Jika cinta seperti pemberhentian
bus,maka akan selalu ada pilihan untuk pergi atau membiarkan bus itu berlalu.
Terkadang aku merasa hidup adalah untuk
menunggunya,meyakini bahwa akan ada saat dimana aku akan benar benar disampingnya.berhenti
melupakannya adalah menyakitiku,itu yang kuyakini dan itu yang membuat ku terus
merasa nyaman di sakiti.
Musim gugur di akhir september,ketika
daun daun mulai manua,crimson jatuh di atas sepatuku.akhir september adalah
saat dimana hujan mulai sering turun.saat dimana aku akan sering melihta hujan
lewat kaca di samping tempat tidurku,saat dimana aku mengharap kan orang itu
lagi.
Dalam sebuah kata kata aku meragukan
diriku sendiri,aku bahkan tak bisa membaca dengan jelas tentang apa yang
terjadi pada hidupku,tapi waktu berputar,aku di buat nya semakin mengerti,saat
salju membekukanku,saat blosem menjadi merah muda,saat crimson menjadi
kecoklatan dan saat udara hangat menyentuh kulitku. 4 hal yang tanpa rasa
bersalah membuatku sadar,umur ku bertambah satu tahun lagi.
4 hal yang sudah ku lewati empat kali,hari
hari dimana aku terluka dengan leganya,setiap detik adalah sesuatu yang akan
meledak,aku menahannya,dan dengan diam sakit itu terasa sempurna.
Hari ini, di Gunung Naejangsan.aku akan
melepaskan semunya,melepaskan rasa yang benar benar sudah gila,entah sejak
kapan rasa itu mulai menyentuhku. Naejang berarti banyak rahasia dan San
berarti gunung.dan disina aku akan membuka semua lembaran lembaran rahasia
itu,sendirian,mungkin. dan nanti setelah ini,aku akan memulai yang baru,sesuatu
yang kuharap benar benar membuat ku tenang.
Kira kira hampir Tiga jam aku duduk di
bus,sambil melihat ramalan cuaca di henphonku,hari ini akan banyak hujan turun
katanya,aku menghela nafasku,kembali menatap kaca transparan yang sedikit
berdebu,apapun yang kulakukan, hari itu akan tetap datang,dan aku harus tetap
melanjutkan hidupku.semua akan baik baik saja,itu yang selalu aku ucapkan,kata
kata yang membuat ku terlihat masih baik baik saja.
Masih ku ingat dengan sangat
jelas,saat ku bilang aku menginginkan seseorang,dan kubilang aku akan melupakan
harapan itu,orang itu menatap ku,dalam.tidak pernah seperti itu,tangan nya
menggapai tangan ku,lembut merapikan rambut ku.dan yang dia katakan adalah hal
bodoh yang membuat sesuatu dalam dadaku terasa tercekik.
“aku mengejar kaka
perempuanmu 4 tahun dan tidak pernah menyerah aku berharap kau juga
begitu,karna sahabatku pernah mengatakan hal yang membuat ku benar benar tidak
bisa menyerah”.
“saat kau menyerah kau
terlihat seperti sampah”.
Lalu apa yang harus ku lakukan kalau orang
itu adalah orang yang mengatakannya padaku,orang yang akan menikahi kaka
ku,orang yang membuatku terus berharap,orang yang ku kira akan mengikat sesuatu
yang suci dengan ku.
Aku berbalik setelah mengagguk
lambat,melangkah tenang meski kaki ku layu,air mata ku terjatuh satu satu,angin
hangat menerpa tubuhku,mungkin angin juga menerpa mataku,dan karna itu,air
jatuh dari mataku.hari itu aku benar benar menjadi sampah.
Satu minggu sebelum hari itu
datang,hari pernikahan kaka ku dan orang itu.sedang disini lah aku, Naejangsan
di kota Jeongeup propinsi Jeolla-do, tiga jam perjalanan dari Seoul,3 jam
menyedihkan yang menyesakan.
Aku melangkah lambat keluar dari ruang nyaman
yang hangat,hampir di setiap sudut aku melihat gambar crimson menempel,indah
sekali.dari stasiun aku akan naik bus
umum ke Naejangsan.hanya 20 menit lagi saja.aku menghela nafasku ketika menemukan
suhu udara tak lebih dar 10 derajat.aku menarik jaket
ku,mengeratkannya.perlahan duduk di kursi hampir paling belakang,di samping
seorang laki laki dengan jeket tebal dan kertas,entah kertas apa itu,menempel
di wajahnya.
saat mataku menatap kaca disamping orang
itu,ia mengeliat lalu menatap wajahku,aku membuang wajah ku kesamping
tubuhku,menunduk dan mencoba menjadi biasa saja,ia diam,dan kembali memejamkan
matanya,aku menghela nafas dan berjanji takan menatap arah itu lagi.
Aku makan di terminal bus,dari balik
kaca kaca bening didepan tubuhku,aku melihat laki laki yang tadi duduk
disamping ku berlalu cepat.siapa perduli ?.aku mengosok gososkan telapak tangan
ku yang baru saja ku buka sarung nya dan saat
wajah ku menegas ,menatap seseorang yang baru saja duduk di sebrang
ku,berjarak beberapa meter dariku,aku kembali terkesan.orang yang sama.
…………
masuk
ke Naejangsan National Park,aku hanya mengambil jalur 4 kilometer sangat
melelahkan,tentu.tapi hanya itulah yang akan membuat ku melupakan sesuatu yang
harus kuhadapi beberapa hari lagi.di pintu masuk,aku menghela nafasku,mengeratkan
jaket dan ranselku,ini mungkin bukan pendakian pertamaku,tapi akan menjadi yang
pertama tanpa rombongan keluargaku,kaka
perempuan ku dan calon suaminya,entah apa itu tapi aku sudah mulai menerima
kata kata “suami”.
Banyak sekali orang yang juga sudah siap
melakukan pendakian. Tujuan mereka sama menikmati dan mengabadikan keindahan
Naejangsan pada musim gugur.setidanya aku harus merasa banyak orang disini,aku
tidak sendirain.
Dari balik lalu lalang dan bayangan
bayangan yang mulai tampak di tanah kecoklatan,aku melihat orang itu
lagi,berdiri diantara pendaki lainnya dengan ransel dan minuman hangat di
tangan nya,aku bertemu orang itu lagi.
…………..
Aku menggosok gosokan telapak tangan
ku,separuh wajah ku tenggelam diantara kerah jaket,di depan ku sup odeng
mungkin akan sangat menghangatkan.aku meraih sendok disisi kanan menunduk lalu
mulai menghirup kuahnya,dan saat wajahku ku tegakan kembali, seseorang duduk
disana menatap ku sebentar sebelum memanggil pelayan.
Hujan benar benar turun,seperti ramalan
sialan itu,aku bahkan belum sampai ke observatory platform,ada sedikit
pengecualian kekecewaan karna waktu ini benar benar waktu yang tepat untuk
makan siang.
Aku mengamati seseorang
didepanku,wajahnya benar benar tak tertarik untuk memulai pertemanan,aku
menghirup sup ku lagi,siapa perduli…
Ia diam dan aku juga begitu,ketika setengah
dari isi mangkok ku menghilang.aku menatap orang itu lagi,wajahnya tegak dengan
angkuhnya tapi matanya tak bisa ku baca,saat mulut ku hampir terbuka untuk bicara,pelayan
datang membawa makanan yang sama dengan yang kumakan,aku mengantup bibirku,menatap
kesekeliling dimana tak satu pun bangku tempat makan ini kosong,mungkin itulah
sebabnya ia duduk disebrangku,aku menghela nafaskudan menghirup sup ku lagi.
“pendakian 4 kilo
meter”.
Ia bicara tapi tidak mentapku,wajahnya
menunduk dan memasukan makanan ke
mulutnya.
“ya”.
Aku menjawab
singkat,dia orang asing sekarang.
“aku juga”.
“kebetulan”.
Sunyi,kembali tak ada yang bicara,di luar
hujan semakin deras.pendakian di hentikan.dan aku terjebak di situasi dimana
aku bicara dengan robot.
“observatory platform
dan Naejangsa temple”.ia menegakan kepalanya.
”aku akan kesana”.
Aku mengangguklambat,tak perduli aku tampak
mendengarkan nya atau tida.
“tujuanmu ?”.
Aku menghela nafasku,kami bahkan tak
saling menjabat tangan dan menyebutkan nama,tapi dia terdengar seperti
mengenaliku.
“sama dengan mu,hanya
sampai naejangsa temple,kali ini mungkin tidak pergi ke air terjun Dodeok dan
Geumseon”.
“karna cuaca?”.
Aku tersenyum kearahnya,ia
mengagguk,entah apa yang ia tangkap dari eskpresiku.
“sebenarnya,seseorang
menyuruhku menjaga kesehatan,aku harus datang kepesta pernikahannya”.
Wajahnya menegak,dan mataku beralih keair
hujan di samping jendela kaca besar di kiri meja kami.
“tidak terlihat baik
baik saja”.
Aku menatap nya.acuh,ia masih memakan sup adong
nya.
“pergi bersama?”.
Sekarang aku dapat menatap mata
itu,segaris mata yang bersinar dengan senyuman tipis yang mengesankan.
Aku menghela nafasku lagi,aku masih dapat
melihat matanya menatap ku,dan ketika aku mengangguk.dengan cepat mata itu
kembali menatap makananya,adongnya enak sekali.ia bahkan lebih tertarik menatap
makanan itu dari pada lawan bicaranya.
………………
Seharusnya aku akan sampai lebih awal
dan akan bicara dengan alam,tapi yang terjadi adalah aku terjebak dengan orang
ini,tapi ini tak seburuk yang akhirnya terjadi.
kami
mulai jalan lagi setelah bicara sedikit kata saat makan.didepan kami beberapa
keluarga juga melanjutkan perjalanan mereka.ia melangkah acuh didepan ku,apa
yang terjadi dengan kata kata “pergi bersama”.
Hampir sepuluh meter dari tempat makan
itu,ia berhenti ,memalingkan wajahnya
dan menatapku,ia berbalik dan mundur.tepat disamping ku ia berhenti.
“sudah kubilang pergi
bersama kan?”.
“kau berjalan terlau
cepat”.
“dan kau berjalan
terlalu lambat”.
Aku menatapnya,kepalaku sedikit
mendongak.baru setelah kami berdiri berdampingan aku sadar ia terlalu tinggi.
Sekarang aku berjalan lambat lambat,dan ia
juga mulai berjalan seperti itu,dedaunan beterbangan di bawah kaki kami,kembali
tak ada yang bicara. Hanya aku dan tuhan yang tau betapa aku ingin lari dari
orang ini.
Baru beberapa belas meter kami
berjalan,gerimis mulai turun lagi.aku menatap nya dan saat itu ia juga
menatapku,kami mulai menaruh ransel kami ke tanah yang lembab .mengambil jas
hujan kami.orang orang juga sama seperti kami.memasang jas hujan mereka.dan
yang terjadi adalah tanah lembap kecoklatan itu mejadi berwarna warni karna jas
hujan.
Kami mulai berjalan lagi,petugas
mengatakan takan baik jika memaksa berjalan kaki ia bilang akan aman jika
memakai cable car.
Antrian panjang ketika kami benar benar
memutuskan memakai cara mengecut itu,diantara kerumunan yang berdempetan
seorang wanita tua menghampiri kami dan menawarkan ramalan tangan.perlahan aku
menunjukan telapak tangan ku padanya,sekarang orang disamping ku ikut melakukan
itu.
“kalian pasangan muda
yang harmonis”.
Kami bertatapan,aku dan laki laki itu,lalu
saling membuang muka dan menutup telapak tangan kami.
“kau bukan peramal yang
baik”.
Aku mendongak lagi,dan mengangguk.
“kami bukan pasangan”.
Aku menegaskan.
“tapi kalian terlihat
seperti itu…mungkin nanti kalian akan menjadi pasangan”.
Aku menghela nafasku dan laki laki
disampingku mendengus kesal.
“kau berbohong benar
benar berbohong,aku bahkan tak suka…… “.
Suara nya tecekat,aku dan wanita tua itu
menunggu lanjutan kata katanya.
“aku bahkan tak suka
orang sepertinya”.
Aku menyipitkan mataku dan merasa kan
gatal di baku baku tangan ku,aku ingin menamparnya.
“apa kau merasa sangat tampan”.
“apa kau merasa sangat tampan”.
Aku menatapnya.
“aku memang tampan”.
“tidak setampan yang
kau fikirkan”.
Selama kami berdebat wanita itu kembali
keantriannya yang entah dimana dan kami baru sadar orang orang memandangi kami
dan mulai menertawai.aku menunduk dan kembali ke garis antrian.bukan sesuatu
yang baik bertemu seseorang tak dikenal yang bahkan tak kau tau nama nya dan
mengangguk ketik ia menawarkan pergi bersama.
hanya beberapa menit setelah perdebatan
itu,kami akhiranya mulai menaiki cable car,sesak dan ini benar benar
mengesalkan.jangan tanyakan betapa jengkelnya aku karna tak berjarak lebih dari
3 senti dari manusia ajaib ini,tapi entah kenapa aku tak berfikir untuk pergi
sendirian setelah ini.
Lewat kaca cable car kami memadangi
musim gugur dari atas sini,matahari mulai memancar redup dan hujan mulai
reda,angin berhembus mebuat pohon chrimson bergoyang,warna coklat,orange,kuning,hijau
bercampur menjadi satu,entah itu dedaunan atau jas jas hujan yang belum di
lepaskan.daun daun musim gugur itu benar benar mempesona ketika butiran butiran
air bekas hujan jatuh dari ujung daunnya.
…...........
Kami duduk di bebatuan berlumut
disekitar Naejangsa temple,tempat budha sembahyang.laki laki itu mengeluarkan
kamera dari tas ranselnya dan aku juga begitu kami mulai sibuk dengan kesibukan
masing masing hingga laki laki disampingku meletakan kameranya dan menerawang
menatap hamparan pohon yang sudah berubah sempurna dari atas sini,di atas kami
sendiri satu pohon besar berdiri tegak dengan warna daun kecoklatan,beberapa
air masih menetes ke bahu dan kepala kami.
“apa alasanku ke tempat
ini,sendirian?”.
Ia tidak menatap ku, wajahnya masih menatap
hamparan di depan kami.
“ada sesuatu yang tak
bisa ku ceritakan pada orang yang baru ku kenal”.
Ia tersenyum, bibirnya manis saat itu,dari
balik dedaunan crimson cahaya keemasaan mulai masuk,angin menerpa kami.
“aku pergi karna ingin
melupakan masalah ku”.
Aku menatapnya,tapi ia tetap menatap apa
yang terlihat didepannya.
“kau pernah punya pacar?”.
Aku hampir tersedak .
“entahlah”.
Aku tau ia tak butuh jawabanku.
“aku mencintai sahabatku”.
Aku diam,dan menunduk,menarik nafasku
panjang dan menatap hamparan di depanku, sama seperti orang disampingku.
“aku mencintai calon
kaka ipar ku”.
Aku mengatakannya lambat lambat,sekarang
ia mentap ku,mata kami beradu,ia tersenyum tipis.
“aku benar benar mencintainya,aku
mencintainya 4 tahun.tapi aku merasa akan lebih baik jika selamannya orang itu
tidak pernah tau,aku berfikir pasti bisa
melupakan itu nanti setelah mereka menikah”.
Kami diam,aku merasa terlalu banyak bicara
tentang sesuatu yang harus nya tak aku bicarakan.
“kau punya
kesempatan,aku juga.tapi kesempatan yang ku punya adalah sesuatu yang tak
mungkin bisa ku pakai untuk hidup bersama nya”.
“kita punya kesempatan
yang sama,aku juga tak bisa bersama dengan nya”.
“kau bisa dengan 4
tahun waktumu”.
Ia mengela nafasnya,aku memandangi wajah
itu menjadi lelah.
“berapa tahun
kesempatan yang kau punya ?”.
Ia berbalik menatap mataku,lekat sekali.
“20 tahun”.
Aku menaikan kening ku, tidak mengerti.
“kami sekolaah di
sekolah yang sama sejak kelas pertama sejak saat itu dan sampai sekarang dia
tidak pernah tau,dan mungkin tidak akan pernah tau”.
Aku diam,sesekali aku melirik wajah orang
disamping ku yang kembali memandangi pepohonan di bawah daratan yang lebih
rendah.
“selama itu..dan kau
tak punya kesempatan apapun?”.
Ia mengangguk.
“ini tak seperti yang
kau fikirkan,ini sesuatu yang rumit”.
“aku ingin
mendengarkannya”.
“terlalu panjang,kita
tak punya banyak waktu”.
Ia melirik ku sebelum menunjuk cahaya
matahari yang mulai memudar,cahaya keemasan menerpa kami berdua.
“serumit apa?”
“kau takan mengerti”.
“aku tak sebodoh yang
kau fikirkan”.
“dia laki laki”.
Aku tersentak,diam dan menjadi kaku,
antara bingung harus bagaimana merespon kata kata orang ini dan tercekik
menerima keadaan sinting konyol dan menyedihkan.
“dia laki laki…karna
itu aku tak punya kesempatan.seberapa keras apapun aku mencoba dia tetap tidak
mungkin menerimaku,sejauh apapun aku ada untuk orang itu,aku akan tetap menjadi
sahabatnya.karna hanya itu yaang pantas aku dapatkan”.
Entah apa yang terjadi,seperti bukan
tanganku,aku meraih jemarinya,telapak tangan kami sudah tak memakai sarung
tangan lagi,aku menggengam tangan itu,rasanya seperti memiliki takdir yang
sama.
“kau akan menemukan
orang yang tepat,kau akan baik baik saja,aku selalu meyakin kan diriku sendiri
dengan kata kata itu”.
Ia meraih kedua tangan ku yang menunpuk
di tangan kanan nya,tangan kirinya mulai meraih jemar jemari yang bertumpukan
itu.
“terima kasih,sudah meyakinkan
ku,naik gunung dengan seseorang benar benar lebih menyenangkan dari pada
sendirian”.
“ya…”.
Dari sayup sayup yang terdengar, dedaunan
begesekan lah yang mendominasi,angin menerpa kami lagi.
“kita harus pulang”.
Ia berdiri,dan meraih tangan ku.
“nama mu?”.
Ia menatapku,sudah selama ini dan tak satu
pun dari kami tau nama masing masing.
“nanti saja,kalau kita
bertemu lagi”.
Ia tersenyum.
sekarang aku pulang dengan hati sangat
lega,entah karna merasa sudah mengatakannya pada seseorang atau karna merasa
semua yang terjadi padaku tidak lebih buruk dari orang ini,atau apa.
Kami berpisah di tengah perjalanan,aku ke
seoul dan dia ke Gwangju.ia sempat menatapku dan berlalu,dari balik kaca ia
tersenyum padaku
Tiga jam lagi aku harus duduk di bus,tapi
rasanya tak sesak seperti saat aku pergi ketempat ini,hari itu akan datang,dan
aku lega karna aku sudah benar benar baik baik saja.angin menerpa rambutku saat
jendela di samping wajahku ku buka,seorang wanita yang sedikit lebih tua dari
ku duduk di sampingku,ia tertidur.sekarang aku mulai mengerti,tidak segala hal
bisa ku dapatkan.tidak semua cinta berakhir dengan romantisme.orang itu…laki
laki itu,dia akan menikahi kaka ku,dan itu artinya ia akan menjadi kakaku
juga,dan cinta seperti itulah yang pantas ku dapatkan darinya.ya, mungkin
seperti itu.
……………..
Rambutku tersanggul rapi,tidak terlalu
ketat,ibu menyambut tamu bersama ayah,aku menunggu pengantin wanita memakai
gaunnya,aura yang indah aku dapat merasakan itu.meski ini pesta modern.
Hanya beberapa menit,dan seseorang keluar
dari tirai lembut berwarna pastel,aku tau mulut ku sedikit melebar saat orang
itu keluar,gaun warna putih dengan sutra dan kain seperti bunga mawar putih
yang terseret hampir dua meter di ujungnya,ya tuhan dia benar benar
mempesona.ia melangkah lambat kearah ku,menggapai tangan ku dan yang ku rasakan
adalah dingin yang membuat ku takut.
“aku benar benar
gugup”.
“aku tau itu,tarik
nafasmu dan hembuskan ,ulangi sampai kau tenang”.
“berjanjilah tetap di
belakang tubuhku,dan panggil aku kaka, nanti,sekali saja”.
“anggap itu kado pernikahan”.
“juga siap kan waktu
mu,beberapa hari dalam seminggu atau sebulan,untuk bisa tidur berdua denganku seperti
biasanya”.
“aku akan minta ijin
kaka ipar ku”.
Ia berhenti menghela nafasnya dan
menatap ku dalam,sungguh aku tak suka hal hal semacam ini.ia menggapai tangan
ku dan disana aku menlihat cincin saat ia dilamar,dulu dadaku sesak melihat
benda itu tidak melingkat di jari ku tapi sekarang semua nya biasa saja,aku
bahkan tak bisa menahan diriku karna aku juga merasa sama bahagia nya dengan
nya.
“aku mencintimu kim lee
ae…sungguh,tapi sekarang aku malah harus menikah dan meninggalkan mu sendiri di
kamar kita,coba lah mencari pasangan,jangan selalu pergi kepernikahan dengan
kim jong in,sepupu mengesalkan itu,aku tak bisa mempercayakanmu padanya”.
“apa yang kau
fikirkan,hanya berbeda dua tahun dan kau suka sekali mengatur karna itu aku tak
suka memanggilmu kaka”.
Ia tersenyum dan memelukku,semula aku
bahkan ragu membalasnya, tapi yang terjadi adalah mataku memanas,sungguh
menyebalkan.
………….
Dan hari itu datang,bahkan aku berada
diantara mereka.kami melangkah lambat,aku membantu kim ae lee,saudara perempuan
ku membawa gaun yang terpasang di tubuhnya ketika menuruni tangga,di samping ku
ada kim jong in sepupu menyebalkan yang dibicarakan ae lee,dan didepan
kerumunan itu aku melihat seeorang yang sangat tampan dengan taksido ,ia
terlihat ragu menatap kami,aku tau ada sesuatu yang tidak baik baik saja,aku
melirik jong in dan seakan mengerti ya ternyata tau penyebabnya.
“seseorang yang membawa
cincin untuk mereka belum datang”.
“ya tuhan,jadi apa yang
harus dia lakukan”.
“minta maaf dengan lagu
super junior sorry sorry mungkin”.
Aku menyikut pinggang jong in,ia benar benar
menyebalkan.kami melangkah lambat,sekarang aku disamping ae lee,memegang tangan
nya dan jong in membawa sisa gaun.
“bagaimana?”.
“semuanya akan baik baik saja”.
Aku mengatakan itu ketika tubuh ku juga
mulai menegang,bertambah tambah ketika melihat wajah ibu dan ayah di bawah
sana.udara seperti hampir mencekik kami, saat hanya tinggal satu tingkat aku
akan menyerahkan tangan ae le pada lee hyun jong,pengantin laki laki dipesta
ini.aku merasa tangan ae lee bergetar dan itu tak jauh berbeda dengan tangan
ku.
“semua akan baik baik
saja,,,semua akan baik baik saja”
Aku meyakin kan diriku sendiri,dan satu
tingkat itu selesai kami lewati,bunyi pintu berbenturan dengan dinding
terdengar nyaring,seseorang terburu buru masuk keruangan ini.ia menatap kami sekilas
sebelum melangkah cepat dan dengan tarikan tarikan nafasnya,ia mencoba tenang
dan membuka kotak cincin,udara kembali mengalir ke paru paruku.
Dan saat cincin itu sudah terpasang,saat
aku akan berbalik,sesuatu sepeti baru saja terjadi tapi aku tak mengerti apa
itu.
“kita berteman sejak sekolah
pertama dan kau terlambat ke pernikahanku,aku benar benar ingin membunuhmu”.
Aku mendengar suara kaka iparku,sambil
bercanda.aku berbalik,dadaku berdetak kencang,aku takut yang ku fikirkan
menjadi benar.
Perlahan sekali…aku menatap wajah orang yang
sedang tertawa bersama kaka ku dan kaka iparku itu.dan yang kulihat
adalah…orang yang sama.aku tersenyum dan dengan wajah terkejutnya ia juga
tersenyum.
Ada kelegaan yang mungkin takan pernah ku
temukan jika aku membayang kan betapa gila masalah yang dia ceritakan,dan aku
berharap itulah yang ia lihat dariku hari ini.
“sepertinya kim lee ae
tak perlu jong in lagi ke acara pernikahan”.ae lee terenyum mengejek saat aku
dan …. Orang itu saling berpandangan.
“mungkin kalian akan
menjadi pasangan muda yang bahagia”.
Kami saling melirik lagi,kaka ipar ku
terdengar seperti peramal.
“Nam Joo Hyuk”.
“kim lee ae”.
Dan hari itu,musim gugur kami menjadi
merah muda tidak kecoklatan atau berwarna gelap lagi.
Karna jika cinta seperti pemberhentian
bus,maka akan selalu ada pilihan untuk pergi,membiarkan bus itu berlalu atau
menunggu bus lainnya datang.
9-2-14……

Tidak ada komentar:
Posting Komentar