Kamis, 26 Februari 2015

Teman curhat ku





    
         Sedetik,dua detik, tiga detik,orang didepanku masih diam,membeku,memperhatikan wajahku yang masih menunggu responnya.diluar hujan turun lagi,runtuh sudah langit hitam tadi.coklat hangat di depan wajah kami mengepul,terbang di sapu angin dari jendela.
   Empat detik ketika dia menghela nafas panjang,tersenyum kecil dan mengagguk.
“aku mencoba mengerti”.
    Aku menghela nafasku,belum lega sebenarnya,menatap wajahnya lagi, dari orang ini aku selalu mendapatlan banyak hal untuk menyelesaikan masalahku.
“gini lif..laki laki itu semkin di kejar semakin tidak merasa nyaman,mereka punya kodrat untuk memilih dan mengejar,bukan dikejar”.
“bukan begitu,kau tau aku suka dia dari smp,dan sekarang dia sendirian”.
      Ren menatap mataku,menghela nafasnya lagi,menatap hujan yang sekarang mulai reda,menyentuh ransel di samping tubuhnya.
“aku ada les,nanti kita bicarakan lagi ya”.
    Aku mengangguk lambat,tidak biasanya seperti ini,ren tersenyum sebelum membuka pintu kafe,entah itu tersenyum atau apa yang ku tau ia tidak seperti biasanya,aku menghela nafasku lagi sebelum beranjak pulang.
……………..
      Koridor sekolah jam enam pagi ketika aku melihat bahu ren dari kaca kelas tiga,ia menatap sebuah buku tebal atau mencoret coret sesuatu dan memasang kaca matanya,ini terlalu pagi,aku tau,kalau aku mau menemui nya untuk urusan penting aku harus sampai disekolah dijam seperti ini.
“apa yang kau baca?”.
    Buku itu hampir terjatuh ke lantai ketika aku menegurnya,ia melotot menatapku,mengatur nafasnya sambil tersenyum.
“logaritma”.
 “apa kau harus baca buku buku setebal itu”.
    Ia tersenyum lagi seperti kebiasaan nya.
“ada apa”.
      Ia menatap mataku,meletakan buku nya diujung meja.
“sudah kubilang kemarin,ini tentang pet”.
“kau benar benar menyukainya”.
     Aku mengagguk.
“kau yakin itu tidak seperti obsesi”.
    Sekali lagi aku menganguk,ia meletakan kaca matanya diatas buku,mengambil sesuatu dari kantong celananya.
“aku mendapatkannya dari kelas music,jangan terlihat kau sangat menginginkannya”.
     Untuk ketiga kalinya aku mengangguk,ren menaruh kertas putih di atas meja,semua akun milik peter,ia bahkan mendapatkan nomor henphon dan telphon rumahnya,aku terlonjak, beranjak dari bangku di depan meja ren,di depanku lagi lagi ia tersenyum.
“sudah kubilang kan jangan terlihat terlalu menginginkannya”.
……………
       24 agustus ketika aku menculik ren dari kamarnya,kami keluar rumah mengendap jam 12 malam,ia meraba mencari kaca matanya saat aku menarik selimut yang melilit tubuhnya,membawanya ke balkon rumahku.dari sini aku melihat dapat melihat kamarnya.
    Kaos putih dan celana pendek hitam nya terlihat menyedihkan,aku membuat dua cangkir kofi untuk kami,menaruhnya di sisi balkon,ia menatapku,bertanya kenapa aku membawanya ketempat ini.
    Malam itu hujan baru reda,bau harum dari tanah masih tercium,di langit bintang malu malu meyembul dari balik galaksi hitam yang terlau jauh untuk terlihat,daun willow berdesir terkena angin,aku menarik selimut di kamarku ke balkon,memakainya bersama ren,saat saat seperti ini ada saat dimana aku merasa semuanya sempurna,aku merasa tidak lagi membutuhkan siapapun setiap kali ren disini,di sampingku,sekali lagi ren menatapku.
“selamat ulang tahun ren,apa aku menjadi yang pertama kali mengatakannya”.
  


        Satu detik,dua detik,tiga detik hampir empat detik sampai ren tersenyum.aku mengambil kue tar dari lemari es,menaruhnya di lantai kayu balkon,ren meniup lilin angka satu dan tujuh,sengaja ku buat jadi tujuh puluh satu,ku bilang aku berharap sampai umur kami disana,aku akan tetap bersama ren,seperti biasa saat mendengar apa yang ku katakan ia akan tersenyum.
     Malam itu juga kami melepas lampion kecil kelangit,berdoa semoga apapun itu,akan terkabul.
   Aku menatap wajah ren lama sekali saat dia berdoa,saat dia mengusapkan tangan nya kewajah aku baru sadar aku bahkan tidak mengucapkan apapun untuk berdoa sampai lampion itu melayang di langit,ren tersenyum lagi saat menatap wajahku,tapi berbeda aku tau ini senyum yang berbeda.atau mungkin hanya aku yang merasa begitu.
     Malam itu,entah apa,aku tidak mengerti,sedetik setelah ren melepskan lampion kelangit,aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan,mungkin karna kami terlalu lama bersama, menjadi dewasa bersama sama,aku menjadi berharap juga tua bersama dengan nya,sementara aku memendam sms dari pet yang menyatakan cinta nya padaku,aku menyimpan sesuatu yang lebih besar.
“apa aku harus pulang,besok ada ulangan kan?”.
   Aku mengangguk,tapi hati ku menggeleng,hati ku ingin menahan ren disini,di balkon rumah ku,bersamaku.
   Malam itu juga beberapa menit setelah ren pulang ia mengirim ucapan selamat padaku,ia bilang ia tau aku sudah menjadi kekasih peter dari akunnya.aku tidak mengerti itu,tapi aku urung mengetik sms balasan untuknya.
……………
      Satu bulan,dua bulan,tiga bulan,ren tidak berubah masih sama,sementara aku terus berusaha bahagia bersama peter,ia juga tenggelam bersama buku bukunya,entah aku atau ren yang membuat semuanya berubah tapi perlahan kami memiliki jarak,dan aku takut jarak itu bisa lebih jauh dari sekarang.
    Dengan peter ku kira sekarang terasa melelahkan,aku harus menunggu berjam jam untuk permintaan nya,aku harus memperhatikannya bicara apa yang tidak aku sukai,aku harus diam saat dia bilang aku tak harus membicarakannya,pet menjadi seseorang yang tidak pernah kukenal sebalum aku mengenalnya sedalam sekarang.dia tetap tampan dan aku tau itu sebelum kami selalu bersama sama.
       
        
         dengan ren,semuanya berbeda,dulu aku tak suka setiap kali ia memakai kaca matanya,ku bilang lepaskan maka ia akan melepaskan nya sambil tersenyum,ren selalu membuat ku merasa punya ruang,ia akan mendengarkanku tanpa memaksaku untuk mendengarnya,mengingat semua ini dengan jarak kami yang terasa semakin jauh membuat ku muak menatap pet di depan ku,hari itu pertama kalinya aku beranjak dari bangku didepan peter,aku bahkan tidak mendengarnya memanggil namaku dan memutuskan hubungan kami, menyumpah dan mengatakan banyak hal yang menyakitiku,aku sadar itu setalah wajah  orang orang di sana ku ingat ketika aku duduk di tempat tidurku.berbaring melihat hujan di akhir tahun,aku tidak menangisi hubungan ku dengan pet,aku hanya tidak mengerti tentang diriku sendiri.aku menyesal untuk beberapa alasan yang tidak aku mengerti.
…………….
    Matahari…mungkin matahari yang membangunkanku,sore yang orange tertutup tubuh seseorang yang duduk disisi tempat tidurku,ia menatapku tapi tidak tersenyum,karena itu aku tak yakin dia ren,dia tidak memakai kaca matanya.hanya menatap ku lama sekali,sampai aku benar benar terbangun duduk disampingnya.
“kalian putus”.
     Kata kata itu semakin membangunkanku,aku mengangguk lambat.
“kau selalu mengangguk”.
     Ia diam,aku juga begitu.
“aku mungkin harusnya ikut sedih,tapi aku tidak bisa”.
     Angin menerbangkan horden di dekat jendela besar di belakang punggung ren.
“aku tidak tau nanti akan mendapatkan kesempatan ini lagi atau tida,atau seperti biasanya,aku akan terlambat”.
   Aku menatap wajah ren lebih dekat,mencari seseorang yang biasanya ku kenali,tapi seperti tidak disana.
“hari itu,jam enam pagi saat kau datang terlalu cepat ,aku menulis surat untuk mu”.
   Angin tidak menyentuh kulitku,tapi aku merasa tubuhku menjadi dingin.
“24 agustus saat aku meyakini sesuatu,saat aku akan mengatakan sesuatu,ingin menelphonmu,tidak sengaja melihat status peter berubah”.
“kau mungkin tidak menyadarinya,tapi hari itu kau memberikan hadiah terburuk yang pernah ku terima”.
      Aku menghela nafasku,sementara aku meraba raba apa yang terjadi pada aku dan ren,ren sudah berusaha menjelaskannya,tapi aku tidak mengerti.
“kau tau kenapa aku bertanya apa mungkin kau hanya menyukai peter karena obsesi,hanya ingin menawar saja,semoga kau mengagguk seperti biasanya,tapi itu tidak kau lakukan”.
“berulang kali menjauh setiap kali melihat kau bersama peter membuat ku semakin tidak nyaman,tapi melihat kau selalu tersenyum bersamanya,lalu tidak lagi datang dan menceritakan banyak hal,membuat ku keliru kau baik baik saja”.
       Aku tidak tau kenapa air mataku perlahan jatuh,ren disampingku dan rasa hangat didadaku seperti kembali lagi,apapun yang dia katakan hari ini,dia tak pernah bicara sebanyak ini selama aku mengenalnya,aku menatap matanya dan selama aku menunduk ia terus menatap wajahku,aku tidak menyadarinya sampai aku juga menatap wajahnya,seperti itukah yang dari dulu terjadi pada kami.
“aku tidak tau apa kau serius atau tida saat bilang ingin bersama ku sampai umur kita tujuh puluh satu,tapi aku tidak mengharapkannya,aku ingin lebih dari tujuh puluh satu tahun”.
“aku menyukai mu selama yang tidak pernah kau bayangkan”.
      Mataku mengerjap menatap wajahnya,harapan ku untuk tua bersama itu benar dan aku tidak bercanda,ren datang dan meminta sesuatu yang ingin aku minta darinya,hanya saja aku tidak mengerti hatiku,wajah ren ketika menatapku kaku sekali,tidak pernah seperti ini sebelumnya,ia bahkan tidak tersenyum seperti biasanya.
   Saat ia akan berbalik menjauh,aku mencekat tangan nya,membiarkan matahari sempurna menerpa wajahnya,bagiku hari ini ren tampan,memakai kaca matanya atau tida,bagiku ren yang ku inginkan,kapan pun aku mulai menyadarinya,bagiku ren harus bersamaku,masih atau tida dia menginginkanku,saat matahari itu meredup lagi,ren berbalik menatapku,terhenti,diam.
     Jantung ku berdetak tidak pernah separah ini,kulit ku tidak pernah sedingin ini,dan perlahan seperti berangsur berhenti ketika,ren tersenyum menatapku,senyum yang biasanya ku dapatkan setiap hari.
    Ren duduk berlutut di dekat tempat tidurku,aku duduk disisi ranjang berhadapan dengan nya,hari itu aku tau bahwa … aku tidak lagi harus menceritakan seseorang padanya,aku tidak lagi merasa sesuatu seperti tertahan di dadaku,bersama orang ini,aku tau bahwa kami harus berbagi,apapun itu.
   Saat angin sekali lagi menerpa horden di jendela,ren mendekat dan memelukku.

End

 29-12-14  (diadaptasi dari cerpen “curhat, di blog curhat” yang mulai ditulis 7-10-13 jam 9:23)

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik