kau bisa
menemukanku di pantulan kaca
Segala tentang nya adalah keajaiban,ia
punya sepasang mata yang bening kecoklatan,senyum yang manis,hidung yang
mancung,kening yang anggun,bibir yang sempurna,mungkin ia 180 cm,berat nya hanya
60 kilo,kaki nya jenjang,rambutnya hitam bergelombang,intinya dia luar biasa.
Ketika aku membuka mataku mata orang itulah
yang pertama kali ingin ku lihat,benar kah penggambaran orang orang itu tentang
nya,atau mereka hanya membual dan bercandan padaku yang tidak pernah dapat melihat,gelap,sejak
aku di lahirkan,ituah dunia ku.
Aku tidak akan lupa saat tangan nya yang
lembut menggenggam tangan ku,ia bicara hampir berbisik di samping
telingaku,mengatakan bahwa semua nya akan baik baik saja, dan aku akan dengan
mudah melihat lukisan lukisan nya tanpa harus ia deskripsikan,aku tidak akan
lupa saat bunyi gunting gunting dan lampu bundar di atas tubuhku dinyalakan,orang
itu dan genggaman tangan nya lah yang selalu membuat ku berani.
Segala tentang nya adalah kebaikan,bagiku
dia adalah malaikat yang hidup dalam dunia ku yang gelap,ia mengajarkanku
menepikan jari jemariku ke huruf huruf brille,berbicara padaku ketika dia
sedang melukis,mencipratkan air danau yang dingin ketubuhku ketika kami berada di
tepinya,dia adalah segala nya yang aku miliki.
Mata ku masih di balut kain tebal,sekarang
aku takut,aku takut akan apa yang nanti akan kulihat,sekaligus terlalu
bersemangat saat pertama kali menyapa malaikatku,aku tidak pernah tau bagaimana
cantik nya dia,tapi aku tau persis bagaimana indah nya hatinya.
Aku hanya seorang anak yang tidak punya
siapapun,di bawa dari panti asuhan oleh keluarga yang sangat menyenangkan,umur ku
10 tahun ketika itu,8 tahun yang lalu.aku tida akan lupa ketika bau harum rose
menyeruak dari samping tubuhku,menyapa ku ramah,ku tebak mungkin dia sedang
mengulurkan tangan nya untuk tau namaku,tapi aku hanya tersenyum dan menatap
kosong,karena disana memang tidak ada apapun.
“lif”.
Nama itu yang ia sebut,sebelum meyentuh bahu
ku dan meuntunku kekamar,aku tidak bisa melihat apapun tapi ia bilang kamar itu berwarna coklat,ada
lemari dan meja belajar,aku terseyum kecut,ia menggenggam tangan ku,berbisik
bahwa dia akan menjaga ku,umurnya 11 tahun ketika kami pertama kali bertemu.
Aku khawatir ketika kami beranjak remaja,lif
sering tidak dirumah,ia bilang ada banyak tugas sekolah,ada banyak hal yang
membuat nya sibuk,ku bilang bahwa pasti menyenangkan menjadi sibuk,ia bilang
aku akan sibuk nanti,lalu ia terkekeh,ia mengulurkan tangan nya,menyentuh
kepalaku,mengacak acak rambutku,aku berhenti khawatir karna setiap malam
setelah sibuk dengan banyak hal yang tidak akan bisa aku lakukan,ia akan pergi
kekamarku,membacakan sebuah dongeng sambil terus mengelus kepalaku,menceritakan
sekolah dan teman teman nya dan kadang tertidur di sampingku,bau rose itu tidak
pernah berubah sama seperti lif ku yang tidak pernah berubah,aku merindukannya
bahkan saat dia ada disampingku,aku membenci ambisiku untuk dapat melihat dunia
ini setelah bertemu lif.umurnya 15 tahun ketika aku meraba pipinya dan mencium
bibirnya ketika dia tertidur.
Segala tentang nya adalah aku
menganguminya,mencintainya dengan sederhana,menemukannya tiba tiba menyapaku
atau membawaku ke danau disamping rumah,menceritakan apa yang sedang ia lukis
dan terkekeh ketika aku bertanya.
Saat mata ku pertama kali melihat bumi
ini,maka lif lah rang pertama yang ingin aku lihat,maka lif lah orang pertama
yang ingin aku peluk,maka lif lah orang yang pertama kali akan ku jaga,aku akan
bilang padanya bahwa ia harus berhenti manjaga ku.aku benar benar ingin melepas
kain ini dari mataku.
Sunyi,hanya suara detik jam yang terdengar
aku tau aku sedang sendirian sampai aku mendengar bunyi pintu di buka,decitan
halus terdengar lembut,jantung ku berdebar.
“kau
mendengar kami bri”.
Suara wanita setengah baya ku dengar,aku
mendengar hembusan nafas nya lega,dan sesuatu di hidung nya ketika ia menghela
nafas.
“kami disini,tunggu
sebentar lagi nak”.
Aku tersenyum,menggenggam ujung
selimutku,sebentar lagi aku akan melihat cahaya,sebentar lagi.
Saat itu di musim salju,ketika aku merasa ada
yang hilang dari diriku,hampir seminggu lif tidak datang kekamar ku,tidak membawa
ku ke mana mana,ia juga tidak ada di meja makan,mama bilang ia sibuk tentang
sesuatu,aku menggagguk dan mempercayainya,tapi hanya sebentar sampai lif
kembali,ia kembali dan setelah hari itu hampir setiap hari tertidur
disampingku,setelah membaca dongeng,beberapa kali ia mengajak ku kedanau dan
melukis disana.
“buka mata mu perlahan saat kain ini sudah terlepas”.
Aku mengangguk lambat,jantung ku bertambah
cepat berdetak.
Perlahan kain itu dilepaskan dari mataku,setiap
lilitan yang terlepas melonggarkan ikatan itu,mata ku menjadi dingin saat
balutan itu semakin tipis,sebentar lagi sampai aku bertemu orang orang yang
tidak pernah aku lihat.
Bagaimana
gambaran manusia manusia yang hidup disampingku.
Perlahan cahaya menyeruak berdesakan di
mataku,pecah.remang,melayang layang.bulu mata ku membayang di atas mata.
Ada banyak orang,tapi tidak terlihat
jelas,kepala ku pusing saat berusaha menatap dengan fokos.
“aku
disini nak”.
Suara wanita itu lagi,benar benar tidak
asing,kata kata yang lembut tidak pernah berubah sejak petama kali menyuruh lif
mengantar ku kekamar.
“kau
bisa melihat dengan jelas”.
Seorang laki laki sekarang,berada di
samping wanita itu,wajah nya belum terihat jelas,tapi aku tau itu ayah ku,ayah
ku dan lif.
Setelah itu yang kulihat adalah gerombolan
orang terseyum,perlahan,semuanya menjadi semakin nyata,horden biru laut yang
melayang di terpa angin,cat ruangan yang berwarna putih,pot bunga disamping tempat
tidur ini,seprai biru muda.
“mama”.
Ia tersenyum lembut ketika aku
memanggilnya,dia dan lesung pipinya,dia dan wajahnya yang pucat.ia melangkah mendekat
menggenggam tangan ku dan menciumi pipiku,memelukku dan menangis di bahuku,dibelakang pundaknya
ayah menatapku,mengusap kepalaku dan memeluk kami berdua, aku dan mama.
Aku mencoba mencari dari celah orang orang
diruangan ini,aku menunggunya,menunggu malaikat ku,lif ku,dimana dia,aku
menghembuskan nafas ku sebelum bertanya,mama memelukku semakin erat sementara
ayah menunduk,membuang mukanya ke seluruh ruangan.
“aku
hanya ingin melihatnya ma,sama seperi aku ingin melihat kalian”.
Sunyi,hanya isakan mama yang terdengar
semakin nyaring di pundakku,ada sesuatu yang aku takutkan tapi tidak ingin aku
tau.
“ayah,ada
apa?”.
Ayah lagi lagi menunduk,membiarkan aku
menatap wajahnya dari samping,dia lebih muda dari yang kubayangkan.
“dia menitipkan
banyak lukisan untukmu”.
“ayah,apa
maksudmu”.
Ayah menatapku,menelusuri setiap jengkal di
wajahku,aku bahkan tidak pernah melihat wajah ku.
“dia
mencintaimu seperti dia mencintai
kami,dia benar benar mencintaimu”.
Tanpa kusadari ayah terisak,bahunya
terguncag disamping tubuh mama.aku menghela nafasku,perlahan melepaskan tubuh
mama.
“ada
apa”.
Suara ku menjadi serak,aku tidak terlalu
ingin mendengar apa yang akan dikatakan mama padaku.
“dia
sudah pergi bri,”.
Aku tau aku berada di gravitasi yang tepat,
tapi tubuhku terguncang,dan ruangan ini melayang layang.
“kemana?”.
Mama memelukku lagi.
“aku
ingin melihatnya”.
“kau
bisa melihatnya anakku,dia ada setiap kali kau melihat dirimu di cermin”.
“apa
maksudmu”.
“dia adalah
apa yang kau lihat,bri,lif mu ada dimatamu,ia ingin adik kecilnya melihat semua
hal yang dulu juga ia lihat”.
“aku
tidak akan percaya”.
“dimusim
salju ketika ia terlalu banyak tidak disampingmu,ayah membawanya kerumah sakit
ini,dia…”.
Mama
tidak menyelesaikan kata katanya,aku menggeleng mencoba mengamati apa yang
terjadi,mungkin ini hanya mimpi dan aku masih terpengaruh oleh obat obat bius
itu.
“kami
sudah mencoba mencari donor sumsum tulang untuknya,tapi ia menolak ketika kami berhasil
mendapatkannya,bri ia hanya ingin kau melihta apa yang juga ia lihat”.
Aku diam,membeku,ayah masih terisak dan
ibu membuat bahu ku basah,lif,dan semua hal yang dia lakukan,jika tuhan
mengijinkan ku memilih maka ia boleh memanggilku,lif bisa bertahan lebih lama
jika aku tidak disampingnya,salah ku berada di keluarga ini dan membuat lif ku
memberikan yang ia punya.
“kapan dia pergi”.
Itu yang kukatakan di tengah
isakanku,ketika air berdesakan di mataku.
“ Sebulan yang lalu,dimusim salju,disampingmu
anakku”.
Aku tercekat merasa nafasku berhenti,dia
menggenggam tangan ku melewati semua ini,di berbisik di samping telingaku dan
bilang semuanya akan biak baik saja,siapa orang itu,siapa yang boleh berada di
dalam ruang operasi ketika dokter dokter itu meletakan mata lif di wajahku.
Kenapa aku merasa lif menggenggam tangan ku,padahal
obat itu membiusku.
“aku benar benar ingin melihatnya,sekali
saja”.
Tubuh mama bergetar mendengar permintaan
ku,mataku yang kosong tak sengaja menatap kaca bening di depan tubuhku,disini
sekarang hanya ada kami bertiga,tapi di
kaca itu aku melihat ada empat orang di ruangan ini,duduk disampingku
menjatuhkan kepalanya di bahuku,mama dipelukanku,ayah di samping mama,menunduk,lalu
siapa dia,perlahan ia mengangkat wajahnya,membuka matanya yang
tertutup,tersenyum lembut,mata bening nya,mata kecoklatannya,matanya adalah
mataku dari pantulan kaca.secantik itukah dia,malaikatku,sungguh mereka
ternyata tidak pernah membual,aku ingin menyentuhnya,aku ingin memeluknya.
“kau
selalu menemukannya anak ku,kau selalu menemukannya setiap kali kau menatap
matamu dikaca”.
perlahan aku berpaling,menatap seseorang
yang harus nya berada disampingku,tapi kosong tidak ada siapapun disana,yang
kurasakan hanya bau rose yang perlahan memudar.
and
1-2-15
Pembeharuan dari “jika” yang
ditulis 1-12-14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar