Aku
memandangi jam dinding yang menempel miring di samping jendela,bunyi nya
semakin nyaring ketika aku melihat lampu lampu rumah sudah di padamkan,artinya
semua orang di rumah ini sudah tidur.
Tangan kananku menumpu dagu ku yang
lunglai, tangan kiriku masih membuka buka
buku di depan wajahku bunyi nya berisik dan sedikit mengganggu.
apa lagi yang harus ku lakukan untuk
tidak melihat warna merah dan coretan silang di kertas ulangan besok,segala hal
sudah kulakukan di ulangan ulangan sebelumnya,dan satu pun dari banyak cara itu
tak bisa membantuku,mulai dari membuat contekan ala pencari alamat alias memory
external bin menulis contekan di kertas kecil,curi curi baca atau definisi
keren di kalangan kami membuka buku di bawah laci ,foto copi super mini,cari inspirasi
di wc,sampai ngebatik di tangan dan meja.semua nya dan tidak pernah berhasil.akhir
akhir ini aku malah merasa tinggal di pedalaman pegunungan alpen atau mungkin
di wilayah kutub utara yang terkena aurora,sungguh aku bahkan tak bisa meng updete
foto selvi ku karna hp ku disita,semua karna aku minta bantuan dari mbah goggle
memang harus nya tida sepeti itu,kata bunda aku hanya malas belajar.
Aku melirik jam miring itu lagi,entah kenapa
detakan nya terasa begitu menyebalkan.besok...hari itu besok dan aku benar
benar takan bisa menghapal rumus rumus itu.
Ahkh...
Aku mengacak acak rambutku,menutup buku
setebal 20 cm itu, menghentakannya, membuat meja sedikit bergetar,sekarang wajahku
sudah menyentuh meja belajar merah muda yang ditolak mentah mentah oleh kaka
perempuanku,kaka perempuan ku yang mengambil les piano dan balet? dan aku yang
harus memakainya.
Aku diam,kepalaku terjatuh lunglai,kamar
ku sepi,mata ku hampir menutup sebelum berputar dan menemukan poster besar di
dekat lemari pakaian di sudut kiri,entah kekuatan apa itu.tapi seperti bukan
kaki ku aku melangkah kearah poster itu,seperti bukan bibir ku aku tersenyum
menatap wajah itu.
Aku berdiri tepat didepannya,bergumam
seperti orang gila,wajah itu ,dia tampan dan pintar matematika,mungkin dengan
melihat wajahnya saja aku akan mendapatkan inspirasi cara mencontek berikutnya.
“oppa
kau bisa membantuku...oppa aku tak tau mau bagimana lagi,kau harus memberiku
ide...apa aja oppa”.
“apa aku
harus menghapalkan semuanya,itu tentu tak masuk akal,membuka buku di laci
lagi,ah...bunda pasti malu karna akan di panggil ke sekolah lagi,bagaimana dengan
fotokofi super mini...itu bodoh,saat aku melakukannya fotokopi itu benar benar
tak terlihat seperti angka atau huruf,bagaimana dengan membuat batik
lagi,dimasa lalu, beberapa minggu lalu,aku membuatnya sampai lelah dan menghilangkannya
tak sampai semenit saat membasuh telapak tangan ku...oh oppa”aku berlutut
didepan posternya.”apa aku harus menempelnya di pantat guruku”.
Kami berdua diam,laki laki bermata sipit itu
seperti menatapku,wajah angkuhnya mengamati wajah konyol ku,sungguh aku sengaja
menjauhi kaca besar di kamar ini agar tak melihat sesuatu yang konyol
terpantul.
Suasana dikamar ku semakin aneh.sunyi, tak
ada yang bicara,tapi entah apa itu,sesuatu seperti memasuki sela sela
otakku.membuat jiwa muda ku yang liar tiba tiba menjadi optimis.
Aku tersenyum miring di depan laki laki itu,mengangguk
seperti baru saja mendapatkan perintah jahat,mundur perlahan dan sebelum
melangkah aku meliriknya lagi,aku seperti melihatnya mengedipkan matanya
padaku,di bawah poster itu tertulus nama sakral yang akan membantuku menjawab
dampak positip menjadi kpop,pertanyaan harian yang akan kudengar dari bunda
saat membunyikan lagu lagu itu terlalu nyaring.choi kyuhyun.
Aku melangkah kecil, duduk lagi di meja
dengan warna valentine itu,merobek beberapa lembar buku ku dan mulai menulis.
Kertas ini akan ku tempelkan dibeberapa
sudut. di beberapa sudut, yang takan di ketahui.percayalah ini kesuksesanku.
.............
Aku duduk di ruang kelasku,sendirian.kertas
kertas kecil itu tertempel manis dibeberapa sisi,mading kelas yang hanya berjarak
beberapa meter dariku.di sela sela foto presiden.aku tau takan ada yang
memperhatikan mereka diatas sana,dan tempelan terakhir adalah di tempat
memalukan,dimana tak ada seorang pun dikelas ini yang sudi menegur atau mungkin
menyinggung,mereka terlalu anggun untuk menyebut namanya,terlalu terhormat
untuk menarik tempelannya.di pantat guruku.hey...aku perlu mencoba kan.
.............
Kelas penuh,dan sekarang ada kertas
menyebalkan itu didepanku,tapi tak apa aku akan membuat kejutan hari ini.benar
yang kufikirkan tentang diriku, aku jenius soal menyontek hanya beberapa kali
aku sial,hanya itu saja,beberapa teman ku melirikku sinis,mereka tentu tau
siapa yang menempel kertas di pantat pak guruku,tapi seperti yang kubilang
mereka takan bicara.
semua soal sudah terisi saat bel akan
berbunyi.di akhir soal,saat aku mengintip di sela mading,kertas sialan itu
melayang terjatuh. entah jin atau setan apa yang baru saja lewat hingga membuat
angin menyentuhnya.aku menghela nafasku,melirik kiri kanan,dan baik baik saja
tak ada yang melihatnya,pak guru sedang duduk dikursinya dan tidak menyadari
kertas yang menempel di bagian tubuhnya,aku berencana mengambilnya setelah ia
berjalan keluar dari kelas.
Saat hampir semua murid sudah
mengumpulkan kertasnya.aku melangkah pasti,menaruh kertasku di meja,menginjak salah
satu kertas contekan yang tadi terjatuh dilantai , menyeretnya hingga tak ada
yang curiga.aku benar benar beruntung kali ini.semua akan baik baik saja.
..............
Seminggu setelah hari itu,aku duduk mantap
dibangku ku , aku benar benar optimis tentang nilaiku,aku melirik kaca jendela
yang terkena embun di samping tubuhku,bekas
hujan tadi malam,benar benar indah,sungguh tak ada hari seindah hari ini,pak
guru masuk tergesa gesa.mungkin ada pengumuman mengejutkan yang membuat
wajahnya sedikit tidak seperti biasanya,ia duduk perlahan lalu memandangi wajah
kami,dan aku benar benar siap dipanggil kedepan kelas dan di puji.
Ia menghela nafasnya sebelum bicara,mataku
dan mata semua teman teman di kelas ini mengamatinya lekat kekat.
“seperti
yang kalian tau tadi malam hujam lebat sekali”.ahh ... pah guru berbasa basi
dengan bermetafora
“bapa
mohon maaf,kertas ulangan kalian kena hujan sebelum bapa periksa, jadi akan
diadakan ulangan susulan minggu depan, bapa benar benar minta maaf,lagi pula
semua soal masih soal yang sama”.
Semua orang mengeluh, protes dan
marah,tapi dari semua orang dikelas ini aku lah yang paling tersakiti,tiba tiba
tubuh tegap ku yang siap dengan pujian melemah.melorot,dan tanpa kusadari aku sudah
terisak nyaring sekali,semua mata memandangiku.beberapa turut berduka cita atas
kesuksesan mencontekku yang tertunda lagi,beberapa menahan tawa karna bahagia,
teman mereka gagal culas lagi.sial.
Bunda...sepertinya aku benar benar harus
belajar untuk ulangan susulan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar