Akhir
semester ketika aku harus pergi ke sma anakku,sekolah yang sama ketika aku
mulai bertambah dewasa,tempat yang sama,hanya saja bangunan nya kini terasa
begitu asing,pohon pohon pinus kecil yang dulu kami tanam sudah tumbuh besar
menutupi bangku bangku kayu di bawahnya,banguanan bangunan nya sudah tida satu
lantai lagi,seperti dulu,sudah hampir dua puluh tahun aku tidak lagi ketempat
ini,aku merindukannya seperti seseorang yang lama tidak aku temui.
Rerumputan hijau menutupi liat lumpur kami
di masa lalu,lapangan bola yang dulu sering kebanjiran setiap kali hujan turun
berubah menjadi rumput sintesis hijau yang lembut,aku menyukai setiap jengkal
tempat ini,hanya saja sesuatu seperti berhenti ketika aku tau aku tidak lagi di
masa lalu,memori memori itu menghilang bersama setiap coretan di tembok yang
diganti dan di hancurkan.
“ma,kita
lewat sini,bukan kesana”.
Aku tercekat ketika,anak laki laki ku
menggenggam tangan ku,ia lebih tiggi dariku dan lebih tampan dari ayahnya,ia
tersenyum mengejek sebelum mencium pipiku.
“kau
yakin akan mendapatkan nilai yang baik”.
“jangan
bertanya hal yang sudah mama tau”.
Ia menggenggam tangan ku lagi,disamping
kiri dan kanan aku melihat beberapa anak perempuan tersenyum padaku,perlahan ku
tatap wajah anakku saat dia menatap jalan.
“jangan
fikirkan mereka,aku tidak menyukai wanita wanita seperti mereka”.
Aku tersenyum,tapi bukan karena
anakku,dimasa lalu seseorang juga mengatakan hal yang sama.seseorang yang
bahkan tidak pernah kutatap sebagai seorang pria,berpuluh puluh surat kubaca di
akhir tahun karena setiap kali dia mendapatkannya,aku yang akan ia suruh membuangnya,seseorang
yang pada suatu hari membuatku jatuh cinta ketika dia jatuh cinta
padaku,seseorang yang di masa depan menjadi suamiku,pria itu ayah anak ku.
…………..
L mengamatiku dan tersenyum padaku saat
menengok lewat kaca di dinding kelas nya,sempat melambaikan tangan nya sampai
teman teman nya yang lain menutupi kaca,berebut melihat orang tua
mereka.beberapa kulihat berharap ada kesalahan pengisian rapot sehingga rapot
tidak di bagi hari ini.
Seorang pria lima puluh tahunan duduk di
kursi guru,mengamati orang tua murid sambil tersenyum,hanya ada 25 orang di
dalam kelas ini 26 dengan pak guru itu,guru termuda ketika aku menjadi bagian
pengajarannya.
“apa
kabar semuanya,aku berharap akan baik baik saja bahkan setelah menerima hasil
belajar anak anak kalian”.
Ia terkekeh tentang hal yang tidak lucu,benar
benar tidak berubah,tuan kim mengamati wajahku yang duduk di kursi pertama saat
aku tersenyum,dia kembali terkekeh,mungkin mengingat sesuatu dari wajahku.
Kembali ke dimensi berbeda,kembali ke pada
tahun tahun yang lalu,ketika kami berebut duduk di meja pertama untuk mendengar
tuan kim mengajar,hanya menatap wajah nya sepanjang pelajaran.saat ditanya kami
akan tiba tiba sibuk membaca buku,atau menatap teman teman yang tiba tiba acuh
di belakang punggung,mengingat itu aku seperti kembali ke masa lalu tepat di
bangku ini.
Saat rapot sudah selesai di bagi,aku
menatap L yang duduk di bangku samping kelas,tersenyum sambil beranjak
mendekat,lama sebelum aku tersenyum dan mengangguk,mengatakan bahwa sekali lagi
dia membuat ku bangga.
“ah
ma…aku benar lagi kan”.
Ia berbalik dan mendekat pada gerombolan
teman temannya ketika seseorang memanggil namanya,di masa lalu aku juga melakukan
hal yang sama,menyenangan sekali, kami akan sibuk berfoto dan saling memberikan
selamat,L ku juga melakukannya.
Saat L sibuk bersama teman teman nya,aku
melangkah lambat diantar lorong,cahaya matahari pagi menerpa sisi
tembok,membuat bayangannya meniggi.satu persatu kelas,aku melangkah semakin
lambat,angin menerpa dres putihku,perlahan ketika aku masuk ke gerbang pendek
diantara lilitan dedaunan kecil,aku seperti kembali ke masa lalu,benar benar
kemasa lalu.
……………
“hey lee
ae,nama mu lee ae kan?”.
Seorang perempuan yang sedikit lebit kecil
dari ku,melangkah mendekat,aku ragu menyambut tangan nya.
“aku han
ga in”.
Aku tersenyum sambil menyalami tangan itu.
“hey
sungjay,kesini sebentar,kita dapat teman baru”.
Dibelakang punggung nya,seseorang melangkah
cepat,menyalamiku dan tersenyum tipis,setelah itu ia kembali duduk di bangkunya,menatap
kami sekilas.
“dia
memang sedikit aneh”.
Hari itu,aku bertemu teman baru di hari
pertama menjadi siswi sma,bunga bunga mawar diterpa angin,berhembus ke tubuhku,harum
sekali,putih,merah,biru.aku suka yang berwarna biru,ga in suka yang putih dan
laki laki itu,sungjay,dia suka mawar merah.
…………….
“ma…kita pulang sekarang,atau…”.
Aku berbalik,L menatapku dan tersenyum.
“boleh
aku menghabiskan sedikit waktu disini”.
“aku
menyetujuinya”.
L berbalik dan keluar dari gerbang
kecil,aku kembali sendirian,bunga bunga mawar itu,masih tersusun rapi denagn pot
baru,hanya itu yang masih ada,yang lain,baru kulihat hari ini,sudah lama
sekali,tentu hanya beberapa hal yang tertinggal,aku melangkah lebih
dekat,meraba tembok putih di belakang pot pot kecil,dan tulisan itu masih
disana,belum menghilang,aku merabanya,lembut dan dingin,ada sesuatu yang tidak
sengaja melukaiku ketika aku kembali mengingat ke belakang sana.jauh sebelum
hari ini.
……………..
Mulai hari itu,sejak pertama kali bertemu
dua orang di taman bunga sekolah.tanpa janji aku akan datang kesana,entah aku
atau dua orang itu yang menunggu yang ku tau kami seperti memiliki suatu ikatan
yang menyenangkan,ribuan detik kami habiskan hanya untuk bermain
bersama,menyiram bunga bunga di taman itu atau menghayal kemasa depan.ga in
seorang penghayal yang hebat ia bisa membayang kan dua dongeng sekaligus,menceritakan
sebuah dongeng tanpa nama pemain,memodifikasinya dengan sempurna,hingga aku dan
sungjay hanya diam dan sesekali saling tatap sebelum tersenyum,ga in memberi
ruang untuk ku dan sungjay untuk membuat suatu rahasia yang menyenangkan,yang entah
kenapa menjadi sangat kusukai.
sungjay sebaliknya,ia pendengar yang
hebat,apapun yang ga in ceritakan,semua hal terasa dia tunggu tunggu,matanya
yang berbinar setiap kali ga in mulai berimajinasi,dan aggukan pastinya yang
seakan iajuga bisa membayangkan semua hal yang ga in ceritakan,sementara aku
tersenyum karena ga in terlalu mengada ngada,ia tersenyum karena terlalu
percaya dan bangga,aku diantara mereka,kadang aku mendengarkan ga in dan kadang
aku bicara sedikit hal pada sungjay,aku selalu suka setiap kali sungjay
bilang,lanjutkan ceritamu,bahkan ketika itu sudah satu minggu berlalu.
Dengan kombinasi itu,kami bertambah dekat,
dekat dan dekat,hingga aku tidak lagi merasa kami punya jarak,lupa bahwa sungjay
dan ga in berteman jauh sebelum aku berada diantara mereka,tapi semuanya baik
baik saja,andai…beberapa hal terjadi tepat waktu.
sungjay tampan,tentu saja,dua tahun belakangan
setelah bertemu dengan nya,aku akan mengajak ga in membuka surat surat milik
penggemar nya,sungjay tidak pernah kehilangan pesonanya,dan entah kenapa ia tak
pernah juga kehilangan kata tidak saat seseorang meminta,kata ga in,dia sudah
terbiasa dan setiap kali sungjay mengatakan ia dapat surat lagi,ga in akan
bilang,buang saja,dan ituah yang sungjay lakukan,sekarang rahasia itu terbagi
tiga,aku tau banyak hal tentang mereka berdua,dan mereka juga begitu,mungkin
tidak semua hal harus kami tau,aku juga begitu,ada beberapa hal yang kukubur
dalam dalam,bukan karena aku tidak ingin memberi tahu pada mereka tapi karena
aku sendiri tidak mengerti,dan enggan menyadarinya,surat itu kini selalu sungjay
bicarakan padaku tidak lagi pada ga in,entah kenapa aku selalu berfikir di
antara wanita wanita itu,jadi surat surat itu selaulu kusimpan dan akan
kuserahkan pada ga in untuk dibaca di hadapan sungjay,di akhir semester
sementara orang tua kami menunggu pembagian rapot.
Musim panas kami akan bermain main di
dankook,musim dingin kami akan keluar untuk meminum secangkir coklat
hangat,musim semi kami akan duduk menunggu matahari terbit diantara calona,di
musim gugur kami akan menyisakan waktu untuk pergi ke gunung,melihat crimson
menua,selalu seperti itu,karena merasa saling memiliki,kami tidak mengerti
dengan sesuatu yang terjadi pada hati kami,pada kami yang semakin dewasa,dan
pada kami yang menjadi berbeda.
Beberapa hal yang penting bahkan kami
lewatan,paling tidak aku lewatkan,kami membicarakan hal besar,saling menyayangi
dengan rumit, kami tidak menyadari hal kecil yang harus nya menjadi sangat
penting sampai suatu hari,sesuatu seperti menyantuh pundakku,mengingatkan ku
tentang sesuatu.
Diakhir kelas 3 ga in tiba tiba sering
absen,saat kembali kekelas dia akan bilang tidak ada apa apa,mugkin sebulan
pertama kami masih mengagguk,diam diam aku yang sungjay mulai tidak
percaya,kami sering melewatkan sore bersama di taman bunga sekolah,tanpa ga
in,karena sekali lagi dia absen,berhari hari,semakin lama semakin sering.
“apa ada
masalah dengan keluarga nya?”.
sungjay bicara khawatir, pertama kali ia
banyak bicara adalah karena takut ga in menutupi sesuatu dari kami,tapi
bagaimaa aku tau,sungjay yang bahkan sudah berteman sejak smp juga tidak tau
apa yang terjadi.semakin lama semakin sering ga in tidak kesekolah,dan selama
itu juga sungjay dan aku hanya berdua ditaman itu,menghabiskan waktu bicara,kadang
kami lupa seharusnya bertiga.
“apa
kita harus kerumahnya,kurasa kita harus tau dia kenapa”.
sungjay mengangguk,hari itu,hanya beberapa
bulan sebelum ujingan akhir,hujan di musim semi,sungjay memboncengku dengan
sepedanya,aku berdiri dengan celana panjang hitam ketat dengan tas ransel,pulang
sekolah sungjay menjemputku.
Kami basah kuyup ketika tiba dirumah besar
milik ga in,lantai marmer putih nya berembun karena hujan.sungjay memarkir
sepeda nya di bawah pohon willow didepan tembok rumah ga in,sementara aku
memencet bel rumahnya,seorang wanita tua membuka pintu dengan lembut ia
tersenyum dan mempersilahkan kami masuk setelah ku bilang kami teman ga in.
Aku melangkah ragu ragu karena seluruh
tubuh ku basah,di belakang ku sungjay menatapku.
“keringkan
baju kalian,bibi akan mencari baju yang pas untuk kalian, tunggu sebentar”.
Aku memakan dres merah muda selutut dengan
pita kecil di leher milik ga in,sungjay memakai kaos putih dan celana milik
kaka laki laki ga in yang tertinggal,baju basah ku di bawa bersama baju sungjay,saat
aku dan sungjay mencari kamar mandi di rumah ini,baru kami sadar betapa besar
rumah yang sekarang kami masuki.tapi….kosong.
“kau
berteman lama dengan ga in ka sungjay”.
“iya”.
“kau
pasti sering ksini”.
“tida…dia
yang selalu kerumah ku aku tidak pernah kesini,aku hanya pernah mengantar nya
hinga depan rumah, itu saja”.
ku kira sungjay tau lebih bayak dari ku.
Rumah ini sunyi,lantai tangga putih gading
yang kami injak terasa berdegum,bibi itu biang ga in ada di kamarnya,dia bilang
kami teman pertama nya yang datang kerumah ini,aku dan sungjay saling pandang
ketika tau hal itu.
Di lantai dua ada lorong memanjang dekat
jendela lebar terbuka,kami harus lurus kesana sampai menemukan pintu warna
biru.
“jangan
terlihat…sedih,nona ga in tidak suka”.
Sekali lagi aku dan sungjay saling
pandang,bertanya dalam hati,tidak ada yang tau jawabanya, kami kemudian kembali
diam.
Pintu berdecit lembut,didepanku sungjay
membuka pintu kamar pelan,aku menggenggam kain baju di lengan nya,dan saat pintu
terbuka genggaman itu mengendor,perlahan terlepas.
“bibi
sudah bilang kalian akan datang,saat kaliang mengganti baju tadi,apa membawakan
sesuatu untukku”.
Ga in tersenyum,wajah pucat nya sedikit
merona,sungjay berdiri terpaku sama sepertiku,kami terdiam
Sedetik, dua detik,tiga detik, empat detik,lima
detik sampai aku sadar kami memangdang wajah ga in.dan ruangan ini membeku.
Seprai biru muda yang acak acakan,tangan ga
in penuh dengan tabung tabung kecil dengan infuse dan darah,di samping
nya,layar kecil gelap,seperti tidak dipakai,semua alat alat itu melekat di
tubuh lemah ga in,sekali lagi ia tersenyum.
“apa yang kau inginkan heh”.
sungjay tersenyum sambil melangkah mendekat
pada ga in,dia lebih cepat ingat apa yang dikatakan bibi tadi pada kami,aku melangkah
lambat di belakang punggungnya,aku tersenyum kaku.sungjay duduk di depan ga
in,dan aku berdiri ragu di dibelakang punggung sungjay,ga in tersenyum,menepuk
nepukan telapan tagan nya yang lesu ke samping tubunya,menyuruh ku duduk
disana.
Angin muism semi,masuk lewat jendela besar
di belakang punggung ku,beberpa detik kami kembali diam.
“sejak
kapan”.
“sebelum
aku mengenalmu”.
Ga in menjawab pertanyaan sungjay lembut,hampir tidak terdengar.
“apa?”.
Sungjay menatap mata ga in.
“sebenarnya
hanya radang pencernaan,tapi karena aku selalu lupa makan,sekarang menjadi
lebih parah,kangker pencernaan”.
“kenapa
kami tidak pernah tau”.
“karena
kalian akan kasihan padaku”.
Lagi.kami membeku,saat aku menahan air
mataku yang berdesakan,bahu sungjay sudah terguncang,perlahan wajanya mencium
kedua tangna ga in,menumpuk wajahnya yang basah disana.di belakang punggung ga
in,perlahan aku memeluknya,berbaring disampingnya,ini pertama kalinya sejak
kami bertemu dan menjadi sangat dekat,pertama kalinya aku memeluknya,ya
tuhan,ini yang pertama kalinya.
Aku masih mencoba menahan air mataku
jika saja,saat aku memeluk ga in aku tidak merasakan tulang tulang nya menonjol
keluar,dia seperti tulang berlapis
kulit,sesekali aku melihatnya tersenyum,sementara aku mencium pipinya dan
menangis di bahunya.
“aku
akan baik baik saja”.
Suara yang biasanya nyaring dan semangat
itu,berubah lemah dan lembut,tubuh ga in yang biasanya kokoh dan kuat terasa seperti
sayap burung,rapuh.sementara sinar matahari sore menerpa tubuh ku dan ga in,dan
menerpa wajah sayu sungjay,kami masih saling memeluk,perlahan aku mengerti
bagaimana memperlakukan tubuh rapuh itu.sendirian, dan sakit,kami bahkan tidak
berusaha mencari tau.hingga separah ini.
……………..
Mulai hari itu semua nya berubah,di kelas
yang kami fikirkan bukan lagi pelajaran di depan wajah kami,tapi ga in di kamar
birunya,sendirian dan sakit,aku tidak bisa membayangkan ketika perawat perawat asing itu menyentuh
tubuhnya,membersihkan kulitnya yang ringkih,mengganti bajunya,menyuapinya
sambil bicara masalah pribadi dengan perawat lainnya,aku mendengar dia hanya
hidup dengan ayahnya,ibunya membawa kaka laki laki nya pergi ketika umurnya 4
tahun,sekarang ayahnya pergi mengurus operasi nya,pulang pergi tidak kenal
waktu,bertambah tambah dengan pekerjaan nya yang menumpuk,di rumah yang di
kenal ga in hanya bibi itu,kemarin kami masih melihatnya tanpa alat alat
itu,beberapa hari setelah hari itu tubuhnya nya penuh dengan jarum jarum yang
tersambung ke infuse,darah dan entah apa,di samping nya denyut jantung nya
bergerak perlahan,mengingat itu lagi lagi aku terisak,ku tatap sungjay di
samping kiriku,ia menunduk diam,sekali lagi kami menunggu sangat lama untuk
akhir pelajaran kali ini.
Saat bel terakhir berbunyi,sungjay akan
menatapku sambil tersenyum,bergegas mengambil tas ransel kami, lalu berlari
mengambil sepeda sungjay,berdua kami pergi kerumah itu,jantung ku beregup
kencang setiap kali dekat dengan kamar ga in.
Baru beberapa tangga kami injak saat
seseorang berteriak kesakitan dari lantai dua,sungjay menatap mataku,tanpa
harus menatap orang itu,aku tau siapa yang sedang berteriak.hanya sebentar
sebelum dia berteriak tolong aku..ini benar benar sakit.kaki ku lemah ketika
perawat yang lain berlari kekamar itu,wajah panic mereka membuat tubuh ku
lesu,tanpa kusadari aku sudah duduk di anak tangga,bahu ku terguncang dan wajah
ku ku peluk bersama kaki ku,disamping ku sungjay,menyentuh bahuku.
“ga in
sekarang membutuhkan kita”.
“kau
lihat perawat itu,dokter itu,apa mereka diam saat kita pergi kesana”.
sungjay menatap mata ku dalam.
“sekarang
aku tidak perduli lee ae,kita tidak pernah tau kapan terakhir kali melihat ga
in lagi”.
Mendengar kata kata itu aku merasa tubuh ku
menggigil,bahu ku semakin terguncang,saat aku melangkah lambat mendekat pada
sungjay aku dapat melihat mata sungjay basah dan merah.
Berkali kali aku ingin lari dan menjauh dari
rumah ini,setida nya aku tidak mendegar jeritan itu,saat sungjay perlahan
membuka pintu kamar ga in,aku merasa tubuh ku lumpuh,sungjay menggenggam tangan
ku kuat,meyakinkan ku,kami saling memberikan kekuatan,tapi beku,sungjay bahkan
tidak bergerak maju atau mundur ketika dokter memarahinya,matanya kosong dengan
air mata yang jatuh satu persatu.
Ga in melonjak,menggengam seprai
nya,semuanya berantakan,darah mengalir berhamburan,ia masih merintih sambil
meremas perutnya,mengerang seperti bukan manusia,aku melihat bibirnya berdarah
terluka karena giginya,sungguh aku ingin
memeluknya,bicara padanya,tapi aku bahkan tidak bergerak,kakiku menempel di
lantai.perawat perawat itu memegangi tubuh ga in,memaksa tubuh rapuhnya diam,menyuntik
lenganya,perlahan,nafasnya teratur,ia diam,dan tertidur.perawat dan dokter menghela nafas sebelum menatap kami.
“dia
butuh orang yang dia kenal”.
Dokter itu member jalan pada ku dan
sungjay,aku melangkah lambat,mendekat.aku naik ke tempat tidurnya berbaring
disana,sungjay menggenggam tangan ga in yang berlumuran darah dari infus yang
tercabut tadi,perawat datang dengan air dan kain putih tebal,sungjay mengambil
itu dan membersihkan tangan ga in,kami diam,sekarang hanya kami di kamar ini.
Hampir tiga pluh menit kami hanya diam
sampai ga in bangun,ia menatap kami lemah sambil tersenyum.
“kenapa
tidak mendekat”.
Aku
tau dia ingin kami yang memeluknya tadi,seharus nya aku berlari dan
memeluknya.sungjay diam,masih tersenyum sambil menggengga tangan ga in.
Disampingku alat detak jantung itu dimatikan
lagi,artinya ga in lebih baik lagi.
“ayah ku
pergi ,kalian disini sampai pagi kan”.
sungjay menatapku,aku menganguk.
“apa
lagi,kami pasti disini”.
“aku
meminta sesuatu pada ayahku,aku berharap dia memberikan itu”.
Sekali lagi ga in tersenyum,membiarkan
tubuhnya yang sakit tertahan,perlahan aku memeluk tubuhnya,lembut sekali,entah
hanya aku atau sung jay juga menyadarinya,ga in menjadi semakin rapuh,dan
dingin.
“terima
kasih karena sudah menjadi temanku”.
Ia mengambil tangan ku dari
pinggangnya,menggenggam tangan ku dan sungjay.ga in tersenyum lagi,di luar jendela,langit penuh dengan bintang,andai ada
satu yang jatuh maka aku akan berharap ga in bersama kami lebih lama.
“lee
ae…aku sebenarnya suka mawar biru tapi karena kau juga menyukai nya maka
kubilang aku suka warna putih”.
Suara nya semakin lambat dan hampir tidak
terdengar,aku menggegam tangan nya lebih kuat.
“sungjay…aku
sebenarnya tidak suka setiap kali kau menatap wajahku saat aku bicara”.
sungjay tersenyum dengan mata basahnya.
“tapi
aku memang begitu”.
“sungjay…kau
menyukai lee ae ku kan”.
sungjay menatap mataku,wajahnya memucat.
“kenapa
membicarakan itu”.
“kau
juga pernah suka padaku kan,kau memberikan surat surat penggemar mu pada orang
yang kau sukai agar mereka cemburu,tapi aku dan lee ae tidak pernah cemburu
padamu”.
Mungkin aku harusnya tertawa,atau paling
tida aku tersenyum,tapi yang terjadi adalah aku semakin merasa rapuh sama
seperti ga in,setiap kali ia bicara,suaranya mengecil dan mengecil.
“lee
ae…jaga sungjay karena dia akan menjagamu juga”.
Aku meggangguk meski tidak terlalu mengerti
apa yang ga in inginkan.ga in mengerti kami,ia bahkan mengerti apa yang belum
kami sadari.
Diluar bulan berkabut menerpa wajah
kami,tangan kami saling menggegam dan diam,lama sekali,perlahan ga in
memejamkan matanya,aku tau sesuatu,tapi tidak ingin mengerti,sungjay mengangkat
wajahnya dan menatapku,aku diam,tidak ingin tau tentang ini,tapi sungjay beranjak,membuka
pintu dan berteriak memanggil dokter,aku bangun dan berdiri disamping tubuh ga
in, masih menggenggam tangan nya,wajah pucat nya,bulu matanya yang indah…aku
tidak pernah melihatnya setenang ini.
Saat dokter dan perawat masuk kekamar ini,aku
tidak lagi menunggu kabar dari mereka,dokter itu mungkin akan menelpon ayah ga
in yang sudah membayar mahal karena telah mebawanya ke rumah ini,perawat
perawat itu mungkin akan menceritakan kisah ini pada teman teman mereka lalu
melupakannya.aku merasa dunia berputar tidak pada gravitasinya,melayang
layang.betapa aku meyumpah seluruh hal tentang keluarga ini.betapa aku marah
pada orang orang yang bahkan tidak pernah aku lihat,aku marah pada siapapun
yang aku ingat,aku bahkan merasa membenci diriku sendiri karena bahkan
melepaskan ga in dengan tenang.
Saat dokter menggeleng pada kami,sungjay
duduk diam,tidak terisak juga tidak menangis,mata nya kosong dan diam,hanya
itu.aku duduk disampingnya,didepan kamar ga in,diam,sama seperti sungjay,di
pintu bibi menangis terisak.hanya kami kah keluarga ga in,keluarga kaya ini.
Hanya beberapa menit setelah kami semua
diam,seorang laki laki melangkah cepat masuk ke kamar dengan seorang wanita dan
laki laki yang hanya beberapa tahun lebih tua dari kami,tidak lama setelah itu
kami mendengar suara tangisan beradu memanggil manggil nama ga in,sungguh aku
ingin meneriaki mereka,betapa bodoh mereka.tidak kah mereka tau mereka yang ga
in inginkan.
Di samping ku,sungjay menatapku yang tanpa
kusadari aku terisak,menggenggam tangan ku yang basah air mata.
Hari itu aku baru ingat tentang sepenggal
cerita yang ga in ceritakan pada ku dan sungjay.
“perempuan
kecil itu ingin ayah,ibu dan kakanya ada dirumah,hanya itu tidak lebih”.
Maka berakhirlah semua cerita yang ga in
ceritakan pada kami.karena akhirnya ayah,ibu dan kakanya kembali kerumah itu.
Aku baru sadar,banyak hal yang ga in
ceritakan adalah apa yang dia rasakan,semua hal yang terjadi pada dirinya
sendiri hanya saja sulit sekali dia mengungkapka itu pada kami,dan kami tidak
pernah mengerti.
………….
“kau tau
sudah berapa lama disini”.
Aku tercekat,menatap seseorang yang duduk
disampigku,menggegam tangan ku.
“aku
merindukannya lagi”.
Perlahan orang itu memelukku.
“sudah
kubilang kan,biar aku saja yang mengambil rapot L”.
Ia mengusap rambutku,membiarkan ku menagis
di bahunya.
“kita
pulang sekarang,L bilang tadi akan menyusul kesini”.
Aku masih diam.
“lee
ae,aku tau ini pasti terjadi, harus nya aku tidak membiarkan mu kesini”.
Perlahan aku mengangkat wajahku,menatap
mata orang itu,memalingkan wajahku kearah tembok.memperlihatkan tulisan tangan
ga in di masa lalu.
“yong
jay,ga in,lee ae”.
Orang itu tersenyum,memelukku lagi.
“baiklah kita harus pulang,L akan kesini”.
Aku tau matanya hampir basah,jika saja L
tidak menatap kami di gerbang.
Han ga in,dia menjadi seseorang yang
menempatkan dirinya pada cinta terbesar yang ku miliki,yang pernah dan akan
selalu kami miliki,aku dan sungjay miliki,aku tidak perduli jika L melihat ku
menangis disini.ketika dia bertanya siapa yang membuatku menangis,aku akan
bilang namanya ga in,dan L akan mengenalinya,karena sudah berpuluh puluh kali
sejak dia dilahirkan,nama ga in tidak pernah pergi dari setiap dongeng sebelum
tidurnya,ga in yang hidup selamanya di hati kami,ga in yang mengajarkan kami
menjadi teman yang baik.ga in yang pergi, bersama kehilangan terbesar kami.
……………
2-januari-2015
(edit 3,januari,2015),pembaharuan dari rontoknya rambut sahabatku(28-10-13)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar