembali,sunyi,tidak ada yang terdengar
kecuali bunyi klapson dan rem mobil di jalan raya,aku mendengar bisikan bisikan
angin di telingaku,beberapa kali aku ingin bicara,ingin so hyun tau bahwa ada
satu cara yang membuatku bisa tetap tinggal,tapi aku tidak ingin itu membuatnya
merasa bersalah karena tida bisa mencintaku,karena tidak bisa membuatku tetap
tinggal,lagi pula dia tidak pernah tau apakan aku memang ingin mengakhiri semuanya
atau melanjutkan nya lalu hidup selamanya di dunia yang tidak terlalu aku
kenal.
“ku kira kita harus
pulang,aku melihat yoo bi tidak terlalu menyukai asisten baru rumah tanggamu”.
Aku beranjak,melangkah menjauh dari kofi
yang baru ku minum setengahnya,so hyun melangkah cepat,memegang tangan ku,aku
tercekat ketika mata hangat nya menatap wajahku.
“tetap lah di
sampingku”.
Aku membalas tatapannya ragu.
“tetaplah disampingku
sampai kita turun dan menemukan mobil di parkiran”.
Aku mencoba tersenyum,tipis sekali bahkan
terasa semu,kami turun kelantai satu,so hyun berada pada jarak satu jengkal tangga
dariku,aku yang melepaskan tangan nya dan beralasan bahwa tangga nya terlalu
sempit untuk di pakai berdua,aku hanya ingin melupakan jatuh cinta,aku hanya
ingin merasa bahwa semua hal yang terjadi didaratan tidak akan membuatku senang
bila ku rindukan,tapi ketika itu semua kupaksakan aku malah takut tidak bisa
merindukan,saat aku merindukan semua ini.
……………….
Hari ketujut……..
Aku tidak tau persis kapan so hyun berada
di depan pintu,tapi aku bisa menebak ia melihat wajahku dan yoo bi saat kami tadi
tertidur,ia bangun lebih pagi dari kami,tersenyum dan melangkah mendekat pada
ranjang.aku bangun dan menyibak selimutku,melangkah kearahnya.
Kami diam dan aku benar benar tidak suka
saat saat seperti ini,so hyun memegangi siis balkon dan menatap pinus yang
masih gelap.
“hari itu,hari ini
kan”.
Aku mengangguk,merasa tidak ada hal yang
harus aku bicarakan.
“apa yoo bi belum tau
semuanya?”.
“beberapa”.
Aku menelan ludahku,memegang sisi balkon
semakin erat.hal ini yang kufikirkan sepanjang malam.
“hari ini,aku akan tinggal dirumah”.
So hyun menatap ku,aku menunduk menatap
ujung kaki ku,kaki yang dalam beberapa jam lagi akan menghilang.
“aku senang mendengar
itu”.
Lalu semuanya kembali menjadi kaku,aku
melangkah kedalam kamar dan kembali ke ranjang,dada ku sesak setiap kali
mengingat bahwa aku harus pulang,seberapa sakit meninggalkan sesuatu yang benar
benar kau inginkan,aku bertanya sendirian,aku menenggelamkan wajahku
kebantal,membiarkan air mata ku luruh disana,so hyun masih di belakang punggung
ku ketika berjanji akan membangunkan ku lebih siang,ku rasa dia sedang bercanda,aku
menghena nafasku tanpa menatapnya,dada ku terasa sakit ketika aku menarik nafas
terlalu kencang.
“apa yang sedang kalian
bicarakan”.
Aku mengangkat wajahku yang basah,menatap
seseorang dengan mata merah di sampingku,so hyun mendekat dan hampir bersamaan
kami menggeleng,bingung harus memulainya dari mana.
……………
Entah butuh berapa lama sampai yoo bi pahan
dan kembali melirikku yang duduk di sisi ranjangnya,mata nya yang layu dan
tajam membuat ku sedikit takut menatap nya,ia mendekat dan aku mendengar
desakan di hidungnya,matanya mulai memerah dan aku mendengar ia terisak ketika
memeluk tubuhku,aku mengelus punggungnya dan perasaan itu seperti beralih
padaku,sebisaku menahan air mata yang berdesakan di ujung mataku,so hyun
mendekat dan duduk dibelakang pundak yoo bi,ia menghela nafasnya dan
menunduk,entah apa yang dia fikirkan tapi aku tau matanya kosong saat wajahnya
mengarah pada seprai putih lembut di kamar ini.
“kapan waktu itu
datang”.
“di hari ketujuh,saat
pertama kali kalian menolongku,di waktu yang sama”.
Yoo bi berhenti memelukku,tapi jemarinya
masih menyentuh lengan ku,mata nya yang penuh air menatap ku ragu ragu.
“apa kau bisa kembali
lagi”.
Aku menelan ludah ku,enggan menggeleng tapi
aku juga tida bisa berjanji dan mengangguk.saat aku diam yoo bi mengerti apa
jawaban dari pertanyaan nya.
“itu berarti hanya beberapa
jam lagi”.
Aku mengangguk lambat,berusaha tidak
mengenai kepalanya yang sekarang memelukku lagi,ini aneh,semuanya tampak punya
waktu,semuanya terasa terencana,terkadang aku mensyukuri tujuh hari ku di
daratan,waktu yang sudah di tetapkan,setidanya karena aku bisa mengucapkan
selamat tinggal,dan membantu teman ku ji won,ibu dari anak yang ku sayangi dan
istri dari seorang pria yang membuat ku jatuh cinta.
So hyun mendekat,memeluk yoo bi yang sedang
memelukku,lengan nya menyentuh kulit tangan ku dan itu hangat sekali,aku merasa
udara terasa memanas setiap kali so hyun di dekat ku,aku merasa ada sesuatu
yang harus nya aku katakan tapi selalu tercekat di tenggorkan,yang terbaik dari
semuanya adalah aku akan menjadi seseorang yang melupakan semua ini,aku tidak
tau seberapa hebat tarikan daratan saat aku memandangi tepian,sekuat apa aku
merindukan mereka sampai aku bisa mengingat, setidanya,seorang anak cerewet dan
pria yang belum dewasa,aku tersenyum ketika mengingat mereka dipendakian
gunung.
“kalian bisa berbaring
sambil….menunggu”.
Kata kata terakhir so hyun seperti tidak
benar benar dia ingin katakan,tapi itu jauh lebih baik dari pada ia lanjutkan.so
hyun merengkuh bahu yoo bi dan membaringkannya di tengah tengah kami,yoo bi memelukku
dan so hyun memeluk kami berdua,aku selalu takut tidak bisa berhenti jatuh cinta
setiap kali so hyun memperlakukan ku seperti ini,seakan aku dalah wanita
istimewanya,terkadang aku lupa bahwa dia mungkin melakukan hal hal ini karena
ada yoo bi di antara kami,karena dia ingin menjadi sahabat ku sama seperti yoo
bi.
So hyun menarik selimut dan menutup tubuh
kami bertiga hingga bahu,lewat rambut hitam yoo bi yang tergerai di bantal,aku
dapat melihat wajah so hyun memandangiku,dia tidak tersenyum dan aku merasa dia
tidak berkedip,aku tidak mengerti apa yang aku lakukan,tapi aku membalas nya,sama
seperti yang so hyun lakukan,saat ini,ketika mata kami membeku,saling menatap
dalam diam,aku merasa tidak memerlukan apa apa lagi,aku merasa sedih harus
melupakan semua ini,aku takut akan sesuatu yang tidak bisa aku mengerti,ketika
aku mencoba berhenti menatap mata so hyun aku merasakan rengkuhannya di
pundakku,ia masih menatap ku,tapi ketika perasaan mengharap itu datang,aku menyergahnya,aku
takut pada akhirnya aku kembali kecewa dan mengerti tentang sesuatu di dunia
daratan yang nyata,dunia yang samar,dunia yang saat ini belum benar benar aku
mengerti.
Aku kembali menenggelamkan wajahku,kali
ini ke leher yoo bi,masih terasa nafasnya yang hangat mengenai kulit
pipiku,matanya menatap ku tapi dia tidak tersenyum,so hyun semakin
mendekat,sekarang aku merasa wajahnya menyentuh ujung kepalaku,aku tidak
melihat dan tidak ingin tau,tapi aku merasakan itu,merasa ketika bergantian so
hyun menciumi kepalaku dan yoo bi,ketika semuanya terasa sempurna rasa takut
itu malah menajdi lebih buruk.
Sunyi…tidak ada yang memulai perbicaraan,hanya
bunyi jam berdetak,bersama dengan itu sinar orange mulai masuk menerpa sisi
balkon, menyentuh selimut dan kaki kami,aku mendengar deru halus nafas so hyun.
“aku masih mengingat
dengan baik ketika pertama kali aku dan yoo bi menolongmu”.
Pipiku bersemu merah ketika mengingat apa
yang kupakai hari itu,entahlah ungkin apa yang tidak aku pakai hari itu.
“kami memancing dan
tiba tiba ada gerakan di dalam air”.
So hyun terkekeh terpaksa,mungkin ia sedang
tidak sadar sedang mengelus kepalaku.
“ku harap kau tida
marah bila aku mengatakan hal ini,bahwa ketika aku menarik tangan mu
kepermukanan aku mengingat bagaimana cara ku menarik tangan ji won di masa
lalu”.
Aku mendongakan kepalaku,menatap wajah so
hyun.
“wajah mu adalah wajah ji
won ketika aku pertama kali melihatnya”.
“aku tidak tau apa hal
yang membuat yoo bi sangat menyukai mu,tapi salah satunya adalah kau mirip
dengan ibunya,ketika aku mulai berteman denganmu,kita mulai bicara dan pergi kegunung
lalu melakukan banyak hal,aku tau kenapa yoo jadi sangat menyukaimu,bukan
karena apapun tentang ibunya,tapi karena kau,dia menyukai mu karena itu kau”.
Kembali,ruangan ini membeku meski aku
masih merasa kulit ku terasa hangat karena selimut, yoo bi, dan ada so hyun di
kamar ini.
“kau ingat ketika kita
pergi kegunung,kau ingat dres putih mu,itu baju yang di pakai ji won di kencang pertama kami”.
Aku tersenyum tipis dan so hyun melakukan
nya dengan samar.
“aku memejamkan mataku
tapi aku tidak bisa tertidur,aku mendengar kalian dan itu membuat ku senang”.
Yoo bi menyela,menatap wajahku yang dekat
sekali dengan wajahnya.ia memelukku semakin erat,saat seperti ini membuatku
tanpa sadar menginginkan daratan lebih lama.
Entah sejak jam berapa kami berbaring di
kamar ini,di ranjang ini,tapi aku merasa setiap hal menjadi semakin dekat,waktu
menjadi semakin rapuh untukku.saat sinar matahari perlahan menjadi semakin
panas aku merasa perpisahan itu benar benar akan datang,bagi so hyun dan yoo bi
mereka akan tetap bisa mengingatku,setidanya sampai ada orang baru di rumah
ini,dan aku tidak harus serepot mereka,aku pergi bersama kaki ku dan kehilangan
semua isi otakku ketika kembali.
So hyun mendekat lagi,memeluk ku dan yoo
bi semakin erat,kami diam,tidak ada yang bicara,saling memeluk dan hangat,hal
ini yang benar benar aku inginkan.
Bunyi detik jam berdetak semakin
cepat,aku melihat mata yoo bi benar benar tertutup,mata so hyun juga perlahan
menyipit,sekarang aku dapat melihat lingkaran hitam di bawah matanya,aku tak
memikirkan dia tertidur atau tida, tapi jika jawabannya ya itu mungkin hanya sebentar.
Entah kenapa aku menjadi semakin
siap,mendengar deru angin yang menerbangkan pinus dari seberang tempat
tidur,aku merasa,bisa melakukan ini di lautan jika mungkin beberapa hal
tertinggal.
Lama
sekali,aku merasa ada yang salah degan hitungan langit,mata ku berat dan
semakin berat,semula aku menajamkan mataku agar disaat saat akhir seperti ini
aku tak kehilangan apapun dari wjaha yoo bi dan so hyun,tapi perlahan keinginan
itu menghilang bersama mataku yang mengerjap,mengantuk dan terpejam.
…………………
Aku terbangun ketika matahari terbenam
menerpa tubuh ku,entah sejak kapan tapi aku bangun ketika so hyun menyangga
kepalanya dengan tangan,yoo bi masih tertidur dan memelukku,butuh beberapa
detik hingga aku sadar sesuatu yang kami takutkan tidak benar benar terjadi.
“ada apa,kenapa”.
So hyun tersenyum,hanya tersenyum dan kembali
menatap wajahku.
“kali ini aku akan benar
benar menjaga wanitaku”.
Aku menatap wajah so hyun,bukan karena aku
tidak setuju dengan apa yang dia katakana,tapi aku belum lega sampai aku benar
benar mengerti apa yang terjadi.aku menghela nafasku dan masih bertanya diam
diam.
So hyun tidak pernah mengatakan apapun,dan
aku bahkan tidak meberitahunya apapun,tapi perlahan semuanya seperti tercerna
dengan baik,lewat mata so hyun yang hangat,aku masih merasakan angin menerpa
tubuhku,berjam jam mata ku terpejam hingga berakhir melihat matahari
terbenam,seharusnya aku sudah bangun di
lautan dan menjadi duyung yang tidak mengingat apapun tentang daratan.
So hyun masih menatapku ketika mataku
perlahan berani membalasnya.
“terima kasih karena
sudah mau tinggal,karena mempercayaiku dan mencintaiku”.
Aku tercekat,apa karena ini,apa karna so
hyun mengatakannya berjam jam yang lalu,tapi kurasa aku tertidur ketika masa ku
di daratan bahkan sudah habis,dan so hyun tidur sebelum itu.
“aku tau kenapa ji won
berada lebih lama didaratan,tapi aku takut kau tidak benar benar
menginginkannya”.
Mata so hyun,mata yang hangat itu masih
menatapku,perlahan mendekat dan memeluk tubuhku,yoo bi berada diantara kami dan
aku menyangka ia sudah bangun ketika aku tertidur.
lalu apa artinya aku akan berada di bumi
selamanya?,atau aku akan menghilang ketika mata hari terbit besok.
So hyun beranjak,melangkah,lalu menggenggam
tangan ku,membawaku ke balkon yang keemasan karena cahaya matahari.
Disana,semua nya masih sama, lautan yang
beriak,pasir putih bersih dengan sedikit cahaya orange,perlahan dalam
kesunyian,karena lagi lagi so hyun tidak bicara ,warna itu memudar,warna putih
yang sebenarnya menyebar di gelombang,daun daun willow merunduk,berat menahan
air bekas hujan.
Aku menghela nafasku,menatap setengah wajah
so hyun yang diterpa cahaya matahari senja,cahaya bulan yang pelan pelan
menyusup membuat wajah itu menajadi semakin sempurna,aku menghela nafasku.lalu
perlahan setiap tarikan nya menjadi seringan kapas.so hyun memalingkan wajahnya,kembali
menatap mataku.
Karena
bukan apa yang kalian ungkapkan tapi apa yang kalian rasakan.
Dan akhirnya kata kata itu benar benar
tercerna dengan baik.
Hari
ini bersama langit yang memudar dan merona,bersama cahaya cristal yang dingin,bersama
pasir putih yang lembut,diantara matahari terbenam dan ribuan calona yang
merayap di bawah semak pinus,tepat ketika semburat yang indah menerpa dan
membuat bayangan,berakhirlah sebuah dongeng dari tepi pantai eurwangni,sekaligus
dimulailah kisah yang benar benar nyata.
24-2-15

Tidak ada komentar:
Posting Komentar