Kamis, 26 Februari 2015

Teman curhat ku





    
         Sedetik,dua detik, tiga detik,orang didepanku masih diam,membeku,memperhatikan wajahku yang masih menunggu responnya.diluar hujan turun lagi,runtuh sudah langit hitam tadi.coklat hangat di depan wajah kami mengepul,terbang di sapu angin dari jendela.
   Empat detik ketika dia menghela nafas panjang,tersenyum kecil dan mengagguk.
“aku mencoba mengerti”.
    Aku menghela nafasku,belum lega sebenarnya,menatap wajahnya lagi, dari orang ini aku selalu mendapatlan banyak hal untuk menyelesaikan masalahku.
“gini lif..laki laki itu semkin di kejar semakin tidak merasa nyaman,mereka punya kodrat untuk memilih dan mengejar,bukan dikejar”.
“bukan begitu,kau tau aku suka dia dari smp,dan sekarang dia sendirian”.
      Ren menatap mataku,menghela nafasnya lagi,menatap hujan yang sekarang mulai reda,menyentuh ransel di samping tubuhnya.
“aku ada les,nanti kita bicarakan lagi ya”.
    Aku mengangguk lambat,tidak biasanya seperti ini,ren tersenyum sebelum membuka pintu kafe,entah itu tersenyum atau apa yang ku tau ia tidak seperti biasanya,aku menghela nafasku lagi sebelum beranjak pulang.
……………..
      Koridor sekolah jam enam pagi ketika aku melihat bahu ren dari kaca kelas tiga,ia menatap sebuah buku tebal atau mencoret coret sesuatu dan memasang kaca matanya,ini terlalu pagi,aku tau,kalau aku mau menemui nya untuk urusan penting aku harus sampai disekolah dijam seperti ini.
“apa yang kau baca?”.
    Buku itu hampir terjatuh ke lantai ketika aku menegurnya,ia melotot menatapku,mengatur nafasnya sambil tersenyum.
“logaritma”.
 “apa kau harus baca buku buku setebal itu”.
    Ia tersenyum lagi seperti kebiasaan nya.
“ada apa”.
      Ia menatap mataku,meletakan buku nya diujung meja.
“sudah kubilang kemarin,ini tentang pet”.
“kau benar benar menyukainya”.
     Aku mengagguk.
“kau yakin itu tidak seperti obsesi”.
    Sekali lagi aku menganguk,ia meletakan kaca matanya diatas buku,mengambil sesuatu dari kantong celananya.
“aku mendapatkannya dari kelas music,jangan terlihat kau sangat menginginkannya”.
     Untuk ketiga kalinya aku mengangguk,ren menaruh kertas putih di atas meja,semua akun milik peter,ia bahkan mendapatkan nomor henphon dan telphon rumahnya,aku terlonjak, beranjak dari bangku di depan meja ren,di depanku lagi lagi ia tersenyum.
“sudah kubilang kan jangan terlihat terlalu menginginkannya”.
……………
       24 agustus ketika aku menculik ren dari kamarnya,kami keluar rumah mengendap jam 12 malam,ia meraba mencari kaca matanya saat aku menarik selimut yang melilit tubuhnya,membawanya ke balkon rumahku.dari sini aku melihat dapat melihat kamarnya.
    Kaos putih dan celana pendek hitam nya terlihat menyedihkan,aku membuat dua cangkir kofi untuk kami,menaruhnya di sisi balkon,ia menatapku,bertanya kenapa aku membawanya ketempat ini.
    Malam itu hujan baru reda,bau harum dari tanah masih tercium,di langit bintang malu malu meyembul dari balik galaksi hitam yang terlau jauh untuk terlihat,daun willow berdesir terkena angin,aku menarik selimut di kamarku ke balkon,memakainya bersama ren,saat saat seperti ini ada saat dimana aku merasa semuanya sempurna,aku merasa tidak lagi membutuhkan siapapun setiap kali ren disini,di sampingku,sekali lagi ren menatapku.
“selamat ulang tahun ren,apa aku menjadi yang pertama kali mengatakannya”.
  


        Satu detik,dua detik,tiga detik hampir empat detik sampai ren tersenyum.aku mengambil kue tar dari lemari es,menaruhnya di lantai kayu balkon,ren meniup lilin angka satu dan tujuh,sengaja ku buat jadi tujuh puluh satu,ku bilang aku berharap sampai umur kami disana,aku akan tetap bersama ren,seperti biasa saat mendengar apa yang ku katakan ia akan tersenyum.
     Malam itu juga kami melepas lampion kecil kelangit,berdoa semoga apapun itu,akan terkabul.
   Aku menatap wajah ren lama sekali saat dia berdoa,saat dia mengusapkan tangan nya kewajah aku baru sadar aku bahkan tidak mengucapkan apapun untuk berdoa sampai lampion itu melayang di langit,ren tersenyum lagi saat menatap wajahku,tapi berbeda aku tau ini senyum yang berbeda.atau mungkin hanya aku yang merasa begitu.
     Malam itu,entah apa,aku tidak mengerti,sedetik setelah ren melepskan lampion kelangit,aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan,mungkin karna kami terlalu lama bersama, menjadi dewasa bersama sama,aku menjadi berharap juga tua bersama dengan nya,sementara aku memendam sms dari pet yang menyatakan cinta nya padaku,aku menyimpan sesuatu yang lebih besar.
“apa aku harus pulang,besok ada ulangan kan?”.
   Aku mengangguk,tapi hati ku menggeleng,hati ku ingin menahan ren disini,di balkon rumah ku,bersamaku.
   Malam itu juga beberapa menit setelah ren pulang ia mengirim ucapan selamat padaku,ia bilang ia tau aku sudah menjadi kekasih peter dari akunnya.aku tidak mengerti itu,tapi aku urung mengetik sms balasan untuknya.
……………
      Satu bulan,dua bulan,tiga bulan,ren tidak berubah masih sama,sementara aku terus berusaha bahagia bersama peter,ia juga tenggelam bersama buku bukunya,entah aku atau ren yang membuat semuanya berubah tapi perlahan kami memiliki jarak,dan aku takut jarak itu bisa lebih jauh dari sekarang.
    Dengan peter ku kira sekarang terasa melelahkan,aku harus menunggu berjam jam untuk permintaan nya,aku harus memperhatikannya bicara apa yang tidak aku sukai,aku harus diam saat dia bilang aku tak harus membicarakannya,pet menjadi seseorang yang tidak pernah kukenal sebalum aku mengenalnya sedalam sekarang.dia tetap tampan dan aku tau itu sebelum kami selalu bersama sama.
       
        
         dengan ren,semuanya berbeda,dulu aku tak suka setiap kali ia memakai kaca matanya,ku bilang lepaskan maka ia akan melepaskan nya sambil tersenyum,ren selalu membuat ku merasa punya ruang,ia akan mendengarkanku tanpa memaksaku untuk mendengarnya,mengingat semua ini dengan jarak kami yang terasa semakin jauh membuat ku muak menatap pet di depan ku,hari itu pertama kalinya aku beranjak dari bangku didepan peter,aku bahkan tidak mendengarnya memanggil namaku dan memutuskan hubungan kami, menyumpah dan mengatakan banyak hal yang menyakitiku,aku sadar itu setalah wajah  orang orang di sana ku ingat ketika aku duduk di tempat tidurku.berbaring melihat hujan di akhir tahun,aku tidak menangisi hubungan ku dengan pet,aku hanya tidak mengerti tentang diriku sendiri.aku menyesal untuk beberapa alasan yang tidak aku mengerti.
…………….
    Matahari…mungkin matahari yang membangunkanku,sore yang orange tertutup tubuh seseorang yang duduk disisi tempat tidurku,ia menatapku tapi tidak tersenyum,karena itu aku tak yakin dia ren,dia tidak memakai kaca matanya.hanya menatap ku lama sekali,sampai aku benar benar terbangun duduk disampingnya.
“kalian putus”.
     Kata kata itu semakin membangunkanku,aku mengangguk lambat.
“kau selalu mengangguk”.
     Ia diam,aku juga begitu.
“aku mungkin harusnya ikut sedih,tapi aku tidak bisa”.
     Angin menerbangkan horden di dekat jendela besar di belakang punggung ren.
“aku tidak tau nanti akan mendapatkan kesempatan ini lagi atau tida,atau seperti biasanya,aku akan terlambat”.
   Aku menatap wajah ren lebih dekat,mencari seseorang yang biasanya ku kenali,tapi seperti tidak disana.
“hari itu,jam enam pagi saat kau datang terlalu cepat ,aku menulis surat untuk mu”.
   Angin tidak menyentuh kulitku,tapi aku merasa tubuhku menjadi dingin.
“24 agustus saat aku meyakini sesuatu,saat aku akan mengatakan sesuatu,ingin menelphonmu,tidak sengaja melihat status peter berubah”.
“kau mungkin tidak menyadarinya,tapi hari itu kau memberikan hadiah terburuk yang pernah ku terima”.
      Aku menghela nafasku,sementara aku meraba raba apa yang terjadi pada aku dan ren,ren sudah berusaha menjelaskannya,tapi aku tidak mengerti.
“kau tau kenapa aku bertanya apa mungkin kau hanya menyukai peter karena obsesi,hanya ingin menawar saja,semoga kau mengagguk seperti biasanya,tapi itu tidak kau lakukan”.
“berulang kali menjauh setiap kali melihat kau bersama peter membuat ku semakin tidak nyaman,tapi melihat kau selalu tersenyum bersamanya,lalu tidak lagi datang dan menceritakan banyak hal,membuat ku keliru kau baik baik saja”.
       Aku tidak tau kenapa air mataku perlahan jatuh,ren disampingku dan rasa hangat didadaku seperti kembali lagi,apapun yang dia katakan hari ini,dia tak pernah bicara sebanyak ini selama aku mengenalnya,aku menatap matanya dan selama aku menunduk ia terus menatap wajahku,aku tidak menyadarinya sampai aku juga menatap wajahnya,seperti itukah yang dari dulu terjadi pada kami.
“aku tidak tau apa kau serius atau tida saat bilang ingin bersama ku sampai umur kita tujuh puluh satu,tapi aku tidak mengharapkannya,aku ingin lebih dari tujuh puluh satu tahun”.
“aku menyukai mu selama yang tidak pernah kau bayangkan”.
      Mataku mengerjap menatap wajahnya,harapan ku untuk tua bersama itu benar dan aku tidak bercanda,ren datang dan meminta sesuatu yang ingin aku minta darinya,hanya saja aku tidak mengerti hatiku,wajah ren ketika menatapku kaku sekali,tidak pernah seperti ini sebelumnya,ia bahkan tidak tersenyum seperti biasanya.
   Saat ia akan berbalik menjauh,aku mencekat tangan nya,membiarkan matahari sempurna menerpa wajahnya,bagiku hari ini ren tampan,memakai kaca matanya atau tida,bagiku ren yang ku inginkan,kapan pun aku mulai menyadarinya,bagiku ren harus bersamaku,masih atau tida dia menginginkanku,saat matahari itu meredup lagi,ren berbalik menatapku,terhenti,diam.
     Jantung ku berdetak tidak pernah separah ini,kulit ku tidak pernah sedingin ini,dan perlahan seperti berangsur berhenti ketika,ren tersenyum menatapku,senyum yang biasanya ku dapatkan setiap hari.
    Ren duduk berlutut di dekat tempat tidurku,aku duduk disisi ranjang berhadapan dengan nya,hari itu aku tau bahwa … aku tidak lagi harus menceritakan seseorang padanya,aku tidak lagi merasa sesuatu seperti tertahan di dadaku,bersama orang ini,aku tau bahwa kami harus berbagi,apapun itu.
   Saat angin sekali lagi menerpa horden di jendela,ren mendekat dan memelukku.

End

 29-12-14  (diadaptasi dari cerpen “curhat, di blog curhat” yang mulai ditulis 7-10-13 jam 9:23)

 


Secret love


          Dan sama seperti hari hari sebelumnya,kancing terakhir di dekat leher mik belum di kancing sempurna saat di lantai dua suara itu terdengar lagi.ia menghembuskan nafas kesalnya lalu melangkah lambat,memasang tas ranselnya.saat memasang kaca mata nya,mik lagi lagi mendengar suara itu,sekarang menjadi lebih nyaring.
    Beberapa tahun yang lalu ketika semuanya berjalan baik baik saja,papa akan pulang sebelum semua anggota keluarga tidur, bicara banyak pada mik,ren,dan sel juga mama,sampai mama bilang itu semua tidak cukup,ren membutuhkan banyak biaya untuk kuliahnya,jangan kuliahkan ren di sini karena dia jauh lebih pintar dari yang kami bayangkan,baiklah ayah menyutujui semunya,mama bekerja diperusahaan traveling,perlahan merangkak naik naik dan naik hingga menjadi direktur,semuanya berubah,jauh sekali.
      Mik menyentuh permukaan kaca di kamarnya,menyentuh pipinya yang lembut di patulang kaca datar,entah sudah berapa lama pipi itu tidak disentuh mama dan papa,oh lupakan,bagaimana jika itu mungkin akan terjadi nanti nanti dan nanti seperti yang selalu mereka katakan.
    Sel menjalani masa pubertasnya sama seperti mik,mendengarkan perbincangan asal yang mencekat urat leher dari orang tua mereka setiap hari,ia tidak akan benar benar hancur jika saja itu tidak mengubah hidupnya,tapi tidak,pertengkaran itu membuat ujian akhir sel berantakan,hancur.membuatnya menjadi satu satunya yang tertinggal di kelasnya.sel meninggalkan rumah satu tahun yang lalu ketika mama dan papa meracau soal berhenti saja bekerja dan pendapatan mu tidak lebih baik dari pada aku,mulai hari itu mik lebih suka sendirian,tidak banyak bicara dan malas menghubungi ren hanya untuk berbohong kalau rumah baik baik saja dan sel tidak tiba tiba menghilang dan di lupakan.
   Pagi di awal januari,tanggal 5 ketika mik menginjak pedal sepeda nya dan diam diam meninggalkan rumah ke sekolah,di rumah, mereka belum selesai berdebat,dan mik hanya tidak ingin mereka menjadi terganggu.5 hari yang lalu ketika mama pergi ke pertemuan bisnis di singapura dan papa menghujat nya,seharus nya jangan begitu,seharusnya dia begini,tahun baru kali itu mik meringkuk di bawah selimutnya,diam dan mengunci pintu.
     Hari demi hari,mik merasa jarak di rumah itu semakin jauh,diam diam papa menceritakan keburukan mama padanya,tentang mama yang kata orang mendapatkan jabatan di kantornya karena punya hubungan dengan bos dan invertor besar disana,beberapa menit setelah papa pergi ke ruangan lain,mama akan duduk disamping mik dan menceritakan keburukan papa,tentang papanya yang tidak bekerja dengan baik karena itu jabatan nya stak disana,tentang papa yang iri pada mama dan membuat mama selalu terusik,tentang sesuatu yang harus nya mereka tutupi dari mik,mendengar itu mik seakan kebal,karena pada akhirnya dia akan melupakannya,memasang engphonnya dan lari bersama sepeda nya,menemukan sesuatu yang baru di luar sana.mik dirumah membeku di sekolah diam dan menyebalkan,mik yang sebenarnya adalah mik yang tidak pernah orang mengerti,ia bersembunyi bersama semua rasa sakit dan rasa marahnya,sisi mik yang diam diam adalah orang yang berbeda.
……………..
  awal pelajaran ketika hujan turun di dekat jendela di samping tubuh mik,di depan nya teman teman perempuan nya sibuk menunjuk siapa yang lebih tampan dari pada siapa,mik dulu juga masuk perbincangan itu sampai,sekalipun ia tak perduli dengan semua hal yang gadis gadis itu lakukan,mik menjauh dan takut akan sesuatu ketika hampir memiliki.
    Kelas baru mik di lantai dua,sekarang sudah kelas 11,bertahun tahun setelah mama dan papa cenderung mencintainya.mik lebih suka memikirkan masa lalu nya dari pada apa yang akan terjadi di masa depan.di bawah sana,ketika mik menatap kaca berembun,melihat beberapa orang berlari menghindari hujan,tapi sekeras dan sebiasa apapun mereka mencoba menjauhi nya,mereka akan tetap basah,sama seperti hidup mik selama ini,sekeras apapun dia tidak ingin tau,tidak ingin mengerti, menghindar,sedikit banyak rasa sakit itu pasti akan terasa.
“ada tugas,lo mau kerjain sama kita ga”.
    Seorang perempuan dengan rok hampir dipaha,teman sekelas nya sejak smp,menatap mik,mik diam,tidak bicara.ia hanya menggeleng dan memasang headsetnya,membiarkan orang itu mencibirnya,mik tidak akan mendengar,hanya saja mungkin dia pasti akan merasakan.
……………..
     Saat lebih banyak teman temanya berurusan dengan masalah asmara dan apapun yang romantic,mik akan lebih sibuk dengan buku comic dan headsetnnya,tidak bicara,mik hanya akan menggerakan bibirnya ketika memang harus,seperti ketika guru bertanya padanya,mik adalah pangeran yang bisu,mungkin dia setia,setia pada dirinya sendiri,mik mendengar itu tepat di depan wajahnya ketika sambungan kabel  headsetnya terlepas.seseorang mengamati mik ketika memasang kembali kabel nya.
    Mik adalah pangeran yang bisu.dia tampan,siapa yang tidak mengangguk,dia mungkin jarang tersenyum tapi seseorang akan melupakan semua kelakuan mneyebalkannya setelah melihat bibir itu,mik memang jarang menatap,tapi seseorang akan menunduk ketika matanya yang hitam dan indah melirik,meski sekilas,dia anggun jika seorang wanita,dia tinggi dan putih.tapi sekali lagi dia pengeran yang bisu.
     Duduk di kursi penonton sepak bola paling depan,mik perlahan merebahkan tubuhnya,menatap langit yang biru,bau harum bekas hujan naik beberapa jengkal ke hidungnya,di bawa angin.sunyi,tidak ada yang bicara disini,mik tau kapan dia bisa sendirian di beberapa tempat.tempat tempat yang sekaan memberinya dunia yang dia impikan,tenang dan damai.ada beberapa tempat yang menyenangkan,beberapa tempat yang juga membuat nya tau tentang sebuah dunia yang lebih menghargai keberadaannya.
    Saat mata nya perlahan tepejam,matahari sore yang menerpanya meredup seperti di tutupi awan,mik menggeliat,menjauh dari sesuatu yang menutupi mataharinya.masih sama,ketika mik membuka matanya ia terperanjat hampir jatuh dari kursi itu,terengah menatap seseorang yang berdiri menatapnya.
“ini bukan kamar kamu kan”.
    Seorang perempuan seumuran dengan nya berdiri melipat tangan,menatap matanya,sungguh hal hal semacam ini membuat nya canggung.
“ka…bolanya”.
      Oh….karena bola yang terlempar ke bawah bangku mik perempuan itu menunggu,entah enggan membangunkan atau memang tidak ingin membangunkan.
    sembilan anak laki laki berdiri berhamburan di setengah lapangan bola,menatap perempaun itu,perempaun yang sekarang tersenyum lembut menatap mata mereka.
“sini bolanya”.
   Mik masih mencari bola itu di sela bawah bangkunya ketika diam diam perempaun itu menatap wajah mik,perlahan mik menyerahkan bola itu ragu ragu.
    perempuan itu masih menatap nya acuh,melangkah cepat meninggalkannya,hanya beberapa langkah sampai perempaun itu diam,berbalik menatap mik,lagi.
“kamu gak ada kerjaan kan,kita kurang satu tuh,mau ikut gak”.
    Mik menggeleng ragu ragu,anak anak di lapangan itu berteriak mengajak nya,mik semakin canggung sudah lama sejak dia berada diantara banyak orang.
    Saat mik hampir diam dan tersenyum,perempuan itu menarik tangan nya,membawanya ketengah lapangan berlumpur bekas hujan .sekilas mik menatap wajah itu,manis..manis sekali.
“ok..teman teman kita dapat teman baru,siapa namanya”.
    Sekali lagi perempuan itu menatap mata mik,tidak canggung,biasa saja.
“mika…panggil mik aja”.
“kalau gitu,aku lifia,panggil lif aja”.
     Lifia namanya,menyalami tangan mika yang entah sudah berapa lama tidak menyentuh siapapun,setelah itu satu persatu anak laki laki itu menyalami mik,sesuatu yang benar benar terasa asing untuknya.
   Disana,melihat wanita itu tersenyum dan berteriak menjadi wasit untuk permainan bola ,mik merasa sesuatu kembali entah apa itu,anak anak itu barbarian di lapangan, kadang mengejar bola,kadang mencari lobak besar bekas hujan yang masih ada airnya,berbaring disana,perlahan mik mulai terbiasa,tubuhnya penuh lumpur ketika membuat gol,semua anak anak itu menumpuk di tubuhnya,mik tertawa lepas,sampai memegangi perutnya,saat anak anak itu berdiri dan menendang bola lagi,mik baru menyadari bahwa itu sudah lama sekali tidak dia lakukan,terhenyak sebentar,diam,merasa dunia nya sepi lagi,sampai lifia menyentuh bahunya.menunjuk bola,mik lari kelapangan,mengejar bola,berbaring,tertawa.dan sesekali menatap lif yang sering sekali tanpa alasan meniup peluit wasitnya,hari itu mik seperti kembali ke masa lalunya.
    Saat senja, lif memberikan botol mineral pada mik,tersenyum ramah dan sesekali terkekeh.
“makasih ya”.
   Mik menatap orang disampinya.
“untuk?”.
“terimaka kasih karna udah bisa main sama kita”.
    Mik mengangguk,seharusnya dia yang bilang begitu.
“sudah lama sejak terakhir kali aku main bola kaya gini”.
oh ya…what's happening,karena gak ada lapangan dan teman main ya”.
      
     Mik tidak menjawab dan lif tidak meminta jawaban.matanya masih mengamati anak anak itu berlarian di lapangan.
“mereka..siapa”.
   Mik meletakan botol air mineral di tengah tengah mereka.
“mereka anak pansti asuhan,setiap kali liburan aku main sama mereka,Cuma ini pertama kalinya kesini”.
     Lif tersenyum menatap wajah mik yang mengangguk lambat.sementara matahari senja mulai memerah.
“udah sore banget yah…besok kalau gak sibuk kesini lagi,kita main bola lagi”.
   Lif beranjak,berlari sambil berteriak memanggil nama anak anak itu satu persatu,Sembilan orang ketika mik mengitung.lif masih melambaikan tangan nya sambil berlari lari kecil.mik masih disana dengan baju putihnya yang kecoklatan dan basah.sekali lagi menatap bekas tempat duduk lif tadi,air mineral itu masih disana,keika mik mengembuskan nafasnya,ia merasa asing,entah kerena keramain tadi atau rasa sunyi sekarang.
………….
             Mulai hari itu,mik merasa dunia nya lebih menyenangkan,ia bahkan tak fokos belajar di kelas karena menunggu waktu pulang datang,bel berbunyi di akhir pelajaran,mik akan berlari cepat keanak tangga, mengambil sepeda dan menginjak pedalnya.lalu dilapangan ia akan menatap sembilan anak laki laki dan  seorang anak perempuan,lif disana dengan peluit nya,tersenyum sambil menyuruhnya lari kelapangan,mik merasa ada sesuatu yang perlahan menyentuh perasaan  nya,entah apa itu.
          Sudah sore sekali saat lif menaruh botol air miniral penuh di tengan tengan nya dan mik,mik mengambilnya sambil tersenyum,masih menatap anak anak itu memainkan bola mereka.
    Diam,sunyi sekali,hanya suara suara teriakan anak anak itu yang terdengar,lif masih menatap hamparan rumput basah bekas hujan, saat diam diam mik menatap wajah lif.
“besok lapangan ini dipakai kan”.
    Mik terperanjat saat tiba tiba lif menatapnya.buru buru dia mengatur nafasnya,membuka tutup botol mineral,dan meminumnya seteguk.
“iya”.
“kita kemana”.
    Lif menatap mik lagi.mik  diam.
“anak anak besok gak bisa di bawa main,mereka ada kegiatan dipanti asuhan”.
 “oh ya”.
      Lif yang tadinya mentap lapangan bola menatap mik lagi yang tiba tiba menjadi terlalu bersemangat.diam diam mik sudah memikirkan banyak hal yang ingin ia lakukan bersama lif,memikirkan itu membuat mik tidak mendengar suara terikan di lantai bawah rumahnya,baginya lif selalu menyenangkan.
“aku punya tempat yang bagus,biasanya aku kesana kalau gak ada kerjan,mau ikut”.
“mau”.
   Lif mengagguk pasti,tersenyum lepas,disampingnya mik juga begitu .
“kaya jam biasa,dilapangan ini ya mik,nanti kita bareng kesana”.
    Mik mengangguk dan tersenyum,matahari mulai turun,senja kedua untuk mereka,lapangan rumput menjadi keemasan di terpa cahaya sore,mik menaruh botol air minirel di samping tubuh lif dekat sekali dengan tangan lif, ketika mik menaruh mineral itu.sekali lagi,mik merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan,detakan itu benar benar berbeda.
…………
    Mik Menghembuskan nafasnya,menatap wajah nya di kaca.lagi lagi mereka bertengkar, kali ini karena papa ingin mama pulang lebih cepat di hari sabtu.mik mengancing kemeja terakhirnya,menyerobot jaket di tempat tidurnya,berlari cepat menuruni tangga dan mengambil sepedanya,lif menunggunya di lapangan hari ini.
    Angin berhembus menerbangkan rerumputan tinggi di samping lapangan,disana di bangku paling depan lif duduk menunggu mik,berulang kali merapikan dres putihnya ynag lembut,berulang kali menatap jalanan di samping lapangan,masih memikiran mik.
    Dua hari yang lalu,ketika lif pertama kali melihat mik,menatap wajah itu berulang kali,lif seperti enggan mempercayai beberapa hal yang dari dulu memang tidak pernah dia percaya.itu semacam sesuatu yang yang mendadak,yang tidak dia persiapkan dan lif tau seharusnya tidak seperti itu.
     Hanya beberapa menit setelah lif menunggu,seseorang datang dengan sepedanya,menatap nya lembut dan terenyum ragu,itu yang selalu lif sukai dari mik,dia berbeda.
“ikut aku sekarang,ayo”.
     Mik menunggu lif melangkah mendekat,sebenarnya tidak tega menyuruh lif berdiri di belakang sepedanya,melihat lif dengan dres putih itu,mik seperti merasa sesuatu yang mulai di fikirkan  sejak pertama kali mereka bertemu itu benar.
     Lif meremas bahu mik,saat sepeda perlahan melaju,saat mik disekolah tadi hujan turun lagi,sekarang bekas bekas hujan  di tanah basah masih tercium,sepeda itu melaju semakin kencang.
    Saat angin meyentuh kulit lif , mik tersenyum lebih lebar,rasa itu datang bersama, rasa yang datang tiba tiba dan tidak terkendali,lif merentangkan tanga nya,berhenti meremas bahu mik,merasakan angin yang dingin menerpa tubuhnya,melepaskan banyak hal yang selama ini menumpuk di pundak nya,lif tau itu mungkin harus dia simpan sendirian,mungkin memang harus seperti itu,bersama mik lif hanya merasa harus berbagi tanpa bicara,bersama mik,lif merasa jantung nya berdetak istimewa,bersama mik,lif perlahan tau bagaimana rasanya tidak berbeda,tidak ada sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan,lepas dan bebas.
    Sementara awan membentuk cawan lagi,musim hujan memang belum  berhenti,lif menaruh tangannya di bahu mik seperti  tadi,perjalanan itu tidak akan jauh,tapi keduanya  berharap waktu bisa mengerti,bergerak saja selambat mungkin.dan saat lif akan bertanya kemana,mik berhenti di ujung jalan dengan rerumputan melayang layang di antara jalan setapak yang panjang,mik tak sengaja menggenggam tangan lif ketika menurunkannya dari sepeda.
“kemana?”.
     Lif menatap wajah orang disampingnya yang sedang menghirup udara,sebentar saja sebelum melirinya dan tersenyum.
    Lif mengikuti langkah langkah kecil mik,menuruti dibelakang nya,berulang kali juga menghirup nafas dan menghembuskannya,bekas hujan kan.
   Mereka berhenti ketika mik tersenyum dan lif menatap terpesona,ini tebing,di bawahnya pohon pinus tersusun rapat,berpuluh puluh meter di bawa sana,indah sekali.
     Sesekali burung burung kecil putih melayang layang dan bersiul,perlahan mik meraih tangan lif dan duduk disisi tebing,menatap dan diam lebih lama.
“kamu sering kesini”.
   Mik mengangguk,perasaan itu datang lagi.
“selain ke lapangan sepak bola,hampir setiap hari… karna di rumah …”.
    Kata kata itu terhenti,lif menatap setengah wajah mik,penasaran.
“ada apa”.
    Mik diam,dan lif juga begitu,diam diam memperhatikan wajah mik yang menunduk,takut apa yang ingin dia tau harus mik rahasiakan.
“kalau berat gak usah,gak papa”.
     Mik menggeleng,menatap lif sebentar sebelum menunduk dan tersenyum.
“orang tua ku,mereka gak pernah rukun,setiap hari dan sudah bertahun tahun”.
     Angin menerpa rambut sebahu lif,wajah lif menatap dalam dalam wajah seseorang disampingnya,mik mengembuskan nafasnya sebelum bicara lagi.
“aku tiga bersaudara,kami semua laki laki,kaka ku yang pertama kuliah di amerika,dan gak pernah pulang sejak pergi,kita Cuma telphonan,itu pun sesekali,kakaku yang kedua,gak dirumah sejak gagal di ujian akhir,seminggu setelah dia pergi, keluarga ku masih coba cari,sampai akhirnya mereka kembali sibuk sana pertengkaran mereka,dan bekerjaan mereka,mereka lupa anak kedua mereka tidak dirumah”.
     Lepas…mik melepaskan sesuatu yang menyesaka,sekali lagi ia mengela nafasnya,melepaskan sedikit beban di bahunya.
“kamu harus bicara”.
     Lif bicara lembut,menatap hamparan pohon pinus basah,bekas hujan.
“tentang apa?”.
 “bereka berantem bertahun tahun,tapi gak pernah berfikir untuk berpisah,artinya mereka saling mencintai dan gak berfikir melepaskan,mereka mungkin jarang memperlihatkan sesuatu yang…tidak mudah dijelaskan,maksudku,mereka mungkin mencari kaka kamu,dan bekerja untuk kalian,tapi hal hal seperti itu untuk sebagian orang tidak harus dikatakan”.
   Lif menatap wajah mik,disampingnya mik masih menunduk,menatap rerumutan kecil di bawah kakinya.
“aku gak ngerti lif,banyak hal yang aku gak ngerti kalau mereka tidak menjelaskan”.
“mereka memang tidak ingin kamu mengerti,karena mungkin itu membuat kamu terbebani…kamu harus mengerti sendiri”.
“lif…mereka sibuk kerja sampai lupa mereka punya seseorang yang masih ada dirumah yang kadang ingin mereka juga dirumah,mereka lupa anak kedua nya pergi,sampai sekarang aku ga pernah tau kemana kakaku pergi,kaka pertama ku bahkan gak tau kaka kedua ku sudah gak dirumah,lif…mereka cuman mau tau tentang apa yang harus mereka kerjakan dan dapatkan,mereka mengejar banyak hal dan lupa aku dan kaka ku masih harus mereka sayangi,mereka takut tua dan gak berdaya dan sebelum hari itu datang mereka harus lunasin semua ambisi mereka,tapi mereka lupa kami juga menjadi remaja,menjadi orang dewasa yang perlahan mereka hamcurkan lif,mereka gak pernah mau ngerti”.
     Setes air jatuh kepipi mik,sesak didadanya tadi perlahan lahan menghilang,ia masih menunduk saat lif memeluk setengah tubuhnya,menjatuhkan kepalanya di bahu mik.angin menerpa tubuh mereka,saat mik menyadari seseorang menatap nya lekat, hampir tidak berkedi,mik merasa menyakiti seseorang.
“lif…aku minta maaf”.
       Lif diam,masih menatap wajah menunduk mik,terenyum lembut dan tipis.
“ini bukan karna kamu”.
     Perlahan lif melepaskan tangan itu,menatap wajah mik.
“karena kita gak pernah tau kapan terakhir kali melihat mereka mik,karena kita gak pernah tau apa yang sebenarnya mereka fikirkan tentang kita,kita masih terlalu kecil dan akan selalu kecil untuk mereka,aku mungkin tidak hidup terlalu lama untuk mengatakan hal hal semacam ini,aku mungkin gak jadi teman kamu selama yang aku fiirkan sampai bisa bicara sebanyak ini sama kamu,mik kamu harus banyak bicara sama mereka,kita mungkin sibuk memikirkan masa remaja dan tumbuh menjadi dewasa,tapi kita lupa mereka semakin tua”.
       Diam…sunyi,hanya suara angin menerpa daun vinus dan rerumputan yang terdengar,lif satu satunya orang yang membuat mik mau diam dan mencoba mengerti,di dalam hatinya mik bahkan tidak dapat memikirkan apa yang tadi baru saja dia katakan,dan apa yang baru saja dia dengar,lif … membuat nya ingin mengerti apa yang sebenarnya terjadi pad keluarganya,lif membuat nya sadar bahwa sudah lama sekali dia hanya diam,dan menjadi penonton,disamping nya,lif menatap hamparan pohon pinus lagi.mengembuskan nafasnya.
“terima kasih”.
“untuk”.
“semuanya lif…terima kasih”.
   Lif tersenyum,lalu membentang kan tangan nya,membiarkan tubuhya di terpa angin.
“terima kasih juga untuk hari ini mik”.
“besok jalan lagi”.
    Lif menatap wajah mik,berhenti membentangkan tangannya,ia tau ia benar benar ingin mengangguk tapi berat sekali,lif hanya tersenyum lagi,dan diam.menatap hamparan pohon pinus yang perlahan menjadi keemasan,senja ketiga untuk mereka berdua.
…………….
       Malam itu seperti biasanya,mik akan berhati hati mengendalikan langkah kakinya,hingga sampai ke lantai bawah,lalu duduk di meja makan bersama kedua orang tua nya,mama duduk berhadapan dengan nya dan papa di ditengah tengah mereka berdua,tidak ada yang bicara di meja makan dan mik hapal semua itu.
     Entah sudah berapa kali mik menatap lambat,mama dan papa sampai kemudian kembali menunduk dan diam,kata kata lif terus terngiang benar benar tidak bisa hilang.
“kamu harus bicara “.
   Suara lembut itu terdengar lagi,sementara suara sendok dan garpu mulai di susun menyilang,artinya makan malam akan selesai.mik menatap dua orang yang tidak saling tatap,perang dingin itu sudah menjadi kebiasaan,mik sulit menjadi penengah,tapi sekali lagi,percakapan senja itu seperti kembali,memenuhi ruangan kepala mik.
“ma..pa…aku boleh bicara”.
      Mik mengangkat wajahnya ragu ragu,menatap mama yang perlahan berbalik dan papa yang menatap wajahnya.
“apa?”.
   Mama melangkah mendekat,memegangi ujung bangku.
“semuanya”.
       Papa menelan ludah dan menggeser bangku,duduk disana dan memainkan jemarinya.
“aku gak tau mulai dari mana,aku cuma takut tentang sesuatu kalau aku terlambat”.
    Mama perlahan ikut duduk ,menatap wajah mik ragu ragu,wajahnya yang cantik tekena cahaya lampu.
“ada beberapa hal yang ingin aku…”.
    Diam,meja makan itu sunyi sekali.
“seseorang bilang,bahwa aku tidak pernah tau kapan  terakhir kali melihat kalian,karna itu aku mau tau apa kalian juga berfikir seperti itu,seperti ka sel yang tiba tiba tidak dirumah dan ka ren yang entah kapan pulang,maksudku,apa kalian tidak pernah berfikir tentang kemungkinan kemungkinan, aku mungkin tida bisa bertahan lebih lama di sitituasi seperti ini”.
“ma…pa…mik tau kalian cape,tapi apa gak bisa saling menghargai,kaya dulu,waktu papa yang kerja dan mama dirumah,kita semua baik baik saja,ka ren yang paling beruntung karna gak sempat menyaksikan semua ini,dan aku yang tertingal untuk terpaksa bertahan,kalian mungkin terbiasa dan aku mencoba untuk terbiasa,tapi apa kalian tidak berfikir tentang sesuatu yang lebih buruk dai pada sekarang?”.
“dua hal yang ingin aku tau,sampai kapan kalian seperti ini…dan…diaman ka sel?”.
    Mama menunduk dan mengangkat wajahnya untuk menatap papa,hanya dua detik mata mereka membeku sampai wajah itu menap kesatu arah,menatap mik.
“mungkin,kamu memang harus tau sekarng,mik”.
   Papa menatap wajah mik,sementara mama menahan sesuatu di dadanya,ragu ragu mulai bicara.
“mik,mama minta maaf selama ini tidak mengerti”.
   Perlahan mama menggapai tangan mik,entah kapan terakhir kali mama melakukan hal semacam itu,mik ragu ragu menegakan kepalanya.
   Sementara di luar hujan turun lagi,ruangan itu membeku,mama mengatakan Sesuatu yang bahkan tidak pernah mik fikirkan,lewat lampu putih besar di ruang makan,mama terisak menceriatakan sesuatu yang seharus nya sudah mik tau dari dulu,lif benar,mik memang harus bicara, berkali kali mama minta maaf dan bilang bahwa mereka sudah menyakiti mik, lalu pelan sekali mama menggenggam tangan mik ketika cerita itu selesai,sekaan tidak lagi ingin menyakiti miknya.papa memaingkan wajahnya,menatap hujan lewat jendela yang horden nya masih tergulung,malam itu,mik seperti bangun dari cerita malam nya,mendengar dengan benar dan bicara seperti seharus nya,saat mik memejamkan matanya lalu membukanya dan disana kedua orang tuanya masih duduk disatu meja dengan nya,mik tau ini bukan sebuah mimpi.
……………
   Jam delapan pagi ketika mik menginjak pedal sepeda nya pelan,sempat melambaikan tangan ya pada mama dan papa yang sibuk merawat kebun mereka,entah kapan terakhir kali mereka melakukan hal itu.membicaraan malam itu bukan hanya mengubah apa yang harus mik fikirkan, tapi apa yang orang tua  nya lakukan,waktu bergerak lambat lagi ketika mik meliat jejeran bangku menempel dilapangan kosong,ia membawa sepeda nya masuk kedalam,masih mencari seseorang yang biasa nya akan menunggu nya di bangku penonton paling depan,mik mendongakan kepalanya untuk melihat wajah itu,wajah yang diam diam memberikannya sesuatu yang tidak dapat dia katakan.
   Sunyi,hanya bunyi suara sepeda mik dan percikan air dari rumput basah yang terdengar,angin yang hangat menerpa wajah mik,ia duduk didepan meja penonton,menunggu lif datang,mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih karena senja ketiga mereka hari itu.
    Entah karena apa,tapi wajah itu tersenyum lambat,senyum yang bertahun tahun tidak pernah terlihat,meski kemudian pelan bibir nya mengerucut,mik menghela nafasnya terlalu dalam.
   Malam itu ketika mama menggenggam tanga nya,menatap mama yang menceritakan semuanya,mik tau beberapa hal memang benar, ketika dia ingin menghakimi mama dan papa,ketika bahu mama terguncang,menunduk dan bahkan tidak dapat menatap mata mik lagi,ia tau bahwa semuanya bukan hanya tentang kesalahan mereka berdua,pelan mik menatap wajah mama,lalu menatap wajah papa yang diam menatap hujan di jendela.
    Hanya seminggu setelah sel pergi dari rumah,hanya seminggu sampai orang tuanya tida lagi membicarakan itu semua,hanya seminggu sampai sel mereka temukan di trotoar jalan dengan wajah penuh darah,dan tubuh penuh memar,terkapar diantara lampu jalanan yang di terbangi binatang kecil,mama yang mengangkat kepalanya dan menangis disana,papa yang membuka pintu dan memopohnya ke dalah mobil,membawa sel ke runah sakit.
      semalaman mereka melupakan mik dirumah,sendirin,mama menggenggam tangan sel dan papa menatap mereka berdua,hanya sebentar mereka diam sampai papa mulai menyalahkan mama tentang apa yang baru saja terjadi,mama menghela nafas panjang dan menatap tajam pada papa,mengatakan banyak hal yang akhirnya membuat papa membanting pintu rumah sakit.semalaman mama terjaga,papa menangis di ruang tunggu rumah sakit,menutup wajahnya dengan telapak tangan nya,menyalahkan dirinya sendiri.sementara mama berulang kali menciumi tangan sel,minta maaf tentang semua hal yang mama lakukan,malam itu terpisah tembok dingin rumah sakit,meski banyak sekali bicara,mama tidak membicarakan sesuatu yang sebenarnya dia rasakan,malam itu ketika papa berkali kali menunjuk wajah mama,papa tidak membiarkan mama melihatnya menunjuk wajah nya sendiri.
     Ketika sel bangun dan menggenggam tangan mama,mama perlahan mengangkat wajahnya,dengan mata merah setelah terjaga, mama menatap mata sel yang bening, sangat berbeda,mata yang kosong seperti ditak berjiwa,keringat membasahi wajah dan tubuh ka sel,ketika mama akan menciumi pipi sel,mama dapat melihat bibir sel bergetar,dari sudut matanya mama dapat melihat air mata mengalir,hanya sampai air mata itu jatuh ke seprai putih rumah sakit,sel diam,mama menjauh selangkah sambil menatap sel yang tiba tiba mengerjang,membuat banyak noda merah di seprai saat mencopot paksa infuse di tangan nya,membuat ranjang rumah sakit bergetar,dan seprai berantakan,sel mengamuk,dan mama tidak pernah sekali pun melihat sel seperti itu,mama masih melangkah mundur dengan mata kosong berair ketika dokter dan beberapa perawat datang,di belakang mereka,papa perlahan menyentuh punggung mama,dengan lembut memopoh mama keluar ruangan.
    Saat mama merapat kedinding diluar kamar rumah sakit sel,ia baru sadar papa memeluknya,menggenggam tangan mama,rasa hangat itu dan mama tau,tapi sesuatu di hatinya berontak,mama melepasannya ketika sadar,kembali menyalahkan papa,saat papa menunduk dan diam mama menjauh,meninggalkan papa yang membeku.
    Hari itu ketika dokter keluar ruangaan,menjelaskan semua hal yang terjadi pada sel,dengan enggan papa mengangguk,saat dokter menepuk pundak papa,mengatakan pada papa bahwa sel sakit,sesuatu menjadi   semakin jelas.ka sel tidak lagi seperti dulu,ka sel yang selalu memberontak tidak akan bisa banyak  bicara lagi,ka sel akan sulit di kenali.
   Ketika hujan turun di awal januari papa dan mama mengantar ka sel ke rumah sakit jiwa,mama melangkah lebih cepat ketika menolak masuk kemobil papa,hari itu,semua nya bertambuh buruk,jarak yang terbentang di tengah tengah mama dan papa semakin parah,mama bangkan tidak pernah membayangkan jarak itu bisa sejauh hari itu.
……………..
       Hamparan rumput kecil yang basah,kursi penonton yang kosong,angin yang menerpa rambut mik,dan semuanya yang  diam,mik masih menatap ujung jalan,berharap sesuatu seperti seluit mendekat dan tersenyum padanya, perlahan ia mengangkat pergelangan tangan nya,menatap jam di sana,sudah tiga jam dan seseorang yang dia tunggu belum datang,mik merasa menunggu kali ini terasa terlalu lama,sekali lagi angin dingin menerpa kulitnya,mik menghela nafas panjang,menaikkan sisi tangan kemejanya,berdiri sambil mengamati sisi jalan,tidak ada siapa siapa disana,hanya mik dan kesunyian.
     Waktu tidak pernah berhenti dan mik tau itu,matahari perlahan bergerak menuju sebrang,dedaunan pohon willow yang basah kering karena terkena matahari.bergerak lagi lebih keatas lebih kebarat,mik menemukan dirinya diam,mengamati jam dan ujung jalan,menunggu seseorang yang benar benar ingin dia temuai,apa yang kemarin mik katakana? apa ada sesuatu yang melukai lif,apa ada sesuatu yang harus nya tidak mik katakan atau lif akan segera datang ketika sore,mik akan menunggu lagi,mik tidak ingin lif datang ketika dia sudah pulang,mik masih menunggu,mengamati langit yang hitam,dedaunan willow basah lagi,dan mik merasa wajahnya di terpa embun,ia naik selangkah menjauhi hujan ,menunggu lif nya datang.
       Semakin sunyi, lapangan sepak bola itu, membeku,mik hanya mendengar bunyi detik jamnya,memperhatikannya sebentar lalu menatap ujung jalan,mungkin saja lif tertidur atau dia harus kesuatu tempat dengan keluarganya,mungkin saja hujan membuatnya tidak datang seperti biasanya,mungkin saja lif masih melintas di jalan untuk menemui mik,kata kata seperti itu membuat mik bertahan,menunggu seseorang yang kemarin tanpa mik sadari,bahkan tidak mengangguk untuknya.
     Terkadang beberapa hal lebih baik menjadi rahasia,mik turun dari kursi penonton,menuntun sepedanya lambat,mungkin saja lif akan datang dan meminta maaf karena lupa,mik bahkan masih memohon agar lif datang,ketika matahari menguning,menjadi keemasan,lebih pelan lagi mik menuntun sepeda nya ketika keluar dari lapangan itu,berjalan lambat di antara rerumutan samping jalan yang basah,mik tidak mengerti tentang sesuatu yang berat di dadanya,ada sesuatu tapi mik tidak tau apa itu,apa mik melupakan sesuatu yang kemarin lif katakan,apa mereka memang tidak berjanji untuk datang ke lapangan ini,apa mik lupa bahwa lif baru saja datang kehidupnya,bodoh berharap terlalu banyak,mik lupa semuanya,yang mik tau ia berharap lif atang,dan mik berhenti merindukan orang itu.
      Ketika mik menghela nafasnya lagi,sebuah mobil hitam mencipratkan  lumpur bercampur air ketubuh dan sepedanya,mik mengamati kaca mobil gelap yang melaju pelan,hingga mobil itu menghilang di belokan.
   Beberapa hal seharus nya mik ketahui,meski mik tidak menyadarinya,tapi seharus nya ia tau bahwa terlalu banyak hal yang tidak dia sadari,mik bahkan tidak tau hari itu adalah senja keempat untuk nya dan lif.
…………..
      Sementara mik terjaga di depan lampu belajar dan bukunya,lif berbaring lembut menatap jendela,mengamati langit bekas hujan senja tadi.
     Tangan nya yang pucat berbalut selang selang kecil yang ditusuk jarum ke tubuhnya,setetes demi setetes cairan bening itu masuk ketubuh lif yang rapuh,dinding rumah sakit itu dilapisi cat putih gading yang dingin,lif tidak melihat apa apa selain infuse dan layar kosong disamping tubuhnya.
      Lif tidak pernah berjanji datang ke lapangan itu lagi,lif tidak ingin mik datang kesana lagi,seharusnya ia turun dari mobil hari itu,bicara kasar pada mik,bahwa dia … lif lupa apa yang harus dia katakan,apa yang harus lif bicarakan.lif ingin mik tau sesuatu di dalam dadanya,lif ingin membagi semuanya pada mik hari itu,tapi lif menolak dikasihani,lif suka mik hanya memikirkan semua nya seperti yang pernah mereka lalui,lif kuat ketika berteriak dengan peluitnya,melompat,berlari,lif ingin terlihat baik baik saja.
      bersama mik,lif menemukan dunia dan isi nya,yang berbeda,lif menemukan seseorang yang bisa dia kuatkan karena selama yang lif tau,lif lah yang selalu di kuatkan.bersama mik, lif tidak pernah merasa waktu nya singkat.segala sesuatu nya berbeda,dan lif lupa semuanya,saat berdiri dan meremas pundak mik,lif merasa tidak ada yang membedakan tubuhnya dan tubuh siapapun.
    Lif,dan segala sesuatu yang tidak mik lihat.lif ingin mik mengenangnya seperti itu,mungkin hanya sebentar sampi mik benar benar melupakan semuanya,semua hal tentang nya dan senja senja yang mereka lalui.sementara itu lif tidak harus berusaha melupakan apapun,mik dan semu hal yang terjadi,akan segera pergi bersama dengan nya.
    Pintu berdecit,seseorang tersenyum dan meraih tangan kanan lif,duduk disisi ranjang rumah sakit.
“kamu mau cerita sesuatu”.
   Lif tersenyum,mulai bicara,banyak sekali,semua hal yang terjadi padanya dan liburan di rumah orang itu.sepupu perempuannya.lif terisak ketika akhirnya nama mik dia sebut,di depannya orang itu membeku,menunduk dan memeluk lif.
     Sumsum tulang belakang,donor ginjal,operasi,infuse,komplikasi,darah,jarum.lif akan mengakhiri semunya.
   Lif ingin mengakhiri semuanya ketika ia memulai sesuatu,lif mulai jatuh cinta.
……………
    Mama meletakan buku bahasa inggris baru di atas tas ransel mik, di sisi ranjang,mengamati tubuh mik dari pantulan kaca,mik yang semakin tinggi,sekarang jauh lebih tinggi dari mama.
“ka ren pulang seminggu lagi,dia bilang liburan musim panas”.
   Mik  memutar wajahnya,menatap mama yang duduk disamping tas nya.
“dia bilang ingin bertemu sel”.
      Sekali lagi dari pantulang kaca,mama melihat mik mengangguk.
“kalau sudah selesai kita sarapan,mama sudah masak”.
   Mik tersenyum,mengagguk lambat,entah kapan terakhir kali mama datang kekamarnya,menyiapkan bukunya,mengajak nya sarapan.
    Seminggu setelah malam itu,di meja makan,mama pulang jauh lebih cepat dari biasanya,masuk kekamar mik dan berjanji tidak akan pulang terlalu malam lagi.sehari setelah hari itu mama bilang mundur dari jabatannya,kembali menjadi karyawan biasa,pulang jam 1 siang,dan meneruskan pekerjaan di rumah.
    Papa tersenyum dan memeluk mama,di depan mereka mik salah tingkah,hingga mama menarik tangan nya,membuat mik berada di tengah tengan,malam itu juga mama menelphon ren dan mengatakan semua nya di telphon,sama seperti yang mama ceritakan pada mik,tentang sel dan tentang banyak hal yang tidak ren tau.hari itu juga ren biang tidak akan mengambil kerja di liburan musim panas.
    Semuanya,entah lah berangsur membaik,mama selalu dirumah saat mik pulang sekolah,membuka pintu dan kadang kadang memaksa mik mencicipi masakannya,papa akan pulang jam 5 sore,membawa kue kue pinggir jalan,di depan tv,mereka akan memakan bawaan papa bersama,papa dan mama akan duduk diatas sofa sementara mik di dilantai,menyender di kaki mama,mama akan menghapus air matanya saat mik dan papa tiba tiba menatap nya,mama sintementil sekali,selalu menangis melihat tayangan tv.
     Kadang,mik merindukan lif,ia pergi lagi setelah pulang sekolah,membenamkan wajah nya di kedua lututnya,memandangi rerumputan yang sekarang tidak lagi basah,disekolah mik mulai bicara,mulai mengangguk ketika di tawari belajar kelompok,di depan bangkunya anak anak perempua mulai membicarakan wajahnya lagi,akhir akhir ini anak anak laki laki bahkan tidak segan melemparkan bola ke tubuh mik,saat mengajak nya pergi kelapangan,mik merasa semuanya lebih baik kecuali tentang seseorang yang menciptakan semua ini,mik merindukan lif,beberapa kali dalam semiggu masih melewatkan senja di lapangn itu,suatu hari anak anak panti asuhan teman lif datang kelapangan itu,mik tersenyum dan terlonjak,berlari kelapangan,berharap lif ada diantara mereka,tapi ketika mik sadar bahwa dia salah,mik kembai kebangkunya,hanya menonton permain bola itu, setelah bertanya dimana lif dan anak anak itu menggeleng.
     Sekali lagi,mik kembali tidak menyadari sesuatu,seseorang yang selalu mengamatinya duduk dibangkunya,atau ketika memainkan bola,seseorang yang ragu ragu melangkah di rerumputan lapangan,menatap ren yang memeluk lututnya,mengamati dan ingin mengatakan sesuatu,tapi selalu tertahan.mik terlalu sering tidak menyadari sesuatu,tentang lif,ia bahkan hanya mengerti tentang “merindukan”.
    Semuanya berlalu,waktu berlalu,mik tidak pernah tau dimana lif,dan lif perlahan kehilangan apapun yang dia miliki untuk meraih tangan mik.
……………
       Kaku,dingin,sunyi,lif ditengah tengah lingkaran rapat di tempat tidur rumah sakit,hari ini semua alat yang di pasang di tubuhnya satu persatu di lepas,lif  bilang tidak akan lama lagi,mama menggengam tangan nya,membiarkan air matanya menetes di tangan pucat lif,papa di samping mama, bahu nya yang tegas  terguncan guncang,nene,kake,sepupu,lif ingin semua orang disamping nya saat ini.
     Pelan sekali lif menggerakan mulutnya, memanggil nama seseorang,dari lingkaran itu,sepupu perempuannya keluar,menggenggam tangan nya,tersenyum lembut sekali.orang itu menarik nafasnya,menciumi tangan lif,mereka tumbuh bersama,dewasa bersama,dan hari ini orang itu mungkin akan melihat seseorang yang selalu bersama nya pergi.lif menceritakan semua nya pada orang itu,dan orang itu adalah satu satunya yang tau kisah yang lif ceritakan.
     Pelan..pelan sekali,tangan pucat lif menjadi jauh lebih dingin dari biasanya,mata nya yang bening menutup lambat,matahari senja jatuh tepat di wajahnya yang indah,ketika hembusan angin dari hujan menerpa horden,dia benar benar pergi.lif benar benar pergi.
……………..
    Ren menyeret koper nya lebih cepat ketika melihat mama berdiri di bangku tunggu,ia melepaskan koper dan menyentuh pundak mama,mama memeluknya ayah memeluk mik lebih kuat ketika mama melepaskan,disamping papa mik tersenyum kaku,ren menarik pundaknya, memeluk mik cepat mengusap usap kepalanya.
“gimana calofornia ?”.
“akhir musim semi,hangat ma”.
   Ka ren melepaskan  tubuh mik.
   Mama tersenyum dan mik juga begitu,sebenarnya banyak hal yang harus nya mereka bicarakan,tapi ren pergi ke topic yang benar benar ingin dia tau.
“gimana kabar sel”.
    Sekali lagi mama memeluk tubuh ren.
        Narkoba,bandar,tubuh sel yang dipukuli,ketergantungan obat,tidak bisa membayar hutang.
   Mama menghapus air mata dari sisi pipinya.
“apa ini karena ren terlalu memaksakan diri untuk kuliah diluar”.
   Mama menggeleng samping menghapus air matanya.
“ini karena mama terlalu terobsesi dengan pekerjaan mama”.
     Ren memeluk pinggang mama lagi,papa menunduk menatap lantai bandara.
    Kuliah,kerja,hanya itu yang terus dilakukan ka ren di sana,penjaga perpustakaan,delivery makanan,cuci piring,semua nya dia lakukan,agar papa dan mama tidak tau uang yang dikirimkan tidak pernah cukup papanya selalu dapat gajih besar setiap bulan,mama direktur dulu,tapi yang terfikir oleh ren adalah sel yang akhirnya juga akan menghabiskan banyak uang sepertinya,sama seperti mik.karena itu ren diam,semula ren memendamnya sendiri,hingga suatu malam ren tidak lagi bisa menyembunyikannya,musim dingin melangkah diantara salju semata kaki,2 kilometer di malam hari.
      ren tidak lagi punya uang,ia mungkin akan menahan untuk menelphon rumah jika saja mama tidak menanyakan kabarnya,dari sebrang,berkilo kilo meter jauhnya,mik disamping tubuh mama,mendengar dengan jelas ka ren menangis,tidak meminta apa apa,hanya ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi,sementara mik menyalahkan ren yang menghabiskan uang setiap bulan untuk hidup dan kualiahnya,membuat mama dan papa berjarak,sementara mik hidup besama mama dan papa,mendapatkan apa saja,tidak harus kekurangan.mik tau matanya panas,buru buru ia beranjak pergi kekamar.
   Malam itu mik tau bahwa,Ka ren tidak pulang karena mengumpulkan uang di setiap hari libur,mik hanya belum mengerti.
      Mama melepaskan pelukan ren,menyapu air matanya,mik yang membawa koper.membiarkan ren beriringan dengan papa dan mama,setelah begitu lama,mik perlahan sadar, ka ren jauh lebih dewasa dari sebelumnya.
 …………….
        Terlalu banyak hal yang terjadi,dan waktu kadang membantu manusia melupakannya,tapi karena waktu memberikan kesempatan pada manusia untuk melakukan banyak hal,maka tidak semua nya terlupakan.mik dan senja,mik yang masih menunggu lif di lapangan sepak bola,kali ini waktu tidak mengijinkannya tau,sudah satu bulan setelah lif pergi.
     Seseorang ragu menyentuh pundak mik,mik terlonjak,berharap orang itu adalah orang yang dia tunggu.ia kembali layu ketika orang itu bukan lif.
“kenapa ? sendirian”.
   Mik kenal orang itu,hanya beberapa bangku dari tempat duduknya.mik menghela nafasnya dan menggeleng.
“gak mungkin gak ada apa apa”.
      Mik diam,ia tau bahwa seseorang harus mendengarkan semua ceritanya,ia tau semuanya akan lebih baik seperti ketika lif mendengarkannya,sesekali lagi mik menggeleng,mencoba melupakan sesuatu yang harusnya dia katakana.
“kamu harus bicara”.
     Mik membeku,berbulan bulan yang lalu ketika mik mendengar kata kata itu.
    Mik seperti tersadar,entah lah,entah apa itu,bangku nya bergetar ketika ia kembali duduk,berhenti mencoba menjauh.
“aku…hanya menunggu seseorang”.
   Sunyi…diam,tidak ada yang bicara.
“siapa?”.
  Mik menatap wajah orang disampingnya,bertahun tahun menjadi teman sekelasnya,mik sadar dia tidak bisa membuat jarak dan mencoba menjauh lagi.
     Lalu cerita itu mengalir dengan cepat,mik hanya tidak menyebut nama orang yang dia tunggu,ia menceritakan semuanya,tentang bagaimana orang itu membuatnya bicara,membatnya merasa kan sesutau yang berbeda,tentang bagaimana orang itu membuatnya terjaga,tentang bagaimana orang itu mengubah keluarganya,dan tentang  apa yang dia tinggalkan,semuanya.mik tertahan ketika nama itu hampir dia sebut,orang disampingnya menatap wajah mik dalam.
 “senja…”.
     Mik mengangkat wajahnya,menatap semburan semburan orange di langit,cahaya keemasan merayap di antara rerumputan. 
“kamu harus mencoba melupakan…semuanya”.
    Mik menatap orang disampingnya,orang itu tau kata kata itu harus nya tidak dia katakan,tapi dia tidak menyesal tentang apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
     Mik masih menatap tubuh itu berbalik,mungkin ia masih duduk di bangku itu sampai orang itu menjadi seluit dan menghilang di belokan.mik tidak menyadari beberapa hal,tentang sesuatu yang tertahan di mulut orang itu,mik lagi lagi tidak menyadarinya.
     …………
       Entah sejak berapa lama setelah senja hari itu,orang itu kini hanya menatap mik dari jauh,melihat mik duduk di bangku penonton,atau diantara teman teman di sekolah,bukan hanya sekali orang itu melangkah mendekat setelah hari itu,mencoba mengatakan banyak hal yang tertahan di dadanya,tapi setiap kali mik didekatnya,atau ketika ia hanya tinggal mengatakan saja,udara di sekitarnya terasa membeku,dan tiba tiba air berdesakan di matanya.
     Hari ini,setelah berpuluh puluh kali mencoba,ia menggegam beberapalembar kertas,ia merasa tidak akan pernah sanggup mengatakannya langsung,melihat wajah mik ketika menatap senja sendirian,menatap wajah mik yang tiba tiba sendu di keramaian,mengingat wajah pucat lif ketika memintanya untuk membawa mik kemakam nya ketika dia sudah tidak lagi di bumi ini,segala hal semacam itu,bahkan untuk melangkah mendekat ketempat mik sekarang duduk pun rasanya kakinya terasa diikat dengan sepotong batu besar.
     Perlahan…pelan sekali,orang itu melangkah diantara rerumputan kering,akhir akhir ini hujan tidak menyentuh rerumputan itu lagi.mik disana,menopangkan wajah nya ke lutut,menunggu senja datang.ragu ragu dia menyentuh pundak mik,duduk satu jarak bangku dari mik.tidak bicara ketika mik menatap wajahnya.
“ada apa?”.
    Ia menghela nafas panjang,menahan air matanya  yang berdesakan,menaruh kertas kertas itu diantara bangkunya dan bangku mik.sementara matahari mulai turun,pergi kebarat,tangan  mik bergetar menyentuh kertas kertas itu,berulang kali ia bergantian menatap orang disamping nya dan apa yang sedang dia genggam.
“ini apa”.
     Orang itu diam,wajah nya tertunduk dan pundaknya terguncang,sebelum air matanya terlihat,ia beranjak melangkah,menjauh,berlari menuruni jejeran bangku dan rerumputan,tidak lagi menatap mik yang heran dengan kertas kertas itu,entah apa yang terjadi ketika mik mulai membaca kata kata pertama di kertas itu,entah apa yang dia fikirkan ketika membuka setiap lembarnya,yang orang itu tau mik harus mengerti bahwa hari ini ia harus mengakhiri semunya,mik harus tau bahwa sekarang adalah senja terakhir yang harus dilaluinya dengan menunggu lif,senja terakhirnya dengan lif,meski lif hanya ada pada kertas kertas itu.
      Dari kejauhan,orang itu mengamati wajah pucat mik,tangan nya yang bergetar memegangi kertas,ketika mik mulai menangis dalam diam,orang itu tau ia sudah terlalu lama menatap mik dari kejauhan,senja menghilang,awan awan hitam mulai menghiasi malam itu,orang itu beranjak,berbalik dan menjauh,berulang kali menghapus air mata dipipinya.
       Orang itu,dialah anak perempuan dengan rok didekat paha, yang menawarkan kerja kelompok pada mik,orang yang bertahun tahun menjadi teman sekelas yang tidak mik kenal,orang itu adalah orang yang mendengarkan semua cerita lif,satu satu orang yang tau kisah kisah itu,sepupu perempuan lif,orang yang lif datangi di liburan terakhirnya,orang itu adalah orang yang menulis berlembar lembar cerita yang dia dengar dari apa yang dikatakan lif dan mik,hanya dia yang tau semua hal yang terjadi,sampai akhirnya mik mulai membaca,dan kau orang yang membaca tulisan ini,adalah orang ketiga yang tau semunya.
    Didunia ini ada begitu banyak kisah cinta,miliayaran anak adam yang merasa jantungnya berdetak terlalu cepat,paling tidak dalam 24 jam,seperempat manusia mengalami hal yang sama,jatuh cinta.dan untuk mu ku ceriakan kisah cinta yang hidup di samping tubuhku.lembaran yang kau baca adalah lembaran yang sama dengan kertas yang sekarang dibaca pemilik sekenario tuhan ini.yang dibaca pemeran utama nya.
       Dan aku adalah orang yang jiwanya diikat oleh kisah cinta itu,hanya ragaku yang bergerak mengetik kata perkata.
 Inilah kisah cinta yang hidup di depan mata dan telingaku.
End

20-1-2015 (perbaharuan dari “penyakit yang merubah hidupku” yang mulai ditulis 11-2-2013)



 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik