Rabu, 25 Februari 2015

“Culas Yang Lagi lagi Tertunda”




       Aku memandangi jam dinding yang menempel miring di samping jendela,bunyi nya semakin nyaring ketika aku melihat lampu lampu rumah sudah di padamkan,artinya semua orang di  rumah ini sudah tidur.
      Tangan kananku menumpu dagu ku yang lunglai, tangan kiriku masih membuka buka  buku di depan wajahku bunyi nya berisik dan sedikit mengganggu.
           apa lagi yang harus ku lakukan untuk tidak melihat warna merah dan coretan silang di kertas ulangan besok,segala hal sudah kulakukan di ulangan ulangan sebelumnya,dan satu pun dari banyak cara itu tak bisa membantuku,mulai dari membuat contekan ala pencari alamat alias memory external bin menulis contekan di kertas kecil,curi curi baca atau definisi keren di kalangan kami membuka buku di bawah laci ,foto copi super mini,cari inspirasi di wc,sampai ngebatik di tangan dan meja.semua nya dan tidak pernah berhasil.akhir akhir ini aku malah merasa tinggal di pedalaman pegunungan alpen atau mungkin di wilayah kutub utara yang terkena aurora,sungguh aku bahkan tak bisa meng updete foto selvi ku karna hp ku disita,semua karna aku minta bantuan dari mbah goggle memang harus nya tida sepeti itu,kata bunda aku hanya malas belajar.
     Aku melirik jam miring itu lagi,entah kenapa detakan nya terasa begitu menyebalkan.besok...hari itu besok dan aku benar benar takan bisa menghapal rumus rumus itu.
Ahkh...
     Aku mengacak acak rambutku,menutup buku setebal 20 cm itu, menghentakannya, membuat meja sedikit bergetar,sekarang wajahku sudah menyentuh meja belajar merah muda yang ditolak mentah mentah oleh kaka perempuanku,kaka perempuan ku yang mengambil les piano dan balet? dan aku yang harus memakainya.
      Aku diam,kepalaku terjatuh lunglai,kamar ku sepi,mata ku hampir menutup sebelum berputar dan menemukan poster besar di dekat lemari pakaian di sudut kiri,entah kekuatan apa itu.tapi seperti bukan kaki ku aku melangkah kearah poster itu,seperti bukan bibir ku aku tersenyum menatap wajah itu.
   Aku berdiri tepat didepannya,bergumam seperti orang gila,wajah itu ,dia tampan dan pintar matematika,mungkin dengan melihat wajahnya saja aku akan mendapatkan inspirasi cara mencontek berikutnya.
“oppa kau bisa membantuku...oppa aku tak tau mau bagimana lagi,kau harus memberiku ide...apa aja oppa”.
“apa aku harus menghapalkan semuanya,itu tentu tak masuk akal,membuka buku di laci lagi,ah...bunda pasti malu karna akan di panggil ke sekolah lagi,bagaimana dengan fotokofi super mini...itu bodoh,saat aku melakukannya fotokopi itu benar benar tak terlihat seperti angka atau huruf,bagaimana dengan membuat batik lagi,dimasa lalu, beberapa minggu lalu,aku membuatnya sampai lelah dan menghilangkannya tak sampai semenit saat membasuh telapak tangan ku...oh oppa”aku berlutut didepan posternya.”apa aku harus menempelnya di pantat guruku”.
   Kami berdua diam,laki laki bermata sipit itu seperti menatapku,wajah angkuhnya mengamati wajah konyol ku,sungguh aku sengaja menjauhi kaca besar di kamar ini agar tak melihat sesuatu yang konyol terpantul.
     Suasana dikamar ku semakin aneh.sunyi, tak ada yang bicara,tapi entah apa itu,sesuatu seperti memasuki sela sela otakku.membuat jiwa muda ku yang liar tiba tiba menjadi optimis.
   Aku tersenyum miring di depan laki laki itu,mengangguk seperti baru saja mendapatkan perintah jahat,mundur perlahan dan sebelum melangkah aku meliriknya lagi,aku seperti melihatnya mengedipkan matanya padaku,di bawah poster itu tertulus nama sakral yang akan membantuku menjawab dampak positip menjadi kpop,pertanyaan harian yang akan kudengar dari bunda saat membunyikan lagu lagu itu terlalu nyaring.choi kyuhyun.
    Aku melangkah kecil, duduk lagi di meja dengan warna valentine itu,merobek beberapa lembar buku ku dan mulai menulis.
    Kertas ini akan ku tempelkan dibeberapa sudut. di beberapa sudut, yang takan di ketahui.percayalah ini kesuksesanku.
.............
                 Aku duduk di ruang kelasku,sendirian.kertas kertas kecil itu tertempel manis dibeberapa sisi,mading kelas yang hanya berjarak beberapa meter dariku.di sela sela foto presiden.aku tau takan ada yang memperhatikan mereka diatas sana,dan tempelan terakhir adalah di tempat memalukan,dimana tak ada seorang pun dikelas ini yang sudi menegur atau mungkin menyinggung,mereka terlalu anggun untuk menyebut namanya,terlalu terhormat untuk menarik tempelannya.di pantat guruku.hey...aku perlu mencoba kan.
.............
         Kelas penuh,dan sekarang ada kertas menyebalkan itu didepanku,tapi tak apa aku akan membuat kejutan hari ini.benar yang kufikirkan tentang diriku, aku jenius soal menyontek hanya beberapa kali aku sial,hanya itu saja,beberapa teman ku melirikku sinis,mereka tentu tau siapa yang menempel kertas di pantat pak guruku,tapi seperti yang kubilang mereka takan bicara.
        semua soal sudah terisi saat bel akan berbunyi.di akhir soal,saat aku mengintip di sela mading,kertas sialan itu melayang terjatuh. entah jin atau setan apa yang baru saja lewat hingga membuat angin menyentuhnya.aku menghela nafasku,melirik kiri kanan,dan baik baik saja tak ada yang melihatnya,pak guru sedang duduk dikursinya dan tidak menyadari kertas yang menempel di bagian tubuhnya,aku berencana mengambilnya setelah ia berjalan keluar dari kelas.
        Saat hampir semua murid sudah mengumpulkan kertasnya.aku melangkah pasti,menaruh kertasku di meja,menginjak salah satu kertas contekan yang tadi terjatuh dilantai , menyeretnya hingga tak ada yang curiga.aku benar benar beruntung kali ini.semua akan baik baik saja.
..............
    Seminggu setelah hari itu,aku duduk mantap dibangku ku , aku benar benar optimis tentang nilaiku,aku melirik kaca jendela yang  terkena embun di samping tubuhku,bekas hujan tadi malam,benar benar indah,sungguh tak ada hari seindah hari ini,pak guru masuk tergesa gesa.mungkin ada pengumuman mengejutkan yang membuat wajahnya sedikit tidak seperti biasanya,ia duduk perlahan lalu memandangi wajah kami,dan aku benar benar siap dipanggil kedepan kelas dan di puji.
     Ia menghela nafasnya sebelum bicara,mataku dan mata semua teman teman di kelas ini mengamatinya lekat kekat.
“seperti yang kalian tau tadi malam hujam lebat sekali”.ahh ... pah guru berbasa basi dengan bermetafora
“bapa mohon maaf,kertas ulangan kalian kena hujan sebelum bapa periksa, jadi akan diadakan ulangan susulan minggu depan, bapa benar benar minta maaf,lagi pula semua soal masih soal yang sama”.
       Semua orang mengeluh, protes dan marah,tapi dari semua orang dikelas ini aku lah yang paling tersakiti,tiba tiba tubuh tegap ku yang siap dengan pujian melemah.melorot,dan tanpa kusadari aku sudah terisak nyaring sekali,semua mata memandangiku.beberapa turut berduka cita atas kesuksesan mencontekku yang tertunda lagi,beberapa menahan tawa karna bahagia, teman mereka gagal culas lagi.sial.
  Bunda...sepertinya aku benar benar harus belajar untuk ulangan susulan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik