Kamis, 26 Februari 2015

Just You



2010
      Sayup sayup aku masih dapat mendengar bunyi suara kaki seseorang berlari di koridor mendekat pada ku,dengus nafasnya halus dan semakin dekat semakin melambat,berhenti ketika aku mengangkat wajahku menatap kearahnya,ia berdiri sempoyongan sesekali menunduk meletakan kedua telapak tangannya pada lutut, nafasnya masih terengah hingga ia  kembali berdiri tegap menatap padaku yang duduk di sisi dinding.
“aku sudah mendapatkannya”.
      Ia menatap ku,matanya adalah mahakarya tuhan yang paling indah,takan pernah kutemukan  pada siapapun,bibir nya tersenyum ragu,aku melihat bulan di tanggal 15 diwajahnya.
“kau kira itu sudah membuat ku senang”.
       Ia menunduk,senyum yang ku sukai itu menghilang,berganti dengan sesuatu yang lebih kusukai bibir bebek ketika ia kecewa.
“berikan padaku”.
   Ia menghela nafanya,masih menunduk sambil memberikan kertas merah hati dengan tulisan tangan santun merunduk yang seakan memeluk huruf sebelumnya itu padaku.
“ku bilang merah … merah muda bukan merah hati”.
“kau hanya bilang warna merah,bukan bilang merah muda”.
“kau menantang ku”.
    Aku berdiri,ia tak bergeming matanya menatap ku lebih tajam dari pada yang ku lakukan padanya.
“apa kau bermaksud mengintimidasi ku dengan matamu”.
“mata indah mu”.kulanjutkan dalam hati ku.
     Aku mendekat padanya,medengar bunyi halus nafasnya,dan sesuatu yang terpompa di dadanya,aku benar benar menyukai setiap detik saat bersama orang ini.
“aku tidak be…”.
“kau selalu menjawab kata kata ku,bahkan saat aku tak bertanya padamu”.
“kau bertanya apa aku mengintimidasimu”.
    Suara nya menjadi nyaring,koridor sekolah yang sepi memantulkan suara seakan berbenturan dengan dinding goa.
    Aku melihatnya menutup mulutnya,kepalanya semakin menunduk,benar benar tidak lagi menatapku.
    Aku menarik nafasku dalam dalam,mencoba membuatnya semakin tertekan,ini lah gaya alumni ku saat aku berdiri di posisi gadis itu.
“kau menantangku,sejak awal kubilang cari surat cinta teman mu untukku itu,merah … merah muda”.
   Ia semakin menunduk,entah karna apa tapi aku melihat wajah itu merona,dan aku merasa udara seperti melayang layang didadaku,aku akan meneruskan gaya ku ini.
“kau datang terlambat dan melompati pagar sekolah,apa aku bisa memaafkan mu”.
“apa kau berfikir teman teman ku akan memperlakukan mu lebih baik dari pada aku?”.
“kau tau,,,satu satu nya hal yang membuat mu tak punya masalah adalah mencoba di sukai semua orang disini,berusahalah,kau mungkin bisa membuat semua orang terkesan karna mereka bilang kau cantik,kau pintar,kau kaya,kau punya segalanya kau…”.
    Kata kata ku belum selesai saat ia memotong nya.merona tadi bukan tersipu tapi karna akan meledak.
“berhentilah bicara,kau tidak tau apa apa soal hidup ku,kau tidak akan pernah tau,aku juga tidak pernah berharap mereka menyukai ku,aku sama,aku adalah satu dari banyak orang dilapangan itu,aku siswi baru dan ada banyak sekali anak yang sama dengan ku,kenapa kau hanya memarahiku,kau tidak tau apa apa tentang ku,jadi kumohon tutuplah mulutmu”.
   Aku diam,kata kata itu seperti melodi yang menusuk nusuk,dramatis sekali saat ia berlari membelakangiku,aku dapat melihat tangan nya menyapu air matanya,aku tau ada yang salah,benar benar kesalahan ku,aku mecoba mengejar tapi seseorang dari lapangan memanggilku,aku mendengus kesal,berbalik dan kembali kelapangan.
………………
     Orientasi siswa baru disekolah ku sudah selesai,lelah sekali membuat orang lain lelah,ku tak mengerti apa yang membuat mereka menyukai manusia seperti ku tapi aku benar benar mendapat banyak kado dari adik adik kelasku.
    Aku berjalan lambat saat sekolah sudah sunyi,lengah dan megah,ruang ruangan tertutup,semua siswa baru sudah kembali ke rumah,teman teman ku juga begitu,aku tertinggal karna bertanggung jawab untuk laporan peralatan.
     Hujan turun beberapa menit yang lalu ,kemudian mereda begitu saja,mungkin hanya berjalan lambat di daerah ini,aku dapat mencium bau harum tanah bekas hujan tadi,sayup sayup tapi semakin aku melangkah semakin terdengar jelas,suara seseorang,aku tak pernah mendengar sebelumya ,tapi aku mengenal dengan baik.
    Aku melangkah cepat,hampir berlari ketika mendengar suara itu berubah menjadi jeritan dan tangisan,aku melaiki tangga diruangan paling sudut,melangkah semakin cepat ketika melihat seseorang membenturkan kepalanya ketembok,udara didadaku berdesakan,aku tak mengerti tapi ini benar benar membuat dadaku sesak.aku berlari menyentuh tubuh gadis itu,memeluknya yang terus meronta ingin melukai dirinya sendiri,hati ku ngilu saat kulihat lengan nya penuh darah dan bergetar hebat.apa yang kulakukan tadi hingga membuat nya seperti ini,aku benar benar tak mengerti .
    “tenanglah,sekarang kau tidak sendirian,kau akan baik baik saja”.
       Aku masih mendengar nya berteriak tapi tidak separah tadi,perlahan sekali aku mengambil pisau kecil dari tangan kirinya,membuangnya kelantai dasar, di tangan kanan nya aku melihat goresan goresan dalam yang penuh darah,ia diam tubuhnya melemah.aku memeluk tubuh rapuh itu selembut mungkin,seperti mejaga porselin peninggalan dinasti ming  agar tetap utuh.
     Sekarang teriakan itu berhenti,sunyi. yang terdengar hanya bunyi air terjatuh bekas hujan tadi dan isakannya.
“apa ada sesuatu yang kau fikir bisa kau bagi”.
   Suanyi aku seakan menyusun prolog.
“aku akan mendengarkan semua hal yang ingin kau ceritakan”.
  Ia tetap diam,yang kutau ia memelukku semakin erat,menjatuhkan wajah nya di bahuku,aku mendengar isakan itu berhenti,sunyi lagi,angin mendesir menerbangkan rambut hitamnya.dan entah apa seperti bukan tangan ku,aku mengelus rambutnya,perlahan melihat bekas luka karna pisau itu mongering darahnya.
“kita harus ke ruangan kesehatan”.
    Ia tetap diam,aku berencana memopohnya jika dia tetap seperti itu.
“kau benar…semua orang melihat ku sebagai gadis sempurna,aku cantik,aku kaya aku pintar…semua yang kau katakana tidak ada yang salah…tapi kau salah jika kau mengaggapku menyukai semua itu”.
“sekarang bahkan tak ada yang menjemputku”.
     Wajahnya masih dibahuku,dan tubuhku menegang,menjaga agar ia tetap berada di tempat yang ia rasa nyaman.
“aku sudah bekerja sebelum usiaku genap 6 tahun,menjadi caver di semua majalah,menjadi model di semua iklan paling terkenal,drama drama ku selalu meraih reting tertinggi,semua orang memujiku,semua orang hanya tau yang mereka semua lihat”.
“aku masih sekolah dengan jadwal suting yang menggila,setidanya sampai hari ini.aku selalu tersenyum pada semua orang yang kutemui,semua orang yang sebenarnya memakiku di jejaring social,menyumpahiku karna potongan baju ku terlau pendek,rambut ku terlalu manja,hak ku terlalu tinggi untuk anak sma yang baru saja lulus tes,aku terlalu sering lipsing,drama ku hanya terkenal karna yang menonton adalah pengkritik yang akan mengomentari semua hal yang kulakukan,semua hal yang bahkan tak pernah bisa mereka lakukan”.
    Ia menarik nafasnya,sekarang wajah itu menatapku.
“aku adalah bank untuk orang tua ku,bisnis paling tepat untuk menguntungkan mereka,biar ku beri tau…bukan aku yang mereka butuhkan tapi uang ku…bukan aku”.
    Air mata nya terjatuh di pergelangan tangan ku,aku membisu otak ku kaku karna terlalu banyak hal yang tak kufikirkan terjadi didepan wajahku.
   Ia terisak lagi,sekarang aku mengerti kenapa luka ditangan nya tak terasa perih sekarang,mungkin karna Sesuatu dihatinya jauh lebih sakit.aku meraba rambut depanya,menyingkirkan nya agar tak menutupi wajah itu,aku menyukai sorot matanya,aku menyukai bibir lembut itu,aku bahkan menyukai bibir bebeknya,tapi sungguh  melihat matanya berair dan bibirnya bergetar bukan sesuatu yang membut ku bahagia.
     Saat rambut itu sudah menyingkir aku dapat melihat dahinya membiru,memerah dan sedikit berdarah.itu membut  jemariku meraih helain rambutnya,membawa kepalanya kedadaku dan disana ia terisak lagi,bahunya terguncang,dan aku  semakin tidak mengerti kenapa ia bisa begitu baik baik saja di depan kamera,didepan ku sebelum kejadian itu.
     Air hujan sudah berhenti,angin lembut meraba tubuhku,aku tidak mengerti tentang hidup semacam gadis ini,aku dibesarkan seorang ibu yang tak pernah menuntut apapun kecuali aku datang kesekolah dan pulang tepat waktu,aku hidup di lingkungan sederhana yang menuntutku naik tangga ke lantai paling atas setiap hari,rumah yang diwariskan ayah pada kami,waktu ku habis untuk mengantar pesanan toboki buatan ibuku.tak ada yang istimewa kecuali orang yang melahirkan ku.ibuku.
“kau tau…tidak semua orang berada di posisi seperti mu,dan hanya orang bodoh yang tak mengharapkan hidup seperti mu,itu karna mereka tak pernah tau apa yang sebenarnya kau rasakan”.
   Ia mengangkat wajahnya,menatap wajahku.
“mungkin itu yang membuatmu mengaggap hidup mereka baik baik saja”.
Matanya bersinar,mahakarya tuhan itu menatap ku dekat sekali.
“aku tau…aku mungkin tidak hidup selama yang kau kira untuk bisa mengatakan hal ini…tapi aku tau semua yang kau miliki bukan sesuatu yang membuat mu akan bahagia…aku mengenal seseorang dari bukunya,ia bilang.bukan sesuatu yang istimewa yang membuatnya bahagia,tapi sesuatu yang dia ciptakan.dan kau tau apa yang dia ciptakan untuk bahagia,itu adalah kebahagian”.
“tadi kau bertaya kenapa hanya kau yang kumarahi…ada dua alasan kenapa aku memilihmu untuk kumarahi…pertama kau membuat kesalahan,,,kedua kau terlihat lebih kuat dari semua teman teman mu”.
“tapi dari dua alasan itu,aku merasa…aku berani memaharimu karna kau terlihat lebih kuat,aku mengira kau takan menangis”.
“tapi aku akan memberitahumu yang sebenarnya, alasan sebenarnya kenapa aku memelihmu …. Adalah karna kau istimewa”.
      Ia menunduk,dan setelah menatap ku lagi,aku melihat senyum itu kembali.
“dan seperti itulah cara tuhan membuat mu istimewa”.
     Ia mengagguk,cahaya keemasan terjatuh di wajahnya,membuat bulu matanya semakin lentik.
     Aku terpesona ,tapi hanya sebentar.
“kau harus pulang,aku aka mengantarmu”.
  “terima kasih”.
      Ia tersenyum,sempat kulihat ia meringis karna sakit dilengan nya,tapi entah kenapa itu membuat kulega,itu artinya hatinya tidak sesakit luka itu lagi.angin berdesir lagi,dingin bekas hujan sesaat tadi,aku membuka jaketku,meletakan di sisi bahunya,aku berjalan lambat,dan dia dibelakangku.
“ini milikmu”.
    Aku berbalik,menatap sesuatu di tangan nya.kotak kecil dengan bungkusan kado tidak rapi.
“aku mendapatkannya di saku jaketmu”.
     Itu dari adik kelasku,yang kecil di saku jaketku,tapi kurasa aku tak harus mengatakannya.
“ambilah,sebenarnya aku fens mu”.
    Dia tersenyum,tapi aku tau ia mengerti aku berbohong padanya.
“aku hanya akan sekolah hari ini”.
   Aku membeku,tidak meliriknya tapi dia yang berjalan lambat mendekat padaku,kami diam,tak ada yang harus disesali.seharusnya.
“aku pergi kesekolah hanya karna  ada kamera”.
   Aku mengagguk takzim,ini lebih baik dari pada menggaruk kepalaku.
“kau harus lebih bersemangat,kau adalah manusia istimewa,aku iri karna tuhan sangat menyayangimu”.susah payah aku terdengar ceria.
      Ia tersenyum,tapi matanya berembun.tak ada yang harus dilakukan,toh aku hanya akan ada di kota ini beberapa bulan lagi saja,setelah kelulusan aku akan pergi ke new yourk,aku sudah menandatangani surat beasiswa fotografer,ibuku sudah setuju.tak ada yang menghalangiku.
“kau harus mengatarkan ku kan,luka ini bertambah perih”.
    ia menyengol bahuku,lalu berjalan didepanku.
“sebenarnya…aku belum tau namamu”.
Ia merikku,matanya menatap mataku.minta jawaban.
“nanti saja…kalau kita bertemu lagi”.
      Ia berbalik lagi aku melihat punggungnya perlahan menjauh,dibelakangnya aku berjalan lambat,takut waktu seperti ini takan pernah ku dapatkan lagi.
…………...
2014
……………
        Ini hari pertama setelah 4 tahun aku tak mencium bau harum tanah seoul,aku melangkah cepat,keluar dari bandara.aku yakin ibu sudah menunggu ku dengan toboki yang sangat sering kami bicarakan di telphon,di antara antrian berdesakan para penjemput,aku dapat melihat namaku,menyembul dianta papan papan itu,aku mengeluh…aku belum lupa belokan di setiap gang di seoul.itu artinya aku tak membutuhkan seseorang untuk menjemputku,ibuku bahkan benar benar tak berniat melihat bandara.
       Aku melangkah kedekat orang itu,ia tersenyum sambil menyantuh ranselku.
“aku bisa membawanya sendiri”.
 Ia tersenyum lagi sambil merapikan kaca matanya.
“sebenarnya kita tak langsung pulang kerumah,tuan kim bilang ada pemotretan dengan artis yang sedikit keras kepala,iklan sabun…dia harus terlihat polos…maksudku tidak memakai asesoris apapun”.
     Aku tercekat,tujuan utama ku kembali kesini lagi adalah bertemu ibuku bukan bekerja.
“baik lah,aku akan melakukan itu”.
    Aku duduk di kursi belakang dan dapat melihatnya tersenyum dari kaca spion,berbelok melewati baliho besar di samping jalan.
“itu orang yang akan kau foto”.
    Dia terlambat,baliho itu sudah terlalu jauh,tertutup daun pohon crimson.
…………….
       Aku melangkah lambat,benar benar setangh hati, jangan salah kan aku jika orang itu menolakku karna ku dengan dia keras kepala,tentang gelangnya.
    Akhir akhir ini aku sedikit kelelah karna penyusun tesis sambil bekerja untuk perusahaan korea,jadi ku kira aku akan senitif,terlibih karna akan memakan toboki dingin.
      Gedung itu besar sekali,banyak foto terpajang,tapi aku tak punya waktu melihatnya,aku melangkah cepat.dingin menyusuri tubuhku,ac nya overdosis,padahal suhu sudah baik baik saja.
     Orang yang tadi menjemputku,berjalan di depanku,sesekali ia melirikku sambil tersenyum,seharusnya aku menyukai nya karna murah hati,tapi yang terjadi, laki laki itu malah terlihat murah senyum,murahan sekali.
    Bau harum dari farpum farpum keluaran paris yang hanya di jual perlusin di satu Negara tercuim menyengat,aku memejamkan mataku sebentar,sebelum menyalami orang orang yang akan bekerjasama dengan ku,memang benar teori filsafat jaman dulu,kedudukan membuatmu meresa penting dan ditunggu.aku merasa sombong sekali.
“ayolah kau hanya harus memakai dres putih itu tidak dengan asesoris apapun”.
  Aku mendegar itu dari ruang meke up hanya berjarak dinding dari ruangan ini.
“sudah kubiang batalkan saja kalau aku memang benar benar harus melepaskannya”.
“ya tuhan,,,kita akan mendapatkan masalah besar,apa itu sudah tak kekecilan karna kau pakai sejak sma”.
Sunyi…tak ada perdebatan lagi,yang terdengar adalah suara telapak kaki dengan high heels mendekat.ini biasa kudengar tapi terasa berbeda,sangat familiar.
   Dari balik belokan seseorang keluar tergesa,wajahnya Nampak tak perduli,angkuh sekali,seakan tak punya urusan apapun dengan kami.aku mendekat pada kamera.membidik tangan nya,gelang yang ia pakai,bisa di edit takan membuat masalah.
     Seharus nya sekarang aku melihta nya bergaya,dan lensa ku akan bergerak liar mengikuti gerakan tubuhnya,tapi ia diam terpaku,apa ini memang gayanya.perlahan aku mengangkat wajahku,menjauhi lensa.menatap mata orang itu,mahakarya tuhan yang sangat indah,aku menghembuskan nafasku,udara dingin memasuki sela sela dadaku,aku dapat merasakan helium meledakan mawar dan hanya meninggalkan kelopakknya yang melayang layang di otakku.ia mendekat.senyum itu membuat mimpi ini menjadi semakin sempurna,senyum bulan sabitnya,,,ia melangkah semakin dekat.dan rasa itu semakin nyata.
 “aku kim lee ae…kau pasti tuan park chanyeol”.
“lama sekali menunggumu kembali kekorea”.
       Aku masih menatap mata itu,tak ada yang berubah kecuali ia bertambah cantik.apa aku berhalusinasi karna kelelahan.
“aku selalu memakai gelang dari fens ku,dulu ketika sma ya memberikannya”.
      Perlahan sekali,aku merasa ini adalah ribuan detik yang kutunggu,ia menyentuh tubuhku,memelukku erat.dan tenang.
“kau benar, tuhan menyayanyiku”.
“park chanyeol jangan pergi lagi,aku sudah berusaha seperti yang kau katakan”.
    Aku tau semua menatap kami,tapi siapa perduli,mereka hanya penonton dari drama  romantic dengan alur yang nyata.
“kim lee ae,kumohon lepas gelang itu,aku lebih suka sesuatu melingkar di jarimu dari pada dilenganmu”.
   Aku melirik lengan halus nya,tapi dapat kulihat jelas goresan di masa lalu.ia tersenyum.hangat menyusuri dadaku lagi.
    Waktu membawaku kembali ke masa depan dengan lembaran seputih porselin bersama orang istimewa ini.
Tuhan melengkapi mozaik hidupku.
selesai

9-5-14



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik