Rabu, 25 Februari 2015

Before wedding



Jika cinta seperti pemberhentian bus,maka akan selalu ada pilihan untuk pergi atau membiarkan bus itu berlalu.
   
          Terkadang aku merasa hidup adalah untuk menunggunya,meyakini bahwa akan ada saat dimana aku akan benar benar disampingnya.berhenti melupakannya adalah menyakitiku,itu yang kuyakini dan itu yang membuat ku terus merasa nyaman di sakiti.
       Musim gugur di akhir september,ketika daun daun mulai manua,crimson jatuh di atas sepatuku.akhir september adalah saat dimana hujan mulai sering turun.saat dimana aku akan sering melihta hujan lewat kaca di samping tempat tidurku,saat dimana aku mengharap kan orang itu lagi.
        Dalam sebuah kata kata aku meragukan diriku sendiri,aku bahkan tak bisa membaca dengan jelas tentang apa yang terjadi pada hidupku,tapi waktu berputar,aku di buat nya semakin mengerti,saat salju membekukanku,saat blosem menjadi merah muda,saat crimson menjadi kecoklatan dan saat udara hangat menyentuh kulitku. 4 hal yang tanpa rasa bersalah membuatku sadar,umur ku bertambah satu tahun lagi.
    4 hal yang sudah ku lewati empat kali,hari hari dimana aku terluka dengan leganya,setiap detik adalah sesuatu yang akan meledak,aku menahannya,dan dengan diam sakit itu terasa sempurna.
    Hari ini, di Gunung Naejangsan.aku akan melepaskan semunya,melepaskan rasa yang benar benar sudah gila,entah sejak kapan rasa itu mulai menyentuhku. Naejang berarti banyak rahasia dan San berarti gunung.dan disina aku akan membuka semua lembaran lembaran rahasia itu,sendirian,mungkin. dan nanti setelah ini,aku akan memulai yang baru,sesuatu yang kuharap benar benar membuat ku tenang.
       Kira kira hampir Tiga jam aku duduk di bus,sambil melihat ramalan cuaca di henphonku,hari ini akan banyak hujan turun katanya,aku menghela nafasku,kembali menatap kaca transparan yang sedikit berdebu,apapun yang kulakukan, hari itu akan tetap datang,dan aku harus tetap melanjutkan hidupku.semua akan baik baik saja,itu yang selalu aku ucapkan,kata kata yang membuat ku terlihat masih baik baik saja.
            Masih ku ingat dengan sangat jelas,saat ku bilang aku menginginkan seseorang,dan kubilang aku akan melupakan harapan itu,orang itu menatap ku,dalam.tidak pernah seperti itu,tangan nya menggapai tangan ku,lembut merapikan rambut ku.dan yang dia katakan adalah hal bodoh yang membuat sesuatu dalam dadaku terasa tercekik.
“aku mengejar kaka perempuanmu 4 tahun dan tidak pernah menyerah aku berharap kau juga begitu,karna sahabatku pernah mengatakan hal yang membuat ku benar benar tidak bisa menyerah”.
“saat kau menyerah kau terlihat seperti sampah”.
    Lalu apa yang harus ku lakukan kalau orang itu adalah orang yang mengatakannya padaku,orang yang akan menikahi kaka ku,orang yang membuatku terus berharap,orang yang ku kira akan mengikat sesuatu yang suci dengan ku.
      Aku berbalik setelah mengagguk lambat,melangkah tenang meski kaki ku layu,air mata ku terjatuh satu satu,angin hangat menerpa tubuhku,mungkin angin juga menerpa mataku,dan karna itu,air jatuh dari mataku.hari itu aku benar benar menjadi sampah.
         Satu minggu sebelum hari itu datang,hari pernikahan kaka ku dan orang itu.sedang disini lah aku, Naejangsan di kota Jeongeup propinsi Jeolla-do, tiga jam perjalanan dari Seoul,3 jam menyedihkan yang menyesakan.
       Aku melangkah lambat keluar dari ruang nyaman yang hangat,hampir di setiap sudut aku melihat gambar crimson menempel,indah sekali.dari stasiun  aku akan naik bus umum ke Naejangsan.hanya 20 menit lagi saja.aku menghela nafasku ketika menemukan suhu udara tak lebih dar 10 derajat.aku menarik jaket ku,mengeratkannya.perlahan duduk di kursi hampir paling belakang,di samping seorang laki laki dengan jeket tebal dan kertas,entah kertas apa itu,menempel di wajahnya.
     saat mataku menatap kaca disamping orang itu,ia mengeliat lalu menatap wajahku,aku membuang wajah ku kesamping tubuhku,menunduk dan mencoba menjadi biasa saja,ia diam,dan kembali memejamkan matanya,aku menghela nafas dan berjanji takan menatap arah itu lagi.
          Aku makan di terminal bus,dari balik kaca kaca bening didepan tubuhku,aku melihat laki laki yang tadi duduk disamping ku berlalu cepat.siapa perduli ?.aku mengosok gososkan telapak tangan ku yang baru saja ku buka sarung nya dan saat  wajah ku menegas ,menatap seseorang yang baru saja duduk di sebrang ku,berjarak beberapa meter dariku,aku kembali terkesan.orang yang sama.
…………
    masuk ke Naejangsan National Park,aku hanya mengambil jalur 4 kilometer sangat melelahkan,tentu.tapi hanya itulah yang akan membuat ku melupakan sesuatu yang harus kuhadapi beberapa hari lagi.di pintu masuk,aku menghela nafasku,mengeratkan jaket dan ranselku,ini mungkin bukan pendakian pertamaku,tapi akan menjadi yang pertama  tanpa rombongan keluargaku,kaka perempuan ku dan calon suaminya,entah apa itu tapi aku sudah mulai menerima kata kata “suami”.
      Banyak sekali orang yang juga sudah siap melakukan pendakian. Tujuan mereka sama  menikmati dan mengabadikan keindahan Naejangsan pada musim gugur.setidanya aku harus merasa banyak orang disini,aku tidak sendirain.
    Dari balik lalu lalang dan bayangan bayangan yang mulai tampak di tanah kecoklatan,aku melihat orang itu lagi,berdiri diantara pendaki lainnya dengan ransel dan minuman hangat di tangan nya,aku bertemu orang itu lagi.
…………..
           Aku menggosok gosokan telapak tangan ku,separuh wajah ku tenggelam diantara kerah jaket,di depan ku sup odeng mungkin akan sangat menghangatkan.aku meraih sendok disisi kanan menunduk lalu mulai menghirup kuahnya,dan saat wajahku ku tegakan kembali, seseorang duduk disana menatap ku sebentar sebelum memanggil pelayan.
     Hujan benar benar turun,seperti ramalan sialan itu,aku bahkan belum sampai ke observatory platform,ada sedikit pengecualian kekecewaan karna waktu ini benar benar waktu yang tepat untuk makan siang.
       Aku mengamati seseorang didepanku,wajahnya benar benar tak tertarik untuk memulai pertemanan,aku menghirup sup ku lagi,siapa perduli…
     Ia diam dan aku juga begitu,ketika setengah dari isi mangkok ku menghilang.aku menatap orang itu lagi,wajahnya tegak dengan angkuhnya tapi matanya tak bisa ku baca,saat mulut ku hampir terbuka untuk bicara,pelayan datang membawa makanan yang sama dengan yang kumakan,aku mengantup bibirku,menatap kesekeliling dimana tak satu pun bangku tempat makan ini kosong,mungkin itulah sebabnya ia duduk disebrangku,aku menghela nafaskudan menghirup sup ku lagi.
“pendakian 4 kilo meter”.
     Ia bicara tapi tidak mentapku,wajahnya menunduk dan memasukan makanan  ke mulutnya.
“ya”.
Aku menjawab singkat,dia orang asing sekarang.
“aku juga”.
“kebetulan”.
    Sunyi,kembali tak ada yang bicara,di luar hujan semakin deras.pendakian di hentikan.dan aku terjebak di situasi dimana aku bicara dengan robot.
“observatory platform dan Naejangsa temple”.ia menegakan kepalanya.
”aku akan kesana”.
    Aku mengangguklambat,tak perduli aku tampak mendengarkan nya atau tida.
“tujuanmu ?”.
      Aku menghela nafasku,kami bahkan tak saling menjabat tangan dan menyebutkan nama,tapi dia terdengar seperti mengenaliku.
“sama dengan mu,hanya sampai naejangsa temple,kali ini mungkin tidak pergi ke air terjun Dodeok dan Geumseon”.
“karna cuaca?”.
      Aku tersenyum kearahnya,ia mengagguk,entah apa yang ia tangkap dari eskpresiku.
“sebenarnya,seseorang menyuruhku menjaga kesehatan,aku harus datang kepesta pernikahannya”.
     Wajahnya menegak,dan mataku beralih keair hujan di samping jendela kaca besar di kiri meja kami.
“tidak terlihat baik baik saja”.
    Aku menatap nya.acuh,ia masih memakan sup adong nya.
“pergi bersama?”.
     Sekarang aku dapat menatap mata itu,segaris mata yang bersinar dengan senyuman tipis yang mengesankan.
     Aku menghela nafasku lagi,aku masih dapat melihat matanya menatap ku,dan ketika aku mengangguk.dengan cepat mata itu kembali menatap makananya,adongnya enak sekali.ia bahkan lebih tertarik menatap makanan itu dari pada lawan bicaranya.
………………
       Seharusnya aku akan sampai lebih awal dan akan bicara dengan alam,tapi yang terjadi adalah aku terjebak dengan orang ini,tapi ini tak seburuk yang akhirnya terjadi.
     kami mulai jalan lagi setelah bicara sedikit kata saat makan.didepan kami beberapa keluarga juga melanjutkan perjalanan mereka.ia melangkah acuh didepan ku,apa yang terjadi dengan kata kata “pergi bersama”.
     Hampir sepuluh meter dari tempat makan itu,ia berhenti ,memalingkan wajahnya  dan menatapku,ia berbalik dan mundur.tepat disamping ku ia berhenti.
“sudah kubilang pergi bersama kan?”.
“kau berjalan terlau cepat”.
“dan kau berjalan terlalu lambat”.
     Aku menatapnya,kepalaku sedikit mendongak.baru setelah kami berdiri berdampingan aku sadar ia terlalu tinggi.
    Sekarang aku berjalan lambat lambat,dan ia juga mulai berjalan seperti itu,dedaunan beterbangan di bawah kaki kami,kembali tak ada yang bicara. Hanya aku dan tuhan yang tau betapa aku ingin lari dari orang ini.
    Baru beberapa belas meter kami berjalan,gerimis mulai turun lagi.aku menatap nya dan saat itu ia juga menatapku,kami mulai menaruh ransel kami ke tanah yang lembab .mengambil jas hujan kami.orang orang juga sama seperti kami.memasang jas hujan mereka.dan yang terjadi adalah tanah lembap kecoklatan itu mejadi berwarna warni karna jas hujan.
     Kami mulai berjalan lagi,petugas mengatakan takan baik jika memaksa berjalan kaki ia bilang akan aman jika memakai cable car.
    Antrian panjang ketika kami benar benar memutuskan memakai cara mengecut itu,diantara kerumunan yang berdempetan seorang wanita tua menghampiri kami dan menawarkan ramalan tangan.perlahan aku menunjukan telapak tangan ku padanya,sekarang orang disamping ku ikut melakukan itu.
“kalian pasangan muda yang harmonis”.
   Kami bertatapan,aku dan laki laki itu,lalu saling membuang muka dan menutup telapak tangan kami.
“kau bukan peramal yang baik”.
      Aku mendongak lagi,dan mengangguk.
“kami bukan pasangan”.
   Aku menegaskan.
“tapi kalian terlihat seperti itu…mungkin nanti kalian akan menjadi pasangan”.
   Aku menghela nafasku dan laki laki disampingku mendengus kesal.
“kau berbohong benar benar berbohong,aku bahkan tak suka…… “.
    Suara nya tecekat,aku dan wanita tua itu menunggu lanjutan kata katanya.
“aku bahkan tak suka orang sepertinya”.
     Aku menyipitkan mataku dan merasa kan gatal di baku baku tangan ku,aku ingin menamparnya.
“apa kau merasa sangat tampan”.
   Aku menatapnya.
“aku memang tampan”.
“tidak setampan yang kau fikirkan”.
    Selama kami berdebat wanita itu kembali keantriannya yang entah dimana dan kami baru sadar orang orang memandangi kami dan mulai menertawai.aku menunduk dan kembali ke garis antrian.bukan sesuatu yang baik bertemu seseorang tak dikenal yang bahkan tak kau tau nama nya dan mengangguk ketik ia menawarkan pergi bersama.
    hanya beberapa menit setelah perdebatan itu,kami akhiranya mulai menaiki cable car,sesak dan ini benar benar mengesalkan.jangan tanyakan betapa jengkelnya aku karna tak berjarak lebih dari 3 senti dari manusia ajaib ini,tapi entah kenapa aku tak berfikir untuk pergi sendirian setelah ini.
        Lewat kaca cable car kami memadangi musim gugur dari atas sini,matahari mulai memancar redup dan hujan mulai reda,angin berhembus mebuat pohon chrimson bergoyang,warna coklat,orange,kuning,hijau bercampur menjadi satu,entah itu dedaunan atau jas jas hujan yang belum di lepaskan.daun daun musim gugur itu benar benar mempesona ketika butiran butiran air bekas hujan jatuh dari ujung daunnya.
     …...........
            Kami duduk di bebatuan berlumut disekitar Naejangsa temple,tempat budha sembahyang.laki laki itu mengeluarkan kamera dari tas ranselnya dan aku juga begitu kami mulai sibuk dengan kesibukan masing masing hingga laki laki disampingku meletakan kameranya dan menerawang menatap hamparan pohon yang sudah berubah sempurna dari atas sini,di atas kami sendiri satu pohon besar berdiri tegak dengan warna daun kecoklatan,beberapa air masih menetes ke bahu dan kepala kami.
“apa alasanku ke tempat ini,sendirian?”.
   Ia tidak menatap ku, wajahnya masih menatap hamparan di depan kami.
“ada sesuatu yang tak bisa ku ceritakan pada orang yang baru ku kenal”.
   Ia tersenyum, bibirnya manis saat itu,dari balik dedaunan crimson cahaya keemasaan mulai masuk,angin menerpa kami.
“aku pergi karna ingin melupakan masalah ku”.
      Aku menatapnya,tapi ia tetap menatap apa yang terlihat didepannya.
“kau pernah punya pacar?”.
    Aku hampir tersedak .
“entahlah”.
    Aku tau ia tak butuh jawabanku.
“aku mencintai sahabatku”.
    Aku diam,dan menunduk,menarik nafasku panjang dan menatap hamparan di depanku, sama seperti orang disampingku.
“aku mencintai calon kaka ipar ku”.
     Aku mengatakannya lambat lambat,sekarang ia mentap ku,mata kami beradu,ia tersenyum tipis.
“aku benar benar mencintainya,aku mencintainya 4 tahun.tapi aku merasa akan lebih baik jika selamannya orang itu tidak  pernah tau,aku berfikir pasti bisa melupakan itu nanti setelah mereka menikah”.
     Kami diam,aku merasa terlalu banyak bicara tentang sesuatu yang harus nya tak aku bicarakan.
“kau punya kesempatan,aku juga.tapi kesempatan yang ku punya adalah sesuatu yang tak mungkin bisa ku pakai untuk hidup bersama nya”.
“kita punya kesempatan yang sama,aku juga tak bisa bersama dengan nya”.
“kau bisa dengan 4 tahun waktumu”.
    Ia mengela nafasnya,aku memandangi wajah itu menjadi lelah.
“berapa tahun kesempatan yang kau punya ?”.
      Ia berbalik menatap mataku,lekat sekali.
“20 tahun”.
    Aku menaikan kening ku, tidak mengerti.
“kami sekolaah di sekolah yang sama sejak kelas pertama sejak saat itu dan sampai sekarang dia tidak pernah tau,dan mungkin tidak akan pernah tau”.
    Aku diam,sesekali aku melirik wajah orang disamping ku yang kembali memandangi pepohonan di bawah daratan yang lebih rendah.
“selama itu..dan kau tak punya kesempatan apapun?”.
    Ia mengangguk.
“ini tak seperti yang kau fikirkan,ini sesuatu yang rumit”.
“aku ingin mendengarkannya”.
“terlalu panjang,kita tak punya banyak waktu”.
     Ia melirik ku sebelum menunjuk cahaya matahari yang mulai memudar,cahaya keemasan menerpa kami berdua.
“serumit apa?”
“kau takan mengerti”.
“aku tak sebodoh yang kau fikirkan”.
“dia laki laki”.
     Aku tersentak,diam dan menjadi kaku, antara bingung harus bagaimana merespon kata kata orang ini dan tercekik menerima keadaan sinting konyol dan menyedihkan.
“dia laki laki…karna itu aku tak punya kesempatan.seberapa keras apapun aku mencoba dia tetap tidak mungkin menerimaku,sejauh apapun aku ada untuk orang itu,aku akan tetap menjadi sahabatnya.karna hanya itu yaang pantas aku dapatkan”.
     Entah apa yang terjadi,seperti bukan tanganku,aku meraih jemarinya,telapak tangan kami sudah tak memakai sarung tangan lagi,aku menggengam tangan itu,rasanya seperti memiliki takdir yang sama.
“kau akan menemukan orang yang tepat,kau akan baik baik saja,aku selalu meyakin kan diriku sendiri dengan kata kata itu”.
      Ia meraih kedua tangan ku yang menunpuk di tangan kanan nya,tangan kirinya mulai meraih jemar jemari yang bertumpukan itu.
“terima kasih,sudah meyakinkan ku,naik gunung dengan seseorang benar benar lebih menyenangkan dari pada sendirian”.
“ya…”.
   Dari sayup sayup yang terdengar, dedaunan begesekan lah yang mendominasi,angin menerpa kami lagi.
“kita harus pulang”.
   Ia berdiri,dan meraih tangan ku.
“nama mu?”.
    Ia menatapku,sudah selama ini dan tak satu pun dari kami tau nama masing masing.
“nanti saja,kalau kita bertemu lagi”.
    Ia tersenyum.
     sekarang aku pulang dengan hati sangat lega,entah karna merasa sudah mengatakannya pada seseorang atau karna merasa semua yang terjadi padaku tidak lebih buruk dari orang ini,atau apa.
    Kami berpisah di tengah perjalanan,aku ke seoul dan dia ke Gwangju.ia sempat menatapku dan berlalu,dari balik kaca ia tersenyum padaku
      Tiga jam lagi aku harus duduk di bus,tapi rasanya tak sesak seperti saat aku pergi ketempat ini,hari itu akan datang,dan aku lega karna aku sudah benar benar baik baik saja.angin menerpa rambutku saat jendela di samping wajahku ku buka,seorang wanita yang sedikit lebih tua dari ku duduk di sampingku,ia tertidur.sekarang aku mulai mengerti,tidak segala hal bisa ku dapatkan.tidak semua cinta berakhir dengan romantisme.orang itu…laki laki itu,dia akan menikahi kaka ku,dan itu artinya ia akan menjadi kakaku juga,dan cinta seperti itulah yang pantas ku dapatkan darinya.ya, mungkin seperti itu.
……………..
        Rambutku tersanggul rapi,tidak terlalu ketat,ibu menyambut tamu bersama ayah,aku menunggu pengantin wanita memakai gaunnya,aura yang indah aku dapat merasakan itu.meski ini pesta modern.
     Hanya beberapa menit,dan seseorang keluar dari tirai lembut berwarna pastel,aku tau mulut ku sedikit melebar saat orang itu keluar,gaun warna putih dengan sutra dan kain seperti bunga mawar putih yang terseret hampir dua meter di ujungnya,ya tuhan dia benar benar mempesona.ia melangkah lambat kearah ku,menggapai tangan ku dan yang ku rasakan adalah dingin yang membuat ku takut.
“aku benar benar gugup”.
“aku tau itu,tarik nafasmu dan hembuskan ,ulangi sampai kau tenang”.
“berjanjilah tetap di belakang tubuhku,dan panggil aku kaka, nanti,sekali saja”.
“anggap itu kado pernikahan”.
“juga siap kan waktu mu,beberapa hari dalam seminggu atau sebulan,untuk bisa tidur berdua denganku seperti biasanya”.
“aku akan minta ijin kaka ipar ku”.
        Ia berhenti menghela nafasnya dan menatap ku dalam,sungguh aku tak suka hal hal semacam ini.ia menggapai tangan ku dan disana aku menlihat cincin saat ia dilamar,dulu dadaku sesak melihat benda itu tidak melingkat di jari ku tapi sekarang semua nya biasa saja,aku bahkan tak bisa menahan diriku karna aku juga merasa sama bahagia nya dengan nya.
“aku mencintimu kim lee ae…sungguh,tapi sekarang aku malah harus menikah dan meninggalkan mu sendiri di kamar kita,coba lah mencari pasangan,jangan selalu pergi kepernikahan dengan kim jong in,sepupu mengesalkan itu,aku tak bisa mempercayakanmu padanya”.
“apa yang kau fikirkan,hanya berbeda dua tahun dan kau suka sekali mengatur karna itu aku tak suka memanggilmu kaka”.
     Ia tersenyum dan memelukku,semula aku bahkan ragu membalasnya, tapi yang terjadi adalah mataku memanas,sungguh menyebalkan.
………….
         Dan hari itu datang,bahkan aku berada diantara mereka.kami melangkah lambat,aku membantu kim ae lee,saudara perempuan ku membawa gaun yang terpasang di tubuhnya ketika menuruni tangga,di samping ku ada kim jong in sepupu menyebalkan yang dibicarakan ae lee,dan didepan kerumunan itu aku melihat seeorang yang sangat tampan dengan taksido ,ia terlihat ragu menatap kami,aku tau ada sesuatu yang tidak baik baik saja,aku melirik jong in dan seakan mengerti ya ternyata tau penyebabnya.
“seseorang yang membawa cincin untuk mereka belum datang”.
“ya tuhan,jadi apa yang harus dia lakukan”.
“minta maaf dengan lagu super junior sorry sorry mungkin”.
   Aku menyikut pinggang jong in,ia benar benar menyebalkan.kami melangkah lambat,sekarang aku disamping ae lee,memegang tangan nya dan jong in membawa sisa gaun.
“bagaimana?”.
 “semuanya akan baik baik saja”.
    Aku mengatakan itu ketika tubuh ku juga mulai menegang,bertambah tambah ketika melihat wajah ibu dan ayah di bawah sana.udara seperti hampir mencekik kami, saat hanya tinggal satu tingkat aku akan menyerahkan tangan ae le pada lee hyun jong,pengantin laki laki dipesta ini.aku merasa tangan ae lee bergetar dan itu tak jauh berbeda dengan tangan ku.
“semua akan baik baik saja,,,semua akan baik baik saja”
      Aku meyakin kan diriku sendiri,dan satu tingkat itu selesai kami lewati,bunyi pintu berbenturan dengan dinding terdengar nyaring,seseorang terburu buru masuk keruangan ini.ia menatap kami sekilas sebelum melangkah cepat dan dengan tarikan tarikan nafasnya,ia mencoba tenang dan membuka kotak cincin,udara kembali mengalir ke paru paruku.
     Dan saat cincin itu sudah terpasang,saat aku akan berbalik,sesuatu sepeti baru saja terjadi tapi aku tak mengerti apa itu.
“kita berteman sejak sekolah pertama dan kau terlambat ke pernikahanku,aku benar benar ingin membunuhmu”.
    Aku mendengar suara kaka iparku,sambil bercanda.aku berbalik,dadaku berdetak kencang,aku takut yang ku fikirkan menjadi benar.
   Perlahan sekali…aku menatap wajah orang yang sedang tertawa bersama kaka ku dan kaka iparku itu.dan yang kulihat adalah…orang yang sama.aku tersenyum dan dengan wajah terkejutnya ia juga tersenyum.
     Ada kelegaan yang mungkin takan pernah ku temukan jika aku membayang kan betapa gila masalah yang dia ceritakan,dan aku berharap itulah yang ia lihat dariku hari ini.
“sepertinya kim lee ae tak perlu jong in lagi ke acara pernikahan”.ae lee terenyum mengejek saat aku dan …. Orang itu saling berpandangan.
“mungkin kalian akan menjadi pasangan muda yang bahagia”.
    Kami saling melirik lagi,kaka ipar ku terdengar seperti peramal.
Nam Joo Hyuk”.
 “kim lee ae”.     
     Dan hari itu,musim gugur kami menjadi merah muda tidak kecoklatan atau berwarna gelap lagi.
       Karna jika cinta seperti pemberhentian bus,maka akan selalu ada pilihan untuk pergi,membiarkan bus itu berlalu atau menunggu bus lainnya datang.


9-2-14……








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik