Sedetik,dua detik, tiga detik,orang
didepanku masih diam,membeku,memperhatikan wajahku yang masih menunggu
responnya.diluar hujan turun lagi,runtuh sudah langit hitam tadi.coklat hangat
di depan wajah kami mengepul,terbang di sapu angin dari jendela.
Empat detik ketika dia menghela nafas
panjang,tersenyum kecil dan mengagguk.
“aku mencoba mengerti”.
Aku menghela nafasku,belum lega
sebenarnya,menatap wajahnya lagi, dari orang ini aku selalu mendapatlan banyak
hal untuk menyelesaikan masalahku.
“gini lif..laki laki
itu semkin di kejar semakin tidak merasa nyaman,mereka punya kodrat untuk
memilih dan mengejar,bukan dikejar”.
“bukan begitu,kau tau
aku suka dia dari smp,dan sekarang dia sendirian”.
Ren menatap mataku,menghela nafasnya
lagi,menatap hujan yang sekarang mulai reda,menyentuh ransel di samping
tubuhnya.
“aku ada les,nanti kita
bicarakan lagi ya”.
Aku mengangguk lambat,tidak biasanya
seperti ini,ren tersenyum sebelum membuka pintu kafe,entah itu tersenyum atau
apa yang ku tau ia tidak seperti biasanya,aku menghela nafasku lagi sebelum
beranjak pulang.
……………..
Koridor sekolah jam enam pagi ketika aku
melihat bahu ren dari kaca kelas tiga,ia menatap sebuah buku tebal atau
mencoret coret sesuatu dan memasang kaca matanya,ini terlalu pagi,aku tau,kalau
aku mau menemui nya untuk urusan penting aku harus sampai disekolah dijam
seperti ini.
“apa yang kau baca?”.
Buku itu hampir terjatuh ke lantai ketika
aku menegurnya,ia melotot menatapku,mengatur nafasnya sambil tersenyum.
“logaritma”.
“apa kau harus baca buku buku setebal itu”.
Ia tersenyum lagi seperti kebiasaan nya.
“ada apa”.
Ia menatap mataku,meletakan buku nya
diujung meja.
“sudah kubilang
kemarin,ini tentang pet”.
“kau benar benar
menyukainya”.
Aku mengagguk.
“kau yakin itu tidak
seperti obsesi”.
Sekali lagi aku menganguk,ia meletakan kaca
matanya diatas buku,mengambil sesuatu dari kantong celananya.
“aku mendapatkannya
dari kelas music,jangan terlihat kau sangat menginginkannya”.
Untuk ketiga kalinya aku mengangguk,ren
menaruh kertas putih di atas meja,semua akun milik peter,ia bahkan mendapatkan
nomor henphon dan telphon rumahnya,aku terlonjak, beranjak dari bangku di depan
meja ren,di depanku lagi lagi ia tersenyum.
“sudah kubilang kan
jangan terlihat terlalu menginginkannya”.
……………
24
agustus ketika aku menculik ren dari kamarnya,kami keluar rumah mengendap jam
12 malam,ia meraba mencari kaca matanya saat aku menarik selimut yang melilit
tubuhnya,membawanya ke balkon rumahku.dari sini aku melihat dapat melihat
kamarnya.
Kaos putih dan celana pendek hitam nya
terlihat menyedihkan,aku membuat dua cangkir kofi untuk kami,menaruhnya di sisi
balkon,ia menatapku,bertanya kenapa aku membawanya ketempat ini.
Malam itu hujan baru reda,bau harum dari
tanah masih tercium,di langit bintang malu malu meyembul dari balik galaksi
hitam yang terlau jauh untuk terlihat,daun willow berdesir terkena angin,aku
menarik selimut di kamarku ke balkon,memakainya bersama ren,saat saat seperti
ini ada saat dimana aku merasa semuanya sempurna,aku merasa tidak lagi
membutuhkan siapapun setiap kali ren disini,di sampingku,sekali lagi ren
menatapku.
“selamat ulang tahun
ren,apa aku menjadi yang pertama kali mengatakannya”.
Satu detik,dua detik,tiga detik hampir
empat detik sampai ren tersenyum.aku mengambil kue tar dari lemari
es,menaruhnya di lantai kayu balkon,ren meniup lilin angka satu dan tujuh,sengaja
ku buat jadi tujuh puluh satu,ku bilang aku berharap sampai umur kami
disana,aku akan tetap bersama ren,seperti biasa saat mendengar apa yang ku
katakan ia akan tersenyum.
Malam itu juga kami melepas lampion kecil
kelangit,berdoa semoga apapun itu,akan terkabul.
Aku menatap wajah ren lama sekali saat dia
berdoa,saat dia mengusapkan tangan nya kewajah aku baru sadar aku bahkan tidak
mengucapkan apapun untuk berdoa sampai lampion itu melayang di langit,ren
tersenyum lagi saat menatap wajahku,tapi berbeda aku tau ini senyum yang
berbeda.atau mungkin hanya aku yang merasa begitu.
Malam itu,entah apa,aku tidak
mengerti,sedetik setelah ren melepskan lampion kelangit,aku merasakan sesuatu
yang tidak pernah aku rasakan,mungkin karna kami terlalu lama bersama, menjadi
dewasa bersama sama,aku menjadi berharap juga tua bersama dengan nya,sementara
aku memendam sms dari pet yang menyatakan cinta nya padaku,aku menyimpan
sesuatu yang lebih besar.
“apa aku harus
pulang,besok ada ulangan kan?”.
Aku mengangguk,tapi hati ku menggeleng,hati
ku ingin menahan ren disini,di balkon rumah ku,bersamaku.
Malam itu juga beberapa menit setelah ren
pulang ia mengirim ucapan selamat padaku,ia bilang ia tau aku sudah menjadi
kekasih peter dari akunnya.aku tidak mengerti itu,tapi aku urung mengetik sms
balasan untuknya.
……………
Satu bulan,dua bulan,tiga bulan,ren tidak
berubah masih sama,sementara aku terus berusaha bahagia bersama peter,ia juga
tenggelam bersama buku bukunya,entah aku atau ren yang membuat semuanya berubah
tapi perlahan kami memiliki jarak,dan aku takut jarak itu bisa lebih jauh dari
sekarang.
Dengan peter ku kira sekarang terasa
melelahkan,aku harus menunggu berjam jam untuk permintaan nya,aku harus
memperhatikannya bicara apa yang tidak aku sukai,aku harus diam saat dia bilang
aku tak harus membicarakannya,pet menjadi seseorang yang tidak pernah kukenal
sebalum aku mengenalnya sedalam sekarang.dia tetap tampan dan aku tau itu sebelum
kami selalu bersama sama.
dengan ren,semuanya berbeda,dulu aku
tak suka setiap kali ia memakai kaca matanya,ku bilang lepaskan maka ia akan
melepaskan nya sambil tersenyum,ren selalu membuat ku merasa punya ruang,ia
akan mendengarkanku tanpa memaksaku untuk mendengarnya,mengingat semua ini
dengan jarak kami yang terasa semakin jauh membuat ku muak menatap pet di depan
ku,hari itu pertama kalinya aku beranjak dari bangku didepan peter,aku bahkan
tidak mendengarnya memanggil namaku dan memutuskan hubungan kami, menyumpah dan
mengatakan banyak hal yang menyakitiku,aku sadar itu setalah wajah orang orang di sana ku ingat ketika aku duduk
di tempat tidurku.berbaring melihat hujan di akhir tahun,aku tidak menangisi
hubungan ku dengan pet,aku hanya tidak mengerti tentang diriku sendiri.aku
menyesal untuk beberapa alasan yang tidak aku mengerti.
…………….
Matahari…mungkin matahari yang
membangunkanku,sore yang orange tertutup tubuh seseorang yang duduk disisi
tempat tidurku,ia menatapku tapi tidak tersenyum,karena itu aku tak yakin dia
ren,dia tidak memakai kaca matanya.hanya menatap ku lama sekali,sampai aku
benar benar terbangun duduk disampingnya.
“kalian putus”.
Kata kata itu semakin membangunkanku,aku
mengangguk lambat.
“kau selalu
mengangguk”.
Ia diam,aku juga begitu.
“aku mungkin harusnya
ikut sedih,tapi aku tidak bisa”.
Angin menerbangkan horden di dekat jendela
besar di belakang punggung ren.
“aku tidak tau nanti
akan mendapatkan kesempatan ini lagi atau tida,atau seperti biasanya,aku akan
terlambat”.
Aku menatap wajah ren lebih dekat,mencari
seseorang yang biasanya ku kenali,tapi seperti tidak disana.
“hari itu,jam enam pagi
saat kau datang terlalu cepat ,aku menulis surat untuk mu”.
Angin tidak menyentuh kulitku,tapi aku
merasa tubuhku menjadi dingin.
“24 agustus saat aku
meyakini sesuatu,saat aku akan mengatakan sesuatu,ingin menelphonmu,tidak
sengaja melihat status peter berubah”.
“kau mungkin tidak
menyadarinya,tapi hari itu kau memberikan hadiah terburuk yang pernah ku
terima”.
Aku menghela nafasku,sementara aku meraba
raba apa yang terjadi pada aku dan ren,ren sudah berusaha menjelaskannya,tapi
aku tidak mengerti.
“kau tau kenapa aku
bertanya apa mungkin kau hanya menyukai peter karena obsesi,hanya ingin menawar
saja,semoga kau mengagguk seperti biasanya,tapi itu tidak kau lakukan”.
“berulang kali menjauh
setiap kali melihat kau bersama peter membuat ku semakin tidak nyaman,tapi
melihat kau selalu tersenyum bersamanya,lalu tidak lagi datang dan menceritakan
banyak hal,membuat ku keliru kau baik baik saja”.
Aku tidak tau kenapa air mataku perlahan
jatuh,ren disampingku dan rasa hangat didadaku seperti kembali lagi,apapun yang
dia katakan hari ini,dia tak pernah bicara sebanyak ini selama aku
mengenalnya,aku menatap matanya dan selama aku menunduk ia terus menatap
wajahku,aku tidak menyadarinya sampai aku juga menatap wajahnya,seperti itukah
yang dari dulu terjadi pada kami.
“aku tidak tau apa kau
serius atau tida saat bilang ingin bersama ku sampai umur kita tujuh puluh
satu,tapi aku tidak mengharapkannya,aku ingin lebih dari tujuh puluh satu
tahun”.
“aku menyukai mu selama
yang tidak pernah kau bayangkan”.
Mataku mengerjap menatap wajahnya,harapan
ku untuk tua bersama itu benar dan aku tidak bercanda,ren datang dan meminta
sesuatu yang ingin aku minta darinya,hanya saja aku tidak mengerti hatiku,wajah
ren ketika menatapku kaku sekali,tidak pernah seperti ini sebelumnya,ia bahkan
tidak tersenyum seperti biasanya.
Saat ia akan berbalik menjauh,aku mencekat
tangan nya,membiarkan matahari sempurna menerpa wajahnya,bagiku hari ini ren
tampan,memakai kaca matanya atau tida,bagiku ren yang ku inginkan,kapan pun aku
mulai menyadarinya,bagiku ren harus bersamaku,masih atau tida dia
menginginkanku,saat matahari itu meredup lagi,ren berbalik
menatapku,terhenti,diam.
Jantung ku berdetak tidak pernah separah
ini,kulit ku tidak pernah sedingin ini,dan perlahan seperti berangsur berhenti
ketika,ren tersenyum menatapku,senyum yang biasanya ku dapatkan setiap hari.
Ren duduk berlutut di dekat tempat
tidurku,aku duduk disisi ranjang berhadapan dengan nya,hari itu aku tau bahwa …
aku tidak lagi harus menceritakan seseorang padanya,aku tidak lagi merasa
sesuatu seperti tertahan di dadaku,bersama orang ini,aku tau bahwa kami harus
berbagi,apapun itu.
Saat angin sekali lagi menerpa horden di
jendela,ren mendekat dan memelukku.
End
29-12-14
(diadaptasi dari cerpen “curhat, di blog curhat” yang mulai ditulis
7-10-13 jam 9:23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar