2010
Sayup
sayup aku masih dapat mendengar bunyi suara kaki seseorang berlari di koridor
mendekat pada ku,dengus nafasnya halus dan semakin dekat semakin
melambat,berhenti ketika aku mengangkat wajahku menatap kearahnya,ia berdiri
sempoyongan sesekali menunduk meletakan kedua telapak tangannya pada lutut,
nafasnya masih terengah hingga ia
kembali berdiri tegap menatap padaku yang duduk di sisi dinding.
“aku sudah mendapatkannya”.
Ia
menatap ku,matanya adalah mahakarya tuhan yang paling indah,takan pernah
kutemukan pada siapapun,bibir nya tersenyum
ragu,aku melihat bulan di tanggal 15 diwajahnya.
“kau kira itu sudah membuat ku senang”.
Ia
menunduk,senyum yang ku sukai itu menghilang,berganti dengan sesuatu yang lebih
kusukai bibir bebek ketika ia kecewa.
“berikan padaku”.
Ia menghela
nafanya,masih menunduk sambil memberikan kertas merah hati dengan tulisan
tangan santun merunduk yang seakan memeluk huruf sebelumnya itu padaku.
“ku bilang merah … merah muda bukan merah hati”.
“kau hanya bilang warna merah,bukan bilang merah
muda”.
“kau menantang ku”.
Aku
berdiri,ia tak bergeming matanya menatap ku lebih tajam dari pada yang ku
lakukan padanya.
“apa kau bermaksud mengintimidasi ku dengan matamu”.
“mata
indah mu”.kulanjutkan dalam hati ku.
Aku
mendekat padanya,medengar bunyi halus nafasnya,dan sesuatu yang terpompa di
dadanya,aku benar benar menyukai setiap detik saat bersama orang ini.
“aku tidak be…”.
“kau selalu menjawab kata kata ku,bahkan saat aku
tak bertanya padamu”.
“kau bertanya apa aku mengintimidasimu”.
Suara nya menjadi
nyaring,koridor sekolah yang sepi memantulkan suara seakan berbenturan dengan
dinding goa.
Aku
melihatnya menutup mulutnya,kepalanya semakin menunduk,benar benar tidak lagi
menatapku.
Aku
menarik nafasku dalam dalam,mencoba membuatnya semakin tertekan,ini lah gaya
alumni ku saat aku berdiri di posisi gadis itu.
“kau menantangku,sejak awal kubilang cari surat
cinta teman mu untukku itu,merah … merah muda”.
Ia semakin
menunduk,entah karna apa tapi aku melihat wajah itu merona,dan aku merasa udara
seperti melayang layang didadaku,aku akan meneruskan gaya ku ini.
“kau datang terlambat dan melompati pagar
sekolah,apa aku bisa memaafkan mu”.
“apa kau berfikir teman teman ku akan memperlakukan
mu lebih baik dari pada aku?”.
“kau tau,,,satu satu nya hal yang membuat mu tak
punya masalah adalah mencoba di sukai semua orang disini,berusahalah,kau
mungkin bisa membuat semua orang terkesan karna mereka bilang kau cantik,kau
pintar,kau kaya,kau punya segalanya kau…”.
Kata kata ku
belum selesai saat ia memotong nya.merona tadi bukan tersipu tapi karna akan
meledak.
“berhentilah bicara,kau tidak tau apa apa soal hidup
ku,kau tidak akan pernah tau,aku juga tidak pernah berharap mereka menyukai
ku,aku sama,aku adalah satu dari banyak orang dilapangan itu,aku siswi baru dan
ada banyak sekali anak yang sama dengan ku,kenapa kau hanya memarahiku,kau
tidak tau apa apa tentang ku,jadi kumohon tutuplah mulutmu”.
Aku
diam,kata kata itu seperti melodi yang menusuk nusuk,dramatis sekali saat ia
berlari membelakangiku,aku dapat melihat tangan nya menyapu air matanya,aku tau
ada yang salah,benar benar kesalahan ku,aku mecoba mengejar tapi seseorang dari
lapangan memanggilku,aku mendengus kesal,berbalik dan kembali kelapangan.
………………
Orientasi
siswa baru disekolah ku sudah selesai,lelah sekali membuat orang lain lelah,ku
tak mengerti apa yang membuat mereka menyukai manusia seperti ku tapi aku benar
benar mendapat banyak kado dari adik adik kelasku.
Aku
berjalan lambat saat sekolah sudah sunyi,lengah dan megah,ruang ruangan
tertutup,semua siswa baru sudah kembali ke rumah,teman teman ku juga begitu,aku
tertinggal karna bertanggung jawab untuk laporan peralatan.
Hujan
turun beberapa menit yang lalu ,kemudian mereda begitu saja,mungkin hanya
berjalan lambat di daerah ini,aku dapat mencium bau harum tanah bekas hujan
tadi,sayup sayup tapi semakin aku melangkah semakin terdengar jelas,suara
seseorang,aku tak pernah mendengar sebelumya ,tapi aku mengenal dengan baik.
Aku
melangkah cepat,hampir berlari ketika mendengar suara itu berubah menjadi
jeritan dan tangisan,aku melaiki tangga diruangan paling sudut,melangkah
semakin cepat ketika melihat seseorang membenturkan kepalanya ketembok,udara
didadaku berdesakan,aku tak mengerti tapi ini benar benar membuat dadaku
sesak.aku berlari menyentuh tubuh gadis itu,memeluknya yang terus meronta ingin
melukai dirinya sendiri,hati ku ngilu saat kulihat lengan nya penuh darah dan
bergetar hebat.apa yang kulakukan tadi hingga membuat nya seperti ini,aku benar
benar tak mengerti .
“tenanglah,sekarang kau tidak sendirian,kau akan baik baik saja”.
Aku
masih mendengar nya berteriak tapi tidak separah tadi,perlahan sekali aku
mengambil pisau kecil dari tangan kirinya,membuangnya kelantai dasar, di tangan
kanan nya aku melihat goresan goresan dalam yang penuh darah,ia diam tubuhnya
melemah.aku memeluk tubuh rapuh itu selembut mungkin,seperti mejaga porselin
peninggalan dinasti ming agar tetap
utuh.
Sekarang
teriakan itu berhenti,sunyi. yang terdengar hanya bunyi air terjatuh bekas
hujan tadi dan isakannya.
“apa ada sesuatu yang kau fikir bisa kau bagi”.
Suanyi aku
seakan menyusun prolog.
“aku akan mendengarkan semua hal yang ingin kau
ceritakan”.
Ia tetap
diam,yang kutau ia memelukku semakin erat,menjatuhkan wajah nya di bahuku,aku
mendengar isakan itu berhenti,sunyi lagi,angin mendesir menerbangkan rambut
hitamnya.dan entah apa seperti bukan tangan ku,aku mengelus rambutnya,perlahan
melihat bekas luka karna pisau itu mongering darahnya.
“kita harus ke ruangan kesehatan”.
Ia tetap
diam,aku berencana memopohnya jika dia tetap seperti itu.
“kau benar…semua orang melihat ku sebagai gadis
sempurna,aku cantik,aku kaya aku pintar…semua yang kau katakana tidak ada yang
salah…tapi kau salah jika kau mengaggapku menyukai semua itu”.
“sekarang bahkan tak ada yang menjemputku”.
Wajahnya
masih dibahuku,dan tubuhku menegang,menjaga agar ia tetap berada di tempat yang
ia rasa nyaman.
“aku sudah bekerja sebelum usiaku genap 6
tahun,menjadi caver di semua majalah,menjadi model di semua iklan paling
terkenal,drama drama ku selalu meraih reting tertinggi,semua orang
memujiku,semua orang hanya tau yang mereka semua lihat”.
“aku masih sekolah dengan jadwal suting yang
menggila,setidanya sampai hari ini.aku selalu tersenyum pada semua orang yang
kutemui,semua orang yang sebenarnya memakiku di jejaring social,menyumpahiku
karna potongan baju ku terlau pendek,rambut ku terlalu manja,hak ku terlalu
tinggi untuk anak sma yang baru saja lulus tes,aku terlalu sering lipsing,drama
ku hanya terkenal karna yang menonton adalah pengkritik yang akan mengomentari
semua hal yang kulakukan,semua hal yang bahkan tak pernah bisa mereka lakukan”.
Ia menarik
nafasnya,sekarang wajah itu menatapku.
“aku adalah bank untuk orang tua ku,bisnis paling
tepat untuk menguntungkan mereka,biar ku beri tau…bukan aku yang mereka
butuhkan tapi uang ku…bukan aku”.
Air mata
nya terjatuh di pergelangan tangan ku,aku membisu otak ku kaku karna terlalu
banyak hal yang tak kufikirkan terjadi didepan wajahku.
Ia terisak
lagi,sekarang aku mengerti kenapa luka ditangan nya tak terasa perih
sekarang,mungkin karna Sesuatu dihatinya jauh lebih sakit.aku meraba rambut
depanya,menyingkirkan nya agar tak menutupi wajah itu,aku menyukai sorot
matanya,aku menyukai bibir lembut itu,aku bahkan menyukai bibir bebeknya,tapi
sungguh melihat matanya berair dan
bibirnya bergetar bukan sesuatu yang membut ku bahagia.
Saat
rambut itu sudah menyingkir aku dapat melihat dahinya membiru,memerah dan
sedikit berdarah.itu membut jemariku
meraih helain rambutnya,membawa kepalanya kedadaku dan disana ia terisak
lagi,bahunya terguncang,dan aku semakin
tidak mengerti kenapa ia bisa begitu baik baik saja di depan kamera,didepan ku
sebelum kejadian itu.
Air hujan
sudah berhenti,angin lembut meraba tubuhku,aku tidak mengerti tentang hidup
semacam gadis ini,aku dibesarkan seorang ibu yang tak pernah menuntut apapun
kecuali aku datang kesekolah dan pulang tepat waktu,aku hidup di lingkungan
sederhana yang menuntutku naik tangga ke lantai paling atas setiap hari,rumah
yang diwariskan ayah pada kami,waktu ku habis untuk mengantar pesanan toboki
buatan ibuku.tak ada yang istimewa kecuali orang yang melahirkan ku.ibuku.
“kau tau…tidak semua orang berada di posisi seperti
mu,dan hanya orang bodoh yang tak mengharapkan hidup seperti mu,itu karna
mereka tak pernah tau apa yang sebenarnya kau rasakan”.
Ia
mengangkat wajahnya,menatap wajahku.
“mungkin itu yang membuatmu mengaggap hidup mereka
baik baik saja”.
Matanya bersinar,mahakarya tuhan itu menatap ku
dekat sekali.
“aku tau…aku mungkin tidak hidup selama yang kau kira
untuk bisa mengatakan hal ini…tapi aku tau semua yang kau miliki bukan sesuatu
yang membuat mu akan bahagia…aku mengenal seseorang dari bukunya,ia
bilang.bukan sesuatu yang istimewa yang membuatnya bahagia,tapi sesuatu yang
dia ciptakan.dan kau tau apa yang dia ciptakan untuk bahagia,itu adalah
kebahagian”.
“tadi kau bertaya kenapa hanya kau yang kumarahi…ada
dua alasan kenapa aku memilihmu untuk kumarahi…pertama kau membuat
kesalahan,,,kedua kau terlihat lebih kuat dari semua teman teman mu”.
“tapi dari dua alasan itu,aku merasa…aku berani
memaharimu karna kau terlihat lebih kuat,aku mengira kau takan menangis”.
“tapi aku akan memberitahumu yang sebenarnya, alasan
sebenarnya kenapa aku memelihmu …. Adalah karna kau istimewa”.
Ia
menunduk,dan setelah menatap ku lagi,aku melihat senyum itu kembali.
“dan seperti itulah cara tuhan membuat mu istimewa”.
Ia
mengagguk,cahaya keemasan terjatuh di wajahnya,membuat bulu matanya semakin
lentik.
Aku
terpesona ,tapi hanya sebentar.
“kau harus pulang,aku aka mengantarmu”.
“terima
kasih”.
Ia
tersenyum,sempat kulihat ia meringis karna sakit dilengan nya,tapi entah kenapa
itu membuat kulega,itu artinya hatinya tidak sesakit luka itu lagi.angin
berdesir lagi,dingin bekas hujan sesaat tadi,aku membuka jaketku,meletakan di
sisi bahunya,aku berjalan lambat,dan dia dibelakangku.
“ini milikmu”.
Aku
berbalik,menatap sesuatu di tangan nya.kotak kecil dengan bungkusan kado tidak
rapi.
“aku mendapatkannya di saku jaketmu”.
Itu dari
adik kelasku,yang kecil di saku jaketku,tapi kurasa aku tak harus
mengatakannya.
“ambilah,sebenarnya aku fens mu”.
Dia
tersenyum,tapi aku tau ia mengerti aku berbohong padanya.
“aku hanya akan sekolah hari ini”.
Aku
membeku,tidak meliriknya tapi dia yang berjalan lambat mendekat padaku,kami
diam,tak ada yang harus disesali.seharusnya.
“aku pergi kesekolah hanya karna ada kamera”.
Aku
mengagguk takzim,ini lebih baik dari pada menggaruk kepalaku.
“kau harus lebih bersemangat,kau adalah manusia
istimewa,aku iri karna tuhan sangat menyayangimu”.susah payah aku terdengar
ceria.
Ia
tersenyum,tapi matanya berembun.tak ada yang harus dilakukan,toh aku hanya akan
ada di kota ini beberapa bulan lagi saja,setelah kelulusan aku akan pergi ke
new yourk,aku sudah menandatangani surat beasiswa fotografer,ibuku sudah
setuju.tak ada yang menghalangiku.
“kau harus mengatarkan ku kan,luka ini bertambah
perih”.
ia
menyengol bahuku,lalu berjalan didepanku.
“sebenarnya…aku belum tau namamu”.
Ia merikku,matanya menatap mataku.minta jawaban.
“nanti saja…kalau kita bertemu lagi”.
Ia berbalik lagi aku melihat punggungnya
perlahan menjauh,dibelakangnya aku berjalan lambat,takut waktu seperti ini
takan pernah ku dapatkan lagi.
…………...
2014
……………
Ini
hari pertama setelah 4 tahun aku tak mencium bau harum tanah seoul,aku
melangkah cepat,keluar dari bandara.aku yakin ibu sudah menunggu ku dengan
toboki yang sangat sering kami bicarakan di telphon,di antara antrian
berdesakan para penjemput,aku dapat melihat namaku,menyembul dianta papan papan
itu,aku mengeluh…aku belum lupa belokan di setiap gang di seoul.itu artinya aku
tak membutuhkan seseorang untuk menjemputku,ibuku bahkan benar benar tak
berniat melihat bandara.
Aku
melangkah kedekat orang itu,ia tersenyum sambil menyantuh ranselku.
“aku bisa membawanya sendiri”.
Ia tersenyum
lagi sambil merapikan kaca matanya.
“sebenarnya kita tak langsung pulang kerumah,tuan
kim bilang ada pemotretan dengan artis yang sedikit keras kepala,iklan
sabun…dia harus terlihat polos…maksudku tidak memakai asesoris apapun”.
Aku
tercekat,tujuan utama ku kembali kesini lagi adalah bertemu ibuku bukan
bekerja.
“baik lah,aku akan melakukan itu”.
Aku duduk
di kursi belakang dan dapat melihatnya tersenyum dari kaca spion,berbelok
melewati baliho besar di samping jalan.
“itu orang yang akan kau foto”.
Dia
terlambat,baliho itu sudah terlalu jauh,tertutup daun pohon crimson.
…………….
Aku melangkah lambat,benar benar setangh
hati, jangan salah kan aku jika orang itu menolakku karna ku dengan dia keras
kepala,tentang gelangnya.
Akhir
akhir ini aku sedikit kelelah karna penyusun tesis sambil bekerja untuk perusahaan
korea,jadi ku kira aku akan senitif,terlibih karna akan memakan toboki dingin.
Gedung
itu besar sekali,banyak foto terpajang,tapi aku tak punya waktu melihatnya,aku
melangkah cepat.dingin menyusuri tubuhku,ac nya overdosis,padahal
suhu sudah baik baik saja.
Orang
yang tadi menjemputku,berjalan di depanku,sesekali ia melirikku sambil
tersenyum,seharusnya aku menyukai nya karna murah hati,tapi yang terjadi, laki
laki itu malah terlihat murah senyum,murahan sekali.
Bau harum
dari farpum farpum keluaran paris yang hanya di jual perlusin di satu Negara
tercuim menyengat,aku memejamkan mataku sebentar,sebelum menyalami orang orang
yang akan bekerjasama dengan ku,memang benar teori filsafat jaman
dulu,kedudukan membuatmu meresa penting dan ditunggu.aku merasa sombong sekali.
“ayolah kau hanya harus memakai dres putih itu tidak
dengan asesoris apapun”.
Aku mendegar
itu dari ruang meke up hanya berjarak dinding dari ruangan ini.
“sudah kubiang batalkan saja kalau aku memang benar
benar harus melepaskannya”.
“ya tuhan,,,kita akan mendapatkan masalah besar,apa
itu sudah tak kekecilan karna kau pakai sejak sma”.
Sunyi…tak ada perdebatan lagi,yang terdengar adalah
suara telapak kaki dengan high heels mendekat.ini biasa kudengar tapi terasa
berbeda,sangat familiar.
Dari balik
belokan seseorang keluar tergesa,wajahnya Nampak tak perduli,angkuh sekali,seakan
tak punya urusan apapun dengan kami.aku mendekat pada kamera.membidik tangan
nya,gelang yang ia pakai,bisa di edit takan membuat masalah.
Seharus
nya sekarang aku melihta nya bergaya,dan lensa ku akan bergerak liar mengikuti
gerakan tubuhnya,tapi ia diam terpaku,apa ini memang gayanya.perlahan aku mengangkat
wajahku,menjauhi lensa.menatap mata orang itu,mahakarya tuhan yang sangat indah,aku
menghembuskan nafasku,udara dingin memasuki sela sela dadaku,aku dapat merasakan
helium meledakan mawar dan hanya meninggalkan kelopakknya yang melayang layang
di otakku.ia mendekat.senyum itu membuat mimpi ini menjadi semakin
sempurna,senyum bulan sabitnya,,,ia melangkah semakin dekat.dan rasa itu
semakin nyata.
“aku kim lee
ae…kau pasti tuan park chanyeol”.
“lama sekali menunggumu kembali kekorea”.
Aku
masih menatap mata itu,tak ada yang berubah kecuali ia bertambah cantik.apa aku
berhalusinasi karna kelelahan.
“aku selalu memakai gelang dari fens ku,dulu ketika
sma ya memberikannya”.
Perlahan
sekali,aku merasa ini adalah ribuan detik yang kutunggu,ia menyentuh
tubuhku,memelukku erat.dan tenang.
“kau benar, tuhan menyayanyiku”.
“kau benar, tuhan menyayanyiku”.
“park chanyeol jangan pergi lagi,aku sudah berusaha
seperti yang kau katakan”.
Aku tau semua
menatap kami,tapi siapa perduli,mereka hanya penonton dari drama romantic dengan alur yang nyata.
“kim lee ae,kumohon lepas gelang itu,aku lebih suka
sesuatu melingkar di jarimu dari pada dilenganmu”.
Aku melirik
lengan halus nya,tapi dapat kulihat jelas goresan di masa lalu.ia
tersenyum.hangat menyusuri dadaku lagi.
Waktu
membawaku kembali ke masa depan dengan lembaran seputih porselin bersama orang
istimewa ini.
Tuhan melengkapi mozaik hidupku.
selesai
9-5-14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar