Rabu, 25 Februari 2015

“Teach me about real love”




          Akhir semester ketika aku harus pergi ke sma anakku,sekolah yang sama ketika aku mulai bertambah dewasa,tempat yang sama,hanya saja bangunan nya kini terasa begitu asing,pohon pohon pinus kecil yang dulu kami tanam sudah tumbuh besar menutupi bangku bangku kayu di bawahnya,banguanan bangunan nya sudah tida satu lantai lagi,seperti dulu,sudah hampir dua puluh tahun aku tidak lagi ketempat ini,aku merindukannya seperti seseorang yang lama tidak aku temui.
   Rerumputan hijau menutupi liat lumpur kami di masa lalu,lapangan bola yang dulu sering kebanjiran setiap kali hujan turun berubah menjadi rumput sintesis hijau yang lembut,aku menyukai setiap jengkal tempat ini,hanya saja sesuatu seperti berhenti ketika aku tau aku tidak lagi di masa lalu,memori memori itu menghilang bersama setiap coretan di tembok yang diganti dan di hancurkan.
“ma,kita lewat sini,bukan kesana”.
    Aku tercekat ketika,anak laki laki ku menggenggam tangan ku,ia lebih tiggi dariku dan lebih tampan dari ayahnya,ia tersenyum mengejek sebelum mencium pipiku.
“kau yakin akan mendapatkan nilai yang baik”.
“jangan bertanya hal yang sudah mama tau”.
    Ia menggenggam tangan ku lagi,disamping kiri dan kanan aku melihat beberapa anak perempuan tersenyum padaku,perlahan ku tatap wajah anakku saat dia menatap jalan.
“jangan fikirkan mereka,aku tidak menyukai wanita wanita seperti mereka”.
    Aku tersenyum,tapi bukan karena anakku,dimasa lalu seseorang juga mengatakan hal yang sama.seseorang yang bahkan tidak pernah kutatap sebagai seorang pria,berpuluh puluh surat kubaca di akhir tahun karena setiap kali dia mendapatkannya,aku yang akan ia suruh membuangnya,seseorang yang pada suatu hari membuatku jatuh cinta ketika dia jatuh cinta padaku,seseorang yang di masa depan menjadi suamiku,pria itu ayah anak ku.
…………..
     L mengamatiku dan tersenyum padaku saat menengok lewat kaca di dinding kelas nya,sempat melambaikan tangan nya sampai teman teman nya yang lain menutupi kaca,berebut melihat orang tua mereka.beberapa kulihat berharap ada kesalahan pengisian rapot sehingga rapot tidak di bagi hari ini.
       Seorang pria lima puluh tahunan duduk di kursi guru,mengamati orang tua murid sambil tersenyum,hanya ada 25 orang di dalam kelas ini 26 dengan pak guru itu,guru termuda ketika aku menjadi bagian pengajarannya.
“apa kabar semuanya,aku berharap akan baik baik saja bahkan setelah menerima hasil belajar anak  anak kalian”.
       Ia terkekeh tentang hal yang tidak lucu,benar benar tidak berubah,tuan kim mengamati wajahku yang duduk di kursi pertama saat aku tersenyum,dia kembali terkekeh,mungkin mengingat sesuatu dari wajahku.
    Kembali ke dimensi berbeda,kembali ke pada tahun tahun yang lalu,ketika kami berebut duduk di meja pertama untuk mendengar tuan kim mengajar,hanya menatap wajah nya sepanjang pelajaran.saat ditanya kami akan tiba tiba sibuk membaca buku,atau menatap teman teman yang tiba tiba acuh di belakang punggung,mengingat itu aku seperti kembali ke masa lalu tepat di bangku ini.
     Saat rapot sudah selesai di bagi,aku menatap L yang duduk di bangku samping kelas,tersenyum sambil beranjak mendekat,lama sebelum aku tersenyum dan mengangguk,mengatakan bahwa sekali lagi dia membuat ku bangga.
“ah ma…aku benar lagi kan”.
     Ia berbalik dan mendekat pada gerombolan teman temannya ketika seseorang memanggil namanya,di masa lalu aku juga melakukan hal yang sama,menyenangan sekali, kami akan sibuk berfoto dan saling memberikan selamat,L ku juga melakukannya.
      Saat L sibuk bersama teman teman nya,aku melangkah lambat diantar lorong,cahaya matahari pagi menerpa sisi tembok,membuat bayangannya meniggi.satu persatu kelas,aku melangkah semakin lambat,angin menerpa dres putihku,perlahan ketika aku masuk ke gerbang pendek diantara lilitan dedaunan kecil,aku seperti kembali ke masa lalu,benar benar kemasa lalu.
……………
“hey lee ae,nama mu lee ae kan?”.
     Seorang perempuan yang sedikit lebit kecil dari ku,melangkah mendekat,aku ragu menyambut tangan nya.
“aku han ga in”.
   Aku tersenyum sambil menyalami tangan itu.
“hey sungjay,kesini sebentar,kita dapat teman baru”.
   Dibelakang punggung nya,seseorang melangkah cepat,menyalamiku dan tersenyum tipis,setelah itu ia kembali duduk di bangkunya,menatap kami sekilas.
“dia memang sedikit aneh”.
       Hari itu,aku bertemu teman baru di hari pertama menjadi siswi sma,bunga bunga mawar diterpa angin,berhembus ke tubuhku,harum sekali,putih,merah,biru.aku suka yang berwarna biru,ga in suka yang putih dan laki laki itu,sungjay,dia suka mawar merah.
…………….
 “ma…kita pulang sekarang,atau…”.
    Aku berbalik,L menatapku dan tersenyum.
“boleh aku menghabiskan sedikit waktu disini”.
“aku menyetujuinya”.
    L berbalik dan keluar dari gerbang kecil,aku kembali sendirian,bunga bunga mawar itu,masih tersusun rapi denagn pot baru,hanya itu yang masih ada,yang lain,baru kulihat hari ini,sudah lama sekali,tentu hanya beberapa hal yang tertinggal,aku melangkah lebih dekat,meraba tembok putih di belakang pot pot kecil,dan tulisan itu masih disana,belum menghilang,aku merabanya,lembut dan dingin,ada sesuatu yang tidak sengaja melukaiku ketika aku kembali mengingat ke belakang sana.jauh sebelum hari ini.
……………..
     Mulai hari itu,sejak pertama kali bertemu dua orang di taman bunga sekolah.tanpa janji aku akan datang kesana,entah aku atau dua orang itu yang menunggu yang ku tau kami seperti memiliki suatu ikatan yang menyenangkan,ribuan detik kami habiskan hanya untuk bermain bersama,menyiram bunga bunga di taman itu atau menghayal kemasa depan.ga in seorang penghayal yang hebat ia bisa membayang kan dua dongeng sekaligus,menceritakan sebuah dongeng tanpa nama pemain,memodifikasinya dengan sempurna,hingga aku dan sungjay hanya diam dan sesekali saling tatap sebelum tersenyum,ga in memberi ruang untuk ku dan sungjay untuk membuat suatu rahasia yang menyenangkan,yang entah kenapa menjadi sangat kusukai.
   sungjay sebaliknya,ia pendengar yang hebat,apapun yang ga in ceritakan,semua hal terasa dia tunggu tunggu,matanya yang berbinar setiap kali ga in mulai berimajinasi,dan aggukan pastinya yang seakan iajuga bisa membayangkan semua hal yang ga in ceritakan,sementara aku tersenyum karena ga in terlalu mengada ngada,ia tersenyum karena terlalu percaya dan bangga,aku diantara mereka,kadang aku mendengarkan ga in dan kadang aku bicara sedikit hal pada sungjay,aku selalu suka setiap kali sungjay bilang,lanjutkan ceritamu,bahkan ketika itu sudah satu minggu berlalu.
   Dengan kombinasi itu,kami bertambah dekat, dekat dan dekat,hingga aku tidak lagi merasa kami punya jarak,lupa bahwa sungjay dan ga in berteman jauh sebelum aku berada diantara mereka,tapi semuanya baik baik saja,andai…beberapa hal terjadi tepat waktu.
   sungjay tampan,tentu saja,dua tahun belakangan setelah bertemu dengan nya,aku akan mengajak ga in membuka surat surat milik penggemar nya,sungjay tidak pernah kehilangan pesonanya,dan entah kenapa ia tak pernah juga kehilangan kata tidak saat seseorang meminta,kata ga in,dia sudah terbiasa dan setiap kali sungjay mengatakan ia dapat surat lagi,ga in akan bilang,buang saja,dan ituah yang sungjay lakukan,sekarang rahasia itu terbagi tiga,aku tau banyak hal tentang mereka berdua,dan mereka juga begitu,mungkin tidak semua hal harus kami tau,aku juga begitu,ada beberapa hal yang kukubur dalam dalam,bukan karena aku tidak ingin memberi tahu pada mereka tapi karena aku sendiri tidak mengerti,dan enggan menyadarinya,surat itu kini selalu sungjay bicarakan padaku tidak lagi pada ga in,entah kenapa aku selalu berfikir di antara wanita wanita itu,jadi surat surat itu selaulu kusimpan dan akan kuserahkan pada ga in untuk dibaca di hadapan sungjay,di akhir semester sementara orang tua kami menunggu pembagian rapot.
         Musim panas kami akan bermain main di dankook,musim dingin kami akan keluar untuk meminum secangkir coklat hangat,musim semi kami akan duduk menunggu matahari terbit diantara calona,di musim gugur kami akan menyisakan waktu untuk pergi ke gunung,melihat crimson menua,selalu seperti itu,karena merasa saling memiliki,kami tidak mengerti dengan sesuatu yang terjadi pada hati kami,pada kami yang semakin dewasa,dan pada kami yang menjadi berbeda.
   Beberapa hal yang penting bahkan kami lewatan,paling tidak aku lewatkan,kami membicarakan hal besar,saling menyayangi dengan rumit, kami tidak menyadari hal kecil yang harus nya menjadi sangat penting sampai suatu hari,sesuatu seperti menyantuh pundakku,mengingatkan ku tentang sesuatu.
    Diakhir kelas 3 ga in tiba tiba sering absen,saat kembali kekelas dia akan bilang tidak ada apa apa,mugkin sebulan pertama kami masih mengagguk,diam diam aku yang sungjay mulai tidak percaya,kami sering melewatkan sore bersama di taman bunga sekolah,tanpa ga in,karena sekali lagi dia absen,berhari hari,semakin lama semakin sering.
“apa ada masalah dengan keluarga nya?”. 
    sungjay bicara khawatir, pertama kali ia banyak bicara adalah karena takut ga in menutupi sesuatu dari kami,tapi bagaimaa aku tau,sungjay yang bahkan sudah berteman sejak smp juga tidak tau apa yang terjadi.semakin lama semakin sering ga in tidak kesekolah,dan selama itu juga sungjay dan aku hanya berdua ditaman itu,menghabiskan waktu bicara,kadang kami lupa seharusnya bertiga.
“apa kita harus kerumahnya,kurasa kita harus tau dia kenapa”.
   sungjay mengangguk,hari itu,hanya beberapa bulan sebelum ujingan akhir,hujan di musim semi,sungjay memboncengku dengan sepedanya,aku berdiri dengan celana panjang hitam ketat dengan tas ransel,pulang sekolah sungjay menjemputku.
   Kami basah kuyup ketika tiba dirumah besar milik ga in,lantai marmer putih nya berembun karena hujan.sungjay memarkir sepeda nya di bawah pohon willow didepan tembok rumah ga in,sementara aku memencet bel rumahnya,seorang wanita tua membuka pintu dengan lembut ia tersenyum dan mempersilahkan kami masuk setelah ku bilang kami teman ga in.
    Aku melangkah ragu ragu karena seluruh tubuh ku basah,di belakang ku sungjay menatapku.
“keringkan baju kalian,bibi akan mencari baju yang pas untuk kalian, tunggu sebentar”.
    Aku memakan dres merah muda selutut dengan pita kecil di leher milik ga in,sungjay memakai kaos putih dan celana milik kaka laki laki ga in yang tertinggal,baju basah ku di bawa bersama baju sungjay,saat aku dan sungjay mencari kamar mandi di rumah ini,baru kami sadar betapa besar rumah yang sekarang kami masuki.tapi….kosong.
“kau berteman lama dengan ga in ka sungjay”.
“iya”.
“kau pasti sering ksini”.
“tida…dia yang selalu kerumah ku aku tidak pernah kesini,aku hanya pernah mengantar nya hinga depan rumah, itu saja”.
    ku kira sungjay tau lebih bayak dari ku.
    Rumah ini sunyi,lantai tangga putih gading yang kami injak terasa berdegum,bibi itu biang ga in ada di kamarnya,dia bilang kami teman pertama nya yang datang kerumah ini,aku dan sungjay saling pandang ketika tau hal itu.
   Di lantai dua ada lorong memanjang dekat jendela lebar terbuka,kami harus lurus kesana sampai menemukan pintu warna biru.
“jangan terlihat…sedih,nona ga in tidak suka”.
    Sekali lagi aku dan sungjay saling pandang,bertanya dalam hati,tidak ada yang tau jawabanya, kami kemudian kembali diam.
   Pintu berdecit lembut,didepanku sungjay membuka pintu kamar pelan,aku menggenggam kain baju di lengan nya,dan saat pintu terbuka genggaman itu mengendor,perlahan terlepas.
“bibi sudah bilang kalian akan datang,saat kaliang mengganti baju tadi,apa membawakan sesuatu untukku”.
   Ga in tersenyum,wajah pucat nya sedikit merona,sungjay berdiri terpaku sama sepertiku,kami terdiam
  Sedetik, dua detik,tiga detik, empat detik,lima detik sampai aku sadar kami memangdang wajah ga in.dan ruangan ini membeku.
    Seprai biru muda yang acak acakan,tangan ga in penuh dengan tabung tabung kecil dengan infuse dan darah,di samping nya,layar kecil gelap,seperti tidak dipakai,semua alat alat itu melekat di tubuh lemah ga in,sekali lagi ia tersenyum.
 “apa yang kau inginkan heh”.
    sungjay tersenyum sambil melangkah mendekat pada ga in,dia lebih cepat ingat apa yang dikatakan bibi tadi pada kami,aku melangkah lambat di belakang punggungnya,aku tersenyum kaku.sungjay duduk di depan ga in,dan aku berdiri ragu di dibelakang punggung sungjay,ga in tersenyum,menepuk nepukan telapan tagan nya yang lesu ke samping tubunya,menyuruh ku duduk disana.
   Angin muism semi,masuk lewat jendela besar di belakang punggung ku,beberpa detik kami kembali diam.
“sejak kapan”.
“sebelum aku mengenalmu”.
   Ga in menjawab pertanyaan  sungjay lembut,hampir tidak terdengar.
 “apa?”.  Sungjay menatap mata ga in.
“sebenarnya hanya radang pencernaan,tapi karena aku selalu lupa makan,sekarang menjadi lebih parah,kangker pencernaan”.
“kenapa kami tidak pernah tau”.
“karena kalian akan kasihan padaku”.
    Lagi.kami membeku,saat aku menahan air mataku yang berdesakan,bahu sungjay sudah terguncang,perlahan wajanya mencium kedua tangna ga in,menumpuk wajahnya yang basah disana.di belakang punggung ga in,perlahan aku memeluknya,berbaring disampingnya,ini pertama kalinya sejak kami bertemu dan menjadi sangat dekat,pertama kalinya aku memeluknya,ya tuhan,ini yang pertama kalinya.
       Aku masih mencoba menahan air mataku jika saja,saat aku memeluk ga in aku tidak merasakan tulang tulang nya menonjol keluar,dia seperti  tulang berlapis kulit,sesekali aku melihatnya tersenyum,sementara aku mencium pipinya dan menangis di bahunya.
“aku akan baik baik saja”.
       Suara yang biasanya nyaring dan semangat itu,berubah lemah dan lembut,tubuh ga in yang biasanya kokoh dan kuat terasa seperti sayap burung,rapuh.sementara sinar matahari sore menerpa tubuh ku dan ga in,dan menerpa wajah sayu sungjay,kami masih saling memeluk,perlahan aku mengerti bagaimana memperlakukan tubuh rapuh itu.sendirian, dan sakit,kami bahkan tidak berusaha mencari tau.hingga separah ini.
……………..
     Mulai hari itu semua nya berubah,di kelas yang kami fikirkan bukan lagi pelajaran di depan wajah kami,tapi ga in di kamar birunya,sendirian dan sakit,aku tidak bisa membayangkan ketika  perawat perawat asing itu menyentuh tubuhnya,membersihkan kulitnya yang ringkih,mengganti bajunya,menyuapinya sambil bicara masalah pribadi dengan perawat lainnya,aku mendengar dia hanya hidup dengan ayahnya,ibunya membawa kaka laki laki nya pergi ketika umurnya 4 tahun,sekarang ayahnya pergi mengurus operasi nya,pulang pergi tidak kenal waktu,bertambah tambah dengan pekerjaan nya yang menumpuk,di rumah yang di kenal ga in hanya bibi itu,kemarin kami masih melihatnya tanpa alat alat itu,beberapa hari setelah hari itu tubuhnya nya penuh dengan jarum jarum yang tersambung ke infuse,darah dan entah apa,di samping nya denyut jantung nya bergerak perlahan,mengingat itu lagi lagi aku terisak,ku tatap sungjay di samping kiriku,ia menunduk diam,sekali lagi kami menunggu sangat lama untuk akhir pelajaran kali ini.
      Saat bel terakhir berbunyi,sungjay akan menatapku sambil tersenyum,bergegas mengambil tas ransel kami, lalu berlari mengambil sepeda sungjay,berdua kami pergi kerumah itu,jantung ku beregup kencang setiap kali dekat dengan kamar ga in.
      Baru beberapa tangga kami injak saat seseorang berteriak kesakitan dari lantai dua,sungjay menatap mataku,tanpa harus menatap orang itu,aku tau siapa yang sedang berteriak.hanya sebentar sebelum dia berteriak tolong aku..ini benar benar sakit.kaki ku lemah ketika perawat yang lain berlari kekamar itu,wajah panic mereka membuat tubuh ku lesu,tanpa kusadari aku sudah duduk di anak tangga,bahu ku terguncang dan wajah ku ku peluk bersama kaki ku,disamping ku sungjay,menyentuh bahuku.
“ga in sekarang membutuhkan kita”.
“kau lihat perawat itu,dokter itu,apa mereka diam saat kita pergi kesana”.
      sungjay menatap mata ku dalam.
“sekarang aku tidak perduli lee ae,kita tidak pernah tau kapan terakhir kali melihat ga in lagi”.
   Mendengar kata kata itu aku merasa tubuh ku menggigil,bahu ku semakin terguncang,saat aku melangkah lambat mendekat pada sungjay aku dapat melihat mata sungjay basah dan merah.
   Berkali kali aku ingin lari dan menjauh dari rumah ini,setida nya aku tidak mendegar jeritan itu,saat sungjay perlahan membuka pintu kamar ga in,aku merasa tubuh ku lumpuh,sungjay menggenggam tangan ku kuat,meyakinkan ku,kami saling memberikan kekuatan,tapi beku,sungjay bahkan tidak bergerak maju atau mundur ketika dokter memarahinya,matanya kosong dengan air mata yang jatuh satu persatu.
    Ga in melonjak,menggengam seprai nya,semuanya berantakan,darah mengalir berhamburan,ia masih merintih sambil meremas perutnya,mengerang seperti bukan manusia,aku melihat bibirnya berdarah terluka karena  giginya,sungguh aku ingin memeluknya,bicara padanya,tapi aku  bahkan tidak bergerak,kakiku menempel di lantai.perawat perawat itu memegangi tubuh ga in,memaksa tubuh rapuhnya diam,menyuntik lenganya,perlahan,nafasnya teratur,ia diam,dan tertidur.perawat dan dokter  menghela nafas sebelum menatap kami.
“dia butuh orang yang dia kenal”.
     Dokter itu member jalan pada ku dan sungjay,aku melangkah lambat,mendekat.aku naik ke tempat tidurnya berbaring disana,sungjay menggenggam tangan ga in yang berlumuran darah dari infus yang tercabut tadi,perawat datang dengan air dan kain putih tebal,sungjay mengambil itu dan membersihkan tangan ga in,kami diam,sekarang hanya kami di kamar ini.
    Hampir tiga pluh menit kami hanya diam sampai ga in bangun,ia menatap kami lemah sambil tersenyum.
“kenapa tidak mendekat”.
   Aku tau dia ingin kami yang memeluknya tadi,seharus nya aku berlari dan memeluknya.sungjay diam,masih tersenyum sambil menggengga tangan ga in.
   Disampingku alat detak jantung itu dimatikan lagi,artinya ga in lebih baik lagi.
“ayah ku pergi ,kalian disini sampai pagi kan”.
    sungjay menatapku,aku menganguk.
“apa lagi,kami pasti disini”.
“aku meminta sesuatu pada ayahku,aku berharap dia memberikan itu”.

    Sekali lagi ga in tersenyum,membiarkan tubuhnya yang sakit tertahan,perlahan aku memeluk tubuhnya,lembut sekali,entah hanya aku atau sung jay juga menyadarinya,ga in menjadi semakin rapuh,dan dingin.
“terima kasih karena sudah menjadi temanku”.
       Ia mengambil tangan ku dari pinggangnya,menggenggam tangan ku dan sungjay.ga in tersenyum lagi,di luar  jendela,langit penuh dengan bintang,andai ada satu yang jatuh maka aku akan berharap ga in bersama kami lebih lama.
“lee ae…aku sebenarnya suka mawar biru tapi karena kau juga menyukai nya maka kubilang aku suka warna putih”.
    Suara nya semakin lambat dan hampir tidak terdengar,aku menggegam tangan nya lebih kuat.
“sungjay…aku sebenarnya tidak suka setiap kali kau menatap wajahku saat aku bicara”.
      sungjay tersenyum dengan mata basahnya.
“tapi aku memang begitu”.
“sungjay…kau menyukai lee ae ku kan”.
      sungjay menatap mataku,wajahnya memucat.
“kenapa membicarakan itu”.
“kau juga pernah suka padaku kan,kau memberikan surat surat penggemar mu pada orang yang kau sukai agar mereka cemburu,tapi aku dan lee ae tidak pernah cemburu padamu”.
       Mungkin aku harusnya tertawa,atau paling tida aku tersenyum,tapi yang terjadi adalah aku semakin merasa rapuh sama seperti ga in,setiap kali ia bicara,suaranya mengecil dan mengecil.
“lee ae…jaga sungjay karena dia akan menjagamu juga”.
    Aku meggangguk meski tidak terlalu mengerti apa yang ga in inginkan.ga in mengerti kami,ia bahkan mengerti apa yang belum kami sadari.
        Diluar bulan berkabut menerpa wajah kami,tangan kami saling menggegam dan diam,lama sekali,perlahan ga in memejamkan matanya,aku tau sesuatu,tapi tidak ingin mengerti,sungjay mengangkat wajahnya dan menatapku,aku diam,tidak ingin tau tentang ini,tapi sungjay beranjak,membuka pintu dan berteriak memanggil dokter,aku bangun dan berdiri disamping tubuh ga in, masih menggenggam tangan nya,wajah pucat nya,bulu matanya yang indah…aku tidak pernah melihatnya setenang ini.
       Saat dokter dan perawat masuk kekamar ini,aku tidak lagi menunggu kabar dari mereka,dokter itu mungkin akan menelpon ayah ga in yang sudah membayar mahal karena telah mebawanya ke rumah ini,perawat perawat itu mungkin akan menceritakan kisah ini pada teman teman mereka lalu melupakannya.aku merasa dunia berputar tidak pada gravitasinya,melayang layang.betapa aku meyumpah seluruh hal tentang keluarga ini.betapa aku marah pada orang orang yang bahkan tidak pernah aku lihat,aku marah pada siapapun yang aku ingat,aku bahkan merasa membenci diriku sendiri karena bahkan melepaskan ga in dengan tenang.
    Saat dokter menggeleng pada kami,sungjay duduk diam,tidak terisak juga tidak menangis,mata nya kosong dan diam,hanya itu.aku duduk disampingnya,didepan kamar ga in,diam,sama seperti sungjay,di pintu bibi menangis terisak.hanya kami kah keluarga ga in,keluarga kaya ini.
     Hanya beberapa menit setelah kami semua diam,seorang laki laki melangkah cepat masuk ke kamar dengan seorang wanita dan laki laki yang hanya beberapa tahun lebih tua dari kami,tidak lama setelah itu kami mendengar suara tangisan beradu memanggil manggil nama ga in,sungguh aku ingin meneriaki mereka,betapa bodoh mereka.tidak kah mereka tau mereka yang ga in inginkan.
    Di samping ku,sungjay menatapku yang tanpa kusadari aku terisak,menggenggam tangan ku yang basah air mata.
    Hari itu aku baru ingat tentang sepenggal cerita yang ga in ceritakan pada ku dan sungjay.
“perempuan kecil itu ingin ayah,ibu dan kakanya ada dirumah,hanya itu tidak lebih”.
    Maka berakhirlah semua cerita yang ga in ceritakan pada kami.karena akhirnya ayah,ibu dan kakanya kembali kerumah itu.
   Aku baru sadar,banyak hal yang ga in ceritakan adalah apa yang dia rasakan,semua hal yang terjadi pada dirinya sendiri hanya saja sulit sekali dia mengungkapka itu pada kami,dan kami tidak pernah mengerti.
………….
“kau tau sudah berapa lama disini”.
    Aku tercekat,menatap seseorang yang duduk disampigku,menggegam tangan ku.
“aku merindukannya lagi”.
     Perlahan orang itu memelukku.
“sudah kubilang kan,biar aku saja yang mengambil rapot L”.
     Ia mengusap rambutku,membiarkan ku menagis di bahunya.
“kita pulang sekarang,L bilang tadi akan menyusul kesini”.
   Aku masih diam.
“lee ae,aku tau ini pasti terjadi, harus nya aku tidak membiarkan mu kesini”.
      Perlahan aku mengangkat wajahku,menatap mata orang itu,memalingkan wajahku kearah tembok.memperlihatkan tulisan tangan ga in di masa lalu.
“yong jay,ga in,lee ae”.
      Orang itu tersenyum,memelukku lagi.
 “baiklah kita harus pulang,L akan kesini”.
       Aku tau matanya hampir basah,jika saja L tidak menatap kami di gerbang.
    Han ga in,dia menjadi seseorang yang menempatkan dirinya pada cinta terbesar yang ku miliki,yang pernah dan akan selalu kami miliki,aku dan sungjay miliki,aku tidak perduli jika L melihat ku menangis disini.ketika dia bertanya siapa yang membuatku menangis,aku akan bilang namanya ga in,dan L akan mengenalinya,karena sudah berpuluh puluh kali sejak dia dilahirkan,nama ga in tidak pernah pergi dari setiap dongeng sebelum tidurnya,ga in yang hidup selamanya di hati kami,ga in yang mengajarkan kami menjadi teman yang baik.ga in yang pergi, bersama kehilangan terbesar kami.
……………
2-januari-2015 (edit 3,januari,2015),pembaharuan dari rontoknya rambut sahabatku(28-10-13)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik