Selasa, 24 Februari 2015

My everything


kau bisa menemukanku di pantulan kaca
    
        Segala tentang nya adalah keajaiban,ia punya sepasang mata yang bening kecoklatan,senyum yang manis,hidung yang mancung,kening yang anggun,bibir yang sempurna,mungkin ia 180 cm,berat nya hanya 60 kilo,kaki nya jenjang,rambutnya hitam bergelombang,intinya dia luar biasa.
    Ketika aku membuka mataku mata orang itulah yang pertama kali ingin ku lihat,benar kah penggambaran orang orang itu tentang nya,atau mereka hanya membual dan bercandan padaku yang tidak pernah dapat melihat,gelap,sejak aku di lahirkan,ituah dunia ku.
    Aku tidak akan lupa saat tangan nya yang lembut menggenggam tangan ku,ia bicara hampir berbisik di samping telingaku,mengatakan bahwa semua nya akan baik baik saja, dan aku akan dengan mudah melihat lukisan lukisan nya tanpa harus ia deskripsikan,aku tidak akan lupa saat bunyi gunting gunting dan lampu bundar di atas tubuhku dinyalakan,orang itu dan genggaman tangan nya lah yang selalu membuat ku berani.
   Segala tentang nya adalah kebaikan,bagiku dia adalah malaikat yang hidup dalam dunia ku yang gelap,ia mengajarkanku menepikan jari jemariku ke huruf huruf brille,berbicara padaku ketika dia sedang melukis,mencipratkan air danau yang dingin ketubuhku ketika kami berada di tepinya,dia adalah segala nya yang aku miliki.
     Mata ku masih di balut kain tebal,sekarang aku takut,aku takut akan apa yang nanti akan kulihat,sekaligus terlalu bersemangat saat pertama kali menyapa malaikatku,aku tidak pernah tau bagaimana cantik nya dia,tapi aku tau persis bagaimana indah nya hatinya.
     Aku hanya seorang anak yang tidak punya siapapun,di bawa dari panti asuhan oleh keluarga yang sangat menyenangkan,umur ku 10 tahun ketika itu,8 tahun yang lalu.aku tida akan lupa ketika bau harum rose menyeruak dari samping tubuhku,menyapa ku ramah,ku tebak mungkin dia sedang mengulurkan tangan nya untuk tau namaku,tapi aku hanya tersenyum dan menatap kosong,karena disana memang tidak ada apapun.
“lif”.
   Nama itu yang ia sebut,sebelum meyentuh bahu ku dan meuntunku kekamar,aku tidak bisa melihat apapun  tapi ia bilang kamar itu berwarna coklat,ada lemari dan meja belajar,aku terseyum kecut,ia menggenggam tangan ku,berbisik bahwa dia akan menjaga ku,umurnya 11 tahun ketika kami pertama kali bertemu.
        Aku khawatir ketika kami beranjak remaja,lif sering tidak dirumah,ia bilang ada banyak tugas sekolah,ada banyak hal yang membuat nya sibuk,ku bilang bahwa pasti menyenangkan menjadi sibuk,ia bilang aku akan sibuk nanti,lalu ia terkekeh,ia mengulurkan tangan nya,menyentuh kepalaku,mengacak acak rambutku,aku berhenti khawatir karna setiap malam setelah sibuk dengan banyak hal yang tidak akan bisa aku lakukan,ia akan pergi kekamarku,membacakan sebuah dongeng sambil terus mengelus kepalaku,menceritakan sekolah dan teman teman nya dan kadang tertidur di sampingku,bau rose itu tidak pernah berubah sama seperti lif ku yang tidak pernah berubah,aku merindukannya bahkan saat dia ada disampingku,aku membenci ambisiku untuk dapat melihat dunia ini setelah bertemu lif.umurnya 15 tahun ketika aku meraba pipinya dan mencium bibirnya ketika dia tertidur.
     Segala tentang nya adalah aku menganguminya,mencintainya dengan sederhana,menemukannya tiba tiba menyapaku atau membawaku ke danau disamping rumah,menceritakan apa yang sedang ia lukis dan terkekeh ketika aku bertanya.
     Saat mata ku pertama kali melihat bumi ini,maka lif lah rang pertama yang ingin aku lihat,maka lif lah orang pertama yang ingin aku peluk,maka lif lah orang yang pertama kali akan ku jaga,aku akan bilang padanya bahwa ia harus berhenti manjaga ku.aku benar benar ingin melepas kain ini dari mataku.
     Sunyi,hanya suara detik jam yang terdengar aku tau aku sedang sendirian sampai aku mendengar bunyi pintu di buka,decitan halus terdengar lembut,jantung ku berdebar.
“kau mendengar kami bri”.
   Suara wanita setengah baya ku dengar,aku mendengar hembusan nafas nya lega,dan sesuatu di hidung nya ketika ia menghela nafas.
“kami disini,tunggu sebentar lagi nak”.
     Aku tersenyum,menggenggam ujung selimutku,sebentar lagi aku akan melihat cahaya,sebentar lagi.
  Saat itu di musim salju,ketika aku merasa ada yang hilang dari diriku,hampir seminggu lif tidak datang kekamar ku,tidak membawa ku ke mana mana,ia juga tidak ada di meja makan,mama bilang ia sibuk tentang sesuatu,aku menggagguk dan mempercayainya,tapi hanya sebentar sampai lif kembali,ia kembali dan setelah hari itu hampir setiap hari tertidur disampingku,setelah membaca dongeng,beberapa kali ia mengajak ku kedanau dan melukis disana.
 “buka mata mu perlahan saat kain ini sudah terlepas”.
   Aku mengangguk lambat,jantung ku bertambah cepat berdetak.
    Perlahan kain itu dilepaskan dari mataku,setiap lilitan yang terlepas melonggarkan ikatan itu,mata ku menjadi dingin saat balutan itu semakin tipis,sebentar lagi sampai aku bertemu orang orang yang tidak pernah aku lihat.
Bagaimana gambaran manusia manusia yang hidup disampingku.
    Perlahan cahaya menyeruak berdesakan di mataku,pecah.remang,melayang layang.bulu mata ku membayang di atas mata.
    Ada banyak orang,tapi tidak terlihat jelas,kepala ku pusing saat berusaha menatap dengan fokos.
“aku disini nak”.
   Suara wanita itu lagi,benar benar tidak asing,kata kata yang lembut tidak pernah berubah sejak petama kali menyuruh lif mengantar ku kekamar.
“kau bisa melihat dengan jelas”.
    Seorang laki laki sekarang,berada di samping wanita itu,wajah nya belum terihat jelas,tapi aku tau itu ayah ku,ayah ku dan lif.
    Setelah itu yang kulihat adalah gerombolan orang terseyum,perlahan,semuanya menjadi semakin nyata,horden biru laut yang melayang di terpa angin,cat ruangan yang berwarna putih,pot bunga disamping tempat tidur ini,seprai biru muda.
“mama”.
      Ia tersenyum lembut ketika aku memanggilnya,dia dan lesung pipinya,dia dan wajahnya yang pucat.ia melangkah mendekat menggenggam tangan ku dan menciumi pipiku,memelukku  dan menangis di bahuku,dibelakang pundaknya ayah menatapku,mengusap kepalaku dan memeluk kami berdua, aku dan mama.
    Aku mencoba mencari dari celah orang orang diruangan ini,aku menunggunya,menunggu malaikat ku,lif ku,dimana dia,aku menghembuskan nafas ku sebelum bertanya,mama memelukku semakin erat sementara ayah menunduk,membuang mukanya ke seluruh ruangan.
“aku hanya ingin melihatnya ma,sama seperi aku ingin melihat kalian”.
   Sunyi,hanya isakan mama yang terdengar semakin nyaring di pundakku,ada sesuatu yang aku takutkan tapi tidak ingin aku tau.
“ayah,ada apa?”.
     Ayah lagi lagi menunduk,membiarkan aku menatap wajahnya dari samping,dia lebih muda dari yang kubayangkan.
“dia menitipkan banyak lukisan untukmu”.
“ayah,apa maksudmu”.
    Ayah menatapku,menelusuri setiap jengkal di wajahku,aku bahkan tidak pernah melihat wajah ku.
“dia mencintaimu seperti  dia mencintai kami,dia benar benar mencintaimu”.
    Tanpa kusadari ayah terisak,bahunya terguncag disamping tubuh mama.aku menghela nafasku,perlahan melepaskan tubuh mama.
“ada apa”.
   Suara ku menjadi serak,aku tidak terlalu ingin mendengar apa yang akan dikatakan mama padaku.
“dia sudah pergi bri,”.
     Aku tau aku berada di gravitasi yang tepat, tapi tubuhku terguncang,dan ruangan ini melayang layang.
“kemana?”.
      Mama memelukku lagi.
“aku ingin melihatnya”.
“kau bisa melihatnya anakku,dia ada setiap kali kau melihat dirimu di cermin”.
“apa maksudmu”.
“dia adalah apa yang kau lihat,bri,lif mu ada dimatamu,ia ingin adik kecilnya melihat semua hal yang dulu juga ia lihat”.
“aku tidak akan percaya”.
“dimusim salju ketika ia terlalu banyak tidak disampingmu,ayah membawanya kerumah sakit ini,dia…”.
    Mama tidak menyelesaikan kata katanya,aku menggeleng mencoba mengamati apa yang terjadi,mungkin ini hanya mimpi dan aku masih terpengaruh oleh obat obat bius itu.
“kami sudah mencoba mencari donor sumsum tulang untuknya,tapi ia menolak ketika kami berhasil mendapatkannya,bri ia hanya ingin kau melihta apa yang juga ia lihat”.
     Aku diam,membeku,ayah masih terisak dan ibu membuat bahu ku basah,lif,dan semua hal yang dia lakukan,jika tuhan mengijinkan ku memilih maka ia boleh memanggilku,lif bisa bertahan lebih lama jika aku tidak disampingnya,salah ku berada di keluarga ini dan membuat lif ku memberikan yang ia punya.
  “kapan dia pergi”.
      Itu yang kukatakan di tengah isakanku,ketika air berdesakan di mataku.
 “ Sebulan yang lalu,dimusim salju,disampingmu anakku”.
      Aku tercekat merasa nafasku berhenti,dia menggenggam tangan ku melewati semua ini,di berbisik di samping telingaku dan bilang semuanya akan biak baik saja,siapa orang itu,siapa yang boleh berada di dalam ruang operasi ketika dokter dokter itu meletakan mata lif di wajahku.
     Kenapa aku merasa lif menggenggam tangan ku,padahal obat itu membiusku.
    “aku benar benar ingin melihatnya,sekali saja”.
    Tubuh mama bergetar mendengar permintaan ku,mataku yang kosong tak sengaja menatap kaca bening di depan tubuhku,disini sekarang hanya ada kami  bertiga,tapi di kaca itu aku melihat ada empat orang di ruangan ini,duduk disampingku menjatuhkan kepalanya di bahuku,mama dipelukanku,ayah di samping mama,menunduk,lalu siapa dia,perlahan ia mengangkat wajahnya,membuka matanya yang tertutup,tersenyum lembut,mata bening nya,mata kecoklatannya,matanya adalah mataku dari pantulan kaca.secantik itukah dia,malaikatku,sungguh mereka ternyata tidak pernah membual,aku ingin menyentuhnya,aku ingin memeluknya.
“kau selalu menemukannya anak ku,kau selalu menemukannya setiap kali kau menatap matamu dikaca”.
    perlahan aku berpaling,menatap seseorang yang harus nya berada disampingku,tapi kosong tidak ada siapapun disana,yang kurasakan hanya bau rose yang perlahan memudar.
and
1-2-15
Pembeharuan dari “jika” yang ditulis 1-12-14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik